• Info Terkini

    Saturday, April 21, 2012

    Ulasan Artikel Karya Arbi Syafri Tanjung (Bukittinggi)

    ARBI SYAFRI TANJUNG
    ~Diposting tanpa editing FAM Indonesia

    Delapan Puluh Tujuh Tahun Pramoedya Ananta Toer 6 Feb 1925-2012
    Menoleh Sejenak Kepenulisan Pramoedya Ananta Toer

    Oleh: Arbi Syafri Tanjung

    Jasad dan raganya telah menyatu dengan tanah dan bumi tempat dia bersuara, berjuang dan bertahan, sekaligus negara tumpah darah yang selalu dia percikan cinta padanya, yaitu Indonesia. Lima tahun lalu, Minggu 30 April 2006 ketika sebagian anak kecil dikota besar dan pelosok mengisi waktu liburnya dengan mempelototi program kartun Doraemon atau kartun lainnya. Jam dinding menunjukkan pukul 08.55 WIB, ruang bathin orang sekelilingnya terusik dan terhenyak. Mungkin juga ruang bathin Indonesia, karena pagi itu Pramoedya Ananta Toer yang lebih sering disapa Pram, sastrawan Tierra Humana atau sastrawan Bumi Manusia menghembuskan nafas terakhirnya, pergi meninggalkan Bumi Manusia yang dia huni.

    Jumlah bilangan angka mengisi hidup telah sampai pada titik didih delapan puluh satu tahun. Tubuh kurus yang biasa menghabiskan tiga bungkus rokok Djarum Super dalam sehari itu, dikerumuni ratusan pelayat yang ingin melepaskannya keperistirahatan terakhir. Mereka memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan MultiKarya II No.26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Setelah dishalatkan, dia dibawa ke TPU Karet Bivak dengan ambulans. Saat jenazahnya di kebumikan, terdengar lagu Internationale dan Darah Juang yang dinyanyikan sebagian pelayat.

    Lagu yang dilantunkan secara spontan oleh sebagian pelayat pemakaman Pram, bisa saja menggiring saya atau anda pada satu simbol atau ideologi tertentu. Terlepas ikut tergiring atau tidaknya kita pada lagu khas kaum tertindas itu, satu yang utama sepantasnya kita munculkan bahwa Pram adalah simbol manusia produktif. Produktif bertahan pada sesuatu yang dia yakini, terlebih lagi produktif untuk melahirkan tulisan.

    Menulis sama dengan mencatatkan hidup. Pram telah catatkan hidupnya, Pram telah catatkan tempatnya, Pram juga telah catatkan manusia-manusia lengkap dengan segala peristiwa yang dialaminya dan saling beriringan mengisi bumi yang sama dengannya. Baik itu sukunya, rasnya, agamanya, apalagi nasib untung-malang yang tak pernah mau dan bisa mereka pisahkan dari diri mereka.

    Pram yang lahir pada 6 Februari 1925, dimasa teknologi komunikasi baca dan tulis belum secanggih era facebook hari ini, pernah mengakui rutinitas catat dan tulis mulai dia lakonkan sejak duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD) pada tahun 1935. Tulisan-tulisan semasa SD, satu di antaranya pernah ditawarkan pada penerbit Tan Koen Swie, Kediri, tapi ditolak.

    Ayah Pram seorang pendidik sekaligus aktivis pergerakan telah mempengaruhi habit-nya memiliki kebiasaan membaca. Kebiasaan manusia yang ingin capai peradaban tertinggi pada kemanusiaan itu sendiri. Pram besar dan dibesarkan oleh buku-buku bacaan koleksi pribadi ayahnya. Beliau belajar membesarkan jiwa dan rohani pribadinya dengan baca-tulis. Dua kegiatan yang kelak meletakkan beliau sebagai seorang yang berdiri di puncak dunia sastra Indonesia.

