• Info Terkini

    Tuesday, July 31, 2012

    Belajar Menulis Seperti Teknik “Seribu Satu Malam”

    Raja Shariar adalah seorang antifeminis, pembeci wanita. Tapi setiap hari ia menikah dengan seorang wanita. Begitu ia berkumpul dengan istrinya satu hari, istrinya itu dibunuhnya, lalu ia menikah lagi dengan wanita yang lain. Baru ketika menikahi anak seorang Wazir dari India, Raja Shahriar terbentur pada batunya. Istrinya itu bernama Scheherazade. Pedang untuk memenggal leher Scheherazade tetap tak berkutik dalam sarungnya selama Seribu satu hari. Dan akhirnya Raja Shahriar mengurungkan niatnya untuk membunuh Scheherazade, lalu menjadikan tetap sebagai istrinya.

    Batu apa yang digunakan Scheherazade untuk membentur suaminya?

    Anda pasti sudah pernah mendengarnya. Tidak lain ialah cerita bersambung yang dikenal dengan Seribu Satu Malam”.

    Sejak malam pengantin, Scheherazade mengisahkan pada suaminya sebuah cerita yang
    mengasyikkan, tapi tiap kali cerita itu belum juga berakhir. Ujungnya masih tergantung dan membuat raja itu ingin mengetahui kelanjutannya. Karena itu ia menunda memenggal leher istrinya dan meminta supaya Scheherazade melanjutkan cerita itu pada malam berikutnya dan semakin mengasyikkan hati Sang Raja, sehingga tiap malam ia menunda niatnya untuk membunuh, dan terus meminta cerita itu dilanjutkan pada malam berikutnya. Begitulah sambung menyambung sampai genap seribu satu cerita yang dikisahkan dalam malam sejumlah itu pula.

    Dan begitulah, leher Scheherazade selamat dari pedang Sang Raja dan begitu pulalah rangkaian cerita itu dikenal dengan kisah “Seribu Satu Malam”.

    Apa rahasia Scheherazade?

    Rahasinya terletak dalam teknik dasar menulis cerita. Scheherazade menguasai teknik itu. Begitu juga pengarang-pengarang dunia lainnya, seperti Shakespeare, pengarang drama Inggris yang kenamaan itu, juga Walt Disney, sineas Amerika yang film kartunnya paling laris di seluruh dunia, juga Mochtar Lubis, novelis Indonesia yang menulis “Senja di Jakarta”. Semua penulis cerita fiksi yang baik, zaman dulu atau sekarang, menguasai teknik dasar itu. Dan itulah teknik dari semua penulis fiksi profesional.

    Jadi, kalau Anda ingin menulis cerpen, sebaiknya Anda menguasai juga teknik dasar itu.

    Apa saja teknik dasar bercerita sehingga membuat pembaca terpukau takjub seperti Raja Shahriar? Ini tiga cara diantaranya:

    1. Apa yang ingin Anda katakan dalam cerita Anda? Tema! Ya, ceritanya harus jelas temanya apa. Cerita yang bertele-tele, ngalor-ngidul ke sana kemari tanpa tema yang jelas akan membuat pembaca bosan membaca tulisan Anda hingga titik paling akhir.

    2. Libatkan pembaca. Caranya, ciptakan tokoh-tokoh yang riil dan bisa dipercaya. Tokoh yang tampak nyata seperti betul-betul hidup dan ada, yang manusiawi dan yang meyakinkan.

    3. Gunakan sudut pandang orang ketiga (penulis bertindak sebagai orang yang terlibat dalam cerita). Bukan sebagai tokoh cerita melainkan seolah-olah melihat apa yang terjadi pada para tokoh cerita.

    4. Buat pembuka dan isi cerita yang menarik dan mengundang penasaran. Lajos Egri membuat cerita yang bagus begini: Pada suatu pagi seluruh penduduk sebuah kota Yunani gempar karena semua lampu di jalan dirusak orang. Siapa perusaknya tak ada seorang pun yang tahu, karena kota itu biasanya aman. Tapi kemudian muncul seorang pemuda yang mengakui terus terang bahwa dialah yang membuat kegemparan itu. Penguasa kota heran, karena pemuda itu biasanya pendiam dan tidak tergolong berandalan. Kemudian baru diketahui bahwa ia sengaja berbuat begitu agar orang-orang kota mau menaruh perhatian kepadanya. Ternyata di rumah ia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya, yaitu perhatian dari orang tuanya.

    Nah, itulah diantara teknik-tekniknya. Selamat mencoba!

    Dari Buku “Yuk, Nulis Cerpen Yuk”, Mohammad Dipenogoro, 1985.

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Belajar Menulis Seperti Teknik “Seribu Satu Malam” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top