• Info Terkini

    Sunday, July 8, 2012

    Kendala Tak Surutkan Semangat Terus Berkarya

    FAM Indonesia kembali memancing komentar anggotanya, baik yang aktif maupun anggota grup dengan pertanyataan sebagai berikut:

    “Kamu berbakat sekali menulis. Tapi ada kendala, kamu tidak punya komputer/laptop untuk menuliskan ide-ide yang berkelebatan setiap saat. Dengan menulis itu, kamu juga ingin mendapatkan uang. Kamu punya seorang ayah atau ibu yang sedang sakit, butuh biaya pengobatan. Keterampilan satu-satunya yang kamu miliki hanya menulis, dan dengan itu kamu berharap dapat membantu kedua orang tua. Apa yang kamu lakukan menghadapi kendala itu? Berikan pendapatmu.”

    Apa jawaban mereka? Ini dia:
    “Terus berkarya, tidak patah semangat, dan memanfaatkan fasilitas yang ada.” (Kaoru Kasuga Nakajima)

    “Bawa buku saku kemanapun pergi, ada inspirasi langsung ditulis. Masalah laptop tidak usah bingung, sekarang banyak warnet. Tinggal kalau kita ada perlu ya ke warnet saja langsung. (Fhauzan Ten Brother's)

    “Aku kan coba mengirim karya-karyaku ke media manapun, asalkan orangtuaku sehat, dan salah satu wadah itu adalah dirimu FAM Indonesia.” (Çî Tïý Íbñü Ræbî')

    “Kondisi memberi inspirasi. Terkadang dia menghimpit jiwa, tapi ketika nalar, indera, dan rasa terikat maka dia akan berbuah karya. Maka, goreskan terus pena, bahkan ketika menemani ibu yang lemah tak berdaya.” (Yasin Abiru Sabil)

    “Yang aku lakukan adalah menulis dan sebanyak mungkin mengirim ide-ide saya ke wadah penulisan yang bisa dipercaya dengan niat yang baik, pasti ada jalan.” (Melly Leena)

    “Aku pernah mengalami hal tersebut. Aku mencoba untuk menulis dengan hati, mengasah kepekaan hati dengan mengesampingkan ego. Jangan berpikir tentang ‘materi’, menulislah karena niat Lillahi ta'ala. Jadikan tulisan tersebut sebagai "jalan" dan usahanya adalah mengirimkan karya tersebut ke media. Alhasil, tulisanku diterima oleh media tersebut dan mendapatkan tawaran sebagai redaktur di media itu yang mengelola rubrik motivasi dan kisah inspirasi. Itu mungkin adalah "buah" dari keikhlasan. Masalah laptop? Aku numpang ngetik di tempat kerjaku. Ketika semua mata terlelap, aku begadang dengan tulisan-tulisanku. Tak jarang aku lebih memilih untuk menulis daripada tidur. Menulis tanpa Alasan dan Syarat. Menulis dari Hati dan Lillahi ta'ala. (Mawar Rovita Sari)

    “Membuat cerbung semenarik mungkin selama kita merawat orangtua yang sedang sakit dengan ending cerita bagaimana orangtua kita bisa sehat kembali. (Muhammad Reifendy)

    “Itulah aku dulu. Karena kebutuhan, komputer bukanlah segalanya. Tulis dengan pena, tulis... tulis... tulis! Never give up! Never! Selanjutnya, tebalkan muka, pinjam komputer kawan (karena ke warnet butuh modal), kirim ke redaktur. Ditolak? Jangan putus asa, kirim... kirim... kirim! Suatu saat karya kita dimuat, karena kita belajar dari kesalahan dan melengkapi kekurangan. Redaktur juga akan tahu mana penulis yang gigih dan mana yang cengeng. Ketika tulisan telah dimuat sekali, jangan heran jika untuk selanjutnya, tulisanmu akan merajai media itu! Itulah pengalamanku, apa pengalamanmu?” (Rahimah Ib)

