• Info Terkini

    Saturday, May 12, 2012

    Kawan, Berhentilah Menjadi Penonton

    FAM INDONESIA

    Saat kita menawarkan sebuah konsep kepada seseorang, mungkin pernah mendapat jawaban seperti ini, “Kamu lakukan saja dulu. Nanti kalau kamu berhasil, saya ikut.” Terlihat sekali, yang menjadi ukuran adalah hasil, bukan bagus tidaknya konsep itu. Atau baik buruknya sebuah ajakan. Ini menandakan bahwa ia akan berbuat jika orang lain berhasil. Meski sesuatu itu baik, jika orang lain tidak berhasil, tidak mau melakukan. Itu gambaran umum. Mungkin, kita pun kadangkala bersikap demikian. Masih banyak tipe orang yang ‘wait and see’, menunggu orang lain sampai berhasil. Ketika orang lain berhasil, barulah bertindak dan itu sudah terlambat.

    Jika tipe ‘wait and see’ ini diterapkan pada amalan ibadah yang tidak bisa langsung kelihatan hasilnya (dalam bentuk materi), maka bisa merugi dan penyesalan panjang yang akan didapat. Ketika orang lain mengajak bersedekah, ia menjawab, “Nanti saja kalau kamu kaya karena sedekah, saya akan ikut sedekah.” Padahal, orang yang gemar bersedekah belum tentu akan berlimpah materi setelah rutin mengamalkannya. Meskipun balasan orang yang gemar bersedekah itu salah satunya akan dilipatgandakan hartanya. Sedekah satu bagian, dibalas menjadi 10 kali lipat. Hingga janji-Nya ada yang dibalas 700 kali lipat. Ibarat menanam satu biji jagung, akan tumbuh ratusan biji dari satu tongkol jagung. Saudara saya pernah tergerak menghitung satu tongkol jagung, yang dihasilkan dari kebun seorang lelaki yang ia saksikan sangat gemar bersedekah. Setiap panen, ia akan menyedekahkan sepertiganya kepada orang-orang yang membutuhkan. Waktu panen tiba, hasil jagungnya luar biasa melimpah dan setiap tongkol bijinya sangat padat tersusun. Tanpa ada yang renggang. Saya dan saudara saya tergerak untuk menghitung jumlah biji dalam satu tongkol. Ternyata, jumlahnya benar-benar 700 biji. Luar biasa! Bagi seorang pelaku sedekah yang mengerti, bersedekah bukan bertujuan mengejar untuk menjadi kaya raya. Meskipun itu telah merupakan janji Allah dalam Kitabullah. Tujuan utama adalah mendapat keridhaan-Nya dari amalan yang sesuai perintah-Nya. Jika kemudian Allah membalasnya dalam bentuk materi, itu adalah bonus dari amalan lurus yang ia lakukan.

    Bagi yang bertipe ‘wait and see’ tidak demikian. Ukurannya adalah berhasil secara materi. Sebab, kerangka berpikir yang dipakai adalah berpikir secara logika bumi. Segala sesuatu harus bisa dirasionalkan dan hasilnya bisa langsung dilihat oleh kedua mata. Jika sedekah, dipandang dari cara berpikir logika bumi maka dengan bersedekah dianggap akan mengurangi harta, yang membuat pelakunya menjadi miskin. Baginya, segala sesuatu yang masuk akal itu adalah yang benar. Jika tidak masuk akal, maka dianggap mustahil meski itu berasal dari firman Allah langsung. Berbeda dengan orang yang menjadikan keimanan sebagai pegangan dengan menggunakan cara berpikir ‘logika langit’. Logika langit lebih merupakan kehendak Allah yang dijalankan sesuai dengan cara bertindaknya Allah, yang bertumpu pada jurus ampuh yang dimiliki-Nya, yakni ‘kun fayakun’ (jadilah, maka terjadilah). Sebagaimana dalam firman-Nya (QS. Maryam ayat 35): “Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah, maka jadilah ia’.” Mereka yang berpikir dengan logika langit, yang dilihat bukan hasil tetapi berbuat yang sungguh-sungguh menjalankan sesuai perintah-Nya, untuk mendapat keridhaan Allah. Bonus yang diterimanya setelah rutin bersedekah, tidak selalu bentuk harta. Sebagaimana janji-Nya yang lain, disehatkan badannya, dimudahkan urusannya, dijauhkan dari bencana dan marabahaya serta balasan yang tak terhingga di sisi-Nya kelak. Nah, faktor keimanan cukup signifikan untuk menjadikan seseorang mau memercayai dan memahami logika langit.

    Menjadi penonton memang enak. Contoh, saat pertandingan sepakbola. Penonton bisa teriak-teriak, ikut mengatur harus ke arah mana bola digiring dan ditendang, dan bisa memaki-maki pemain sepuasnya. Jika pemain menang dalam pertandingan, penonton akan bersorak sorai, mengelu-elukan bahkan menampakkan seolah-olah ia ikut andil dalam kemenangan para pemain itu. Namun, ketika pemain kalah di medan pertandingan, umpatan, makian hingga lemparan benda ke arah pemain bisa dilakukan penonton. Saat kalah, penonton bisa berlepas tangan, seolah-olah bukan bagian dari pendukung tim tersebut. Bahkan bisa dengan entengnya mengatakan, “Saya bilang juga apa. Coba kalau bolanya digiring ke arah pinggir dulu untuk mengelabui lawan?” Seolah-olah sepak terjangnya lebih hebat dari pemain. Tetapi, coba suruhlah ia menggantikan salah satu pemain, bisa jadi permainannya lebih parah. Itulah sifat penonton. Seperti halnya pakar penonton (pengamat), mereka memberikan komentar permainan hingga titik yang paling detail, yang paling rumit. Serta bisa menilai kelemahan dan kelebihan di balik tendangan kaki para pemain. Para pengamat itu berbekal teori. Jika harus menendang bola langsung di lapangan, belum tentu lebih baik dari para pemain yang diamati. Meski ada saja yang awalnya pemain, kemudian setelah ‘pensiun’ menjadi pengamat.

