• Info Terkini

    Thursday, November 22, 2012

    Menjaga Pintu Masuk FAM Indonesia, Bermula dari “Gaptek!”

    Sejak FAM Indonesia membuka pendaftaran keanggotaan, untuk kelas siswa, mahasiswa dan umum yang dimulai bulan Maret 2012, maka yang pertama kali berhubungan dengan para calon anggota adalah saya. Kenapa? Ya, saya berada di ‘garda’ terdepan untuk urusan registrasi keanggotaan. Ibarat tamu mau masuk rumah, harus melewati pintu terlebih dulu. Setelah pintu dilewati, permisi baik-baik maka bisa masuk rumah dengan leluasa. Saya merasa berdiri di pintu itu, menyeleksi para tamu yang mau masuk. Jika memenuhi syarat yang diminta tuan rumah, maka lolos. Pintu dibuka lebar, lalu tamu dapat menikmati fasilitas yang ada di dalam rumah itu.

    Kenapa hanya satu pintu yang dibuka untuk masuk? Tidak dua, tiga atau banyak pintu? Atau sekalian menyediakan jalur pintas, melalui jendela bahkan atap? Semua itu sengaja dilakukan FAM Indonesia untuk memudahkan pendataan para calon anggota, termasukmenjaga ketertiban dalam proses pendaftaran. Mungkin saja ke depan akan segera dibuka pintu-pintu kecil lainnya, untuk mempercepat proses tersebut. Itu masih langkah ke depan. Sebagai penjaga pintu, lelah sudah pasti. Tapi dibalik kelelahan itu, ada kepuasan pula yang didapat.

    Salah satunya, bisa mengenal semua calon anggota yang akan melakukan registrasi. Dari mengenal itulah, banyak pula cerita yang mengalir tak terbendung. Terjalinlah persahabatan, persaudaraan serta hubungan silaturahim yang kuat dengan para calon anggota yang berasal dari berbagai daerah. Sesuai dengan salah satu misi FAM Indonesia, dibentuknya wadah kepenulisan ini dalam rangka menjalin silaturahim di kalangan penulis muda Indonesia.

    Banyak pula cerita yang menggelitik hingga membuat tawa terbahak sendiri. Tidak sedikit calon anggota yang ‘curhat’ tidak bisa cara membuka email, mengirim file melalui inbox, mendownload, hingga transfer biaya registrasi. Banyak calon anggota yang bertanya, “Mbak, saya mau transfer biaya registrasi keanggotaan tetapi saya tidak punya rekening, bagaimana solusinya?” Mungkin para calon anggota yang pernah bertanya seperti ini masih ingat jawaban saya, “Minta saja bantuan petugas bank, katakan mau transfer ke nomor rekening ini. Atau minta bantuan keluarga dan teman yang mengerti.” Itu jawaban yang saya berikan.

    Ada pula yang bertanya, “Mbak, apakah membuka email itu harus pakai KTP?” Menggelikan memang. Saya jawab, “Coba minta bantuan penjaga warnet saja ya?”

    Ternyata, masih banyak orang yang ‘gaptek’ di zaman yang serba penuh kecepatan ini. Padahal, latar belakang mereka pelajar, mahasiswa bahkan guru. Bukan saya menertawakan mereka, tetapi justru ingat akan ke’gaptek’an diri sendiri. Andai para calon anggota tahu bahwa sebenarnya saya juga termasuk orang yang ‘telat’ belajar tekhnologi. Tapi, telat bukan berarti kadaluarsa bukan? Masih ada waktu untuk belajar dan tidak malu bertanya pada siapapun yang bisa. Termasuk bertanya pada orang yang baru dikenal sekalipun. Kak Nuryaman Emil Hamzah, Mas Ahmad Munandar, termasuk Bang Muhammad Subhan (Ketum FAM Indonesia) adalah orang-orang yang menjadi saksi “kegaptekan” saya tersebut.

    Untuk akun facebook saya saja yang membuatnya adalah kakak kandung saya, Kak Nuryaman Emil Hamzah. Tiba-tiba ia SMS memberikan alamat email, akun facebook, lengkap dengan sandinya. Mungkin saja, Kak Nuryaman merasa heran nama adiknya tidak pernah muncul di dunia maya. “Hari gini nggak punya facebook?” Begitu mungkin pikirnya. Ah, namanya juga tidak mengerti. Meski sudah dibuatkan akun facebook, tidak langsung saya operasikan. Dibiarkan saja berbulan-bulan. Tidak mengerti harus diapakan sandi-sandi itu. Lalu setelah masuk dalam dunia facebook itu, apa yang harus dilakukan? Benar-benar tidak mengerti. Duh, ‘gaptek’nya saya. Jadi tersenyum sendiri jika ingat saat itu.

