• Info Terkini

    Monday, July 9, 2012

    Surat Terbuka Terbaik Lomba Milad Sekjen FAM Indonesia

    SANG PURNAMA DALAM GELAP

    Oleh Rahimah Ib
    IDFAM101U CaKacab Medan

    Sahabat, pagi cerah bersaput awan yang berarak memayungi langit kotaku. Seperti biasa, aku selalu bersemangat ketika berangkat kerja, untuk mencerdaskan anak bangsa. Ketika aku tidak masuk kelas, aku akan bekerja menatap komputer diselingi berselancar di dunia maya.

    Tahukah kau sahabatku? Mataku terpaku pada status Muhammad Subhan (Ketua Umum FAM Indonesia) yang menyatakan tentang buku yang kau tulis “Insyaallah 100% Sembuh”.
    Dadaku gemuruh bertanya, siapa perempuan hebat yang menulis buku ini? Tanpa buang waktu, saat itu juga aku meng-addmu.

    Aku tak pernah menyangka jika engkau langsung mengkonfirmasinya. Aku pikir engkau sama seperti orang hebat yang lain, lelah untuk berteman. Tapi engkau tidak, aku meminta nomor teleponmu engkau beri dengan ringan saja, tanpa khawatir seperti orang hebat yang lain bila diminta nomor handphonenya, takut terganggu.

    Sahabat, setelah itu persahabatan kita mengalir layaknya air sungai di kaki gunung, sejuk. Setiap hari aku merindukan senyum tulus di depan kain merah menyala itu. Aku merindukan kata-kata penyejuk yang terus engkau sebarkan layaknya gerimis yang tak mengenal musim. Aku juga merindukan suara beratmu yang bersahaja, tegas dan memesona (belakangan aku tahu dari tulisanmu “Motivasi Seorang Kakak” bahwa engkau adalah vokalis dan pemain teater, pantas saja suaramu berkarakter kuat).

    Aliya sahabatku, kau mengajak aku untuk berjalan bersama di FAM Indonesia. Pada saat aku terus berenang di dunia maya untuk mencari komunitas yang dapat membantuku bangun dari keputusasaan mendapatkan tulisanku yang tak jua berkembang. Arti namamu memberi makna yang sebenarnya bahwa engkau mampu menjadi purnama dalam gelap. Aku tak pernah meragukanmu, aku sangat yakin itu. Yakin pada perjuangan pribadimu menghadapi tubuh sendiri, berjuang mempertahankan bayi mungilmu agar tetap bisa hidup dan besar bersamamu dengan segala resikonya (belakangan aku juga tahu dari tulisanmu yang engkau posting di grup kita, FAM). Sahabat, tak semua perempuan mampu seperti itu, mungkin termasuk juga aku.

    Sahabatku, bukankah keyakinanku itu terbukti? FAM baru berdiri selama tiga bulan. Tetapi gaungnya mampu menembus gunung, membahana di angkasa, menyusup ke relung-relung jiwa.

    Sahabat, percayalah, walau kita jauh tapi engkau selalu terasa dekat. Engkau adalah sahabat paling tulus yang mau berbagi yang pernah aku jumpai. Kau bergerak demi komunitas kita tanpa pamrih. Aku terharu membaca postinganmu yang menceritakan betapa engkau bermandi keringat demi FAM, dan keringatmu tak pernah dibayar oleh siapapun dalam bentuk rupiah (hanya Allah yang akan membalas semua). Kau seperti cahaya rembulan yang pernah menyambut kehadiranmu di dunia, mampu menerangi kegelapan. Seperti engkau telah membawaku kedalam cahaya terang bersama FAM Indonesia.

    Andai kita dekat, aku akan memelukmu. Menyuntik energi positif dan vitamin untuk terus membangun semangat yang tak pernah padam. Kita akan bersama berjuang, bersama berkeringat, bersama menangis, bersama tertawa, bersama terus berbagi untuk sahabat FAM Indonesia. Tapi, jarak bukanlah menjadi penghalang bukan? Walau kita jauh, tapi aku selalu merasa dekat, engkau mampu hadir dalam keseharianku, mampu membuatku terus bersemangat untuk mencapai apa yang aku cita-citakan.

