• Info Terkini

    Thursday, July 5, 2012

    Polling FAM Indonesia: “Walau Sudah Terkenal Akan Terus Menulis”

    Kediri (Koran-Cyber.com) – Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia lewat grup facebook “FORUM AISHITERU MENULIS” membuat semacam poling kepada anggotanya. Poling itu berisi, “Bila Anda menjadi seorang penulis terkenal, buku Anda dibaca banyak orang, menempati posisi megabest seller dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, lalu uang dari hasil royalti buku itu membanjiri rekening bank Anda, apa yang akan Anda lakukan? Cukupkah Anda berpuas diri dengan buku itu lalu tidak menulis lagi?”


    Jawaban beragam diberikan sejumlah anggota FAM, diantara Erka Ninok, yang  mengatakan, “Sudah pasti itu bukan buku terakhir. Harus tetap menulis terus. Hasilkan karya terbaik, yang paling baik,dan tetap yang terbaik,” ujarnya.

    Sementara menurut Yasin Abiru Sabil, bila kondisi itu terjadi pada dirinya, ia akan  membahagiakan keluarga, sahabat, dan semua orang yang berperan dalam hidupnya sehingga ia menjadi penulis terkenal itu. Dia juga bercita-cita akan membangun sekolah, boarding school gratis.

    Jawaban lain diberikan Fhauzan Ten Brother's, yang mengatakan, “Setidaknya kita diharuskan untuk tidak berpuas dalam menuntut ilmu, terus belajar, berkarya, dan bermanfaat bagi sekitarnya. Itu yang harus kita tanam hingga akhir hayat nanti,” ujarnya.

    Nuh Rafi, anggota FAM Indonesia dari Kota Pariaman menyebutkan, bagi dirinya menulis adalah kebutuhan, sama halnya dengan membaca. Jadi, walaupun disuatu masa nanti bukunya laku dan terjadi megabest seller ia akan tetap menulis.

    Begitupun, menurut Ma'arifa Akasyah, yang pasti keberhasilan itu salah satunya karena FAM Indonesia. FAM ikut mencerahkan dirinya di dunia tulis menulis. “FAM adalah wadah yang mampu melecutkan semangat kita. Kalau satu tulisan bisa jadi megabest seller, kenapa yang selanjutnya tidak?” ujarnya optimis.

    “Bagi saya, menulis itu hobby, ya tidak akan berhenti sampai di situ saja, terus berkarya,” ujar Anggi, anggota FAM dari Pekanbaru, Riau. “Selagi ilmu masih berkembang dan kalam masih bisa dituliskan maka tetap menulis sebab dengan adanya tulisan kita dapat membaca,” kata Hafney Maulana.

    Rahmizakia Rifka, anggota FAM dari Kota Padang, mengatakan, “Memang itu yang ku mau, kawan. Pendapatku singkat saja, selalu begitu, sampai mati (insya Allah). Menulis dan menjadi bermanfaat,” semangatnya. “Saya akan tetap menulis. Megabest seller berarti kita inspirasi banyak orang. Jadi jangan berhenti menginspirasi,” ujar Ken Hanggara.

    “Mudahan-mudahan buku terbitan anggota FAM Indonesia megabest seller semua. Menulis, menulis, dan menulis adalah kuncinya. Sesungguhnya buku megabest seller adalah buku yang dikarang oleh seorang penulis sejati yang tak pernah berhenti menajamkan penanya—mereka terus mengasah penanya hingga ketajamannya melabihi silet,” kata Haryani Syakieb.

    Menurut Nadia Regina Martanti, tujuan menulis tidak melulu untuk mendapatkan materi atau royalti. Banyak hal yang melatarbelakanginya. Punya misi dakwah misalnya, seperti misi FAM Indonesia dalam kegiatan dan tulisannya. Tentunya kecukupan uang tidak akan menghentikannya. Selama semangat menyebarkan kebaikan masih mencahaya pada jiwa. Betujuan menyalurkan hobi atau curahan hati atas pengalaman dan kesenangan. Jadi tidak mendapat imbalan pun pastinya seseorang akan dengan semangat melakukan hal yang disenangi.

    “Apalagi kalau dibayar, sudah senang. Dibayar bisa dipastikan penanya tak kan pernah disandarkan. Kalau saya dua inti itu motivasi yang melandasi. Dakwah juga hoby/curahan hati. Soal bayaran dan royalti? Itu sebagai bonus yang harus disyukuri,” ujarnya.