    Suatu hari, direktur sebuah penerbit di Jogya tiba-tiba menelepon saya dan mengatakan bahwa tertarik dengan naskah milik saya, yang pernah dikirim ke seorang penulis dalam bentuk ‘print out’. Direktur penerbitan itu meminta naskah revisi dikirim melalui email ke alamat email penerbit. Katanya mau diterbitkan jadi buku, tanpa perlu ngantri. Wah, tentu saja saya kelabakan. Kirim email? Sesuatu yang tidak dimengerti. Tetapi jika tawaran ini tidak segera disambut, peluang akan melayang sia-sia. Bukankah banyak penulis yang naskahnya ngantri di meja penerbit dengan harapan bisa diterima? Ini tanpa kirim naskah, dilamar penerbit dan langsung disodori perjanjian royalti pula. Menggiurkan sekali. Apalagi ini akan jadi buku pertama. “Wow!” Saya bersorak sendiri.

    Lima hari saya revisi ulang naskah tersebut, sambil berpikir dan menimbang. Haruskah menyerah dan kalah dengan makhluk yang namanya EMAIL? Saya tanya sendiri dan saya jawab sendiri. Tidak, tidak boleh menyerah! Akhirnya, dengan tekad kuat untuk mengenal si email didatangilah beberapa warnet terdekat. “Mas, bisa bantu kirim email?” Tanya saya to the point saja. “Duh, maaf Mbak saya juga tidak bisa kirim email. Saya hanya tugas menjaga.” Jawab beberapa penjaga warnet yang didatangi menyurutkan semangat di awal yang sudah membara.

    Tepat di warnet yang ke sekian, yang tampilan dari luarnya sangat kusam penuh poster lelaki bertato. Saya beranikan masuk. Saat masuk, asap rokok memenuhi ruangan yang tertutup. Aroma khasnya sudah lebih dulu menerobos ke sela-sela lubang hidung. Sesak. Tapi demi mengenal si email itu tak apalah ditahan sesaat. Dua orang penjaganya lelaki tinggi kekar, rambut berkuncir dengan anting di telinga kiri. Waduh, jangan-jangan ini warnet khusus kaum pria?

    “Mas, bisa bantu kirim email ke alamat email ini?” tanya saya polos sambil menyodorkan secarik kertas. “Bisa,” jawab salah seorang penjaga melegakan. “Lalu dikirim dari email siapa, Mbak?” tanya penjaga warnet itu. Kontan saja saya bingung. “Waduh, Mas, terus terang saya ini tidak tahu email itu apa fungsinya. Saya pernah diberi alamat email ini oleh kakak saya. Tolong Mas, diapakan ini?” Kepalang basah, jujur saja sekalian kalau memang tidak bisa. Kalau pura-pura bisa karena faktor malu, bisa ‘berabe’ jika ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Kata peribahasa juga, malu bertanya sesat di jalan. Saya pikir, “Ah, saya masih muda. Ngapain harus tersesat? Masih banyak waktu buat belajar.”

    Penjaga warnet itu hanya tersenyum yang sedikit disembunyikan. Lalu dengan ringan mengajari cara membuka email dan mengirimnya, meskipun setelah terkirim lupa lagi cara membukanya. Tapi lega, satu langkah mengenal awal si email sudah dilalui. Untung saja penjaga warnet itu bisa membantu. Oh, ternyata sangar hanya tampilan luarnya saja. Ilmu itu didapat bisa dari manapun dan dari siapapun.

    Saat beberapa bulan berikutnya ada yang mengajari cara mengaktifkan akun facebook, tersambunglah dengan beberapa teman masa lalu. Teman sekolah, teman sedaerah, termasuk kenalan-kenalan baru. Beberapa bulan di awal, fesbuk hanya sekadar sebagai ajang ‘say hello’ dan bernostalgia. Lama-lama merasa jenuh juga, “Apakah cuma sebatas ini fungsi facebook?” Muncullah ide mengajak beberapa teman untuk bekerjasama mewujudkan sebuah karya. Karena kumpulan ibu-ibu, tampaknya karya yang cocok adalah merintis usaha di bidang kuliner atau pakaian. Jawabannya kompak, “Oke.” Tapi ide tinggallah ide. Rapat-rapat jarak jauh terus dilakukan, namun tak berbuah aksi nyata. Banyak perhitungan ini itu ketika sudah diajak berlari mendahului semangat.

