• Info Terkini

    Tuesday, July 3, 2012

    Cerpen, Surat dan Puisi Terbaik Pemenang Lomba Milad Sekjen FAM Indonesia

    Pengantar:
    Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, pada 3 Juli 2012 lalu, mengumumkan pemenang penulis Cerpen, Surat, dan Puisi Terbaik dalam rangka Milad Sekjen FAM Indonesia. Puluhan naskah dari anggota FAM dinilai Tim FAM. Diantara naskah yang baik terpilihlah yang terbaik. Cerpen, Surat dan Puisi terbaik itu, selain telah diterbitkan KORAN-CYBER.com juga didokumentasikan di blog FAM Indonesia ini.

    ***

    NUR ITU KEREN, LHO!
    (Pemenang Cerpen Terbaik)

    Oleh Ma'arifa Akasyah

    Kakak panitia penataran itu menyapa penghuni kelas. Mengatakan bahwa hendak mengabsen pagi. Padahal, jam dinding telah menunjukkan angka 10.18. Matahari pun sudah naik dari kakinya, sehingga tubuh yang dijemur sepagi itu sudah layak disebut cacing kepanasan. Ditambah lagi push up dua belas kali di atas lapangan berplaster mengkilap itu. Telapak yang melepuh, lutut yang lunglai, keringat yang kering, dan wajah lesu yang menghitam. Lengkap penyiksaan fisik ini.

    “Aditya Rahmawan?” seru kakak itu.

    “Hadir!” jawab Adit dengan senyum yang nampak dipaksakan dan tangan kanan yang diangkatnya secara berat.

    Absen satu sampai dua puluh satu. Semua menjawab dengan “hadir” dan semangat yang melemah.

    Nurwati telah melebarkan kedua sudut bibirku. Menyiapkan tangan untuk ia angkat.

    Ia akan menandingi semangat teman-teman dengan teriakan kecilnya. Satu... Dua... Tiga...

    “Nurwati?” panggil kakak itu. Ia membuka tangkupan bibir dengan hati-hati.

    “Haaa...”

    “Ha-ha-ha. Nurwati?” kata itu... menutup rapat mulut yang telah ia buka. Mengunci laringnya hingga tak berfungsi. Ia menoleh, mencari sang pelaku. Tapi gagal. Percuma dan sia-sia. Semua menertawakannya. Tepatnya menertawakan namanya. Ya, namanya, yang “Nur” dan ‘Wati” bergabung menjadi satu kata itu.

    “Ennnnnuuuuuuurwati…..” Nada C minor kemayor-mayoran yang terlihat jelas tervibra. Semua tertawa. Celetuk-celetuk itu membingungkan sekaligus menjengkelkannya. Ia membuang muka menghadap kakak itu.

    “Hadir, Kak!” teriaknya lirih dalam keramaian tawa itu. Ia menunduk sekadar menyembunyikan raut merah malunya atau alis yang hampir berkoloni.

    “Apa salahnya punya nama Nur?” pikirnya.

    Penyiksaan batin.

    ***

    “Nama asli, Mbak?” tanyanya ragu pada mbak-mbak berkacamata di meja pendaftaran.

    “Iya, Dik.” jawab mbak itu pelan.

    “Oke.” Nuraini memantapkan diri. Menggoreskan tinta ke kolom teratas yang diawali dengan kata “Nama”.

    Ia menyelesaikan pengisian kertas putihnya. Mendatangi para peserta lain yang tengah antri. Menunggu panggilan sambil sesekali melihat handphone jika ada yang menelepon atau mengiriminya pesan. Dan benar saja, SMS dari Fatimah ia terima.

    “Bagaimana, Mbak?” tanya Fatimah pada Nuraini.

    “Sudah daftar. Sedang antre. Doakan saja,” balasnya.

    Ia memaksa-maksa tetap tersenyum. Pikirannya kembali pada Fatimah. Adik beda empat tahun darinya yang harus memenuhi tunggakkan uang empat bulan sekolah.

