• Info Terkini

    Wednesday, July 11, 2012

    Menulis Itu Sesuatu yang Sangat Menyenangkan

    Seperti biasa, di dinding grup “Forum Aishiteru Menulis” FAM mengajukan pertanyaan seputar motivasi tulis menulis. Kali ini pertanyaan adalah:

    “Kapan pertama kalinya kamu mulai menyukai tulis menulis dan menghasilkan karya tulis? Perubahan apa yang terjadi dengan sangat drastis pada dirimu ketika ide atau gagasan yang selama ini mengendap dalam benakmu dituangkan menjadi sebuah tulisan? Menulis, adakah sebuah keterpaksaan atau memang sudah keharusan yang kamu butuhkan setiap hari layaknya makan dan minum?”

    Maka, dari pertanyaan itu, dikumpulkanlah sejumlah jawaban dari anggota FAM maupun anggota grup “Forum Aishiteru Menulis”, sebagai berikut:

    Saat SMP. Waktu belajar Bahasa Indonesia, disuruh nulis puisi, terus disuruh pula bacain di depan kelas... Kata Ibunya, puisi saya yang paling asik... mantap. Sejak saat itu, rajin-rajinlah saya nulis puisi. (BEFALDO ANGGA)

    Saya mulai menyukai tulis menulis ketika kelas 3 SMP, usai membaca sebuah novel "Bayangan Bidadari" karya Bunda Nurul F. Huda yang hingga sekarang menginspirasi saya. Namun saya berhenti menulis. Mulai menulis lagi setelah menemukan novel Bunda Nurul F. Huda "Hingga Detak Jantungku Berhenti". Dan saya menulis hingga sekarang, terlebih setelah bertemu FAM. Jazakallah FAM Indonesia. (ANGGI)

    Hampir sama dengan Mas Angga, hanya saja saya mulai SMA, saat guru bahasa Indonesia saya menunjukkan karya-karyanya yang banyak dipublish di media cetak. Saat itulah niat untuk menulis muncul. Namun seiring berjalannya waktu, dikarenakan minat dan motivasi yang kurang, niat itupun terhambat. Baru sekarang, muncul kembali saat melihat karya-karya anggota FAM yang luar biasa. (ARIF HIFZUL)

    Sejak aku mengenal sosok penulis terkenal Indonesia, yaitu Pak Saiful Anam Assyaibani. Beliau adalah guru Bahasa Indonesiaku ketika SMA. Banyak karyanya yang telah mendunia di negeri ini, berkali-kali beliau memenangkan kompetisi menulis. Pengajarannya ketika di kelas begitu menarik, beliau selalu bersastra ria waktu mengajar, puisinya menusuk kalbu, dan mulai itu saya tertarik pada dunia tulis-menulis meski sampai saat ini karyaku selalu ditolak media. Semoga aku bisa seperti beliau, berdakwah bil qolam seperti FAM kini, amiin. (FHAUZAN TEN BROTHER’S)

    Saat kakak memenangkan lomba puisi se Palembang, dan saat ia menggoreskan pena itulah aku mulai mengenalnya. (HENDRA STYAWAN)

    Saya sudah menulis sejak duduk di bangku SD, ya meski itu hanya sekedar diary. Tapi saya baru menyadari hobi ini ketika duduk di kelas X SMA. Saat itu saya baru serius menulis. Meski sebelumnya sudah sering menulis, tapi setelah mendalami dunia kepenulisan, ternyata ilmu saya tidak apa-apanya. Dari situ saya mulai belajar, saya ingin menjadi penulis karena menulis itu menyenangkan. Beberapa lomba juga pernah saya ikuti, meski akhirnya saya gagal. Tapi dari setiap kegagalan yang saya alami, ada hikmah yang membuat tulisan menjadi layak. Saya pun bersyukur, karena dari menulis banyak hal yang saya dapatkan. (DUE WEE)