    Aliya sahabatku, surat ini tulus aku haturkan untukmu. Bukan karena aku ingin menang dalam lomba yang sedang digelar. Karena sahabat FAM kita sangat hebat, semua punya kata yang indah untukmu. Aku tulus, karena Allah. Ah… sudahlah, aku sudah cukup menulis, mataku mulai basah, teman kantor mulai bertanya apa yang aku tulis sehingga aku begitu terharu. Nanti, aku akan menceritakan pada mereka, tentangmu tentu saja.

    Salam dari sahabatmu yang jauh.

    ***

    BAHTERA MIMPI

    Oleh Ken Hanggara
    IDFAM801M Anggota FAM Surabaya

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Untuk Sahabat Aliya Nurlela.

    Tak banyak yang ingin kukatakan untuk Kak Aliya di kesempatan kali ini. Karena seakan terpasung mulut ini—mengolah isi kepala yang terpenuhi segala perasaan positif, gagap oleh haru memunculkan kalimat rasa bersyukur dan terima kasih kepada-Nya, disaat sebentar lagi dua puluh satu musim aku menginjak bumi ini.

    Aku bersyukur pada Allah yang telah memberikan satu kali lagi kesempatan untukku belajar dan memperbaiki diri. Aku bersyukur karena disekitarku begitu banyak orang yang mencintai, menyayangi, melihat, mendengar, menolong, memfitnah, mencemooh, menyakiti, serta meracuni hidupku dengan cara mereka masing-masing.

    Aku bersyukur atas hidup ini, meski kadang terasa sulit. Hidup memang tak pernah mudah. Karena “mudah” adalah sesuatu, di mana kita tersesat disebuah pulau terpencil, tanpa makanan yang cukup dan harapan untuk ditolong—dan yang kita lakukan hanya diam, pasrah. Tapi hanya mereka yang rela tertipu bujukan rasa pesimis, yang mau berbuat seperti itu. Menurutku Kak Aliya pasti setuju akan hal itu—tanpa sedikit pun bermaksud sok tahu (Ah, lagi-lagi kalimat itu).

    Pertama aku dapat melihat, rasanya matahari berwarna putih—misterius. Telingaku mendengar sejak suara petir kuanggap dapat membunuh seluruh organ dalam kepala. Tak banyak yang dapat kuingat dalam buku sejarah hidupku. Hanya setelah aku dewasa dan mengenal sepeda roda dua, buku bacaan anak-anak, serta pensil warna—aku mulai paham bahwa hidupku ini tersusun dari deretan peristiwa sederhana nan ajaib. Dan semua itu, seluruh kejadian itu, tak mungkin menjadi sedemikian berarti, tanpa orang-orang yang masuk menghiasi memori-memori berharga sepanjang hidupku.

    Maka hari ini, berjuta terima kasih kutujukan pada mereka, siapa pun mereka, di manapun mereka berada—yang mau meluangkan, meski hanya sedetik waktunya, demi mengisi hari-hariku.

    Seorang yang bijak pernah berkata padaku:

    “Jika ingin perubahan, teruslah berusaha dan berkelana. Temui banyak orang. Karena dari sanalah kau akan belajar.”

    Aku tak mengerti maksud dari “temui banyak orang” itu. Dan rasa penasaranku terjawab sudah, setelah segala hal yang kualami hingga detik ini. Pertemuan dengan seseorang, telah memberi sesuatu yang berharga untukku. Saat duduk di bangku SMA, aku mengenal seorang gadis yang tanpa sengaja memberiku kemampuan menulis puisi (baca “SALJU”, surat terbuka sebelumnya). Juga sahabat-sahabatku, yang memberiku cerita-cerita lucu, indah, mengharukan, bahkan menyebalkan—yang tak pernah dapat terlupakan.

    Banyak orang silih berganti—ada yang baik, ada juga yang jahat—turut serta melengkapi perjalananku selama ini. Hingga aku bertemu dengan Kak Aliya. Belum lama kita mengenal, namun nasehat dan motivasi darimu mampu membangitkan semangatku yang kadang sedikit melemah, saat pikiran-pikiran pesimis berusaha merasuki otakku, membisikkan kabar bahwa mimpi-mimpi yang kukejar semakin menjauh dan pergi naik bahtera ketidakyakinan—bersama masa depan yang berkompromi dengan kekuatanku sendiri, mengkhianatiku. Semua itu takkan mungkin dapat terkejar!

