• Info Terkini

    Monday, June 25, 2012

    Ulasan Cerpen “Penumpang-Penumpang” Karya Retna Kusumawati

    IDFAM170U

    Cerpen berjudul “Penumpang-Penumpang” ini bercerita tentang seorang bapak yang baru saja ditinggal bunuh diri istrinya karena masalah ekonomi. Setelah 3 bulan kematian istrinya, ia berniat menjual anaknya karena alasan yang sama, Maka ia melakukan perjalanan menuju rumah seorang makelar anak bernama Aminah untuk melakukan transaksi.

    Dalam perjalanan ia naik angkot yang supirnya mengalami nasib yang sama, yaitu dijerat kemiskinan. Karena suatu hal, lelaki ini cekcok dengan sopir angkot yang berujung tewasnya kedua orang tersebut. Anak-anak yang hendak dijual lari ketakutan hingga akhirnya meninggal karena kelaparan.

    Penulis cukup pintar dalam membuat deskripsi cerita. Ini membuat pembaca seolah-olah melihat langsung adegan yang terjadi. Gambaran yang seakan nyata membuat pembaca mudah membayangkan seperti apa kejadian sebenarnya.

    Teknik penulisan dan alur cerita juga cukup bagus. Hal ini membuat pembaca betah dan penasaran mengetahui kelanjutan setiap kalimatnya. Satu poin lagi yang bagus adalah kalimat pembuka. Penulis pintar memilih scene pembuka yang membuat pembaca langsung dalam kondisi “on” untuk terus menikmati isi cerita.

    Catatan dari FAM untuk cerpen ini adalah soal judul dan EYD. Entah kenapa, FAM merasa judul yang digunakan kurang ‘eye catching’. Mungkin bisa diganti dengan “Angkot Berdarah” yang membuat orang bisa langsung penasaran mengetahui isinya saat membaca judulnya. Sedangkan untuk EYD, ada beberapa cara penulisan yang harus diperbaiki seperti penulisan kata “di” yang seharusnya dipisah ketika diikuti kata tempat. Begitupun penulisan tanda petik dua ( “ ) sebagai pembuka dialog, terlalu berjarak dari kalimat dialog, seharusnya dirapatkan. Bahkan ada dialog yang menggunakan tanda petik satu ( ‘ ) yang seharusnya tanda petik dua ( “ ). Sebagai contoh dialog berikut (lihat tanda petiknya):

    ‘ Aku jelas telat. Moga-moga Aminah masih menungguku,’ harap cemas lelaki  hitam  itu…

    FAM menganjurkan, lakukan kembali editing sebaik mungkin. Tidak cukup sekali membaca ulang, bila perlu berkali-kali sehingga benar-benar tidak ada terjadi kesalahan ketik. Sebab, sebagus apapun isi cerpen bila teknik pengetikannya salah, maka cerita itu akan menjadi rusak. Sayang kan?

    Overall, secara keseluruhan cerpen ini bagus. FAM berharap penulis terus berlatih agat kualitas tulisan semakin bagus lagi.

    Semangat berkarya!
    Salam Aishiteru

    TIM FAM INDONESIA

    BERIKUT CERPEN “PENUMPANG-PENUMPANG” DIPOSTING SEBAGAIMANA NASKAH ASLI (TANPA EDITING):

    Oleh Retna Kusumawati

    Duda beranak dua itu  membasuh  peluhnya dengan cemas. Di kanan kiri duduk  terkantuk-kantuk  anak-anaknya. Angkot masih ngetem  lama di terminal gelap. Berkali-kali dia melihat jam  tangannya.  Sang sopir tertidur di atas setir  mobilnya. Siang terik tak bersahabat sedikitpun dengan keadaan hatinya. Sangat kerontang sekering  hati. Kedua pria itu sama letihnya. Letih dengan penderitaan ekonomi.

    ‘ Aku jelas telat. Moga-moga Aminah masih menungguku,’ harap cemas lelaki  hitam  itu.  Di elusnya rambut anak-anaknya. Rambut kusam tak terurus. Sejak kematian  ibu  mereka  karena  deraan ekonomi. Istri lelaki itu bunuh diri dengan minum  cairan  pembasmi  serangga. Gara-gara tak bisa berbuat apa-apa, melihat anak-anaknya meraung-raung  kelaparan. Saat itu lelaki berusia tigapuluhan  tahun  itu sedang  berjuang, mencari pekerjaan di kota besar. Tak bisa mencegah  tindakan  nekad istrinya.

