• Info Terkini

    Thursday, May 3, 2012

    Ulasan Artikel “Freedom” karya Satria Nova (Anggota FAM Wilayah Surabaya)

    SATRIA NOVA

    Freedom

    Oleh Satria Nova

    Seperti seorang lelaki perkasa yang menginginkan kebebasan. Ia sampai bersikukuh meneriakkan kata ‘freedom’ ketika menemui ajalnya karena digantung. Dialah William Wallace, pahlawan Skotlandia.

    Kisah kepahlawanannya telah difilmkan dengan judul ‘The Brave Hart” yang dirilis sejak 1995 dan telah diputar beberapa kali di televisi. Aktor pemeran utamanya adalah bintang asal Australia, Mel Gibson yang berperan sebagai William Wallace.

    Sama halnya di tahun 1945 ketika puncak perlawanan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaannya. Adalah Soekarno dan Muhammad Hatta yang menjadi proklamator kemerdekaan negara kita, atas dorongan kaum muda kala itu. Kaum muda tak mau menunggu lama lagi mengingat saat itu adalah kesempatan emas dimana Jepang kocar-kacir setelah Hiroshima dan Nagasaki di jatuhi bom atom. Sementara generasi tua menginginkan kemerdekaan dengan cara diplomasi karena sebelumnya ada janji yang sempat diungkapkan negara matahari terbit tersebut bahwa Indonesia akan dimerdekakan.

    Tapi tetap saja, generasi tua tak kuasa membendung gejolak amarah generasi muda. Dan ini memang terbukti, di belahan manapun di bumi ini yang sanggup melakukan perubahan berarti selalu para kaum muda. Pantas saja Soekarno pernah mengatakan, “Beri aku 10 pemuda, maka aku akan menggoncangkan dunia.”

    Kisah nyata yang begitu fenomenal adalah ketika penaklukkan Konstantinopel oleh pasukan Muslim. Para sejahrawan manapun  pasti tahu, Konstantinopel adalah basis kekuatan dunia kala itu. Inilah sebuah kota besar nan megah yang juga merupakan sebuah benteng yang dibangun oleh kaisar Byzantium. Disanalah tempat dimana terdapat pasukan terkuat di seluruh dunia. Tempatnya begitu strategis, dikelilingi tembok yang menjulang tinggi dengan menara-menara pengintainya. Napoleon Bonaparte sampai mengatakan, “jika bumi ini ibarat sebuah negara, maka Konstantinopel yang paling pantas untuk menjadi ibu kotanya.”

    Selama berabad-abad tempat ini tak bisa ditaklukkan. Pasukan muslimpun berkali-kali dipukul mundur saat mencoba untuk menaklukkan tempat ini. Tapi inilah pasukan muslim, pasukan yang pantang menyerah. Mereka terus berusaha karena yakin suatu saat tempat ini pasti bisa ditaklukkan. Mereka selalu berpedoman pada sabda Rasulnya yang mulia ketika perang Khandaq, “Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin pasukan pada saat itu dan sebaik baik pasukan adalah pasukan pada saat itu.”

    Dialah Muhammad Al Fatih, pemuda yang berhasil menaklukkan kota ini. Di usianya yang masih belia justru dia sanggup memimpin pasukan muslim dan menggempur Konstantinopel. Hasilnya? Kota terpenting di dunia kala itu jatuh ke tangan umat muslim.

    Dikisahkan setelah terjadinya peperangan, Al Fatih mengumpulkan pasukannya. Dia mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka.

    “Siapa dari yang hadir saat ini yang sejak akil baligh pernah sekali saja meninggalkan sholat wajib berjamaah, silahkan duduk”.

    Tak ada satupun yang duduk.

    “Siapa dari yang hadir saat ini yang sejak akil baligh pernah sekali saja meninggalkan sholat sunnah rawatib, silahkan duduk”.

    Baru sebagian dari pasukan ada yang duduk.

    “Siapa dari yang hadir saat ini yang sejak akil baligh pernah sekali saja meninggalkan sholat tahajud, silahkan duduk”.

    Maka serentak pasukan buru-buru duduk. Dan hanya ada 1 orang saja yang tetap berdiri. Dialah Muhammad Al Fatih, sang penakluk Konstantinopel. Pantas jika Rasulullah mengatakan jika sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pasukan adalah saat penaklukkan Konstantinopel.

    ***

    Sejak dahulu, inilah yang dicari siapapun yang merasa haknya dirampas. Sejak zaman Fir’aun berkuasa, Musa memimpin Bani Israil untuk terbebas dari perbudakan yang dilakukan manusia yang mengaku dirinya tuhan. Beberapa abad setelahnya, Muhammad memimpin umat Islam terbebas dari kegelapan menuju jalan yang terang. Begitu juga selanjutnya hingga sekarang.