    Seperti keharusan bahwa Nuraini yang mencari penambalnya. Mamak? Bapak? Tidak. Tapi Nuraini.

    “Enam puluh tiga!” Mbak-mbak tadi meneriakkan nama bilangan dari angka kertas yang Nuraini bawa. Ia merapikan diri dan melangkah ke tempat di balik tabir ungu. Melupakan beban tentang Fatimah bahwa ia berjuang untuk pengalaman.

    “Assalamualaikum,” Ia membuka tirai.

    “Waalaikumsalam,” hanya satu yang melantangkannya. Yang lain? Hanya komat-kamit sibuk dengan kertas-kertas di tangannya.

    “Oke, duduk! Nama kamu?” orang pertengahan mengambil pulpen dan mengajukan pertanyaan.

    “Terima kasih. Nama saya Nuraini. Panggil saja Nur.”, jawabnya mantap.

    Tak ada tanggapan berarti selain wajah memerah bersama pipi yang digembungkan dan membuat penanya terhentak-hentak kecil.

    Yang lain? Seolah lebih blak-blakan untuk tertawa sekeras mungkin.

    “Nur? Masih ada nama Nur jaman sekarang?” kata seorang lain setengah jelas. Seolah ia tak percaya bahwa ia memang terlahir dengan nama “Nur”.

    Ia melongo kebingungan. Mengerutkan dahinya. Apa ini? Kenapa semua jadi tertawa?

    Ia memandang semua orang yang ada di ruangan ini. Membaca beberapa papan nama yang tergantung di leher mereka.

    “Cathrine, Shara, Emelin.” Hah! Nama apa itu? Terlalu asing baginya. Dan (mungkin) nama Nur terlalu asing bagi mereka.

    Ia tersenyum kecut memerhatikan pertunjukan ini. Berdiri dan keluar tanpa ijin. Tentu saja dengan keacuhan yang meredam semangatnya. Kalau bukan karena Fatimah, ia takkan sampai di sini. Mencoba mengikuti seleksi figuran iklan dengan bayaran yang (ia harap) cukup untuk memenuhi permintaan sekolah Fatimah.

    “Pengalaman yang memuakkan!” seru batinnya.

    ***

    Ia membuka fesbuk dari laptop. Memantau kegiatan grup Forum Aishiteru Menulis (FAM) Indonesia. Menulis dan berbagi pengalaman hidup dengan beribu orang yang tergabung.

    Bibir tipisnya sesekali tersenyum. Lewat tulisan berbagai karakter yang ditawarkan. Macam-macam yang ia pikirkan.

    Niatnya menyalurkan nilai-nilai Islami dengan tulisan sudah tertancap. Aksi pun telah tertuang. Reaksi (yang pasti) positif banyak ia terima. Tapi bukan sebatas itu niatnya. Ia berusaha membangun bangsa yang maju melalui da’wah bil qolam. Membangun lulusan-lulusan sastra tanpa gelar sarjana di FAM. Membangun kepribadian Islami untuk memajukan negara ini.

    Hari ini miladnya, tahun ke tiga puluh tujuh ia memutar udara dari dan ke paru-parunya. Juga, tepat tiga bulan berdirinya FAM.

    Terbangun memori yang mengudara di tangal 2 Juni 1975. Ia terlahir sebagai Aliyah Nurlaila (cahaya malam yang tinggi). Ya, setinggi cita-citanya. Setinggi (mulia) keinginan mengembangkan minat tulis islami di negeri ini.

    ***

    Nurwati melabuh di kursi meja panjang. Menempatkan diri dengan berbagai kekesalan. Sampai hari ini, ia betah-betahkan untuk berilmu di sekolah yang tidak menginginkan namanya. Ia pusing setengah gila.

