• Info Terkini

    Saturday, April 21, 2012

    Ulasan Puisi karya Rila Muspita

    RILA MUSPITA
    Puisi RILA MUSPITA, calon anggota FAM wilayah kota Padang, Sumatera Barat (dicopy dari tulisan asli tanpa editing):

    “Aku pun Mengharap Ridho-Nya”
    (Padang, 28 September 2011)

    Sesampai pada saat perjumpaan yang berujung duka
    Sesal tertinggal bila asrat tak disampaikan
    Mengalun indah pada bait-bait kebisuan
    Menggema dalam jiwa yang terus berguman

    Hilang dalam sepi, beri aku waktu
    Menjauh dalam kelam, izinkan aku menunggu

    Mentari itu muncul pasti akan tenggelam
    Rembulan itu utuh perlahan akan menyinsing
    Hujan ini deras taklama akan reda
    Seketika juga semua akan kembali pada batas waktu

    Tak ada yang sanggup berdiam tanpa ada jawaban
    Seolah berkicau dalam sanubari yang tertimpa
    Ketika kebekuan mulai menyusup relung-relung hati yang terkatup
    Kebisuan seolah menjadi jawaban atas persinggahan ini

    Aku akan beri seutas harapan disetiap helaan
    Menjawab semua dengan isyarat yang pasti
    Tiada duka saat itu,
    Tiada derita seketika itu,
    Hingga semua jawaban itu akan bergeming
    “Aku pun mengharap Ridho-Nya”

    ULASAN PUISI:

    Pagi ini FAM Indonesia mendapat kiriman puisi dari calon anggota yang berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Judul puisi itu, “Aku pun Mengharap Ridho-Nya”. Puisi yang indah, menggambarkan kerinduan si penyair pada Tuhan-Nya, mengharap bimbingan agar tidak salah langkah.

    Kita simak baris berikut ini:

    Hilang dalam sepi, beri aku waktu
    Menjauh dalam kelam, izinkan aku menunggu

    Dalam kehidupan ini, seorang manusia selalu berharap agar diberikan waktu agar dapat berbuat yang terbaik, meski apa yang diharapkan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Begitulah hidup, harus terus dijalani. Hanya manusia yang optimis saja yang selalu menyulam harap, berdoa, dan berusaha.

    Aku akan beri seutas harapan disetiap helaan
    Menjawab semua dengan isyarat yang pasti

    Kalimat “…disetiap helaan”, pada baris pertama di atas, mungkin maksudnya “helaan napas”. Di setiap helaan napas, yang entah berjuta kali berapa tarikan napas yang terhirup dan terhembus setiap hari dari hidung dan mulut manusia, kita selalu berharap semoga detik-detik waktu itu diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, tentu juga bernilai amal ibadah.

    Rila berbakat menulis puisi. Tetapi Rila harus lebih memerhatikan editing diksinya lagi sebagaimana terlihat dalam kata-kata berikut:

    …asrat, seharusnya ditulis “hasrat”
    …berguman, seharusnya ditulis “bergumam”, dan;
    …menyinsing, seharusnya ditulis “menyingsing.

    Rila, teruskan berkarya. Satu hari bisa menulis satu puisi pendek saja, setahun Rila sudah mengumpulkan 365 judul puisi. Siap dibukukan!

    Salam aishiteru
    FAM INDONESIA
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi karya Rila Muspita Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top