    Aku mulai menulis saat menyukai seorang gadis teman sekelasku yang pintar dan rajin beribadah. Waktu itu aku duduk di kelas sebelas. Aku yang sejatinya bukan seorang yang puitis--bahkan menulis satu bait puisi saja sulitnya minta ampun--tiba-tiba mendapat kemampuan menulis secara misterius. Sering aku menghabiskan berjam-jam lamanya di depan kertas kosong--mencoba membuat puisi. Karena terlalu banyak ide tapi penyampaian lewat pena yang mati rasa--membuatku tidur di atas kertas yang belum kusentuh! Kini, hanya dengan membayangkan suara gadis itu mengaji, caranya menjawab soal matematika, atau sekadar membayangkan dia tersenyum saja--puluhan bait puisi mampu kuhasilkan, tanpa harus berpikir. Aneh bukan? (KEN HANGGARA)

    Sejak SMP tepatnya kelas 2. Sejak SD jika pelajaran/ujian mengarang nilai saya selalu bagus. Tapi ketika berhadapan dengan guru bahasa Indonesia yang bernama Sujikan nilai ulangan saya tidak bisa lebih dari angka 5. Saat itulah saya mulai bertanya-tanya ''kok bisa begini?'' Akhirnya saya dekati guru itu. Dengan kesabarannya saya ditunjukkan kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Setelah melakukan pembenahan kemudian saya diberikan tantangan untuk mengurus mading. Sejak saat itu saya mulai menyukai tulis menulis. (AYUNDA PRAMEISWARI)

    Sejak SD kelas 3 saya adalah pengunjung setia Perpustakaan hingga SMA sekarang, tapi baru suka tulis menulis dari SMP kelas 2 dan itupun malas-malasan, lebih suka baca daripada nulis. Tapi kelas 3 SMP menulis menjadi sebuah kebutuhan baik tempat curhat, dll. (FATIMAH ZAHRA ALMADIHI)

    Mulai menulis sekitar Ramadhan tahun lalu, tepatnya setelah program jaulah Ramadhan di Garut (semisal KKN). Cerpen pertama sebagai rasa rindu yang sangat pada adik-adik di Garut yang brjumlah 60 orang (maklum saya bungsu, jd senang kalau punya adik-adik baru). Aktif dan mulai menggarap novel sekitar 6 bulan yang lalu, ketika berpisah dengan adik-adik santri di Pesantren kota Bandung. Gak terpaksa, malah kecanduan. Merekalah INSPIRASIKU dalam menulis. Dengan menulis rinduku terobati. (YASIN ABIRU SABIL)

    Saya mulai menyukai dunia menulis ketika membaca biografi Mbak Asma Nadia kelas V SD. Saya kagum dengan ketegaran dan semangat beliau. Disaat beliau sakit dan harus meninggalkan bangku kuliah, beliau tetap semangat untuk mengukir prestasi lewat tulisan. Beliau adalah inspirasi hidup saya. Saya berharap saya juga bisa mengikuti jejak beliau. Tulisan pertama saya dimuat di media massa ketika saya duduk di bangku kelas X SMA. Sejak saat itu saya semakin optimis untuk mengasah kemampuan saya di bidang menulis. Meskipun tubuh saya ini lemah (karena suatu penyakit), saya tidak akan menyerahkan mimpi saya dibunuh oleh (vonis) seorang Dokter. Saya ingin menjemput mimpi saya (sebagai Novelis), sebelum saya menghadapi eksekusi diri saya. Saya yakin, bila saya semangat dan ikhlas menghadapi semuanya, saya pasti bisa menggenggam impian saya di atas puncak Gunung FUJI. (MAWAR ROVITA SARI)

    Hmmm.... Semuanya pada suka menulis sedari dini yah... mungkin neh aku yang paling telat. Aku baru suka menulis Bulan Juli tahun ini. Alasannya simple, aku merapikan buku di ruang bukuku dan ketemu buku-bukuku 6 tahun lalu. Semuanya aku jilid dengan hard cover dan bertulis, "Idza arodta an tukholida, faf'al syaian yastahiqqu an yuktab. Au uktub syaian yastahiqqu an yuqra”, kata itulah yang membuatku mengharuskan diri untuk menulis. (ANDALUSIA CORDOBA)