    Nuraini singgah dihadapannya. Menatap seorang masam rupa di depannya. Kehendak hati bertanya. Tapi, untuk apa? Toh, ia sendiri sedang jengkel dengan sikap penghuni ruangan casting itu. Pikirannya amburadul.

    Seorang berjilbab putih menyudutkan diri di antara mereka. Dengan senyum yang merekah tulus ia meneduhkan tatapannya.

    “Assalamualaikum,” sapanya pada kedua Nur yang saling menunduk.

    “Waalaikumsalam,” jawab mereka serentak.

    Wanita berkerudung itu tampak simpatik pada keduanya. Seolah resah melihat orang lain ditimpa raut kesedihan.

    “Boleh saya tahu, kenapa kalian sedih?” tanyanya pelan.

    Nurwati mengangkat kepalanya. Tersenyum kecil dan mulai melempar kata.

    “Eeee... Nama saya Nurwati. Dan nama Nur tak dikehendaki di sekolah saya,” Nuraini mengangkat kepala dan alisnya. Di benaknya, ia punya teman senasib.

    “Nur juga tidak dikehendaki di ruang casting itu. Terlalu kuno,” timpalnya.

    Nurwati dan Nuraini saling berpandangan. Raut bingung, kekesalan, juga rasa ingin berontak yang sama. Seperti bercermin dan menghasilkan bayangan yang begitu nyata.

    “Nur tidak keren,” Nurwati lebih antusias untuk bercurah hati.

    “Kata siapa?” Nurlela menanggapi dengan lembut.

    Mereka berdua diam. Tak ada yang mau menjawab dengan pasti.

    “Nama saya juga Nur. Aliya Nurlela. Nur itu keren, sayang,” kata-kata yang sama sekali tak disetujui Nurwati maupun Nuraini.

    “Hmm... Nur itu… cahaya. Kalian tahu, cahaya itu apa?”

    Tanpa tanggapan. Nur berdua saling penasaran pada seorang berjilbab yang baru datang.

    “Cahaya itu sesuatu yang tampak dan menampakkan,” jelasnya singkat.

    Nurwati dan Nuraini belum mengerti sepenuhnya. Mereka tetap diam tanpa satu huruf pun.

    “Lihat lampu itu!” Nurlela menunjuk lampu yang tertempel di atap.

    “Lampu itu cahaya, kan? Lampu itu tampak dan menampakkan,” kali ini kata-kata Nurlela membuat Nurwati dan Nuraini mangut-mangut.

    “Sekarang saya bertanya. Kalau tidak ada cahaya, akan jadi apa dunia ini?” pertanyaan yang tentu akan dijawab dengan kata “gelap”.

    “Gelap,” jawab bebarengan.

    “Iya, gelap. Cahaya itu sangat dibutuhkan. Jangan malu punya nama Nur yang artinya cahaya,” tambah Nurlela.

    “Tapi...,” Nurwati masih kekanak-kanakan.

    “Ya?” ia dipersilakan untuk berargumen.

    “Tapi, kalau Nur dan Wati saja kan tidak keren.”

    “Wati itu kan artinya perempuan. Kamu itu perempuan yang bercahaya. Perempuan yang punya cahaya, Insya Allah,” kalimat singkat yang menyejukkan hati Nurwati. Ia diam dan tersenyum lebar.

    “Oh, aku perempuan yang bercahaya?” batinnya berbunga.

    “Aini itu kan mata. Lantas, cahaya mata?” Nuraini belum mendapat pencerahan.

    “Mata. Kita sebut saja mata itu penglihatan. Cahaya dan penghilatan adalah dua hal yang saling berkait. Kalau ada cahaya, tapi kita tak punya mata, bagaimana? Kalau pun kita punya mata dan ada cahaya, tapi mata kita tak berfungsi normal, bagaimana? Mata adalah penyeimbang cahaya. Dan cahaya adalah penyeimbang mata,” Nuraini sedikit lega.