    “Tentu saja lanjutin menulis. Malah lebih memotivasi untuk terus menulis lagi. Asal jagan besar kepala. Nanti bukan megabest seller lagi, jadi megahead,” kata Fatimah Zahra Almadihi.

    Sementara Rahimah Ib, anggota FAM Indonesia dari Medan mencontohkan, JK Roling masih terus menulis Harry Potter yang tak pernah mati. “Padahal, ia sudah menjadi salah seorang terkaya di dunia. Itulah penulis sejati, menulis, menulis, menulis. Penulis sejati, idenya seperti laut yang tak pernah kering,” katanya.

    “Apapun yang terjadi selama jantung masih berdetak, menulis akan selalu menjadi nafas dalam hidup,” kata Mawar Rovita Sari. “Teringat dengan Soekarno, meskipun beliau di penjara ia tetap menulis. Jadi, menulislah dalam keadaan apapun. Menulis tanpa alasan dan syarat,” tambahnya.

    Sedangkan menurut Abdul Kadir Halimin, hal pertama yang akan ia lakukan yaitu menunjukkan kepada kedua orangtuanya bahwa inilah caranya berdakwah, dakwah bil qalam. Tidak harus naik ke mimbar, cukup lewat tulisan yang mampu menggugah hati pembacanya dengan berbagai pesan moral didalamnya. Dan terbukti tulisan ini menempati megabest seller dan mendunia.

    Selain itu, katanya, dengan mengalirnya pundi-pundi uang ke rekening pribadinya, sudah pasti impiannya untuk mendirikan FAM Cabang Sulawesi Selatan yang ia impikan dengan megah itu dapat segera dibuktikan.

    “Seperti yang kutulis di surat terbuka untuk FAM, yakni bisa mendirikan kantor FAM Cabang Sulawesi Selatan di sekitar area Pantai Losari, dengan fasilitas gedung yang lengkap, dilengkapi dengan gedung aula dan penginapan kelas hotel berbintang. Amin, semoga itu terwujud,” katanya optimis.

    Apa pendapat Nurida Sari, anggota FAM Bukittinggi? Ia mengatakan, menjadi seorang penulis terkenal dan memiliki karya yang memikat daya tarik para pembaca tidak begitu mudah untuk dicapai. Itu semua terjadi karena semangat dan kerja keras. Namun, jika semua itu dihentikan karena karya tulisan sudah terkenal, keadaan akan sangat menyedihkan.

    “Seperti pisau, jika diasah berulang-ulang akan tajam namun jika tidak pernah diasah kembali akan tumpul dan mungkin karatan. Hal ini akan terjadi dengan kemampuan saya sebagai penulis. Sebenarnya, kita harus ingat kembali, apa sih tujuan kita menulis atau menjadi seorang penulis? Apakah hanya menjadi terkenal? Jika iya, sungguh malangnya nasib para pembaca. Si pembaca akan merasa tercandu dan membutuhkan karya tulis si penulis namun bagaikan memeluk bintang, karya tulis yang ditunggu-tunggunya dari seorang penulis yang dia kagumin tidak kunjung muncul karena si penulis telah berhenti menulis,” ungkapnya.

    Banyak lagi komentar anggota FAM Indonesia terkait pertanyaan itu. Menurut Ketum FAM Indonesia, Muhammmad Subhan, dengan mengajukan pertanyaan demikian kepada anggota FAM dan anggota grup FAM, dengan sendirinya akan melatih calon-calon penulis untuk segera menulis.

    “Jawaban-jawaban yang mereka berikan sangat kreatif, dan itulah tujuan FAM agar seluruh anggota aktif menulis. Artinya segera menulis, sebab dengan demikian mereka akan terbiasa menuangkan gagasan-gagasannya lewat tulisan,” katanya.

    Aktivitas FAM Indonesia dapat disimak di grup facebook “FORUM AISHITERU MENULIS” atau kunjungi blog www.famindonesia.blogspot.com. FAM juga telah memiliki divisi penerbitan buku untuk para anggotanya maupun kalangan umum lainnya.

    [kc]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Polling FAM Indonesia: “Walau Sudah Terkenal Akan Terus Menulis” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top