• Info Terkini

    Thursday, April 12, 2012

    Ulasan Cerpen “Tanpa Restu Ibu” karya Desri Erniza (Padang)


    DESRI ERNIZA
    Mendapat restu ibu adalah harapan semua anak. Restu ibu adalah kekuatan, doa, juga harapan. Anak-anak yang memperoleh restu ibunya tidak mudah galau. Ia akan berjalan santai mengejar cita-citanya. Mematuhi ibu adalah tuntunan agama, agar anak tidak dianggap durhaka. Nabi menasehati, “surga di bawah telapak kaki ibu”.

    Tapi apa yang terjadi bila anak tidak mendapat restu ibunya seperti yang dihadapi tokoh “Aku” dalam cerpen karya Desri Erniza ini?

    Tersebutlah ibu tokoh “Aku” dulunya seorang pekerja keras, tegar, tidak pernah mengeluh, tak kasar kepada anak-anaknya dan menunjukkan kasih sayang yang berlebih. Tetapi semua itu tiba-tiba hilang ketika kehidupannya sudah mulai mapan terutama setelah memiliki dua orang menantu. Setelah tokoh “Aku” bergelar sarjana muda (A.Md), sang ibu mulai berubah sikapnya khususnya terhadap tokoh “Aku”. Sang ibu menginginkan tokoh “Aku” bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji mapan. Sang ibu sangat berharap diberikan uang rutin setiap bulan. Tetapi tokoh “Aku”, anaknya itu, lebih suka jadi penulis yang belum tentu jelas penghasilannya di mata sang ibu.

    Di titik ini terjadilah konflik antara “Aku” dan ibunya. Mari kita simak perang batin tokoh “Aku” berikut ini:

    “Aku benar-benar tak mendapatkan lagi kasih ibu, aku adalah harapan keluarga yang harus mempersembahkan uang untuk ibu dan keluarga di kampung. Ibu tak lagi menanyai kemajuanku, ibu tak lagi mendorongku untuk bangkit, ibu tak lagi memberi semangat kepadaku. Namun ibu hanya menanti uangku. Apa pekerjaan yang aku lakukan ibu tak mau tahu, ibu menganggap pekerjaan kantoran di perusahaan swasta tersebut lebih baik daripada aku harus terjun ke sawah untuk bertani...”

    Apa perasaan seorang anak bila sang ibu bersikap materialistis dan egois? Bila uang jelas ada tak jadi soal. Tetapi tokoh “Aku” bertekad menjadi seorang penulis yang belum jelas masa depannya. Inilah sumber konflik antara sang ibu dan tokoh “Aku”. Tokoh “Aku” berusaha meyakinkan ibunya bahwa apa yang dilakukannya hari ini kelak akan berbuah baik. Sebab banyak penulis sukses yang kaya raya dari buku-buku yang mereka tulis. Tentu saja alasan itu tak mudah diterima sang ibu, sehingga sang ibu mengganggap tokoh “Aku” telah melawan kepadanya.

    “Sok memilih pekerjaan juga kamu, ya sudah kalau merasa senang hidup sedemikian, lakukanlah!” kata sang ibu marah.

    Disinilah awal mula tokoh “Aku” tidak mendapatkan restu dari ibu kandungnya. Tetapi ia tetap berniat tidak melawan kepada sang ibu, sebab ia tahu itu sangat tidak baik. Tanpa restu sang ibu itu, tokoh “Aku” tetap menjadi penulis dengan suka dukanya hingga ia mendapat kesempatan mengikuti sebuah iven temu sastrawan internasional di Padang dan banyak belajar dari semua orang.

    Di sebuah situs jejaring sosial tokoh “Aku” curhat dengan kakak angkatnya yang seorang penulis. Disampaikanlah keluh kesahnya bahwa ia menghadapi cobaan berat dari sang ibu yang tidak merestuinya menjadi seorang penulis. Rupanya, sang kakak angkat juga pernah punya pengalaman yang sama, tetapi ia menjadi penulis sukses dikemudian hari. Kakak angkatnya itu memberikan semangat kepada tokoh “Aku” agar hobi menulisnya tidak ditinggalkan tetapi dia dianjurkan juga mencari pekerjaan tetap dengan gaji tetap sehingga ia dapat juga menyisihkan uang untuk sang ibu.

    Solusi itu sangat membahagiakan tokoh “Aku”. Semangatnya kembali tumbuh. Apa yang dinasihati oleh sang kakak angkat ia ikuti. Sehari-hari ia menulis apa saja, mulai dari puisi, cerpen bahkan novel. Ia juga berusaha mencari pekerjaan tetap diluar aktivitas menulisnya. Dia optimis dapat memberikan yang terbaik kepada sang ibu.

    Ide cerita cerpen ini sebenarnya sudah umum, tidak baru lagi. Penulis-penulis pemula seringkali berbenturan dengan kedua orangtuanya yang tidak mudah menerima keputusan bila anaknya memilih menjadi penulis. Jadi itu sudah biasa. Sebab, di negeri ini profesi penulis belum menjadi profesi bergengsi layaknya profesi dokter, dosen, polisi, atau pegawai negeri. Tetapi bukankah tidak mustahil bila menjadi penulis sukses kelak dan memiliki karya-karya best seller malah hasilnya lebih hebat dari profesi-profesi yang disebutkan di atas?

    Memang, jadi penulis atau tidak adalah pilihan. Desri Erniza telah menentukan pilihannya itu, ia tetap menjadi penulis dan bertekad membahagiakan ibunya.

    Selamat berkarya Erni. Semangat Anda luar biasa. Banyak penulis pemula yang tidak mampu membangun semangat itu dengan baik, sehingga pertama kali menulis kemudian vakum selama-lamanya. Semoga itu tidak terjadi pada diri Anda.

    Salam aishiteru!
    FAM INDONESIA
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Tanpa Restu Ibu” karya Desri Erniza (Padang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top