    “Oh ya. Kenapa mata tercipta dengan alis yang hitam, bulu mata yang hitam, dan beberapa pupil yang hitam?” pertanyaan yang tak dijawab (lagi) oleh keduanya.

    “Karena warna hitam mampu menyerap cahaya dan sinar dengan maksimal. Warna hitam mempunyai emisivitas nol. Bayangkan kalian di tengah terik matahari dan memakai baju hitam. Panas?” tanya Nurlela.

    “Iya,” kata Nurwati. Nuraini mengangguk pelan.

    “Subhanallah yang telah menjadikan mata sedemikian rupa. Bersyukurlah kita mempunyai nama Nur. Nurwati. Nuraini. Dan saya Nurlela,” kalimat ini ditutup dengan senyum di bibir ketiganya.

    Seperti Nurlela didatangkan sebagai cahaya singkat yang membukakan pikiran Nurwati dan Nuraini tentang nama mereka. Kalau Nur itu cahaya dan cahaya dibutuhkan dalam kehidupan, mengapa kita harus malu dicemooh saat punya nama Nur? Bukankah Nur itu keren?

    Senyap dan sunyi merambat ketiganya. Tak ada lagi yang harus diperdebatkan. Mungkin di lain waktu.

    Nurlela pamit diri dengan kebahagiaan telah membagi sesuatu pada kedua Nur. Beranjak kembali menunaikan kehidupannya.

    “Terima kasih.”, kedua Nur menutup pertemuan.

    Meja itu jadi sepi. Tinggal lampu bercahaya yang menghangatkannya.


    Nurwati dan Nuraini kembali ke tempat mereka dihina. Jika ditertawakan lagi, mereka akan mwnjawab bahwa “Nur itu keren, lho!”. []

    ***

    SANG PURNAMA DALAM GELAP
    (Pemenang Surat Terbaik)

    Oleh Rahimah Ib

    Sahabat, pagi cerah bersaput awan yang berarak memayungi langit kotaku. Seperti biasa, aku selalu bersemangat ketika berangkat kerja, untuk mencerdaskan anak bangsa. Ketika aku tidak masuk kelas, aku akan bekerja menatap komputer, diselingi berselancar di dunia maya.

    Tahukah kau sahabatku? Mataku terpaku pada status Muhammad Subhan (Ketua Umum FAM Indonesia) yang menyatakan tentang buku yang kau tulis “Insya Allah 100% Sembuh”. Dadaku bergemuruh bertanya, siapa gerangan perempuan hebat yang menulis buku ini? Tanpa buang waktu, saat itu juga aku meng- add-mu di facebook.

    Aku tak pernah menyangka jika engkau langsung mengkonfirmasinya. Aku pikir engkau sama seperti orang hebat yang lain, lelah untuk berteman. Tapi engkau tidak, aku meminta nomor teleponmu engkau beri dengan ringan saja, tanpa khawatir seperti orang hebat yang lain bila diminta nomor handphonenya, takut akan terganggu.

    Sahabat, setelah itu persahabatan kita mengalir layaknya air sungai di kaki gunung, sejuk tiada tara. Setiap hari aku merindukan senyum tulusmu di depan kain merah menyala itu. Aku merindukan kata-kata penyejuk yang terus engkau sebarkan layaknya gerimis yang tak mengenal musim. Aku juga merindukan suara beratmu yang bersahaja, tegas dan memesona (belakangan aku tahu dari tulisanmu “Motivasi Seorang Kakak” bahwa engkau adalah vokalis dan pemain teater, pantas saja suaramu berkarakter kuat).

