• Info Terkini

    Friday, June 29, 2012

    Ulasan Nukilan Novel "Dibalik Hijab Cinta" Karya Ibnu Zuchron (Tangerang)

    Cerita berjudul “Resonansi Cinta” ini merupakan sebuah penggalan kisah di dalam novel yang berjudul “Dibalik Hijab Cinta”. Judul yang digunakan cukup unik dan menggelitik. Bayangan yang muncul saat membaca judul tersebut adalah sebuah kisah cinta yang konyol, unik dan seru seperti cerita dalam FTV yang sering diputar di televisi. Ternyata setelah membaca keseluruhan cerita terlihat nuansa keisalaman yang begitu kental. Tentu ini berbeda dengan gambaran FTV yang cenderung menyajikan cerita cinta anak muda yang cenderung kelewat batas baik dalam pergaulan, percakapan, juga pakaian yang mereka kenakan.

    Resonansi Cinta ini mengingatkan kita pada kisah tiga manusia yang meninggal karena kehausan karena saling mengutamakan saudaranya pada perang Yarmuk. Kala itu, Hudzaifah al-Adawi mendapati 3 orang prajurit yang sedang sekarat berlumuran darah. Ketiganya tengah kehausan sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat. Hudzaifah segera mendatangi salah satunya untuk memberinya minum. Tapi prajurit itu menolaknya karena mendengar rintihan saudaranya yang lebih membutuhkan. Prajurit tersebut menyuruh Hudzaifah untuk memberikan air itu pada saudaranya tersebut.

    Tanpa pikir panjang, Hudzaifah pergi ke tempat suara prajurit kedua. Prajurit inipun menolak air tersebut karena melihat ada saudaranya yang terkapar dan lebih membutuhkan air itu. Ia pun menyuruh Hudzaifah untuk memberikan air kepadanya. Hudzaifah menuruti permintaan tersebut dan bergegas menuju prajurit ketiga. Namun sayang, ketika sudah sampai, prajurit ketiga keburu meninggal. Hudzaifah segera berlari kembali ke prajurit kedua. Namun ia sudah tidak bernafas lagi. Begitupun saat Hudzaifah berlari menuju prajurit pertama. Ia mendapati prajurit tersebut telah syahid.

    Mungkin penulis kisah ini terinspirasi dengan kisah pada perang Yarmuk tersebut sehingga ia membuat cerita yang settingnya nyaris sama. Ada baiknya jika kedepan penulis mencoba untuk mendesain cerita yang orisinil. Hal ini untuk melatih kreativitas penulis. Terinspirasi dari kisah lain boleh, asal tidak membuat kisah yang hampir sama.

    Teknik penulisan dan pemilihan diksi yang digunakan cukup bagus. Judul yang digunakan pun unik. Perlu disadari jika judul merupakan magnet pertama yang menentukan orang tertarik untuk membaca atau tidak. Penulis cukup pintar dalam mendeskripsikan cerita sehingga pembaca tidak kesulitan dalam membayangkan kondisi di dalam cerita tersebut. Catatan dari FAM, untuk penulisan istilah asing sebaiknya dicetak miring seperti kata tasmiyyah dan itsar.

    FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin bagus. Jangan pernah menyerah untuk terus menghasilkan karya yang bermanfaat untuk sesama.

    Semangat Berkarya!
    Salam Aishiteru

    TIM FAM INDONESIA

    [NASKAH “RESONANSI CINTA” NUKILAN NOVEL DIBALIK HIJAB CINTA” SESUAI NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    Oleh Ibnu Zuchron (Andi Nur Syamsudin)
    IDFAM606M, Anggota FAM Tangerang

    Viyya tampil berjilbab lebar dengan bawahan celana training ditumpuk dengan rok. Jaket merah bercorak mencolok menjadi identitas dirinya di lembaga penolong korban perang. Sesekali jika debu sangat pekat, Viyya mengencangkan wajahnya dengan cadar merah. Namun, hal itu ia minimalisasi demi menguntai senyum kepada setiap korban yang ditemukan. Supaya mereka dapat melihat senyuman, melihat keberadaan akan harapan. Mengobati bukan sekedar fisik saja bukan? Namun, juga mental. Begitulah ilmu yang telah Viyya dapat.