    “ Hey, tarik-tarik! Molor  melulu, mau dapat duit nggak Lu!” teriak pencatat waktu diterminal gelap itu.

    Sopir geragapan, diraihnya handuk di leher. Dengan umpatan pelan dia tarik gigi angkot. Pelan-pelan sopir mulai menjalankan angkot. Penumpangnya hanya bapak beranak dua itu. Jalanan sepi tersiram terik mentari. membuat orang  malas untuk keluar rumah. Jika tak ada hal  mendesak  duda itu juga tak  mau  keluar  rumah. Tapi  hari ini dia punya keperluan yang sangat penting. Mau tak mau dia harus berpanas-panas ria.

    “ Bapak, aku lapar,” rengek si anak kecil.

    “ Aku juga. Haus Pak.” Sambung sang kakak.

    “ Ya, ya. Nanti kalau sampai tujuan kita beli makanan dan minuman yang kalian inginkan. Sabar dulu ya. Bang, nggak bisa cepat sedikit jalannya?” si bapak bertanya. 

    Sopir menguap lebar, matanya masih merah. Tanda kantuk masih terlihat.

    “ Pelan-pelan Pak. Sambil  nunggu  penumpang  lain. Dunia belum mau kiamat ini. Sabar saja.” Ucapnya sinis.

    “ Tolong Bang. Saya ada janji  dengan  seseorang  untuk  mengantar anak-anak ini.” Rajuk si duda.

     Sopir angkot  menyeringai. Tak jelas arti seringainya. Mungkin karena masih menyimpan sisa kantuknya atau lapar yang melilit perut.

    “ Enak saja ngatur-atur gue. Lu berani bayar berapa? Ini bukan taksi tahu!” kata sopir agak membentak.

    Dia letih, letih menunggu penumpang. Setiap harinya jumlah  penumpang di rasa kian  menyusut. Mana  trayek yang dia tempuh bukan  trayek resmi.  Sopir  itu  bikin  jalur sendiri. Dengan resiko ketahuan sopir angkot trayek resmi, penumpang  tak menentu bahkan kadang  tak ada hasil sedikitpun.

    Duda itu terdiam. Hatinya  mulai  menimbang-nimbang. Mungkinkah apa yang akan dilakukannya tidak di ridhoi Tuhan. Sebab sejak  keberangkatan  mereka dari rumah, ada saja hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Kunci yang terselip, sandal jepit anak  bungsunya  putus, lupa  mematikan kompor. Hal-hal yang bikin senewen duda itu. Juga ketakutan-ketakutan yang lain.

    ‘ Ini hanya perasaanku saja. Moga-moga  bukan sial yang kuperoleh. Aku harap apa  yang  kulakukan  ini  adalah jalan terbaik bagi  anak-anakku.’ Doa lelaki duda itu dalam diam.

    Sopir sekarang berhenti, dari ujung sebuah gang berbondong-bondong  anak-anak  muda. Tampak seperti  habis keluar dari tempat kursus. Berceloteh dengan  riang  seolah dunia selalu indah.

    Anak-anak  muda  itu berisik, satu  persatu  masuk  ke angkot yang hanya muat untuk tigabelas penumpang. Itupun di paksakan. Sopir yang sepertinya merindukan  dapat penumpang banyak itu mulai tamak. Keenambelas anak muda itu hendak  di angkutnya sekaligus. Hal  yang  jelas  tidak  memungkinkan. Apalagi di dalam angkot sudah ada seorang duda  berikut  dengan anaknya

    “ Pak, anaknya dipangku saja. Biar muat. Kasihan mereka kalau harus menunggu angkot lagi. Ayo, Pak! Geser kanan sedikit!.” Perintah sopir mulai rakus. Terbayang  lembaran-lembaran rupiah yang di carinya hari ini lumayan banyak.

    Duda itu kembali mengelus rambutnya yang mulai beruban. Keringat mengucur deras. Takut  mengecewakan  seseorang  yang  tengah  menunggunya. Duda itu muak dengan sikap sopir. Dia mulai berontak. Di tatapnya sopir dengan dingin.

    “ Hey, Bang kira-kira dong. Angkot sekecil ini mana muat untuk duapuluh orang.”

    Sopir  terbeliak demi  mendengar lelaki itu berteriak. Dia tak pernah menerima bentakan dari para penumpangnya.

