• Info Terkini

    Friday, June 8, 2012

    Ulasan Puisi "Sepenggal Rindu untuk Ibu" karya Refdinal Kelana Mimpi

    Sepenggal Rindu Untuk Ibu.
    Puisi Refdinal Kelana Mimpi
    IDFAM160U

    Ma, di persimpangan buih langkah aku terpaku
    Sengat matahari yang semakin akrab membiusku
    untuk mengenangmu
    Setapak jalan tanah di pinggirian desa,
    hujan yang kita tampung di tengadah sawah
    dan burung burung putih yang selalu akrab
    melayang di langit petang.


    Serindu itupun membuatku kembali bertahan
    Lalu lintas nasib meriuh angkuh di belantara kota
    Tak melihat lagi perbedaan selayaknya paduan warna
    bianglala, jelas membatas untuk semakin memekat
    dan glamorius purba.
    Debu-debu kutangkap di sela wajah-wajah kalah
    Legam memekat hati kala tak lagi bisa memilih
    Hingga mesti terpecahkan bening kristal nurani
    sekedar bertahan untuk hari ini
    Bahkan entah untuk sebuah kuburan mana dipesankan
    saat gelora makin tak terbendung,
    mewabah bagai deras arus bendungan yang bobol.

    Ya, Ma.Aku terpana.
    Aku merindukanmu seperti kala lapar kami
    menunggumu menanak nasi
    Masih ada riang terlukis dengan polos, karena tahu
    sebentar lagi malam kan kau selimuti dalam kebersahajaan hidup.

    Dan Ma, disini aku telah mencoba melangkah
    doakan agar perjalanku tak melupa
    arah menuju pangkuanmu

    ULASAN PUISI “SEPENGGAL RINDU UNTUK IBU”
    Karya Refdinal Kelana Mimpi, IDFAM160U

    Puisi berjudul “Sepenggal Rindu Untuk Ibu” ini menggambarkan kerinduan sang penyair kepada ibunya. Secara tersirat, penulis mencoba mengisahkan kenangan bersama ibunya. Kenangan itulah yang sanggup membuatnya bertahan menghadapi kerasnya hidup di perantauan.

    Tema ibu memang tidak akan pernah usang. Betapapun, ibu merupakan sosok yang paling layak untuk selalu dikenang. Sebesar dan sekeras apapun bakti yang kita berikan, tak akan pernah sebanding dengan pengorbanan yang beliau lakukan. Itulah mengapa ibu diutamakan tiga kali dari ayah.

    Penulis cukup berbakat dalam membuat puisi. Itu terlihat dari teknik penyusunan dan diksi yang digunakan. Perumpamaan dan kiasan yang dipakai juga menarik. Ini membuat pembaca betah dalam menghayati setiap kalimatnya hingga akhir.

    Sayangnya, penulis kurang teliti dalam proses penyusunan. Ada baiknya, setelah selesai menulis, dilakukan proses editing agar tidak terjadi kesalahan penulisan maupun ejaan. Beberapa kesalahan yang terdapat dalam puisi ini diantaranya:

    Kata ‘Pinggirian’ pada baris keempat yang seharusnya ditulis pinggiran
    ‘Burung burung’ pada baris keenam yang seharusnya ditulis ‘burung-burung’
    Kata ‘perjalanku’ di bagian akhir puisi yang seharusnya ditulis ‘perjalananku’

    Secara keseluruhan, puisi yang dibuat penulis sudah bagus. FAM berharap, penulis terus mengasah kemampuannya dengan sering berlatih. Harapannya, kualitas tulisan menjadi semakin baik.

    Teruslah berkarya.

    Salam Aishiteru
    TIM FAM INDONESIA
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Sepenggal Rindu untuk Ibu" karya Refdinal Kelana Mimpi Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top