• Info Terkini

    Monday, June 18, 2012

    Ulasan Puisi "Kemanakah" Karya Nuhrafi (Pariaman Timur)

    NUH RAFI

    KEMANAKAH
    IDFAM130U Anggota FAM Pariaman Timur

    Kemanakah perginya kalimat-kalimat itu?
    Bukankah ia telah kususun menjadi paragraf dan menjadi bangunan cerita nan indah dipandang.

    Duh...
    Apakah ku harus mengorek dasar sungai dan kumpulkan pasir-pasir kata tuk membangun gedung cerita?
    Atau kuharus pergi kelaut nan luas tuk kumpulkan buih-buih ombak dan satukan ia jadi garam cerita nan asin dilidah?

    Oh tidak...
    ... Aku bukan manusia laut atau manusia sungai yang bisa lakukan itu dengan mudah.

    ULASAN:

    Menarik sekali. Ada kalanya seorang penulis hanya bisa terdiam terpaku mencari inspirasi yang mungkin agak tersendat mengalir. Bahkan tidak satu kata pun tertulis setelah sekian lama duduk terpaku menerawang intuisi.

    Nah, keadaan yang semacam ini justru dijadikan tema untuk sebuah puisi. Jadilah seperti tulisan yang ternyata juga punya nilai estetika untuk sebuah puisi.

    Kemanakah perginya kalimat-kalimat itu?

    Sebuah kalimat pembuka yang diharapkan dapat memasuki ruang kata-kata lebih luas dan dalam lagi.

    Hal itu bisa dilakukan dengan mengembangkan sayap-sayap imajinasi, mengikuti arah angin pada detak hati, sehingga menjadi kesatuan yang utuh walau terkadang selayang tidak terlihat korelasi makna di dalamnya. Biarlah orang akan membaca berulang-ulang untuk dapat menebak atau memahami apa yang kita maksud dalam kalimat itu.

    Disinilah yang merupakan salah satu struktur fisik sebuah puisi yaitu "bahasa figuratif".

    Bahasa figuratif puisi banyak memakai kiasan yang mungkin diambil dari alam atau nilai-nilai estetika lainnya. Sehingga puisi menjadi prismatis (memancarkan banyak makna).

    Dalam puisi ini sebagian telah mencoba menggunakan itu.

    Kita lihat pada bait kedua:

    Duh...
    Apakah ku harus mengorek dasar sungai dan kumpulkan pasir-pasir kata tuk membangun gedung cerita?
    Atau kuharus pergi kelaut nan luas tuk kumpulkan buih-buih ombak dan satukan ia jadi garam cerita nan asin dilidah?

    Di sini nampak sekali semacam bentuk kegundahan penulis ketika menanti sesuatu yang akan ditulis belum kunjung datang. Hingga sesuatu yang dirasa tidak mungkin, apa harus dilakukan?

    Kenapa takut? Hal itu mungkin saja kita lakukan dalam menerawang kata dan sejenak bermain-main dengan jiwa yang lepas disana.

    Tanda elipsis (....) hanya dipakai dalam kalimat yang terputus atau bila ada kata/bagian kalimat yang dihilangkan.

    Dalam tulisan ini sepertinya tidak dimaksudkan seperti itu. Jadi sebaiknya dihilangkan, diganti dengan titik atau koma bila merupakan jeda untuk kalimat selanjutnya.

    Satu lagi yang bisa disarankan "Rima" atau persamaan bunyi dalam puisi juga merupakan salah satu stuktur fisik dari puisi.

    Disini ada terlihat tapi sedikit sekali nampaknya, yaitu pada kalimat akhir di bait kedua:

    ... ia jadi garam cerita nan asin dilidah?

    Dan, pada kalimat terakhir:

    ...atau manusia sungai yang bisa lakukan itu dengan mudah.

    Penulis secara umum sangat berbakat, terus asah dan kembangkan dengan lebih banyak lagi menulis dan membaca karya-karya penulis yang telah cukup mempunyai nama.

    Salam aishiteru!
    TIM FAM INDONESIA
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Kemanakah" Karya Nuhrafi (Pariaman Timur) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top