• Info Terkini

    Saturday, May 26, 2012

    Apa dan Siapa Ketum FAM Indonesia?


    ~Profil Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia

    Sejak kecil, obsesi lelaki muda ini ingin menjelajahi dunia. Maka, menjadi wartawan adalah pilihan hidupnya. Meski dia tahu, dunia wartawan bukanlah dunia yang dapat mewujudkan impiannya dalam sekejap. Berbagai rintangan pun ia hadapi. Bahkan, sang ibu kandung mulanya tidak merestui keinginnya menjadi wartawan. Dalam pikiran ibunya, menjadi wartawan artinya ia harus siap menjadi 'orang miskin'.


    Meski tidak selalu benar, namun logika sang ibu masuk akal. Delapan tahun melanglang buana di berbagai media cetak dan radio, hidupnya biasa-biasa saja. Bahkan selama empat tahun ia berjalan kaki memburu berita. Tak punya sepeda motor, alat komunikasi, apalagi komputer. Honor yang ia dapatkan sebagai wartawan pemula sangat pas-pasan. Namun empat tahun kemudian, sesudah masa-masa ujian itu, hidupnya mulai menampakkan peningkatan. Bahkan, setelah sang ibu menjanda, kebutuhan orangtuanya itu ditambah tiga orang adiknya yang masih kecil, dialah yang menafkahi. Semua dari hasil keringatnya sebagai penulis dan wartawan.

    Lahir di Medan Sumatera Utara, 3 Desember 1980, lelaki dengan nama lengkap Muhammad Subhan ini sejak kelas 2 SMP telah menulis. Ia memprakarsai terbitnya majalah dinding (mading) di sekolahnya. Hobi menulis itu berlanjut ketika di SMA dan kuliah. Masa SMP dan SMA Ia habiskan di Desa Kruenggeukueh Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara, Aceh. Kuliah di Padang ketika ia memutuskan hidup merantau sepeninggal almarhum sang ayah.

    Dia mengakui, sejak kecil belum pernah merasakan hidup berkecukupan. Almarhum ayahnya, Tgk. Abdul Manaf, hanya seorang pekerja kasar. Ibunya buruh cuci yang mengharapkan upah dari satu rumah ke rumah tetangga. Penghasilan keduaorang tuanya hanya cukup untuk sehari makan dan menyimpan sedikit uang untuk membayar kontrakan rumah.

    Meski hidup di bawah garis kemiskinan, ia mengaku bangga terhadap kedua orangtuanya yang pekerja keras. Nasihat sang ayah yang dicintainya, jangan pernah menyerah dengan keadaan, terus berjuang, dan jangan meminta-minta, terpatri dan memotivasinya untuk merobah keadaan. Dan itu ia buktikan sekarang.

    Sampai kelas 2 Sekolah Dasar, Muhammad Subhan tinggal bersama orangtuanya di Medan, Sumatera Utara. Ketika naik kelas 3 SD, orangtuanya pindah ke kota Lhokseumawe, Aceh Utara. Di kota itu ayahnya bekerja sebagai tukang sol sepatu di pusat kota. Setiap pagi, usai sarapan ditemani secangkir kopi, ia melihat sang ayah menyandang ransel yang isinya peralatan untuk menjahit sepatu. Pekerjaan itu dilakoni sang ayah karena ayahnya bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi. Ayahnya tidak tamat SMP, begitu pun sang ibu, hanya tamatan SD.

    Di awal-awal bekerja menjadi tukang sol sepatu di daerah yang baru, benar-benar terasa sangat sulit. Bahkan seharian tak ada orang yang memanfaatkan jasa sang ayah. Dengan raut wajah sedih, ayahnya pulang tanpa membawa apa-apa. Sering pula ia mendengar ayah dan ibunya ribut hanya gara-gara persoalan tak ada uang untuk belanja. Namun sang ayah adalah seorang yang sangat sabar. Keteladanan itu sangat terekam di ingatannya.