    Kebebasan adalah hak setiap manusia yang ingin dirasakan. Itulah yang mendasari perbudakan telah dihapuskan. Sebab semua manusia ingin dirinya merdeka. Setiap manusia ingin menjadi manusia bebas yang bisa melakukan apa saja. Setidaknya bebas dari segala penindasan dan perampasan hak asasi. Termasuk bebas dari belenggu setan dan hawa nafsu yang mengekang. Mungkin ini yang menjadi keinginan mayoritas orang.

    Inilah Ramadhan, tempat dimana semua orang mendapatkan kebebasan itu. Sebab di bulan ini, setan dibelenggu, neraka ditutup dan pintu surga di buka lebar-lebar. Penegasan ini dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Jika bulan ramadhan tiba maka pintu rahmat (surga) dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (Muttafaqun ‘alaih)

    Di bulan ini manusia mendapatkan kebebasan yang selama ini dicari. Sebab, tidak ada lagi setan yang membisikkan kata-kata manis untuk berbuat maksiat dan kejahatan. Mereka terbelenggu, sementara kita bebas. Seharusnya ini menjadi kesempatan emas bagi kita untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Karena di bulan ini, dengan mudah kita bisa beribadah. Bahkan jika kita amati, selalu saja ibadah di bulan ini terasa lebih istimewa dan mudah untuk dilakukan dibanding bulan-bulan setelahnya.

    Inilah Ramadhan. Segala macam ibadah yang biasanya susah untuk dilakukan kini menjadi mudah. Lantas bagaimana dengan kemaksiatan yang masih saja ditemui? Apakah setan benar-benar diikat? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang masih saja berbuat kejahatan?

    Inilah hakekat kebebasan yang sebenarnya. Bebas dari apapun, termasuk dalam menentukan pilihan. Manusia dianugerahi akal untuk berpikir. Sebab itulah manusia dijadikan khalifah di muka bumi. Pikiran yang bebas adalah simbol kebebasan yang sebenarnya. Kita bisa saja dikekang dengan peraturan dalam menjalani hidup. Itu tidak masalah selama pikiran kita tetap bebas. Semua itu menjadi tak begitu berpengaruh asalkan kita masih memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan.

    Ya, hidup memang pilihan. Tapi ingatlah, setiap pilihan memiliki konsekuensi. Kita bebas bertindak dan memilih jalan apapun. Tapi ada satu yang tak bisa kita pilih yaitu konsekuensi. Apapun yang kita kerjakan, konsekuensi sudah menanti. Islam telah menjelaskan dan mengajarkan mana yang haq dan mana yang bathil. Barangsiapa memilih yang haq, tentulah dia selamat, begitu juga sebaliknya.

    Di bulan Ramadhan setan memang dibelenggu. Tapi pengaruhnya bisa jadi masih melekat dalam diri manusia. Selama sebelas bulan setan menggoda dan menemani para pelaku maksiat. Mungkin saja apa yang dilakukan itu sudah menjadi kebiasaan dan terbawa hingga bulan Ramadhan.

    Lantas untuk apa setan diikat? Mungkin saja agar manusia berhenti dari menyalahkan faktor ekstern (penggoda) saat dia melakukan maksiat. Mungkin selama ini ketika kita berbuat kesalahan, dalih yang selalu kita ucakan adalah adanya gangguan setan. Yang patut dipersalahkan adalah setan yang telah menggodanya. Padahal sejatinya dirinya sendiri yang lemah imannya sehingga dengan mudah mengikuti bujuk raju setan. Disinilah manusia merenung untuk menilai siapa dirinya sesungguhnya. Disinilah kebebasan yang diberikan kepada manusia sepenuhnya digunakan.

    Manusia sebenarnya memiliki potensi untuk berbuat baik dan buruk. Hanya saja seringkali perbuatan buruk mudah sekali dilakukan karena manusia memiliki potensi untuk berbuat itu yang kemudian diperparah dengan kehadiran penggoda (setan). Dan jika di bulan Ramadhan masih saja ada yang berbuat maksiat padahal faktor eksternal sudah dihilangkan, maka betapa lemah iman orang tersebut.

    Perbuatan maksiat yang dilakukan pada bulan Ramadhan adalah murni dari dirinya sendiri, bukan karena setan. Jika itu tetap terjadi, maka keburukan itulah wujud dari manusia itu yang sesungguhnya. Dan orang semacam ini harus cepat-cepat instropeksi karena pasti banyak terjadi konsleting di dalam dirinya.