    Tulisan-tulisan yang ditelurkan,adalah hasil dari kerja juang pikiran dan perasaan serta keadaan yang apa adanya. Tulisannya bergerak dan bergulir berbagai tempat, dimana keadilan dan kebenaran tetaplah harga mutlak, harus didapatkan. Di kota besar, disana Pram dibaca dan disana Pram dibahas. Di gedung tinggi kantor tempat bekerja atau di halte penantian bus kota hendak pergi atau kembali dari rutinitas harian hidup urban. Tulisannya menggelinding ke desa-desa yang dipenuhi manusia yang dekat dengan bau pupuk-lumuran lumpur ditangkai cangkul-dihijau daunnya tanaman padi-sayuran serta ditambah bumbu-bumbu kepelikan lain seperti lilitan hutang, kelaparan atau kematian yang terkadang datang walau tanpa undangan.

    Mengapa Pram memulai menulis?

    Hasil wawancara yang dibukukan Andre Vltchek dan Rossie Indira lewat "Aku Terbakar Amarah Sendirian: Pramoedya Ananta Toer dalam Perbincangan Dengan Andre Vltchek dan Rossie Indira (2005)" terjawab pertanyaan di atas, Pram menyatakan: "Saya mulai menulis di tahun 1947, karena pada saat itu saya harus membiayai adik-adik saya. Pada saat itu saya menulis seperti orang gila untuk mendapatkan uang. Saya tidak bisa kerja yang lain selain menulis. Bisa dikatakan, saya menulis untuk makan. Dari sejak awal kelihatannya pembaca menyukai tulisan-tulisan saya, jadi, ya, saya teruskan" (hal:75).

    Proses pun dimulai, kemudian mengalir terus tanpa satupun dapat menghambatnya. Jeruji besi yang kokoh, kerja paksa dalam tahanan atau sanksi hukum yang tak jelas ujung pangkalnya, bagi Pram bukanlah jadi lubang-lubang yang menjerambabkan untuk tidak menulis. Sebaliknya dari lubang-lubang itu semua terungkap, jiwa dan rohani seseorang bebas, meski tubuh pemiliknya dikungkung di dalam kotak penjara.

    Karya fenomenalnya Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia-Anak Semua Bangsa-Jejak Langkah-dan Rumah Kaca) dihasilkannya di pembuangan pedalaman Pulau Buru. Ketika dia tiba untuk pertama kalinya, merupakan pulau yang lebih pantas disebut pulau tak bertuan. Sejak tahun 1947 itu pula bersemburan tulisan-tulisan Pram hingga tahun 2000. Proses menulis yang sering dia sebut sebagai tugas pribadi, tugas sosial dan tugas nasional itu terhenti, sejak tahun 2000 saat stroke menghampirinya. Saat itu dia berhenti menulis.

    Pram memang telah pergi tinggalkan Bumi Manusia, yang penuh dengan anak semua bangsa yang menelusuri jejak langkah hidup Indonesia dan dunia untuk dapat dipotret dan disaksikan dalam sebuah rumah kaca. Kekuatan semangat, karakter tokoh-tokoh fiktif ciptaannya serta keakuratan data dokumentasi yang selalu terasa dalam hampir seluruh tulisan racikannya, terus mengalir ke urat nadi lalu menusuk ruang bathin orang yang membacanya.

    Mereka yang membacanya menjadi lebih sadar dari sebelumnya. Sadar bagaimana bahasa mereka, bagaimana negara mereka, bagaimana kepedulian kemanusiaan mereka, dan bagaimana nasib orang kebanyakan yang telah mengisi lintasan panjang ruas jalan sejarah Indonesia. Pram dengan karya artikel, puisi, cerpen maupun novel telah mengantarkannya untuk disejajarkan dengan sastrawan dunia sekaliber Gunter Grass (Jerman), Albert Camus, Jean-Paul Satre (Perancis), Multatuli (Belanda), Jhon Steinbeck (Amerika Serikat), Rabindranath Tagore (India), Gao Xinjian (China), Gabriel Garcia Marquez (Kolombia), maupun Jose Saramago (Portugis).