    Namun benih semangat positif dari Kak Aliya, membuat mataku mampu melihat segala kemungkinan akan mimpi-mimpi itu, akan masa depan itu.

    Kini rasa pesimis itu menangis seorang diri di ujung dermaga kebodohan. Kak Aliya tahu mengapa ia menangis? Ia menangis karena kukabarkan padanya bahwa telah kubangun bahtera keyakinan, dan kubawa berlayar bersamaku: mimpi-mimpiku, masa depanku, dan kekuatan untuk meraihnya.

    Tak peduli meski perahu itu linggar, tak peduli betapa ganas ombak samudra yang mampu menelanku bulat-bulat, tak peduli monster raksasa apa yang akan menghadangku di depan sana, juga tak peduli meski badai menanti dengan awan hitamnya yang menciutkan nyali pelaut mana pun. Aku tak peduli! Kutinggalkan jauh-jauh rasa pesimis yang membuai dengan racun wanginya yang mematikan itu. Biar ia menangis. Biar ia sendiri, meringkuk di dermaga itu.

    Terimakasih, Kak Aliya. Bukannya berlebihan, karena memang ini yang kualami. Kau telah memberi banyak energi positif untukku, memberiku pelajaran berharga tentang mimpi, potensi, niat, komitmen, tindakan, dan semangat.

    Terimakasih untuk kalian—orang-orang yang memberiku sesuatu yang takkan terbeli oleh apa pun di dunia ini.

    Betapa hidup ini susah, sekecil apa pun itu, tak ada yang tak mungkin. Namun keberhasilan itu takkan tercapai jika kita tak mau belajar dan berusaha.

    ***

    SEORANG MUSLIMAH PENGUKIR PENA

    Oleh Yasin Abiru Sabil
    ID FAM 537M Anggota FAM Bandung

    Bismillah, semoga kesehatan dariNya selalu menyertaimu, Mbak. Kuawali suratku ini dengan sebuah kutipan dan bio yang kusalin dari acount seorang muslimah yang penuh sederhana dan berlaut karisma:

    “Allah menciptakan hamba bukan untuk bermain-main dan bersenda gurau, tetapi untuk melakukan ketaatan kepadaNya. Sungguh tidak patut setelah diciptakan, diberi indra yang sehat, rejeki yang mengalir, kemudian dipakai untuk menentangNya”.

    “Aku bukanlah orang yang memiliki banyak kelebihan, aku seorang wanita muslimah yang ingin berguna dalam hidup. Bisa menjadi rahmat bagi sesama. Aku terus belajar dan belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik, karena tidak ingin hidup menjadi sia-sia. Kukerahkan seluruh potensi yang diberikan Allah padaku, dengan ihklas, semangat dan optimis. Aku yakin jika kita sungguh-sungguh menjalani hidup untuk menjadi orang berguna, Allah akan membukakan pintu kemudahan”.

    Itulah isi kutipan itu, indah sekali dan penuh rasa dari pengukir penanya. Kuyakin, pasti Mbak tahu jelas goresan pena siapakah yang menulis kutipan itu. Mbak, walaupun kita belum bertemu, tapi kutipan dan biomu memberikan cerminan tentang perangaimu. Bermula dari FAM aku mengenal sosokmu, Mbak. Mei 2012 lalu setelah naskah novelku selesai, aku pun mulai searching penerbit di dunia maya, dan entah dari blog siapa aku mendapati info tentang FAM Indonesia dengan segala kelebihannya. Setelah berkirim pesan di inbox Fb pun aku tak ragu untuk mendaftar menjadi anggota FAM.

    Pesan dan doa untuk Mbak Aliya di Milad yang ke-37:

    Tahukah kau Mbak yang paling jauh dari kehidupan manusia itu apa? Masih ingat dengan komenku yang ini Mbak di salah satu statusmu? Jawabannya, “Masa lalu”. “Bagaimana pun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu, kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama. Besok telah menjadi hari ini, hari ini telah berubah menjadi kemarin. Masa depan telah berubah menjadi masa lalu, dan ia akan semakin jauh meninggalkan kita”. Itulah pesan dari Imam Al Ghazali kepada murid-muridnya, dan pesan untuk kita juga Mbak, terlebih untuk penulis surat ini.

