• Info Terkini

    Thursday, June 14, 2012

    Ulasan Puisi "Aku dan Cahaya" Karya Adli Zuliansyah

    AKU DAN CAHAYA
    Puisi Adli Zuliansyah
    IDFAM501S, Anggota FAM Bogor.

    Dulu aku pernah berharap kepada cahaya
    Kuberharap ia dapat menyinariku,
    dari segala mara bahaya
    yang mencabut nyawaku

    Dulu aku pernah berharap kepada kegelapan
    Untuk melindungiku,
    dari segala cahay yang menyilaukan
    Yang dapat membuat buta mataku

    Tapi kini…
    Aku telah berharap kembali kepada cahaya
    beserta kegelapan.
    Agar mereka berdua menemaniku, di kala aku
    terlelap di dalam kenangan
    mimpi indahnya.

    ***

    Jelas puisi di atas menggambarkan suatu pengharapan yang sepertinya nyaris sirna ditambah satu perasaan rindu yang mendalam.

    Penulis nampaknya pernah mengalami suatu masa di mana semua terasa indah, berbunga, dan benderang laksana cahaya. Juga ada asa dari sesuatu atau seseorang yang ditemuinya itu sebagai penambal rapuh, penyokong yang oyong, pelindung dari ancaman yang datang, sandaran hati selayaknya kodrat yang manusiawi.

    Sebuah kontrardiksi sedikit agak terasa membuat kita bertanya.

    Pemilihan kata "kegelapan" pada bait kedua akan memberikan majas yang berkesan negatif, yang berbau kepada hal-hal yang kurang baik, lalu kenapa kita mengatakan berharap akannya?

    Walaupun yang dimaksud penulis mungkin semacam "bayangan" yang membuat kita teduh kala panas menyengat.

    Satu lagi di bait terakhir penulis memulai dengan diksi "Tapi kini..."

    Kita mengatakan "tapi" biasanya untuk satu yang bertentangan/beseberangan. Dulu dia berharap pada cahaya dan kegelapan, terakhir juga berharap, jadi sama. Kenapa kita katakan tapi?

    Tanda "..." sebaiknya dihilangkan.

    Secara umum puisi yang tergolong Romance (luapan perasaan ini) cukup menarik, membuat pembaca berkesan bila penulisnya adalah seorang bertipe sabar, tegar, dalam menghadapi masalah walau terkadang tak ditemukan pemecahan yang diharapkan.

    Bila ini adalah suatu luapan jiwa dari apa yang kita alami, dalam puisi kita boleh sedikit mengembangkan imajinasi dengan membayangkan/melepaskan puisi itu lebih luas lagi.

    Jadi bukan tok dari apa yang kita alami.

    Dan biasakanlah memakai kalimat bersayap, sehingga puisi itu agak terapung dan pembaca akan terpancarkan makna yang beragam. Dan itu boleh.

    Teruslah asah imajinasi dan pengungkapan apa yang dirasakan ke dalam kata-kata.
    Sesuatu dikatakan bisa karena sudah terbiasa.

    Salam aishiteru!
    TIM FAM INDONESIA
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 komentar:

    1. assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh,
      nama saya mutammimul ula
      mohon izin bertanya, alamat cabang di medan di mana ya?

      ReplyDelete
    2. Waalaikumussalam. Di Medan masih dalam rintisan pembentukan cabangnya. Silakan menjadi anggota di pusat dulu yah. Hubungi Sekjen FAM Mbak Aliya 0812 5982 1511. Salam.

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Aku dan Cahaya" Karya Adli Zuliansyah Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top