    Dengan melintangkan tas first aid kit, alias P3K, Viyya terhuyung-huyung ditemani rekan kerjanya, Ahmad. Ya, Ahmad! Rekannya seorang lelaki. Tentunya hal ini bukan tanpa alasan. Ahmad sebelumnya biasa bekerja bersama Maulana. Namun, karena Maulana cedera akibat tertembak di bagian kaki, Viyya menawarkan diri. Wanita pemberani inilah yang sempat memaksa atasannya di Bulan Sabit Merah untuk ikut berkeliling. Bukan dengan dalih persamaan gender tentunya. Melainkan keyakinan bahwa Allah melindungi hamba-Nya baik laki-laki maupun perempuan. Dalih bahwa hal darurat boleh diambil meskipun sejatinya tidak diperbolehkan. Bukankah berduaan laki-perempuan bukan mahram tidak diperbolehkan? Hal ini dikecualikan jikalau darurat…

    Drap… drap… drap…

    Viyya aktif mencari korban di sekitar reruntuhan yang ditinggalkan pelaku pertempuran. Sepatu boot-nya aktif melangkah dari satu reruntuhan ke reruntuhan lain. Sementara Ahmad, dirinya justru berjalan di belakang. Langkahnya tergopoh-gopoh, kesulitan membawa tas first aid kit yang agak besar. Bahkan sesekali dirinya mengumpat, “Kenapa si Israel itu? Menambahi kerjaan saja! Tidak tahu apa, kalau satu gedung hancur, kerjaan kita justru nambah. Huh…”Ahmad menggerutu lantaran ulah pasukan musuh barusan.

    “Eh… Viyya, suara apa itu?” Tanya Ahmad tiba-tiba. Ahmad pun membuka penutup hidungnya sejenak.

    Dengan menggunakan sepatu boot, Viyya melangkah sambil memastikan telinganya mendengar sesuatu.

    “Bagaimana? Dengar tidak?”, sahut Ahmad.

    “Masya Allah. Suara murajaah!”, Viyya mengira-ngira.

    Bahkan, Viyya lebih tegas gerakannya. Meskipun langkahnya tampak berat karena boot, Viyya berusaha bergerak cepat ke sumber suara entah dimana. Sementara Ahmad malah mengikuti ke mana saja Viyya bergerak.

    Akhirnya Viyya dan Ahmad mendapati sebuah reruntuhan balkon yang membentuk gua kecil. Gua itu terlampau sempit untuk dilalui. Di dalamnya, tembok reruntuhan seolah terbujur bertumpuk-tumpuk. Begitu melongok ke dalamnya, teronggok seorang lelaki berjenggot dengan kaki berdarah-darah dan dada tertusuk tajamnya besi balkon.

    “Tsumma sawwaahu wa nafakhofiihi mirruuhihii wa ja’alalakumussam’a wal abshooro wal af’idah. Qoliilammaa tasykuruun; “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”  Begitulah ayat yang dimurajaah oleh korban. Surat As Sajdah ayat 9.

    Tanpa basa-basi, Elviyya langsung memasuki reruntuhan balkon. Ahmad mendadak mengingatkan, “Hati-hati Viyya! Jangan-jangan tubuhmu tidak cukup?”

    Elviyya langsung mendelik ke arah Ahmad. Namun, tidak sampai ia menyemprot dengan kata-kata kasar, Viyya langsung kembali fokus. Bahkan, keberanian Viyya makin menjadi-jadi. Ia masuk tanpa takut sedikitpun. Ia tidak takut kalau-kalau balkon itu bergerak sedikit saja, pastinya langsung menggencet tubuhnya. Berbekal tasmiyyah dan doa instan, langkahnya perlahan menggapai gelap demi gelap, memasuki gua mini itu.

    Ahmad bukan berarti tidak berani masuk. Tubuhnya yang lebar agak sulit melewati langit-langit bahkan celah sempit reruntuhan balkon. Ia pun hanya bisa berjaga dari luar. Berdoa.

    Prajurit dengan dada tertusuk itu tertegun, menoleh ke kiri tubuhnya, ke arah Viyya yang tergopoh-gopoh kesulitan memasuki gua. Badge di lengan kirinya sungguh membuat takjub Viyya; “Brigadir Izzudin AlQossam”, sebuah status yang luar biasa. Sebuah jabatan pasukan khusus yang syarat untuk mendapatkan status itu sendiri sungguh luar biasa. Selain tidak boleh absen shalat Subuh berjamaah dan awal waktu di masjid, seorang Al Qossam haruslah seorang penghafal Al Quran.