    Panitia Peringatan Seribu Malam Kepergian Pram pada 1-7 Februari 2009 menuliskan, hingga tahun itu buku-buku Pram sudah diterjemahkan dalam 42 bahasa, bahkan di Malaysia, Jepang dan Belanda. Bukunya menjadi bacaan wajib bagi siswa sekolah. Sebagai bahan penguat dari yang penulis sebutkan sebelumnya, seingat penulis tulisan Taufik Ismail dengan tajuk "Membanding Pengajaran Sastra dan Mengarang dari Negara-Negara lain (Kasus SMP dan SMA College Melayu Kuala Lumpur, Perak, Malaysia, 1974-1980)" menjelaskan kepada pembacanya, walaupun Pram saat itu sedang menjalani hukuman di Pulau Buru hingga tahun 1979, pikiran dan tulisannya tetap mengalir, menyeberangi selat Malaka yakni Malaysia. Kenapa bisa? Sebab lewat tulisan Taufik Ismail ini kita dapatkan keterangan, di Malaysia pada tahun 1974 hingga 1980, buku Pram"Kelurga Gerilya" satu dari enam bacaan wajib dituntaskan siswa SMP dan SMA di Malaysia.

    Sekarang, aliran semangat dan kekuatan tulisan Pram terus diproduksi ulang. Lentera Dipantara, satu penerbit yang di nakhodai anak sulungnya Astuti Ananta Toer dengan giat dan nyinyir menerbitkan ulang tulisan-tulisan Pram. Hampir keseluruhan buku-buku Pram pernah terbit dan hilang dari peredaran dimasa lalunya dapat dinikmati secara kaffah (bulat dan utuh) oleh siapa saja. Kalau boleh meminjam ungkapan Happy Salma, artis-pengaggum Pram sekaligus ikut sumbangkan tulisan dalam bunga rampai 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa (Lentera Dipantara, Jakarta 2009). Katanya untuk mengenang kepergian Pram "Patah Tak Tumbuh Lagi dan Hilang Belum Berganti".

    Ungkapan ini seakan menawarkan tanya pada diri, kitakah orangnya yang akan tumbuh, setelah Pram patah dijemput Ilahi? Bisa pula bermakna, kitakah orang yang ditemukan sebagai pengganti, setelah bumi kehilangan Pram?

    Saat ini, sungguh kaya kita dengan jumlah sastrawan. Sebut saja nama Taufik Ismail, Arswendo Atmowiloto, Pipiet Senja-Taufik Rahzein, Gunawan Muhammad, Wisran Hadi, Rosihan Anwar. Nama-nama yang lebih lama setingkat, berprosesnya menulis-berkarya, bila dibandingkan dengan nama lainnya seperti Habiburahman El-Shirazy, Andrea Hirata, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Golagong, Kurnia Effendi, Andre Aksana, Dewi Utami, Ahmadun Yosi Erfanda, masih banyak lagi nama lainnya.

    Saya bukan sastrawan apalagi pengkritik sastra. Keduanya jauh dari diri saya. Lewat tulisan sederhana ini izinkan saya pakai sepotong hak saya untuk berujar lewat kata-kata tentang ke-mengaliran Pram di ranah sastra Indonesia. Banyak sisi yang dialirkan Pram. Pram alirkan keperdulian atas apa yang dirasakan oleh kita sebagai rakyat, yang selayaknya menerima perlakuan beradab dari negara dan penguasanya. Pram alirkan kenyataan, juga alirkan hidup dan Pram terus alirkan Indonesia serta mengalirkan data-fakta yang digali dari bacaan berharga.

    Pram pergi, tetapi kita belum lupa dan mudah-mudahan tak pernah lupa bagaimana perlakuan yang didapatkan saudara kita yang harus pasrah pada lumpur Lapindo-Sidoarjo. Lumpur menenggelamkan nasib mereka ke dalam perut bumi sedalam-dalamnya. Nasib mereka tak menentu seperti kata, yang berlalu hilang ketika dikeluarkan dari lisan dibawa angin usil. Siapa sastrawan yang mau menuliskan tentang mereka? Berapa banyak jumlah sastrawan, yang tumbuh menggantikan Pram dan siapa pula menemukan sesuatu yang hilang?