    Ketika duduk di bangku SMA, dengan inisiatifnya sendiri Muhammad Subhan membantu sang ayah bekerja. Ia pun belajar menjahit sepatu. Awalnya sang ayah tidak setuju namun karena keseriusan Muhammad Subhan untuk membantu sang ayah, akhirnya pekerjaan itu pun mereka lakoni berdua. Terkadang, ketika ayahnya sakit, dialah yang menggantikan bekerja.

    Bekerja sebagai tukang sol sepatu bukanlah pekerjaan menjanjikan. Nasib-nasiban. Terkadang ada orang, terkadang pula tidak ada sama sekali. Sehari hanya dua tiga orang yang memanfaatkan jasa tukang sol sepatu. Uang yang paling banyak dibawa pulang sehari tidak lebih dari Rp15.000. Dengan penghasilan yang sangat kecil itulah sang ayah menafkahi keluarganya serta menyekolahkan Muhammad Subhan dan ketiga adiknya.

    Menjadi Remaja Yatim


    Tanggal 15 Maret 2000, adalah hari bersejarah dalam hidup Muhammad Subhan. Orang yang dicintainya, sang ayah, berpulang ke Rahmatullah dalam usia 62 tahun. Ujian yang teramat berat dirasakannya. Pupuslah sudah harapannya untuk membahagiakan sang ayah kelak. Ketika itu usianya masih sangat belia.

    Sebelum sang ayah meninggal dunia, Muhammad Subhan pernah menyampaikan kepada ayahnya bahwa ia akan melanjutkan sekolah ke Kota Padang, Sumatera Barat. Ia ingin kuliah. Namun agaknya sang ayah tidak setuju. Sang ayah berharap Muhammad Subhan dapat membantunya bekerja karena usianya telah lanjut dan sering sakit-sakitan. Persoalan itu menjadi pikiran sang ayah. Beberapa hari setelah itu sang ayahnya jatuh sakit, ia mengalami stroke. Tiga hari kemudian ayahnya meninggal dunia. Innalillahi wainnailaihi raajiuun.

    Ketika itu, Muhammad Subhan dan ketiga adiknya benar-benar tidak siap kehilangan sang ayah, orang yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Pendidikannya di SMA tinggal beberapa bulan lagi tamat. Sempat Ia berniat untuk memutuskan sekolahnya ketika itu karena tak punya uang untuk membayar biaya sekolah, namun atas motivasi guru-gurunya serta kemauannya untuk terus belajar ia pun berhasil menamatkan pendidikan SMA dengan hasil yang memuaskan.

    Sepeninggal sang ayah, Nurhayati ibunya, juga mulai sakit-sakitan. Rematik dan penyakit asam urat menyerang tubuhnya. Mulanya sang ibu bekerja sebagai buruh cuci dan sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang camat. Namun sejak sang ibu sakit, tak ada lagi orang yang membantunya mencari nafkah. Siang malam Muhammad Subhan berpikir apa yang bisa dia kerjakan untuk membantu sang ibu dan adik-adiknya yang masih kecil dan harus bersekolah. Seorang adiknya laki-laki ketika itu masih duduk di kelas 2 MAN (Madrasah Aliyah Negeri), dan dua adiknya yang lain perempuan, satu kelas 6 SD dan satu lagi kelas 2 SD. Ia sangat berharap adik-adiknya mampu menyelesaikan pendidikan meski hanya sampai sekolah menengah.

    Merantau ke Padang

    Setamat SMA, Muhammad Subhan menyampaikan kepada sang ibu agar mereka pulang saja ke Sumatera Barat. Kampung halaman ibunya di sebuah kampung kecil bernama Kajai di Pasaman Barat. Mulanya sang ibu menolak. Namun, setelah Muhammad Subhan berangkat sendiri melihat kampung ibunya di Kajai, dilihatnya di sana banyak sanak famili dari pihak ibunya. Namun, sayangnya kampung itu berada di pedalaman dan bukan daerah yang berkembang. Mayoritas masyarakatnya juga berpenduduk miskin.