    Pantas saja! Saat musibah datang sekalipun, sang prajurit bukannya ingat istri, anak, atau bahkan harta dan tahta, tetapi justru mengingat ayat Quran. Lihat saja, tanpa mempedulikan Viyya yang makin mendekat, ia memurajaahi ayat berikutnya, “Wa qooluu a’idzaa dholalnaa fil ardhi a’innaa lafii kholqin jadiidimbal hum biliqoo’i robbihim kaafiruun… (Dan mereka berkata: ‘Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?’ Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya)”

    Ketertegunan sang prajurit seketika berubah menjadi tangis. Prajurit itu menangis. Ia menangis karena merenungi ayat yang dibacanya. Sebuah ayat tentang pertanyaan retoris Allah yang pastinya terjawab dengan ketegasan, bahwa orang-orang yang telah lenyap dan hancur dalam tanah, kelak akan menemui Allah...

    Elviyya yang datang dengan senyuman pun tidak sanggup membalikkan keceriaan sang prajurit. Bahkan sang prajurit melanjutkan ayat yang bisa-bisa mencekat para pendengarnya; “Qul yatawaffaakum malakul mautilladzii wukkilabikum tsumma ilaa robbikum turja’uun; Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan."

    Elviyya yang mendengar ayat miris itu hanya bisa menunduk. Apalagi memperkenalkan sosok ‘malakul maut’ yang hanya tercantum di ayat itu; sesosok malaikat yang sering-sering disebut sebagai ‘izro’il. Padahal dalil penamaan izroil tidak ada dalam nash, baik Quran maupun hadits.

    “Jangan sentuh aku!” Bentak sang prajurit dengan pipi yang terlihat samar telah dilelehi beberapa butir air mata.

    Viyya tanggap menjawab, “Adhdharuratu tubihatun nasurat! Untuk hal yang bersifat darurat, hal yang tidak diperbolehkan menjadi diperbolehkan. Dalam hal ini, seorang perempuan boleh menyelamatkan nyawa laki-laki. Baarokalloohulakum akhi.”

    Namun, bukan itu alasan sang prajurit. Ia berkilah, “Di sana! Di sana ada akh Syaifullah yang lebih membutuhkan. Bantuanmu lebih dibutuhkan di sana. Cepat! Cepat kesana! Selamatkan ia!”

    Viyya menanggapi dengan terbata-bata, “Tha… Thayib akhi…”

    Viyya melihat sekeliling. Terlihat celah yang akan dilalui ternyata sangat sempit. Namun, ia terus berdoa dan berdzikir supaya bongkahan balkon tidak sampai mencederai dirinya. Supaya dirinya dimudahkan melalui celah sempit itu.

    Viyya pun masuk lebih dalam sesuai arahan sang prajurit. Kepala Viyya bahkan sampai terantuk langit-langit. Lengannya juga lecet, hingga menembus baju kurungnya. “Aduh”, ujarnya. Namun, demi misi penyelamatan, ia tetap saja memaksakan, tak peduli onak dan duri datang mengaral dirinya.

    Celah sempit berubah gelap. Viyya pun menghidupkan senter. Tak lama, ia dapati seorang prajurit tengkurap dengan darah bersimbah di sana sini. Awalnya Viyya miris, kaget bukan main. Tapi, pekerjaan ini adalah resikonya.  Tak peduli seberapa liter pun darah yang dihadapi, Viyya harus tahan dan ia harus berani menomorsatukan jiwa persaudaraan Islamnya daripada rasa jijiknya.

    “Akh Syaifullah, ana Viyya, from Indonesia… We save you. We save you. Baarokallohulakum.”

    Begitu Viyya mengarahkan senternya ke arah sang prajurit, sikap menolak pun seketika menguar. “Pergi dari sini. Di sana ada yang lebih membutuhkan. Akh Arif. Selamatkan dia! Selamatkan dia!”

    Viyya memberanikan diri untuk memberontak, “Tidak, aku akan menolongmu dulu! Kau kehilangan banyak darah!”

