• Info Terkini

    Monday, April 2, 2012

    Ulasan Cerpen “Pelajaran” karya Mar’atun Najla Al-Faiq (Jombang)

    Mar’atun Najla Al-Faiq
    Pagi ini FAM Indonesia tergoda membaca cerpen berjudul “Pelajaran” karya Mar’atun Najla Al-Faiq, siswi kelas 8e MTs Negeri Jombang, Kauman, Jawa Timur. Cerpen ini bercerita tentang seorang gadis remaja bernama Hana yang semula enggan memakai jilbab seperti halnya sang mama yang berjilbab. Alasan Hana, memakai jilbab atau tidak itu adalah pilihan dirinya. Hana merasa dirinya sudah dewasa untuk menentukan yang terbaik dalam hidupnya.


    Kita simak kutipan paragraf berikut:

    “Ma, itu pilihanku! Mama nggak usah ngatur-ngatur aku lagi. Aku bukan anak kecil, Ma.” Hana menolak suruhan ibunda.

    “Hana! Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu! Kamu sudah baligh! Berkerudung itu wajib bagi kamu!” Ibundanya memarahi Hana. Namun gadis itu tak bergeming sedikitpun...

    Di sini pembaca disuguhkan konflik di awal cerita. Mengundang penasaran untuk terus membacanya hingga titik terakhir. Yang lebih istimewa, Najla—penulis cerpen ini—menulis ceritanya dengan bahasa yang bagus dan mengalir bagai air.

    Konflik adalah bumbu dalam cerita. Ibarat makanan, cerita yang tak memiliki konflik tentu terasa hambar dan tak enak dimakan. Penulis yang berhasil meramu konflik di dalam ceritanya, sudah pasti akan berhasil menggiring pembaca hingga tamat membaca tulisannya.

    Satu adegan pertama cerpen “Pelajaran” karya Najla ini berisi konflik. Di adegan kedua yang dibatasi bintang tiga (***) Najla mempertemukan Hana tokoh ceritanya dengan Dhidan, seorang anak jalanan yang tak memiliki kedua orangtua dan menjadi anak angkat seorang kakek yang bekerja sebagai muazin di sebuah masjid. Hana pergi meninggalkan rumah sehabis ribut dengan mamanya. Di adegan ini, Dhidan dikejar-kejar penduduk kampung lantaran ia mencuri sesisir pisang yang berbuah ranum. Entah apa yang menggerakkan Hana sehingga gadis itu mengikuti Dhidan hingga ke persembunyiannya. Hana pun berjalan meninggalkan rumahnya sejauh 10 km, yang tentu saja tidak ia duga.

    Kakek muazin, orangtua angkat Dhidan bercerita kepada Hana bahwa Dhidan akhir-akhir ini suka mencuri barang milik orang lain. Kata si kakek, begitulah sebagian anak yang tidak mendapat didikan kedua orangtuanya sehingga lepas kendali dan sulit diarahkan. Si kakek pun menasihati Hana sebagaiamana dalam kalimat berikut:

    “Nak, kamu masih beruntung memiliki kedua orangtua. Berbaktilah dengan orangtua kau itu. Biar bagaimana pun, merekalah yang sudah membesarkanmu...”

    Barulah saat itu Hana tersadar bahwa apa yang dikatakan Mamanya agar ia memakai jilbab adalah untuk kebaikannya sendiri, bukan untuk mamanya atau untuk orang lain. Hana insyaf. Kemudian ia bertemu kembali dengan Dhidan dan meminta Dhidan mengantarnya pulang ke rumah. Setiba di rumah, Dhidan hendak kembali ke kampungnya, tetapi Hana menarik tangan Dhidan agar mau tinggal di rumahnya.

    Ketika Hana masuk ke dalam rumah, ia dapati mamanya sedang tertidur pulas. Hana pergi ke dalam biliknya, bersih-bersih lalu berdandan dengan cantik. Tentu saja, mulai saat itu ia mengenakan jilbab yang membuat kaget dan haru mamanya tercinta.

    Najla berhasil menulis cerpen ini. Alur ceritanya menarik, walau tetap harus diedit lagi agar lebih sempurna.

    Najla, selamat ya. Ditunggu karya-karya terbaik lainnya.
    Salam aishiteru!
    FAM Indonesia
    Newer Post
    Previous
    This is the last post.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Pelajaran” karya Mar’atun Najla Al-Faiq (Jombang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top