    Setelah bermusyawarah dengan sanak famili di kampung dan menceritakan keadaan keluarganya di Aceh sepeninggal sang ayah, mereka pun setuju agar sang ibu dan adik-adiknya dibawa pulang saja ke kampung. Akhirnya Muhammad Subhan kembali ke Aceh dan menjemput ibu dan adik-adiknya serta menceritakan keinginan sanak famili agar sang ibu mau pulang ke kampung.
    Setelah diyakinkan bahwa keadaan akan lebih baik di Sumatera Barat, akhirnya dengan berat hati sang ibu berkenan pulang ke kampung halamannya setelah belasan tahun ditinggalkan. Sakit asam urat ibunya yang sudah akut menyulitkan sang ibu berjalan jauh. Ia pun harus dipapah naik turun bus. Biaya keberangkatan itu, pada pertengahan 2000, semua perabotan yang ada di rumah kontrakan peninggalan almarhum sang ayah dijual sebagai bekal perjalanan.

    Setelah membawa ibu dan adik-adiknya pulang kampung, Muhammad Subhan memutuskan merantau ke Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat. Kota yang baru pertama kali dijamahnya seumur hidup itu terasa menyeramkan, karena di sana Ia tak punya siapa-siapa. Berbagai pekerjaan pun ia lakukan. Mulanya ia menjadi salesman, menjual barang-barang yang diambilnya dari sebuah perusahaan. Namun pekerjaan itu ia rasakan bertentangan dengan batinnya. Beberapa perusahaan sales tempat ia bekerja ditinggalkan. Selain bergaji kecil, kerja yang dilakoni pun terasa sangat berat.

    Menjadi Wartawan

    Sejak kecil, Muhammad Subhan telah diajarkan ayahnya ilmu agama. Ia pun sempat belajar mengaji di sebuah pemondokan. Dengan sedikit kemampuan di bidang agama itulah, ketika ia merantau ke Padang, ia berinisiatif untuk menjadi garin (petugas) musala di kawasan Air Tawar Barat, Padang. Tugas garin adalah membersihkan musala, azan, imam, bahkan ceramah agama di saat ustad yang diundang berhalangan hadir.

    Pilihan menjadi garin musala ia lakukan lantaran ia tidak menemukan pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Dengan menjadi garin ia pun mendapat jatah beras dan sedikit uang lauk pauk. Dia juga mengajarkan anak-anak mengaji di Taman Pendidikan Alquran (TPA) di musalla tempat ia tinggal. Selama menjadi garin itulah kematangan dirinya mulai terasah.

    Pengabdian menjadi garin dijalaninya sejak tahun 2000 hingga tahun 2004. Di akhir tahun 2000, selain tetap menjadi garin ia pun mulai menulis di surat kabar, khususnya sejumlah koran mingguan yang ada di kota itu. Di akhir tahun itu pula ia melamar menjadi wartawan di sebuat surat kabar mingguan terbitan Padang.

    Mulanya, dia berpikir pekerjaan wartawan adalah pekerjaan yang menjanjikan dengan gaji yang besar. Ternyata harapannya sekadar mimpi, jauh panggang dari api. Sepanjang tahun 2000-2004, beberapa koran mingguan di Padang pernah ia masuki, tetapi tak satu pun di antara media itu yang memberikan gaji layak selayaknya seorang pekerja profesional. Bahkan pernah ia berpikir untuk berhenti menjadi wartawan, namun keinginan itu cepat-cepat ia hapus karena dunia wartawan setelah ia renungi memiliki banyak kelebihan.

    Menurutnya, dengan menjadi wartawan, wawasannya semakin bertambah karena informasi terbaru selalu ia dapatkan setiap hari lewat media. Begitu pula, menjadi wartawan ia menemukan banyak kawan. Dan menjadi wartawan, ia berkesempatan mengunjungi daerah-daerah yang belum pernah ia kunjungi selama ini, baik di Sumatera Barat maupun beberapa daerah di Indonesia dan luar negeri dalam berbagai perjalanan jurnalistik yang ditugaskan kepadanya.