    “Aha. Sikon justru membuatku semakin semangat untuk menulis. Karena dalam sikon begitu inspirasi dan ide datang dan mengalir dengan deras. Jadi jangan pernah menyerah. Satu detik adalah satu kalimat. Jangan abaikan itu. Tiap hembusan napas adalah amanah, maka jangan abaikan itu. Berkaryalah. Manusia diluar sana menunggu karyamu. Semangat! Salam aishiteru.” (Nuh Rafi)

    “Tulis dulu di kertas, kertasnya bawa kemanapun pergi setiap kali ada kesempatan untuk ngetik, segera ketik karya tulisnya dan kirim ke e-mail koran harian atau majalah. Misalnya pulang sekolah, ngeliat LAB Komputer kosong, ijin dulu ke pengurus LAB'nya, kalau sudah dapat ijin segera ikut ngetik deh, he-he. Ada kemauan pasti ada jalan, yang penting semangat.” (Trisna Hadi)

    “Sangat dekat dengan pengalaman pribadiku. Ide itu datang semau-maunya. Kadang jika kita sedang santai, tak ada yang sedang kita kerjakan, daripada waktu terbuang kita coba mencari-cari ide, tapi ide itu tak mau menunjukkan batang hidungnya—meski dipaksa-paksa, diancam, bahkan disogok es krim cokelat bertabur susu ternikmat sekalipun. Tapi jika kita sedang mengerjakan sesuatu yang penting dan butuh konsentrasi tingkat tinggi—misal sedang asyiknya bermain bola, mengendarai motor, bahkan saat mata mengantuk dan sudah setengah tertidur, ide itu tiba-tiba muncul menampar pipi, mengagetkan, dan jika tidak segera ditangkap, ia akan kabur secepat maling jemuran. Untuk mengatasi itu, aku yang tidak punya laptop atau komputer di kamar kos, selalu membawa handphone kemanapun aku pergi. Kutulis ide apapun yang berkelebat. Sampai kurus badanku karena terlalu sering begadang. Setelah itu, barulah ide-ide tadi diolah menjadi satu bahkan dua judul tulisan sekaligus. Hasil tulisan itu bisa diketik di warnet, lalu dikirim ke media.” (Ken Hanggara)

    “Pada dasarnya menulis memang tidak melulu untuk mencari uang, ibadah melalui dakwah tulisan mungkin itu salah satu tujuan mulia dari menulis. Tapi bukan berarti mengejar uang sebagai tujuan menulis merupakan hal yang buruk atau tak pantas. Lihat dulu buat apa uang yang dikejar, kalau untuk menafkahi keluarga sudah jelas itu berpahala, apalagi dalam kasus ini untuk biaya pengobatan ayah atau ibu, niat yang mulia. Apapun manfaat yang kita beri ke orang lain termasuk dakwah adalah sedekah, dan sedekah yang paling besar pahalanya adalah sedekah pada kerabat keluarga yang membutuhkan. Jadikan itu sebagai penyemangat untuk menyalurkan bakat hebat yang memang sudah dimiliki, soal laptop atau komputer, bisa menulis dulu semua dengan tangan di kertas, lalu ke warnet saja, sejam sekarang cuma Rp2 ribu. Kalau masih tetap tidak mampu cari pinjaman ke teman. Insya Allah kalau ada niat dalam kebaikan, seribu jalan dibukakan Tuhan.” (Nadia Regina Martanti)

    “Karena tidak ada komputer jadi tulis segala ide di kertas. Karena butuh uang untuk biaya penyembuhan orangtua jual karya-karya itu kepada teman yang membutuhkan jasa menghadapi tugas bahasa Indonesia. (UdiKidu Penyihir Nyasar)

    “Berjalan kaki ke Perpustakaan Kota Surabaya demi memindahkan kisah yang berceceran di A4 kedalam word telah kucoba, terik Surabaya kala itu bukan penghalang bagiku, dan akhirnya untaian kisah kini telah berwujud word dalam novelku, tapi belum terbit. (Yasin Abiru Sabil)

    Sumber: www.famindonesia.blogspot.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kendala Tak Surutkan Semangat Terus Berkarya Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top