    “ Apa mau  lu? Nantang lu. Ini angkot, angkot gue. Kalau lu nggak mau naik angkot  gue, keluar sana!” balas sopir.

    Duda itu meradang, dia sudah ikut ngetem angkot  itu  selama  dua  jam. Ikut  menunggu  penumpang-penumpang lain di terminal gelap. Sekarang, begitu bertemu dengan rombongan penumpang lain, dengan seenaknya sopir itu mengusirnya? Belum cukupkah  kesabarannya diuji  kini?

    “ He, Bang! Jangan  mentang-mentang ya. Tadi memohon-mohon agar saya mau  naik angkot Abang. Sekarang  Abang  mengusir saya. Sopir macam apa Abang ini!” semprot laki-laki  itu dengan nada tinggi. 

    Sopir keluar dari angkot. Berjalan ke arah  belakang. Menuju laki-laki beranak dua itu.

    “ Turun lu, kita selesaikan ini di luar secara laki-laki!” sopir itu  seolah menantang.

    Habis kesabarannya, demi di  ingatkan sikapnya yang  tadi  memohon-mohon  kepada penumpang pertamanya hari ini. Duda itu keluar sekalian dengan anaknya.

    “ Saya turun saja!  Saya nggak mengancam, tetapi lihat saja. Angkot ini takkan  pernah  sampai  tujuannya. Ayo Nak, kita cari angkot lain!” duda itu menyeret kedua anaknya.

    Menjauhi angkot dan para penumpang yang terbengong-bengong dengan kejadian itu.

    Sopir  menyuruh masuk  keenam belas anak muda itu. Menjalankan angkot dengan  ketegangan. Keenambelas penumpangnya juga terdiam. Hening dalam sesaknya  angkutan  perkotaan  yang  terseok-seok meniti jalanan berdebu yang ranggas. Berlobang  sana  sini,  ada genangan  air, ditambah tuanya usia angkot tersebut. Membuat keheningan yang mencekam di angkot tersebut

    Belum ada satu kilometer, tiba-tiba sopir itu mendadak menghentikan angkotnya.  Dengan  sedikit kecewa dia menyilakan penumpangnya turun. Keenambelas penumpang itu turun dengan menggerutu. Segala bentuk omongan mereka  tak  digubris  sang sopir. Meski begitu keenambelas anak muda itu memberikan  uang  masing-masing   seribu rupiah. Sekedar bentuk terimakasih daripada harus jalan satu  kilometer di terik mentari begini.

    “ Dengar, saya mau  membereskan  laki-laki  tadi. Dia sudah  mendoakan saya tak sampai tujuan. Saya juga akan  membuatnya tidak sampai pada tujuannya. Maaf mengganggu  perjalanan kalian.” Katanya penuh misteri.

    Keenambelas  penumpang itu tercekat. Ada nada dendam  dalam  kalimat sopir itu. Kata membereskan berarti  menghilangkan  nyawa laki-laki dua anak tadi. Membuat  anak muda  yang  sebagaian  perempuan  itu  bergidik ngeri. Tak melanjutkan  umpatan  kemarahan pada sopir angkot itu. Mereka  keluar dengan  teratur. Berdiri berjajar di tepi jalan, menatap angkot yang tergesa-gesa berlalu dari hadapan  mereka.

    Angkot itu berlalu secepat kilat, menghilang dari pandangan. Meninggalkan debu-debu beterbangan. Menyadarkan  keenam belas anak muda itu.

    “ Apa yang akan terjadi? Kenapa kita tidak mencegahnya?” panik seorang gadis diantara mereka.

    “ Kasihan bapak tadi, tapi apa peduli kita? Secara tak langsung dia juga mendoakan kita agar tak sampai tujuan kita.” Sambung yang lain.

    “ Ya, mestinya kita mengalah. Setidaknya kita membagi diri jadi dua bagian…”

    “ Stop! Sekarang yang harus kita lakukan adalah mencegah hal itu jangan sampai terjadi! Kita kembali ke tempat tadi!” saran seorang  laki-laki.

    Tanpa di komando, rombongan anak muda itu  setengah berlari kembali ke tempat  mereka naik angkot  tadi.  Sampai  di tempat  semula sepi, seolah tak terjadi apa-apa. Jalanan  itu  memang sepi.  Jauh dari rumah penduduk. Di sekitarnya hanya deretan  sawah-sawah  yang  menguning  oleh tanaman padi, dan kebun yang menghijau oleh sayur-sayur  segar.