    Tahun 2004 ia pun meninggalkan pekerjaannya sebagai garin musala. Hal itu dia lakukan semata untuk memfokuskan dirinya bekerja sebagai wartawan. Pilihan yang berat karena awalnya jemaah musala tempat dia tinggal keberatan melepaskan dirinya. Namun karena tekadnya yang kuat akhirnya ia pun berhenti menjadi garin.

    Di tahun itu pula, ia bekerja di Harian Mimbar Minang Padang. Namun hanya dua tahun ia mampu bertahan di koran itu, lantaran koran itu bangkrut dan menjadi koran mingguan. Jika ia kembali bekerja di koran mingguan, itu artinya ia gagal dan tidak ada kemajuan. Bersama beberapa kawan, usai melakukan perjalanan jurnalistik ke Aceh pascatsunami 2004, ia pun mendirikan koran Harian Serambi Minang Padang. Namun koran itu hanya bertahan 3 bulan lantaran kehabisan modal.

    Selama masa itu, Ia sempat menjadi penyiar beberapa radio swasta di Padang, dan juga sempat menjadi koresponden Radio El Shinta Jakarta untuk wilayah tugas Kota Padang dan sekitarnya. Namun karena keterbatasan kepemilikan alat komunikasi serta alat perekam, pekerjaan itu pun ia tinggalkan.

    Di akhir tahun 2004, ia diterima bekerja di Harian Haluan Padang, yang merupakan suratkabar tertua di Sumatera Barat. Mulanya Ia tidak menyangka akan diterima di koran itu karena dia belum memiliki ijazah sarjana ketika itu, namun lantaran surat lamarannya banyak dilampirkan sertifikat dan piagam penghargaan, puluhan pelatihan jurnalistik yang diikutinya, atas pertimbangan itulah, ia pun diterima bekerja.

    Selama bekerja di Harian Haluan kemampuan jurnalistiknya terasah. Ia pun sering ditugaskan meliput kegiatan-kegiatan penting ke sejumlah daerah. Beberapa kali kunjungan Presiden dan Wakil Presiden serta menteri-menteri ke Sumatera Barat, dialah yang diberikan tugas meliputnya. Kemahirannya di bidang fotografi menghantarkannya menjadi fotografer Haluan selama lebih kurang dua tahun. Begitupun kesenangannya menulis feature yang mengangkat berbagai persoalaan human interest masyarakat kelas ‘grassroot’ membuat namanya cepat dikenal.

    Di awal tahun 2007, oleh Pemimpin Redaksi Haluan Ia ditugaskan ke Kota Bukittinggi dan diangkat menjadi Koordinator Daerah (Korda) Haluan di Kota Wisata itu. Penugasan itu tentu saja ia terima. Selama di kota itu pula ia mengembangkan diri dan bakat menulisnya di bidang sastra. Di sisa-sisa waktu luang ia menjelajah dunia melalui internet. Ia pun berkawan dengan banyak orang di berbagai belahan dunia.

    Perjalanan di dunia maya itu, sempat mempertemukannya dengan Harian Online Kabar Indonesia (HOKI) yang berpusat di Belanda. Sejak akhir 2006 ia telah menulis di media itu. Ia juga sempat menerima penghargaan sebagai Top Reporter HOKI serta sebagai Editor HOKI. Terakhir ia ditugaskan sebagai salah seorang redaktur di media internasional itu, disamping diminta beberapa kali menjadi juri dalam lomba kepenulisan yang diadakan HOKI.

    Sejak 2009, ia memutuskan tinggal di kota Padangpanjang yang berhawa sejuk, di kaki Gunung Singgalang. Di kota inilah ia dipertemukan dengan seorang tokoh penyair Indonesia, Taufiq Ismail dan diminta bekerja mengurus Rumah Puisi, pusat pelatihan guru sastra dan perpustakaan dengan koleksi 7.000 buku. Di kota ini pula ia menggerakkan kegiatan-kegiatan berkesenian khususnya di bidang sastra di kalangan remaja dan pemuda. Sejumlah buku karya remaja dan guru di Sumatera Barat ia terbitkan, semata untuk membangkitkan semangat berkesusastraan di Ranah Minang agar tetap terus menggelora.