    Kapan menulis? Aku mulai tertarik menulis setelah aku ditunjuk menggantikan teman di kelas bahasa mewakili Kabupaten Boyolali untuk ikut berpartisipasi dalam lomba cipta puisi di ajang Pospeda Jateng, dan aktor di balik penunjukan serampangan itu adalah guru sejarahku. Guru yang satu ini pula yang selalu meminjami koran tiap minggu agar aku bisa mengikuti perkembangan puisi tiap pekannya di koran lokal. (WARNO ADI SUSILO)

    Sejak kelas 3 SD. Ada lomba puisi di pengajian. Puisinya bebas religi, tapi puisi yang dikasih panitia panjang-panjang, susah hafalnya karena waktunya mepet. Jadi, kubuat puisi sendiri, hanya dua bait. Dan, aku menang melawan anak SMP, bangganya berdiri diantara mereka yang besar, hehe. Semenjak itu aku suka menulis puisi di buku-buku pelajaran, semua buku ada puisinya. Di MTs, guru bahasa Indonesiaku Pak Edison melihat potensi itu. Beliau membimbing dengan serius dan mempercayaiku menjadi redaktur mading. Redaktur paling lama, sampai 5 tahun! Karena aku tidak lulus Aliyah negeri aku melanjutkan di perguruan yang sama. Jadi sampai Aliyah aku redakturnya. Tulisan mulai di ekspos? Kelas 2 Aliyah, dimuat di beberapa harian lokal. Nama penaku dulu Rara, mengapa? Hahay... supaya keren, singkatan dari Rahimah Ramli. Setelah berumah tangga tulisanku mati suri, menulis untuk diri sendiri, mengendap. Life begin at forty, aku rasakan itu. Entah mengapa, I am back write, bahkan lebih gila dari yang dulu. (RAHIMAD IB)

    Mulai menulis sejak SD tapi kurang digeluti, dan ketertarikan untuk menulis itu datang lagi setelah saya kuliah. Saat menemukan komunitas kepenulisan di kampus, ada beberapa orang yang memberi semangat dan dorongan untuk menulis, mengajarkan saya, berbagi pengalaman, memberi email (media). Gairah saya untuk menulis semakin meningkat! Saya menulis dan terus menulis, kadang menulis juga butuh paksaan semisal tugas kuliah yang diberi dosen (Mata Kuliah Menulis) mewajibkan menulis bebas (free writing setiap harinya) nah dengan tugas itu, mau tidak mau ya saya harus menulis. Mengikuti lomba cipta puisi yang ada di dunia nyata dan dunia maya juga, pernah menang pula dengan hadiah pulsa, setelah itu menggilai media cetak alhasil beberapa kali puisi saya telah terbit di harian budaya lokal (Waspada Sumut), lain lagi mengikuti event tulis-menulis via online. Beberapa naskah juga pernah lolos dan alhamdulillah saya akan segera memiliki buku.. Menulis bagi saya sudah seperti makanan sehari-hari (walau kadang malas itu datang juga). (KEEP SMILE AZIZAH)

    Saya mulai tertarik menulis sejak SMA, tapi baru sebatas corat-coret di diary. Kemudian saat kuliah punya sahabat yang gemar menulis juga, minat menulis itu kembali memikatku, kami rajin mengirm tulisan di buletin dakwah kampus dan media Islam lainnya. Kesibukan setelah menikah dan berumah tangga kemudian membuat saya vakum, baru beberapa tahun ini, kembali sudah punya waktu senggang yang agak banyak ditambah dengan adanya fasilitas internet, rasanya semakin mudah jalannya. Terima Kasih untuk “Aishiteru Menulis”, di wadah ini saya mencoba kembali mengasah kemampuan menulis saya.

    ALHAMDULILLAH, SEMUA JAWABAN YANG DIBERIKAN ANGGOTA FAM MAUPUN ANGGOTA GRUP INI SANGAT BERMANFAAT. AYO, PETIK SEMANGAT MENULIS YANG MEREKA TEBARKAN.

    Salam Aishiteru!
    FAM INDONESIA

    Sumber: www.famindonesia.blogspot.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menulis Itu Sesuatu yang Sangat Menyenangkan Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top