    Aliya sahabatku…

    Kau mengajakku untuk bersama di FAM Indonesia. Pada saat aku terus berenang di dunia maya untuk mencari komunitas yang dapat membantuku bangun dari keputusasaan mendapatkan tulisanku yang tak juga berkembang. Arti namamu memberi makna yang sebenarnya bahwa engkau mampu menjadi purnama dalam gelap. Aku tak pernah meragukanmu, aku sangat yakin itu. Yakin pada perjuangan pribadimu menghadapi tubuh sendiri, berjuang mempertahankan bayi mungilmu agar tetap bisa hidup dan besar bersamamu dengan segala resikonya—belakangan aku juga tahu dari tulisanmu yang engkau posting di grup kita; “Forum Aishiteru Menulis”. Sahabat, tak semua perempuan mampu seperti itu, mungkin termasuk juga aku.

    Sahabatku…

    Bukankah keyakinanku itu terbukti? FAM baru berdiri selama tiga bulan (sekarang telah 4 bulan—red). Tetapi gaungnya mampu menembus gunung, membahana di angkasa, menyusup ke relung-relung jiwa.

    Sahabat, percayalah, walau kita jauh tapi engkau selalu terasa dekat. Engkau adalah sahabat paling tulus yang mau berbagi yang pernah aku jumpai. Kau bergerak demi komunitas kita tanpa pamrih. Aku terharu membaca postinganmu yang menceritakan betapa engkau bermandi keringat demi FAM, dan keringatmu tak pernah dibayar oleh siapapun dalam bentuk rupiah (hanya Allah yang akan membalas semua). Kau seperti cahaya rembulan yang pernah menyambut kehadiranmu di dunia, mampu menerangi kegelapan. Seperti engkau telah membawaku kedalam cahaya terang bersama FAM Indonesia.

    Andai kita dekat, aku akan memelukmu. Menyuntik energi positif dan vitamin untuk terus membangun semangat yang tak pernah padam. Kita akan bersama berjuang, bersama berkeringat, bersama menangis, bersama tertawa, bersama terus berbagi untuk sahabat FAM Indonesia. Tapi, jarak bukanlah menjadi penghalang bukan? Walau kita jauh, tapi aku selalu merasa dekat, engkau mampu hadir dalam keseharianku, mampu membuatku terus bersemangat untuk mencapai apa yang aku cita-citakan.

    Aliya, sahabatku. Surat ini tulus aku haturkan untukmu. Bukan karena aku ingin menang dalam lomba yang sedang digelar. Karena sahabat FAM kita sangat hebat, semua punya kata yang indah untukmu. Aku tulus, karena Allah. Ah, sudahlah. Aku sudah cukup menulis, mataku mulai basah, teman kantor mulai bertanya apa yang aku tulis sehingga aku begitu terharu. Nanti, aku akan menceritakan pada mereka, tentangmu tentu saja.

    Salam dari sahabatmu yang jauh. []

    ***

    INISIAL MAKNA
    (Pemenang Puisi Terbaik)

    Oleh Refdinal Kelana Mimpi

    : puisi nama untuk Lomba Milad Sekjen FAM Indonesia

    A-dalah sebuah nama yang membuat kita sejenak berdiam dalam teduhnya
    L-embut sapa, indah untaian kata serasi dengan keindahan sukma dan raga
    I-nilah mungkin sebuah ungkap dalam harimu yang bahagia ini
    Y-ang tak henti melantunkan doa, yang tak putus menaburkan asa berseri
    A-kan semua lipatan waktu yang datang dan pergi

    N-uansa bening cahaya seperti tak lepas mengitari
    U-ntaian kemilau makna semakin dalam terselami
    R-aihlah bersama senyum yang tak pernah lepas kau hiasi
    L-alu, biarkan sejenak kami hadir disini bersama doa
    E-ngkau pasti tersipu berselimut haru mengenang akan semua
    L-abuhan rindu, sejuta dermaga asa senantiasa menunggu
    A-ndai semua hasrat dalam ikhlas dan jujur berpayung Maha KasihNya engkau tuju.

    ***
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Cerpen, Surat dan Puisi Terbaik Pemenang Lomba Milad Sekjen FAM Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top