    Meski manusia memiliki kebebasan, hendaknya ia dengan bijak menggunakan akal dan imannya dalam menentukan pilihan atas kebebasan yang dimilikinya. Sebab pilihan yang tepat, pasti akan membawa manfaat.

    *Salah satu bab dalam buku “Bulan Ramadhan: Bebas dari belenggu setan & hawa nafsu” terbitan Elex Media – Kompas Gramedia.

    ULASAN FAM INDONESIA:

    Satria Nova, anggota FAM Indonesia di Surabaya, Jawa Timur, mengirim tulisannya yang sangat inspiratif untuk diulas oleh Tim FAM Indonesia. Tulisan itu berjudul “Freedom” yang merupakan salah satu bab dalam buku “Bulan Ramadhan: Bebas dari Belenggu Setan & Hawa Nafsu” terbitan Elex Media-Kompas Gramedia, karyanya sendiri.

    Anggota FAM yang satu ini walau terbilang masih muda tetapi sudah cukup berpengalaman dalam dunia tulis menulis. Itu dibuktikannya lewat sejumlah bukunya yang telah terbit di beberapa penerbit besar di Jakarta.

    Bagi FAM Indonesia, segala prestasi yang dimiliki Satria Nova tentulah patut disyukuri dan membanggakan. Bergabungnya Satria Nova sebagai anggota FAM Indonesia, diharapkan kelak dapat berbagi pengalaman menulis dan menembus penerbit yang tentu saja sangat berguna bagi anggota baru FAM Indonesia.

    “Freedom”, judul artikel itu, intinya membahas tentang keutamaan bulan suci Ramadan. Artikel ini amatlah menarik, sebab dibuka dengan sejumlah cerita kepahlawan beberapa tokoh yang menjadi penakluk dunia. Sebutlah misalnya, William Wallace, pahlawan Skotlandia, Soekarno dan Muhammad Hatta proklamator kemerdekaan Indonesia, Muhammad Al Fatih, pemuda yang berhasil menaklukkan Konstantinopel, dan Musa a.s sebagai pemimpin Bani Israil yang membebaskan bangsanya dari perbudakan yang dilakukan Fir’aun.

    Artikel ini adalah artikel yang berhasil menarik perhatian pembaca, sebab penulisnya tidak langsung membahas keutamaan Ramadhan sebagai bulan pembebasan dari segala jerat hawa nafsu. Penulisnya menggiring pembaca untuk menyimak dulu cerita-cerita heroik yang dialami sejumlah tokoh hero yang telah disebut beberapa nama di atas. Kutipan-kutipan cerita di bagian pembuka tulisan seperti yang dilakukan Satria Nova dalam artikel ini mempunyai daya magic tersendiri sehingga pembaca fokus menyimak hingga titik terakhir tulisannya.

    Barulah setelah beberapa kisah pembuka itu diceritakan Satria Nova, ia kemudian membahas tentang inti tulisannya:

    Di bulan ini (Ramadan) manusia mendapatkan kebebasan yang selama ini dicari. Sebab, tidak ada lagi setan yang membisikkan kata-kata manis untuk berbuat maksiat dan kejahatan. Mereka terbelenggu, sementara kita bebas. Seharusnya ini menjadi kesempatan emas bagi kita untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Karena di bulan ini, dengan mudah kita bisa beribadah. Bahkan jika kita amati, selalu saja ibadah di bulan ini terasa lebih istimewa dan mudah untuk dilakukan dibanding bulan-bulan setelahnya.

    Inilah Ramadhan, tempat dimana semua orang mendapatkan kebebasan itu. Sebab di bulan ini, setan dibelenggu, neraka ditutup dan pintu surga dibuka lebar-lebar. Penegasan ini dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Jika bulan Ramadhan tiba maka pintu rahmat (surga) dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (Muttafaqun ‘alaih)

    Kualitas artikel ini tidak diragukan lagi, sebab ia adalah bagian dari sebuah buku yang telah diterbitkan. Gaya penulisan Satria Nova dengan menuliskan kisah di awal tulisannya patut ditiru oleh penulis-penulis pemula. Gaya bahasanya pun menarik, sesusai kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

    Selamat untuk Satria Nova. Teruslah berkarya. Lahirkan buku-buku lainnya yang lebih dahsyat dan best seller di pasaran buku Indonesia. Semoga.

    Salam aishiteru!
    FAM INDONESIA
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel “Freedom” karya Satria Nova (Anggota FAM Wilayah Surabaya) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top