    Beberapa kenalan lewat facebook bahkan memberikan komentar mengecewakan ketika ditanya soal identitas dirinya yang jelas. “Ini dunia maya, jangan terlalu serius. Tidak perlu tahu identitas jelas segala, yang penting komunikasi rutin. Itu saja.” Mengecewakan sekali. Benarkah dunia maya tidak bisa dibawa ke dunia nyata? Benarkah dunia maya hanya sekadar untuk melepaskan ketegangan setelah kepenatan? Tak ada yang serius? Waduh, tapi maaf saja jika saya komunikasi terus menerus dengan orang yang tidak jelas identitasnya, tidak bisa. Apa yang akan dibahas? Bukankah kunci awal terjalinnya tali silaturahim itu karena keterbukaan identitas kedua belah pihak? Jika pihak yang diajak komunikasi mengenakan ‘topeng,’ lebih baik pindah saja dengan kenalan-kenalan lainnya yang identitasnya jelas dan punya maksud jelas.

    Hampir saja akun facebook itu saya tutup ketika rasa muak yang memuncak dengan berbagai ‘sandiwara’ yang dipertontonkan. Kenapa dan kenapa? Hingga suatu hari saya melihat postingan seorang penulis muda, yaitu tentang kegiatan menulis dilakukan Muhammad Subhan yang begitu aktif sekali menurut pencermatan saya. Mulailah saya tertarik membacanya dan terus mengikuti postingan-postingan di dindingnya terkait kegiatan tulis menulis serta motivasi-motivasi menulis. Ketika telah mengenal Muhammad Subhan dan saling bertukar karya masing-masing, muncullah ide untuk berkolaborasi karya dalam bentuk kumpulan cerpen (kumcer). Muhammad Subhan menyambut ide tersebut. Saya sempat bertanya, “Apakah seorang penulis yang sudah dikenal ketika kolaborasi karya dengan orang tidak terkenal, tidak akan menjatuhkan reputasi orang terkenal itu?”

    Saya mendapat jawaban, “Emas jika bercampur dengan lumpur, tetap saja emas. Tidak akan berubah menjadi lumpur. Semua orang terkenal juga berasal dari bawah, merangkak. Bedanya ketika sudah diatas ada yang peduli dan tidak peduli. Dan, saya bukan orang terkenal.” Demikianlah kurang lebih seperti itu jawaban yang bisa saya tangkap. Ya, itu awal yang baik untuk bekerjasama. Sebulan saling mengenal lewat dunia maya, sebuah buku dihasilkan di dunia nyata. Disusul dengan aksi-aksi nyata berikutnya. Termasuk gagasan mendirikan wadah kepenulisan nasional FAM Indonesia.

    Benar-benar diluar dugaan pula, dua minggu sebelum FAM berdiri tersambunglah komunikasi dengan Mas Ahmad Munandar. Tanpa malu saya minta diajari cara mengirim file dan foto lewat inbox. Alhamdulilah, dengan ringan Mas Ahmad memberikan petunjuknya. Dua minggu kemudian setelah FAM Indonesia berdiri, ternyata pelajaran mengirim file lewat inbox itu menjadi berkah. Setiap hari bisa mengirim profil dan formulir kepada calon anggota, rata-rata 40 sampai 60 orang, bahkan lebih di hari tertentu. Wah, saya bersyukur karena faktor tidak malu untuk belajar, akhirnya banyak orang yang bahu membahu membantu ke’gaptek’an saya. Setengah kegaptekan saya pun sudah teratasi, separuhnya lagi akan terus belajar sambil praktik. Seiring berkurangnya kegaptekan, semakin terbuka lebar jalan kemudahan.

    Kini, email dan facebook ibarat dua sahabat ‘termesra’ yang saya gandeng untuk menjaga pintu utama FAM Indonesia. Jika salah satunya sakit, maka tugas penjaga pintu itu tidak akan berjalan dengan lancar.

    Sahabat FAM Indonesia, mari kita tanamkan niat tidak malu dan tidak gengsi untuk belajar, di mana saja dan kepada siapa saja. Melesatnya kecanggihan tekhnologi kita kejar dan jadikan sarana untuk menyebar kebaikan. Bermula dari facebook forum ini terbentuk dan bermula dari facebook juga sahabat FAM bisa menjadi bagian dari FAM Indonesia. Mari kabarkan kepada dunia lewat facebook akan kehadiran wadah kepenulisan ini, karena dari sanalah bermula semua cerita.

    Terima kasih yang tak terhingga kepada Kak Nuryaman Emil Hamzah, Mas Ahmad Munandar, dan Bang Muhammad Subhan, inspirator saya, yang telah ikut membantu mengurangi ke’gaptek’an saya.

    Salam Aishiteru!
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menjaga Pintu Masuk FAM Indonesia, Bermula dari “Gaptek!” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top