• Info Terkini

    Monday, April 2, 2012

    Ulasan Cerpen “Aku Lesbi?” karya Emma Kaze

    FAM INDONESIA
    VIVIE anak semata wayang Pak Burhan. Ia mendapat perlakuan istimewa di rumah. Kasih dan sayang sang papa berlebihan sehingga apapun yang diminta Vivie diberi. Vivie tidak pernah mendapat belaian kasih sang mama. Papanya seorang single parent.

    Walaupun demikian, Pak Burhan tidak menginginkan putrinya terjerumus kepada pergaulan bebas di luar rumah. Setiap waktu Pak Burhan menasihati Vivie agar ia berhati-hati dalam bergaul. Di televisi, Pak Burhan sering melihat berita tentang penangkapan remaja karena narkoba, pemerkosaan dan free sex. Wajar saja bila Pak Burhan was-was terhadap Vivie.

    Walau sering mendapat nasihat dari sang papa, Vivie sering keluar malam. Ia dugem bersama teman-teman sekolahnya. Bahkan pernah sampai pulang pagi. Papanya hanya menegur dan mengingatkan saja. Pak Burhan tidak sampai hati memarahi putrinya itu.

    Tapi apa yang terjadi kemudian? Suatu hari Vivie pulang dalam kondisi tak sadarkan diri. Dia dibopong teman-temannya di pagi buta. Parahnya, pakaian Vivie pada saat itu dalam kondisi berantakan. Ketika papanya bertanya apa yang terjadi, Vivie hanya diam. Seorang temannya yang mengantarkan Vivie pulang mengaku kalau Vivie telah mendapat perlakuan tidak senonoh dan hampir diperkosa oleh seorang lelaki tak dikenal di tempat dugem.

    Vivie shock dan pingsan. Tak ingin terjadi sesuatu terhadap anaknya, Pak Burhan memanggil dokter pribadi keluarga. “Aku benci laki-laki! Aku benci laki-laki!” teriak Vivie setiap kali mengingat peristiwa yang menimpa dirinya. Dokter ternyata tidak mampu menyembuhkan trauma Vivie sehingga Pak Burhan akhirnya memutuskan mengirim Vivie ke pesantren untuk membantu proses penyembuhan mental putrinya itu.

    Di pesantren Vivie menemukan ketenangan. Berangsur mentalnya pulih. Ia rajin salat, mengaji dan menemukan sahabat sejati: Aisya. Aisya seorang yang ramah. Sangat cantik. Smart! Aisya adalah santriwati idaman di pesantren. Banyak yang memujinya, tapi Aisya tetaplah Aisya yang rendah hati. Low Profile. Aisya pula yang membuat Vivie tetap bertahan di pesantren itu. Setiap kali Vivie ada masalah, Aisya tempat menumpahkan segala keluh kesah.

    Siapa sangka, kedekatan Aisya pada Vivie merubah perasaan Vivie yang tidak sewajarnya. Setiap kali berjumpa Aisya, jantung Vivie berdebar. Deg-degan. Ada perasaan yang tidak wajar. Seperti kutipan berikut ini yang melukiskan perasaan hati Vivie kepada Aisya:

    “Kenapa ini? Oh, Tuhan! Apa yang aku rasakan ini seperti bukan hal biasa. Apakah ini karena kekagumanku kepada Aisya yang terlalu berlebihan? Apa yang sebenarnya aku rasakan ini? Aku menyukai Aisya? Aku menyukai Aisya! Apa aku ini lesbi? Oh…tidak! It shouldn’t be happened! Tuhan, maafkan aku. Apakah aku salah memiliki rasa ini yang terasa begitu riil dalam jiwaku? Setiap kali aku bersama Aisya, perasaan ini semakin tak jelas kemana arahnya. Oh, Tuhan, Help me!”

    Mungkin saja, kesukaan Vivie pada Aisya sahabatnya itu lantaran ia benci kepada laki-laki yang pernah berbuat tidak senonoh kepadanya. Kebencian itu malah menumbuhkan cinta kepada sesama jenisnya. Namun Vivie berusaha agar perasaannya tidak terus tumbuh, hingga akhirnya ia memutuskan keluar dari pesantren dan tidak mau berjumpa Aisya lagi. Tentu saja Aisya merasa kehilangan sahabatnya.

    Suatu hari Vivie berkonsultasi dengan seorang Ustad muda yang nomor teleponnya ia dapatkan lewat radio. Vivie mengungkapkan semua yang pernah terjadi menimpa dirinya. Lewat ustad itulah ia ingin merubah hidupnya menjadi seorang muslimah sejati, tidak mencintai sesama jenis layaknya kesukaannya pada Aisya. Siapa sangka kemudian Vivie meminta keikhlasan si Ustad muda agar mau menikahinya, karena itulah cinta sejati yang diharapkannya.

    Tidak ada jawaban menerima atau tidak dari sang Ustad setelah Vivie mengungkapkan isi hatinya itu.

    Walau tema cerpen ini menarik, tetapi ending cerita terasa tergantung. Pembaca akan tidak puas lantaran ending cerita tidak berujung. Mungkin saja Emma Kaze, penulis cerpen ini sengaja membuat ending demikian sehingga menyisakan penasaran bagi pembacanya. Dan, itu cukup berhasil apalagi judul cerpen sangat sedikit sensitif “Apakah Aku Lesbi?” Orang akan penasaran membaca cerpen ini hingga titik paling akhir.

    Satu hal yang tidak dijelaskan Emma Kaze dalam cerpen ini, yaitu apa sebabnya Pak Burhan, papa Vivie menjadi seorang single parent? Kemana mama Vivie? Bercerai atau telah tiada? Tidak ada keterangan.

    Menurut penulisnya, cerpen ini adalah kategori 5 besar pada Lomba Cerpen dan Essai se Malang Raya yang diadakan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (April 2011). Walaupun bukan cerpen baru yang ditulis Emma Kaze, dari gaya penulisan dan tema yang diangkat penulisnya, Emma Kaze telah berhasil menulis cerpen ini dan memiliki bakat yang sepantasnya terus diasah dan ditajamkan.

    Selamat buat Emma Kaze. Diharapkan semakin produktif dan kian berani melakukan eksplorasi tema-tema kehidupan untuk karya-karya berikutnya.

    Salam aishiteru!

    FAM Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Aku Lesbi?” karya Emma Kaze Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top