    Semoga sastrawan-sastrawan merupakan kekayaan peradaban kita, mau dan sempat untuk semprotkan pikiran dan rasanya, mengangkat apa saja yang mereka alami serta yang mereka cita-citakan, yaitu kelayakan untuk hidup. Hidup layak sebagai hak manusia yang menumpang di bumi ini. Disini, ditulisan ini, tak ada maksud untuk mengkultuskan atau memuji berlebihan akan kepenulisan Pram. Jikapun terjadi itu hanyalah dosa emosional saya saja.

    Harapannya, agar tulisan-tulisan sastrawan itu dapat menjadi jembatan pertemuan antara yang dirasa dan yang dicita-citakan. Tulisan-tulisan dan karya Pram dapatlah diambil sebagai satu dari ribuan contoh kepedulian itu. Sebagai sastrawan, makhluk ini akan abadi sampai jauh, lewat pikran-pikiran yang telah dia tuliskan.

    Enam tahun Pram telah terbang jauh kealam abadi. Tulisannya pun tak kalah abadinya mengalir abadi di Bumi Manusia yang telah ia tinggalkan. Do’a kami untukmu Pram.

    Penulis; Penikmat Sastra dan Sejarah asal Medan, tinggal di Bukittinggi.

    ULASAN FAM INDONESIA:

    Ini untuk pertama kalinya FAM Indonesia menerima kiriman tulisan berbentuk esai dari seorang calon anggota FAM Indonesia dari kota Jam Gadang Bukittinggi, Sumatera Barat. Esai itu berjudul “Delapan Puluh Tujuh Tahun Pramoedya Ananta Toer 6 Feb 1925-2012: Menoleh Sejenak Kepenulisan Pramoedya Ananta Toer”.

    Esai ini kami anggap menarik karena mengulas tentang sosok Pram yang fenomenal, sastrawan Indonesia dengan segala macam pro-kontra yang diberikan khalayak pembaca Indonesia kepadanya. Pram yang sangat produktif melahirkan banyak karya sastra, dan ia pun disejajarkan dengan sastrawan-sastrawan kelas dunia.

    Arbi Syafri Tanjung membuka esainya di paragraf pertama dengan kalimat menarik bergaya “feature”. Kita simak berikut ini:

    Jasad dan raganya telah menyatu dengan tanah dan bumi tempat dia bersuara, berjuang dan bertahan, sekaligus negara tumpah darah yang selalu dia percikan cinta padanya, yaitu Indonesia. Lima tahun lalu, Minggu 30 April 2006 ketika sebagian anak kecil dikota besar dan pelosok mengisi waktu liburnya dengan mempelototi program kartun Doraemon atau kartun lainnya. Jam dinding menunjukkan pukul 08.55 WIB, ruang bathin orang sekelilingnya terusik dan terhenyak. Mungkin juga ruang bathin Indonesia, karena pagi itu Pramoedya Ananta Toer yang lebih sering disapa Pram, sastrawan Tierra Humana atau sastrawan Bumi Manusia menghembuskan nafas terakhirnya, pergi meninggalkan Bumi Manusia yang dia huni.

    Banyak pengertian apa itu Feature. Tetapi secara umum Feature adalah cerita khas kreatif yang berpijak pada jurnalistik sastra tentang suatu situasi, keadaan, atau aspek kehidupan, dengan tujuan untuk memberi informasi dan sekaligus menghibur khalayak media massa. Secara sederhana, feature adalah cerita atau karangan khas yang berpijak pada fakta dan data yang di peroleh melalui proses jurnalistik.