    Prajurit bernama Syaifullah itu tanpa diduga-duga mengarahkan pistol ke arah Viyya. Tangannya gemetaran memegang pistol. Mulutnya perlahan mengancam, “Selamatkan Saudaraku di sebelah sana! Selamatkan diaaa!” Tangannya terlihat samar berbalut darah. Matanya menyalak mengurai beberapa tetes mata, menahan rasa sakit. Viyya hanya pekerja kemanusiaan. Melihat itu, tentu saja nyalinya menciut. Sambil menelan ludah, Viyya yang ketakutan, lantas bergerak makin dalam menuju celah sempit selanjutnya. Celah yang memaksa tubuhnya tergencet dan lecet berkali-kali.

    Tak seberapa lama, Viyya mendapati seorang prajurit lagi. Kali ini, prajurit yang terlanjur terbujur kaku, dengan badge Izzudin Al Qossam. Menggenggam Al Quranulkarrim di dadanya, dengan senjata basoka yang tergeletak tak jauh dari tempatnya rebahan. Dan tentu saja, darah menggenang di antara bebatuan.

    Viyya terperanjat. Matanya langsung berkaca-kaca. Ia segera menunduk cepat, mengecek nadi, mengecek denyut jantung, mengecek nafas, dan hasilnya? Nihil. Tewas. Di seragamnya tertera identitas dirinya; Arif At Tufail. Mata Viyya tak tanggung-tanggung langsung melelehkan air mata. Hampir-hampir ia sesenggukan menangis, menyeka pipinya, sebelum akhirnya ia kembali sadar bahwa dirinya haruslah cepat. Ya, ia tak boleh luntur oleh ketersedihan, ia harus segera menyelamatkan prajurit sebelumnya.

    Viyya langsung bergerak. Senter ia sorot di dalam gua sempit itu. Meski tangan dan kaki harus kembali lecet akibat terantuk celah-celah saking sempitnya gua itu, ia segera mendatangi posisi prajurit Syaifullah.

    “Akh Syaifullah! Akh Syaifullah!”, Dipanggil-panggillah nama itu meskipun Viyya belum melihat sosok prajurit itu. Hingga Viyya hampir terjatuh lantaran terantuk kaki Syaifullah yang melintangi dasar gua. “Masya Allah! Afwan, akhi. Maafkan aku. Aku akan segera me…”

    Tanpa sengaja, ketika senter Viyya menyorot akh Syaifullah, maka tampaklah seberkas senyum tersemat di bibir. Tangan dan kakinya tak lagi gemetaran, apalagi bergerak. Darah segar memang tercium anyir, tetapi Viyya tak sanggup mencium keanyirannya. Bau itu terlampau pedih. Sayangnya, tak lebih pedih daripada sesak di jiwa Viyya yang belum sanggup menolong seseorang. Dicek nadi dan nafasnya pun, tetap tak ada asa. Satu lagi, seorang prajurit tewas.

    Viyya tak mampu menahan tangis. Ia pun terisak begitu saja. Sambil mulutnya ia tutupi dengan tangan berbalut darah mujahid, keterkejutannya nyaris melupakan dirinya dari amanah. “Tidak! Tidak boleh! Aku tidak boleh terkungkung kesedihan! Aku harus cepat! Masih ada yang perlu ditolong!”, Tekad Viyya sambil dirinya sesenggukan, menahan tangis.

    Viyya bergerak cepat. Dirinya melewati celah pertama yang relatif lebih mudah. Namun, belum seluruh tubuh Viyya keluar dari celah, prajurit pertama yang bahkan belum ia kenali sudah terbujur kaku. Viyya segera dekati, segera ia cek semua asa kehidupan yang barangkali masih tersisa. Namun, sekali lagi, hasilnya nihil. Sekali lagi dan untuk terakhir kali, satu mujahid tewas.

    Sesenggukan Viyya makin menjadi-jadi. Tangisnya makin membuat bahunya bergetar naik turun. Membuat Viyya berniat sembunyi sejenak. Sembunyi dari posisi Ahmad berdiri, dari keramaian. Ia hendak merenungi diri. Bukan hanya karena ia merasa gagal dalam menjalankan amanah barunya. Namun, lebih dari itu, Viyya hendak merenungi kekuatan pengorbanan khas mujahid yang luar biasa.

    Viyya pun terduduk, membiarkan sesenggukannya menguar begitu saja. “Ada ya! Di dunia ini, kejadian seperti ini”, Batin Viyya. “Ketika nyawa sudah diujung tanduk, tinggal menunggu panggilan malakul maut, yang mujahid lakukan justru memprioritaskan sahabatnya. Bahkan, sampai rela harus menggertak dengan senjata, agar rekan Saudaranya semuslim dapat tertolong. Meski akhirnya Allah berkehendak lain. Padahal, belum tentu nyawa sendiri tertolong.”