    “ Sial, kita terlambat!”  umpat seorang anak laki-laki. Mereka sangat yakin, sopir itu sudah melaksanakan niat jahatnya. Bapak dua anak tadi tak mungkin mendapatkan  angkot  lain secepat itu.  Sebab  jalan itu tak dilewati angkot secara resmi. Tak  mungkin juga singgah di warung atau kedai minum. Sebab tak ada bangunan  apapun  sepanjang  lima kilometer  dari  tempat itu.  Keenambelas anak muda itu  terdiam  dalam  ketakutan.  Membayangkan  sesuatu   mengerikan terjadi pada bapak anak itu.

    Di tempat lain, tiga hari setelah peristiwa itu. Di sebuah rumah, seorang wanita muda menanti sesuatu dengan cemas.

    “ Kapruk Janur  kemana? Sudah  kupanjer dua juta nggak nongol-nongol? Apa dia berniat menipuku?” tanyanya  pada  diri  sendiri. 

    Wanita itu adalah  Aminah.  Orang  yang  akan  ditemui  duda beranak dua yang  berjulukan  Kapruk  Janur.  Aminah  sudah  menghubungi  handphone  Kapruk Janur.  Tetapi  lelaki  kurus  kering itu  tak  mengangkat  handphonenya.  Maka  ketika  handphonenya  berbunyi,  Aminah sangat yakin itu Kapruk Janur.

    “ Halo, kemana..”

    “ Betul ini ibu Aminah? Ini dari polisi Bu,  berkaitan dengan  SMS  ibu kepada Pak Kajan  sebelum  Pak  Kajan  tewas..”  suara  polisi  di ujung telpon membuat

    Aminah terkulai  lemas dan  pingsan.  Sesuatu  yang tak pernah diharapkannya  terjadi dalam bisnisnya.

     Ya, Kapruk Janur  tak  pernah  sampai  ke  tempat  Aminah. Di tengah  jalan dia dihabisi  Margonda,  sopir angkot  plat hitam.  Gara-gara perkataannya. Mayatnya di temukan  di tebing  perbukitan  penuh luka di kepala. Dan nasib kedua anaknya tak jelas.  Kedua anak  inilah yang diharapkan  Aminah, sebab Aminah  sudah  menjanjikan dua anak  ini pada sepasang orangtua yang ingin mengadopsi anak secara ilegal.

    Aminah adalah  wanita yang  sering  keluar masuk  perkampungan  kumuh di kota - kota besar.  Dia sering  menawarkan  ‘bantuan’  pada orang - orang  tak  mampu  dengan  cara  membeli anak - anak  mereka.  Kemudian  Aminah menjual anak - anak itu  pada mereka yang  membutuhkan. Gara - gara ini pula bisnis haram Aminah tercium  polisi. SMS yang dikirim ke Kapruk Janur jelas menyebutkan posisi dirinya sebagai makelar anak. Ini yang memposisikan dirinya sebagai tersangka.

    Ternyata  Kapruk Janur berniat  menjual anaknya sendiri. Dia merasa tak bisa menjadi ayah yang baik. Kajan alias Kapruk Janur, yang menduda baru tiga bulan silam, hendak menjual darah  dagingnya sendiri dengan harapan anak-anaknya kelak berpenghidupan layak. Kajan tewas di tabrak angkot. Dan angkot itu sendiri terjungkal di tebing  jurang. Margonda sopir angkot itu  juga tewas. Kepalanya terbentur  dinding tebing yang cadas oleh bebatuan.

    Ya, kedua lelaki yang sama - sama didera masalah ekonomi itu tewas mengenaskan. Keduanya tak pernah  sampai pada tujuan hidup. Yaitu mencari nafkah. Lantas, kemanakah dua anak Kapruk Janur?

    Kedua bocah  cilik itu berlari tak tentu arah, ketika angkot itu dengan membabi  buta menabrak  tubuh  bapak  mereka. Mereka terus berlari dengan ketakutan. Mereka  berhenti  ketika gelap mulai merambat. Kedua bocah itu menemukan sebuah saung reot ditengah persawahan. Di sanalah kedua anak itu dijemput ibunya. Ibunya menyelamatkan anak - anaknya. Menyelamatkan dari perdagangan anak, dan  ditemukan  tewas   dalam  ketakutan,  kedinginan dan kelaparan.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Penumpang-Penumpang” Karya Retna Kusumawati Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top