    Meskipun menjadi penonton itu enak, tetapi lebih enak lagi menjadi pemain. Kenapa? Yang dihargai adalah pemain. Yang mendapat trophy adalah pemain. Yang disanjung adalah pemain. Yang menjadi berita di media adalah pemain. Meskipun menjadi pemain itu harus berkeringat, kelelahan, hingga babak belur kena amukan penonton, tetapi pemainlah yang dibayar dengan harga mahal. Penonton harus membayar dengan membeli tiket. Sehebat-hebat penonton, dengan memberikan dukungan terbaik dan sering menonton pertandingan, tidak akan mendapatkan penghargaan dari pihak penyelenggara. Tetapi, seburuk-buruk pemain, meski kalah berulang kali masih tetap mendapat penghargaan walau nilai penghargaannya lebih kecil dari pemain yang menang.

    Dalam dunia menulis pun demikian, seorang penulis (pemain) harus berkeringat, berpikir menyusun kata, berusaha menemukan ide, menawarkan hasil karyanya pada media. Jika karyanya bagus, akan diterima. Mendapatkan honor, royalti, popularitas, undangan-undangan, hingga kenalan baru dari berbagai kalangan. Namun, di satu sisi harus mendapat kritikan, bukunya tidak laku, honor minim dan keluar banyak biaya untuk pengetikan. Itulah penulis, yang telah siap menjadi pemain dengan segala resikonya. Tanpa melihat hasil akhir. Dengan catatan, saat memulai menulis sudah berpegang pada rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar, baik menurut norma agama ataupun norma yang berlaku di masyarakat. Berbeda dengan yang bertipe ‘wait and see’ tadi, ia menunggu orang lain berhasil. Jika orang lain berhasil menulis sebuah novel, hingga novel tersebut menjadi best seller maka barulah ia bergerak. Orang lain yang sudah menghasilkan novel best seller tadi sudah melangkah lebih jauh, ia baru memulai. Sibuk mencari penulis senior yang bisa membimbing, menghubungi tempat-tempat kursus menulis, mencari informasi cara mengirim karya dan lain sebagainya. Masih memulai. Memang tak ada kata terlambat dalam belajar, namun kekeliruan yang perlu digarisbawahi adalah, “menunggu orang lain berhasil, baru bergerak”, itu yang tidak tepat.

    Kecenderungan seorang penonton, selalu mengentengkan hasil karya oranglain. Sebab, penonton tidak merasakan bagaimana proses pembuatan karya tersebut. Penonton hanya melihat hasil akhirnya. Satu contoh, ketika ada teman yang berhasil menerbitkan buku. Komentar si penonton, “Cuma buku seperti ini aja, promosinya gede-gedean.” Mengentengkan! Ia tidak tahu, saat penulis buku tersebut menyusun kalimat demi kalimat untuk menjadi sebuah buku. Ia harus menguras pikirannya, menyisihkan waktu khusus, membagi waktu dengan keluarga, mungkin juga sambil menggendong anaknya termasuk melakukan survey lapangan. Perlu perjuangan panjang sebelum terwujud menjadi sebuah buku. Namun di mata penonton, perjuangan sering diabaikan, yang dilihat adalah hasil. Seorang pemain, akan lebih menghargai hasil karya orang lain. Sebab ia merasakan proses berjuang itu seperti apa. Ia tahu menciptakan sebuah karya itu tidak mudah. Oleh karena itu, lebih arif menilai daripada seorang penonton. Saya pun sedang belajar untuk menjadi seorang pemain yang baik dalam segala hal, bukan hanya dalam bidang menulis. Dalam arti, mau mempraktikkan ilmu yang didapat meski ilmu itu belumlah banyak. Ilmu tanpa praktik, hanya akan membuat ilmu itu tidak berguna dan diri kita pun tak berguna.

    Sahabat FAM, seorang pemain membuat sesuatu itu terjadi. Sedangkan seorang penonton melihat sesuatu itu terjadi. Seorang pemain melihat peluang dalam kesulitan. Sedangkan seorang penonton melihat kesulitan dalam peluang. Seorang pemain akan cepat menangkap peluang untuk ambil bagian. Sedangkan penonton, menunggu oranglain melakukannya. Berhentilah menjadi penonton! Mari kita berbuat sekarang juga. Kita amalkan ilmu yang kita terima, sekarang juga. Kita sama-sama belajar menjadi seorang pemain yang baik melalui wadah kepenulisan nasional FAM Indonesia. Insya Allah.

    Salam Aishiteru!
    ALIYA NURLELA
    Sekjen FAM Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 komentar:

    1. Sippp dehhhhhh Insya Allah Saya akan jadi Pemain Inti

      ReplyDelete
    2. Bentuk segera cabang FAM Indonesia di kotamu. Add facebook FAM Indonesia: "AISHITERU MENULIS". Ikuti diskusi kepenulisan bersama Tim FAM Indonesia di Grup FB "FORUM AISHITERU MENULIS (FAM) INDONESIA". Bergabung menjadi anggota Hubungi Sekjen FAM Aliya Nurlela, Hp: 0812 5982 1511.

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Kawan, Berhentilah Menjadi Penonton Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top