• Info Terkini

    Thursday, November 22, 2012

    Bermula dari 'Fesbuk', Bendera FAM Indonesia Berkibar

    FAM INDONESIA
     
    ~ Tentang Cita-Cita Ketum dan Sekjen FAM Indonesia ~

    SEJAK facebook diluncurkan pertama kali pada tanggal 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Universitas Harvard, di tahun-tahun berikutnya wajah dunia berobah. Hampir semua orang memiliki akun di facebook dan berhubungan dengan orang-orang yang mereka kenal, mulai dari teman sekolah, tetangga sebelah rumah, hingga kawan masa kecil yang tidak pernah bersua sejak berpisah. Pendek kata, facebook “berjasa” ikut merekatkan tali ukhuwah.

    Tapi tidak sedikit yang menyalahgunakan facebook untuk kepentingan sesaat yang merugikan pertemanan. Ada yang membuat akun facebook untuk menyebar teror, fitnah, paham terlarang seumpama ateisme, pornografi, menggalang aksi demonstrasi dan bermacam bentuk perbuatan negatif lainnya. Kesimpulannya, facebook bila berada di tangan orang yang berpikir positif maka hasilnya akan positif pula. Demikian juga sebaliknya.

    Layaknya banyak orang yang menemukan teman-teman mereka di facebook, saya pun berkenalan dengan Aliya Nurlela, seorang penulis perempuan produktif dari kota Malang yang menggagas penerbitan buku cerpen berjudul “Fesbuk” ini. Semuanya serba kebetulan. Saling memberikan komentar di status facebook, diskusi seputar kepenulisan, hingga masing-masing kami mengirimkan karya terbaik untuk dibaca—saya kirim novel terbaru saya ‘Rinai Kabut Singgalang’, dan saya pun mendapat kiriman buku berjudul ‘100% Insya Allah Sembuh’, buah pena Aliya Nurlela. Saya takjub membaca tulisan-tulisannya yang mengalir bagai air di buku itu, enak dibaca hingga titik paling akhir. Maka saya berkesimpulan, Aliya Nurlela memiliki bakat besar sebagai pengarang Indonesia masa depan. (Prolog Muhammad Subhan dalam buku Kumcer ‘Fesbuk’, 2012)

    ***

    Benar, kedua pendiri Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia memulai persahabatan mereka lewat facebook. Facebook di mata mereka bukan hanya sekadar alat untuk ber-say hello dan saling memberikan komentar dalam status, namun facebook bagi mereka dijadikan sebagai alat yang bisa mengantarkan pada sebuah aksi positif yang bisa terwujud di dunia nyata. Facebook bagi keduanya ibarat jembatan untuk menghubungkan ke sebuah daerah yang menawarkan banyak peluang. Layaknya sebuah jembatan, keberadaannya hanyalah sebagai tempat lewat. Namun demikian amatlah penting. Tanpa adanya sebuah jembatan yang menghubungkan antardaerah, maka penduduk di suatu daerah akan terisolir dari dunia luar serta berada dalam kondisi yang tidak nyaman. Mungkin juga tidak aman. Meski keberadaan jembatan itu amatlah penting, tetapi ada saja sebagian orang yang berusaha merusaknya atau hanya memanfaatkannya untuk duduk-duduk di pinggirnya sambil menyaksikan orang yang lalu lalang hilir mudik. Setiap ada yang lewat, diberi senyuman, diajaknya untuk tidak meneruskan perjalanan, hingga dicolek sebagai pertanda keakraban.

    Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia
    Memang kelihatannya enjoy tanpa masalah, disaat sebagian orang berusaha mencapai daerah baru yang menawarkan banyak peluang. Bersimbah peluh demi menangkap peluang yang ada di daerah baru tersebut. Mereka yang hanya duduk-duduk dengan mengatakan, “Ini hanya jembatan tempat lewat, tidak perlu terlalu serius.” Keadaannya akan tetap seperti itu. Hingga jembatan itu roboh, tak ada manfaat yang bisa diambil dan tak dapat memberikan manfaat pada orang lain. Sementara, sebagian orang yang berjuang menangkap peluang di daerah baru telah berhasil membangun jembatan yang baru. Jembatan yang memberikan manfaat bagi orang banyak.

    Itulah kedua pendiri FAM Indonesia, Muhammad Subhan dan Aliya Nurlela. Mereka tidak ingin terjebak dalam euforia penggunaan facebook yang hanya dijadikan ajang komentar-komentar tidak perlu. Meski ada sebagian pihak yang mengatakan, “Buat apa terlalu serius, ini hanyalah dunia maya.” Bagi mereka berdua itu tidak berlaku. Facebook adalah alat atau jembatan yang berada di dunia maya, namun aksi positifnya bisa diwujudkan dalam dunia nyata. Karena tekad, semangat dan cara pandang yang sama itulah yang menjadikan keduanya sepakat mewujudkannya dalam dunia nyata. Berlatar belakang penulis, maka aksi nyata yang mereka bangun adalah berawal dari dunia tulis menulis. Melalui jembatan yang bernama facebooklah, keduanya dapat membangun jembatan baru yaitu FAM Indonesia. Jembatan ini akan menjadi alat penyeberangan bagi para penulis muda yang ingin mengembangkan kemampuannya dalam bidang menulis. Serta mengantarkan mereka pada daerah baru yang menawarkan banyak peluang.