    Mbak, semoga apa yang kau tulis dibiomu itu yang kuhadirkan di awal surat ini menjadi motivasimu untuk mengingatkan ‘azzammu’ yang begitu indah itu, membuatmu untuk selalu berusaha menjadi sosok muslimah yang sederhana namun berhias khazanah keilmuan, memotivasimu untuk menjadi sosok muslimah pengukir sejarah dakwah dengan goresan penamu, dan tentunya menjadi sosok muslimah yang selalu berdakwah dengan santun katamu yang terangkai dan terangkum dalam kisah-kisah penuh hikmah.

    Izinkanlah sejenak penaku menari di suratku ini, Mbak:

    Seindah kutipan dan Bio Aliya Nurlela:

    Pena indah tergores sudah dikutipan dan bio maya seorang muslimah
    Penanya memberiku daya imajinasi tentang pribadinya
    Hatiku pun mulai membaca:
    “Dialah muslimah berbekal potensi indera dari Rabbnya”
    “Dialah Muslimah yang ingin selalu belajar dan belajar di untaian detiknya”
    “Dialah muslimah yang tak ingin sia-sia di bingkai hidupnya”
    “Dialah muslimah yang mencoba untuk selalu ikhlas di segudang aktivitasnya”
    “Dialah muslimah yang selalu semangat dan optimis di kisah hidupnya”
    “Dialah muslimah yang berusaha untuk sungguh-sungguh dalam menjalani hidupnya untuk berguna dan mengharap kemudahan dan keridhaan dari Rabbnya”
    “Dialah muslimah yang hanya baru kukenal di dunia maya”
    “Dialah… Aliya Nurlela”.

    ‘Afwan jika ada salah dalam penulisan suratku ini, Mbak, karena tak pernah berkirim surat sebelumnya.

    Salam aishiteru.

    ***

    PESAN YANG KAU SELIPKAN PADA BUNGA

    Oleh Nadia Regina Martanti
    IDFAM695M Anggota FAM Sukoharjo

    Teruntuk Aliya Nurlela
    Seorang akhwat yang mulia hatinya, penyuka warna ungu dan pengagum berbagai bunga.

    Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh.

    Dari Kota Solo kukirimkan salam terindah untukmu, seindah warna yang ternyata sama-sama kita sukai, seharum semerbak abadi bunga-bunga yang kau kagumi.

    Wahai Akhwat yang mulia hatinya…

    Entah darimana aku harus mulai bicara, tentang inspirasi dan semangat yang begitu membara. Yang kau siratkan, yang kau suratkan pada cerita dan tulisan. Meski belum pernah kujabat tanganmu yang sering gemulai bersama pena itu, lewat surat ini anggap saja aku sedang ada di hadapanmu, saling bertatap, saling berjabat, dan saling berpeluk erat lalu kubisikkan terima kasih yang sangat.

    Wahai Akhwat yang mulia hatinya…

    Semula aku tak pernah bermimpi jadi penulis hebat, toh nyatanya aku merasa tak punya kelihaian mereka kata layaknya Gibran, pun tak melihat dalam diriku bibit-bibit menjadi orang besar. Mungkin jikalau terlihat orang, akan segera diabaikan. Lalu kau bercerita, membuat pikiranku terbuka.

    Cinta Enceng Gondok katamu.

    Enceng gondok di pinggiran sungai, yang tak begitu dipedulikan orang, yang dianggap parasit bisa menghasilkan bunga yang begitu indah, apalagi ditambah pesona warna ungu kesukaan kita. Kini aku tak mau kalah dengan enceng gondok, kulambungkan keyakinanku tinggi-tinggi. Aku yang walaupun bukan orang besar dan cenderung masih diabaikan dengan ketulusan hati akan menghasilkan karya-karya yang indah dan menyejukkan.

    Wahai Akhwat yang mulia hatinya…

    Semula aku ragu, apa aku sekuat itu? Apa dalam perjuanganku mengukir dakwah dalam tulisan bisa kupatri keyakinan, keteguhan, pendirian dalam bingkai yang tetap menawan? Tetap meninggalkan manfaat walau hidup telah tamat? Lalu kau ungkapkan, pribadi unggulan yang dibungkus rupawan.