    Viyya masih terduduk di sebelah dalam gua, Terus membayangkan betapa luar biasanya kekuatan itsar atau pengorbanan para mujahid. Hati mereka sejatinya saling beresonansi satu sama lain. Seperti suatu benda yang bergetar, lantas membuat benda lain yang frekuensinya sama, ikut-ikutan bergetar. Demikian pula dengan mujahid-mujahid itu. Apabila satu orang sakit maka yang lain ikut merasakan sakit, bahkan berharap agar rekannya itu sembuh lebih dulu daripada dirinya sendiri.

    Viyya turut berkaca diri, apakah dirinya sanggup seperti itu? Oh, duhai, kalau saja hal itu ia lakukan, entah dirinya sanggup atau tidak. Apapun itu, ia justru teringat kasus yang mirip itsar. Bahkan, boleh jadi itu adalah itsar yang tak dia sadari? Kasus ketika beberapa bulan sebelumnya, dirinya lebih memilih undangan ke Palestina untuk menjadi relawan, daripada dipinang Alden, seorang pria yang ditengarai justru dicintai oleh sahabat karibnya di perkuliahan. Sarah, namanya. Sebuah ihwal, kenapa ia harus kabur ke Palestina. Sebuah ihwal, yang seolah hal itu didudukkan atas dasar itsar. Ia berdoa semoga pilihannya memang yang terbaik. Ia bahkan sempat membayangkan, mungkin saja detik ini, Alden, seseorang yang cintanya ia musnahkan secara paksa itu, sedang bersenang-senang dengan Sarah.

    Viyya menyeka air yang turun ke pipi. Ia berharap akan mendapatkan banyak info baru kalau ia pulang ke Indonesia nanti. Maklum, demi keputusan menjadi relawan, ia putuskan sejenak silaturrahim dengan sanak kerabat. Apalagi, ayah ibunya kini hanya tahu bahwa Viyya bekerja di Jakarta. Viyya akan kembali, jika memang waktu dan kondisi menghendaki. Dan tentunya, bila Allah meridhai.

    Grrkkkk…. Grrrkkkk….

    “Masya Allah!”

    Viyya terperanjat kaget. Dalam perenungannya, mendadak dinding dan langit-langit gelap tempat ia terduduk bergerak-gerak. Viyya sempat berteriak ke celah luar, “Tolooong! Ahmaaad!”

    Tapi, terlambat. Celah menutup…

    Grrrkkkkkkkk.......Jdshhhhh...

    Debu-debu gurun ikut beterbangan, berserakan tak tahu arah di sekeliling bongkahan bangunan, bahkan berserakan di tempat Viyya terduduk. Hingga terdengar suara Viyya  terbatuk-batuk.

    “Uhuk...uhuk..uhuk...”

    Ahmad mendengar kilasan suara Viyya. Ia berusaha mendekati reruntuhan yang getarannya makin lama makin keras. Nyali Ahmad langsung menciut tatkala balkon itu bergerak nyaris menghalau dirinya. Akhirnya, Ahmad menjauh. Begitu getaran sudah reda, ia segera dekati celah yang tadi dimasuki Viyya. Namun, ia tak tahu dimana celah itu. Celah itu lenyap tanpa bekas. “Viyyaaa! Viyyaa! Dimana kau! Viyyaaa!”, Ahmad terus mencari di sekeliling.

    Viyya tak sadarkan diri di dalam gua. Tubuhnya tergencet oleh reruntuhan. Kepalanya terbentur beberapa kali. Tangan dan kakinya berdarah, sementara dada dan perutnya masih bisa leluasa. Namun, karena tak sadarkan diri itulah, Ahmad tidak mengetahui nasib Viyya. Ahmad pun meraung-raung ibarat ayam kehilangan induk, “Viyyaaa! Viyyaa! Masya Allah! Astaghfirullah... Dimana dia!”

    Ahmad tak perlu waktu lama untuk bingung, hingga akhirnya ia kabur mencari pertolongan.
    ***
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Luar biasa cerita nya, tapi bagian akhirnya kurang mengigit.
      Hampir saja saya nangis karena membayangkan resonansi cinta tersebut.

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Ulasan Nukilan Novel "Dibalik Hijab Cinta" Karya Ibnu Zuchron (Tangerang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top