    Di paragraf-paragraf berikutnya, esai Arbi Syafri Tanjung mengalir dan banyak menimbulkan sentuhan-sentuhan tentang keteladanan sosok Pram. Misalnya seperti kutipan berikut yang bercerita tentang semangat Pram menulis:

    Menulis sama dengan mencatatkan hidup. Pram telah catatkan hidupnya, Pram telah catatkan tempatnya, Pram juga telah catatkan manusia-manusia lengkap dengan segala peristiwa yang dialaminya dan saling beriringan mengisi bumi yang sama dengannya. Baik itu sukunya, rasnya, agamanya, apalagi nasib untung-malang yang tak pernah mau dan bisa mereka pisahkan dari diri mereka. (alinea ke-4)

    Ya, menulis sama dengan mencatatkan hidup. Apa yang terjadi di dalam kehidupan kita, sebenarnya adalah sumber-sumber ide yang sangat luar biasa; modal terdekat untuk berkarya. Bagi penulis pemula, sebelum menuliskan tentang diri orang lain, dianjurkan untuk bercermin pada diri sendiri, apa yang bisa dituliskan dari perjalanan hidup kita selama ini. Pram sudah membuktikan itu. Apa yang dialami Pram, baik sejak awal mula ia menulis hingga diasingkan di Pulau Buru sebagai tahanan politik (tapol) lalu dapat menghirup udara bebas kembali, ia tuliskan menjadi cerita-cerita indah dalam novel-novelnya yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia itu.

    Pram sendiri telah menulis sejak dini. Seperti dikatakan Arbi Syafri Tanjung dalam alinea ke-5 esainya berikut ini:

    …rutinitas catat dan tulis mulai dia lakonkan sejak duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD) pada tahun 1935. Tulisan-tulisan semasa SD, satu di antaranya pernah ditawarkan pada penerbit Tan Koen Swie, Kediri, tapi ditolak…

    Penulis-penulis hebat hari ini yang besar dengan karya-karyanya, mereka bukanlah produk karbitan, instan, tetapi semua yang mereka dapatkan telah melalui proses panjang yang berliku. Itulah yang dialami Pram, sehingga ketika ia pergi, Indonesia, bahkan dunia, merasa kehilangan dirinya.

    Esai tentang Pram yang ditulis Arbi Syafri Tanjung ini menjadi rujukan bagi penulis-penulis pemula tentang sosok tokoh sastrawan Indonesia yang dicatat sejarah sepanjang masa meski jasadnya telah berkalang tanah. Pram telah memahatkan namanya dengan tinta emas di kanvas peradaban dunia bahwa dengan menulis hidup seseorang akan lebih berarti walaupun ia telah mati.

    Esai ini sangat baik sekali gaya penulisannya. Mengalir. Menyentuh. Walau ada beberapa diksi yang mungkin salah ketik oleh penulisnya. Misalnya beberapa kata di bawah ini.

    …dikota, seharusnya ditulis “di kota”
    …keperistirahatan, seharusnya ditulis ke peristirahatan
    …hutang, seharusnya utang
    …Dengan, seharusnya “dengan” (huruf d kecil, karena kata penghubung)
    …Taufik Ismail, seharusnya “Taufiq Ismail” (dengan huruf q)
    …pengaggum, seharusnya “pengagum”
    …kealam, seharusnya “ke alam”

    FAM Indonesia menyimpulkan bahwa Arbi Syafri Tanjung adalah penulis muda berbakat Indonesia hari ini. Kelak ia akan dapat menjadi seorang esais atau kritikus sastra ketika Indonesia hari ini telah kehilangan sosok kritikus HB Jassin, Paus Sastra Indonesia. Dan, tentu semua itu tidak mustahil bila Arbi Syafri Tanjung terus belajar, membaca sebanyak mungkin buku sastra, dan selalu meluangkan waktu untuk tetap menulis.

    Sukses buat Arbi Syafri Tanjung.

    Salam aishiteru.
    FAM INDONESIA
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 komentar:

    1. Bentuk segera cabang FAM Indonesia di kotamu. Add facebook FAM Indonesia: "AISHITERU MENULIS". Ikuti diskusi kepenulisan bersama Tim FAM Indonesia di Grup FB "FORUM AISHITERU MENULIS (FAM) INDONESIA". Bergabung menjadi anggota Hubungi Sekjen FAM Aliya Nurlela, Hp: 0812 5982 1511.

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Ulasan Artikel Karya Arbi Syafri Tanjung (Bukittinggi) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top