• Info Terkini

    Friday, June 29, 2012

    Ulasan Puisi "Masih Adakah Esok?" Karya Nadia Regina Martanti (Sukoharjo)

    Jelas sekali betapa damai dan indahnya suasana yang tergambarkan dalam puisi ini. Pembaca dapat merasakan apa yang dilukis penulis dengan guratan kata-kata seperti setiap sapuan kuas yang memberi arti di atas kanvas.

    Puisi ini mungkin terlahir dari suatu proses perenungan ketika suasana hati penulis merasakan kedalaman damai terhadap sesuatu yang ditemui dengan mata dan hati.

    Ya, mata adalah jendela ketika kita menangkap sinyal-sinyal dan tanda yang tertangkap di sekitar kita, tentu beragam apa yang tersaksikan akan memberi getar bagi hati kita.

    Disini penulis nampaknya semacam mengalami proses seperti itu.

    Masih Adakah Esok?

    Sebuah judul yang memberi penafsiran cukup beragam bagi pembaca untuk memahami apa yang dimaksud penulis.

    Apakah penulis mengharapkan hari esok karena sesuatu yang didapati saat ini belum seperti yang diinginkan, atau esok adalah sesuatu yang diharapkan kembali agar kebahagiaan yang terdapati saat ini terulang kembali.

    Kita simak bait pertama puisi ini:

    Butir- butir bening bergelayut
    Kemilau di pucuk-pucuk jamrud
    Sinar surya makin merenggut
    Permata pergi seiring mentari menyambut

    Pemilihan diksi cukup padat dan selektif, hingga kita perlu sedikit perenungan bahkan membaca berulang-ulang untuk dapat mengetahui apa yang dimaksud. Begitulah puisi, dengan sedikit menyamarkan atau mengambangkan apa yang kita maksud justru ia seperti memiliki suatu kekuatan arti tersendiri.

    Yang jelas bait ini menggambarkan suasana pagi yang masih tenang, sejuk, damai, disaat embun masih bergayut di pucuk-pucuk dedaunan dan dahan. Bisa juga ini sebagai bahasa simbol yang menggambarkan suasana negeri yang semula tenang, damai, seperti suasana pagi yang kita buka setiap hari.

    Lalu kita akan membayangkan apa dengan munculnya "surya dan "mentari" terhadap suasana pagi? Jelas di sini kita mengganggap “surya” sebagai suatu yang "merenggut" dari apa yg kita dapati.

    Sebuah nilai yang harus cukup dalam kita mengajinya.

    Pada bait ke tiga dan ke empat adalah suatu gambaran lebih jauh dari bait pertama.

    Akan terbayangkan cuaca yang makin cerah seiring makin tingginya matahari beranjak dari ufuk timur. Penulis yang terkesan dengan keindahan daerah tropis kita ini menggambarkan kesuburan tanah negeri dengan diksi:

    Helai- helai hijau terhampar menari- nari

    Ssebuah gaya bahasa/majas personifikasi yang cukup kuat. Membayangkan suatu keriangan hati hingga lentik jemari dan gerak tubuh biasanya ikut terbawa dengan suasana.

    Secara umum penulis punya insting yang cukup kuat merangkai kata demi kata hingga membentuk rima-rima yang menarik dengan sendirinya. Seorang yang terlatih berimajinasi, biasanya kata-kata yang mempunyai rima itu bisa cepat datang dalam satu suasana hati. Lalu, apakah kita hanya akan fokus pada bentuk-bentuk rima? Tentu tidak. Ada tema dan pesan yang pasti ingin kita sampaikan dari sebuah puisi dan imajinasi.

    Penulis cukup jeli memakai dan menempatkan kata-kata sesuai dengan EYD. Terlihat sangat pas dan mengena.

    Dengan semakin sering dan berlatih menulis dalam bentuk puisi lainnya, yakin penulis akan semakin mapan merangkai puisi jadi lebih bagus dan menarik lagi.

    Selamat menulis.
    Salam Aishiteru.

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH PUISI TANPA EDITING YANG DIPOSTING FAM INDONESIA]

    MASIH ADAKAH ESOK?

    Oleh Nadia Regina Martanti
    IDFAM695M Anggota FAM Sukoharjo.

    Butir- butir bening bergelayut
    Kemilau di pucuk- pucuk jamrud
    Sinar surya makin merenggut
    Permata pergi seiring mentari menyambut

    Helai- helai hijau terhampar menari- nari
    Diterpa sepoi music pagi
    Gemulai lembut tarian bidadari
    Menatap biru bersih lazuardi

    Burung- burung kecil berlompatan di sela derit dahan
    Bersiul merdu bersahutan
    Percintaan pagi seindah ini
    Masih adakah esok hari?
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Masih Adakah Esok?" Karya Nadia Regina Martanti (Sukoharjo) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top