    Flamboyan ungu ungkapmu.

    Bunga yang elok dengan batang yang kuat, tinggi menjulang, indah dipandang, pun saat bunganya berguguran batangnya berguna untuk kayu bakar. Kini aku bertekad untuk jadi pribadi yang kuat, menciptakan karya-karya yang bermanfaat. Meski nanti hidupku tamat setidaknya kuwariskan sederet tulisan yang sarat pesan kebaikan. Seperti Flamboyan yang meninggalkan batangnya untuk kayu bakar.

    Wahai Akhwat yang mulia hatinya…

    Kiranya kucukupkan sepucuk surat penawar rindu. Semoga kita senantiasa dalam lindungan yang Maha Kuasa, dalam perjalanan panjang dengan niat mulia yang akan kita tempuh bersama.

    ***

    JILBAB PUTIH MBAK ALIYA

    Oleh Abdul Kadir Halimin
    IDFAM350M Anggota FAM Barru, Sulawesi Selatan

    "Jilbab-jilbab putih lambang kesucian, penuh kasih teguh pendirian…"

    Sekilas jika saya mendengar lagu Qasidah yang diputar oleh nenek, pasti ujung-ujungnya saya akan langsung ingat kepada Mbak Aliya Nurlela, Sekjen Forum Aktif Menulis. Mungkin ada sebagian yang heran atau bertanya, mengapa demikian? Identikkah beliau dengan jilbab berwarna putih? Bukankah banyak yang memakai jilbab berwarna putih?

    Ya, saya juga heran mengapa hal itu bisa terjadi dalam memori penghafalanku. Sejatinya telah terjadi suatu hubungan yang sinkron, antara memori penghafalanku, jilbab putih, dan Mbak Aliya Nurlela—ya mungkin saja. Ini semua berlangsung sejak saya mengenal Mbak Aliya di situs jejaring social Facebook, beberapa bulan lalu. Seperti sebuah tulisan yang saya postingkan di grup “Forum Aishiteru Menulis” pada bulan April yang lalu. Pertemuanku dengan Mbak Aliya lantaran waktu itu, saya membaca suatu info lomba di internet, dan yah bla bla bla hingga sekarang kami sering saling sapa jika kebetulan kami berdua lagi online di akun masing-masing.

    Eh, kita balik lagi, mengapa ya jika mendengar lantunan lagu “Jilbab Putih”, saya langsung ingat kepada Mbak Aliya? Loh, kok saya yang bertanya lagi? Bukankah itu pertanyaan yang ditujukan kepada saya?

    Yah, pokoknya begini, jilbab putih itu identiklah dengan Mbak Aliya (Si Kadie udah sok tahu ini).

    Mengapa saya menvonis demikian? Mungkin jika saya lagi chatting dan membaca update status serta komen Mbak Aliya di facebook, yang kutemui pasti sosok wanita yang tersenyum indah dengan jilbab putihnya. Itulah salah satu alasan mengapa memori penghafalanku menterjemahkan sinyal demikian.

    Jika kita melirik lagi syair “Jilbab-jilbab putih lambang kesucian, penuh kasih teguh pendirian”, cukup jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya syair itu benar adanya di dalam diri beliau. Wanita yang selalu tersenyum manis diantara mekaran mawar merah yang indah, dan pastinya dibalut dengan jilbab putihnya itu.

    Hmm, eh bulan ini, bulan yang indah bagi beliau, merasakan Miladnya yang Insya Allah penuh berkah. Aku tak punya kado yang mahal untuk kuhadiahkan kepada beliau. Hanya doa yang kupanjatkan beriringan dengan gerak mulut beliau membaca surat terbuka ini. Semoga segala hajat dan harapan indah Mbak Aliya Nurlela, dapat terwujud semuanya tanpa terkecuali, Amin.

    Mungkin sudah cukuplah saya luapkan kata-kata dalam surat ini. Salam bahagia selalu dan selamanya buat Mbak Aliya Nurlela dan keluarga.

    Hormatku.

    [www.famindonesia.blospot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Surat Terbuka Terbaik Lomba Milad Sekjen FAM Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top