    Dalam hitungan bulan saja saling mengenal melalui facebook, keduanya telah mewujudkan beberapa karya di dunia nyata. Pertama, buku kumcer ‘Fesbuk’ kolaborasi telah terbit dan telah mendapat beberapa pesanan. Kedua, wadah kepenulisan nasional telah dibentuk yaitu Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Ketiga, penerbitan FAM Publishing telah berdiri dan mulai menerima kiriman naskah. Keempat, kantor FAM Pusat telah disiapkan di Pare, Kediri, Jawa Timur. Kelima, Taman Baca Masyarakat “FAM ILMI” akan segera dibuka untuk umum pada bulan Juni 2012. Keenam, Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi tingkat Nasional 2012 sedang berlangsung dan promosinya tersebar di beberapa media cetak dan online diseluruh Indonesia. Menurut Sekjen FAM, Aliya Nurlela, sejak dibukanya lomba cipta cerpen dan puisi tingkat nasional, sudah ada 700 orang lebih yang menghubunginya dalam seminggu untuk bergabung menjadi anggota FAM Indonesia. Memang benar, jembatan yang baru berdiri dua bulan ini setiap harinya rata-rata 40 sampai 70 orang yang mengantri untuk meminta “diseberangkan” ke daerah baru. Menjadi seorang penulis sukses!

    Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia
     Oleh karena itu, Ketua Umum FAM Indonesia Muhammad Subhan menunjuk Asisten dari tim Aishiteru Menulis yang akan membantu tugas-tugas Sekjen yang semakin padat. Namun, keduanya bersepakat ketat dalam menyeleksi yang akan membantu tugas mereka dalam wadah kepenulisan ini. Baik di tingkat pusat ataupun cabang. Tidak akan gegabah menunjuk dan menetapkan, tanpa berkiprah sesuai yang mereka harapkan. Jujur, amanah dan mau berjuang adalah yang dicari. Sebab, itu kunci tegaknya kebersamaan dalam wadah FAM Indonesia. FAM Indonesia dibangun keduanya dengan modal semangat. Bukan ditopang oleh dana besar dan meraup keuntungan materi dari anggota. FAM Indonesia ingin menjadikan anggota sebagai sahabat yang akan saling menyuntikan semangat dalam bidang tulis menulis. Sekaligus sebagai pendampingan bagi para penulis. FAM Indonesia bukan untuk dijadikan tempat berkarir dan meraih posisi puncak dalam hal materi (harta). Jangan karena tujuan yang tidak sejalan, mengakibatkan FAM Indonesia yang telah dibangun dengan cucuran keringat menjadi roboh begitu saja. Itulah sebabnya, pendiri FAM sangat ketat menyeleksi seluruh anggotanya dengan terarah. Untuk calon-calon ketua cabang FAM saja, harus melalui seleksi minimal enam bulan dan akan dikukuhkan setelah melewati masa seleksi itu.

    Mengutip pendapat sekjen FAM, “tenaga dua orang yang ikhlas membangun FAM dan memiliki cara pandang yang sama, akan mengalahkan tenaga seratus orang yang tidak ikhlas dan berbeda cara pandang.” Itulah sebabnya, keduanya sangat menikmati perannya masing-masing tanpa banyak hitung-hitungan. Muhammad Subhan berperan sebagai leader yang mengatur jalannya wadah kepenulisan ini. Sekaligus yang memenuhi undangan-undangan workshop menulis di berbagai daerah. Aliya Nurlela berperan sebagai manager, yang berhubungan langsung dengan para anggota serta mengatur aktivitas harian di kantor pusat FAM Indonesia. Masing-masing mencurahkan potensi yang dimiliki, serta berlomba-lomba berbuat yang terbaik. Bagi mereka, tetesan keringat dan airmata yang mewarnai perjalanan merintis wadah kepenulisan ini, akan menjadi bagian catatan sejarah berdirinya FAM Indonesia. Yang di suatu hari nanti, akan ditorehkan dalam tulisan menjadi sebuah buku.

    Jika dalam hitungan bulan saja, sudah banyak karya yang mereka wujudkan dalam dunia nyata, lalu tidak mustahil suatu saat nanti bendera FAM Indonesia akan benar-benar berkibar di puncak Everest, gunung tertinggi di dunia sebagaimana tekad dan cita-cita FAM. Seperti pertemuan di dunia maya yang awalnya mustahil diwujudkan dalam dunia nyata, mereka telah membuktikan. Semua bisa menjadi nyata, tak ada yang mustahil. Niatkan dengan ikhlas dan berbekal ‘bismillah’ serta semangat yang membara, berbuatlah yang sungguh-sungguh. “Kami tidak membuat kantor FAM di atas awan, ini nyata!” ujar Aliya Nurlela, Sekjen FAM di kantor pusat FAM, Pare. Mari kabarkan kepada dunia keberadaan wadah kepenulisan ini, lewat kata-kata, lewat media terutama facebook, sebab dari sanalah semuanya bermula!

    Salam Aishiteru!
    FAM INDONESIA
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bermula dari 'Fesbuk', Bendera FAM Indonesia Berkibar Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top