    Perjumpaannya dengan Aliya Nurlela, seorang penulis perempuan dari kabupaten Malang, Jawa Timur mengantarkannya pada sebuah cita-cita luhur membangun wadah kepenulisan nasional yang kemudian bernama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Kegiatan-kegiatan FAM yang bermula dari dunia maya terutama facebook itu, berpindah ke dunia nyata dengan sejumlah kegiatan konkrit yang dibutuhkan banyak orang. Dalam waktu beberapa bulan saja FAM telah memiliki ratusan anggota yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Bahkan saat ini anggota FAM ada di Malaysia, Brunei Darussalam dan Mesir.

    Wujud nyata lainnya, saat ini FAM Indonesia telah memiliki kantor sendiri dan membuka Taman Baca dan Penerbitan Buku di Pare, Kediri Jawa Timur. Ke depan sejumlah usaha-usaha produktif lainnya akan dirintis untuk memperkuat finansial FAM dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan lainnya yang tetap bermuara pada agenda tulis menulis. Sebuah cita-cita mulia yang dibangun dengan kebersamaan untuk mencapai kesuksesan di segala bidang.

    Itulah sosok Muhammad Subhan yang sesungguhnya bukan siapa-siapa. Dia hanya wartawan muda biasa, pekerja keras, dan sangat mencintai keluarganya. Ia bercita-cita menjadi wartawan sejati seumur hidupnya. "Wartawan" singkatan yang ia panjangkan "Wakil Rakyat Tanpa Dewan" adalah pekerjaan mulia untuk menyuarakan kepentingan orang-orang biasa yang seringkali tertindas oleh keadaan. Dan, dia wartawan biasa yang punya cita-cita luar biasa.

    Hidup terus berputar, demikian kata orang bijak. Begitulah yang juga dirasakan lelaki  muda yang sekarang aktif menulis kolom, puisi, cerpen, essai dan artikel yang tersebar di sejumlah media massa terbitan lokal dan nasional. Kesahajaan hidupnya serta cita-citanya yang tinggi untuk menjelajah dunia, setidaknya menjadi motivasi bagi dirinya pribadi dan orang-orang yang senasib dengannya. Semangatnya tetap tinggi untuk menjadi yang terbaik. Dan mimpi itu ingin ia wujudkan, bersama FAM Indonesia.

    “Kelak, saya ingin melihat bendera FAM Indonesia berkibar di puncak gunung Everest,” ujarnya sembari tersenyum.

    Kisah hidupnya ini, setidaknya, menjadi motivasi bagi penulis dan wartawan pemula untuk tidak gampang menyerah dengan keadaan. Sebab kata penulis novel “Rinai Kabut Singgalang” ini, generasi penulis hebat masa depan ditentukan oleh sikap generasi penulis muda hari ini. "Teruslah menulis agar tidak dilupakan orang," pesannya. (FAM INDONESIA)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    3 komentar:

    1. Profil Pak Ketua Sangat Inspiratif, Aku Sangat Kagum Membacanya. sungguh Sosok Teladan yang Baik. Selamat Berjuang Pak Ketua, Semoga Selalu Dalam Lindungan Allah SWT. Amiiin

      Salam

      ReplyDelete
    2. Bentuk segera cabang FAM Indonesia di kotamu. Add facebook FAM Indonesia: "AISHITERU MENULIS". Ikuti diskusi kepenulisan bersama Tim FAM Indonesia di Grup FB "FORUM AISHITERU MENULIS (FAM) INDONESIA". Bergabung menjadi anggota Hubungi Sekjen FAM Aliya Nurlela, Hp: 0812 5982 1511.

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Apa dan Siapa Ketum FAM Indonesia? Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top