• Info Terkini

    Monday, July 16, 2012

    Tulisan Pernah Diremehkan Senior, Tapi Melecut Semangat Terus Berkarya

    Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia kembali mengajukan pertanyaan kepada anggota aktifnya maupun anggota di “Forum Aishiteru Menulis”, grup yang dikembangkan FAM di facebook. Pertanyaan itu masih seputar tulis menulis.

    Pertanyaannya adalah, “Ketika masih pemula, pernahkah Anda diremehkan bahkan direndahkan oleh seorang penulis senior? Tulisan Anda dikatakan jelek, tak layak disebut sebagai tulisan bahkan yang lebih sinis ada yang menyebutnya sebagai karya sampah. Bagaimana sikap Anda menghadapi kondisi itu? Apakah Anda shok lalu berhenti menulis dan mengatakan dunia tulis menulis bukan bidang Anda? Seandainya kelak Anda menjadi penulis senior akankah Anda bersikap ‘dendam’ pada penulis-penulis pemula yang mengharapkan bimbingan Anda?”

    Inilah sejumlah jawaban yang dihimpun FAM Indonesia terkait pertanyaan di atas:

    “Saya pernah diremehkan seperti itu, namun saya menganggap tanggapan mereka adalah ‘cambuk’ agar saya dapat mengembangkan karya-karya saya lagi. Saya yakin, para penulis senior itupun tidak bermaksud untuk meremehkan karya saya, hanya saja mereka sedang melatih mental saya untuk menghadapi dunia tulis-menulis.” (Hannan Izzaturrofa)

    “Tidak pernah, karena tulisan-tulisan (yang diperuntukkan khalayak) dipersiapkan dengan matang untuk tidak dicaci. Tapi untuk kritikan, selalu, karena disanalah proses pembelajaran menulis yang akan meningkatkan kualitas karya.” (Kun Geia)

    “Pernah. Saya pernah mengalami hal itu. Dengan angkuhnya penulis senior menilai tulisan saya jauh sekali dari yang namanya tulisan layak baca. Saya pernah down juga, maklum manusia biasa—juga memiliki asa yang kadang juga terbatas. Namun bersama FAM Indonesia saya bangkit dari keterpurukan dan bayang-bayang cemoohan penulis lainnya. Semakin lama, tulisan saya sudah ditunggu-tunggu kehadirannya oleh pembaca walau itu sekadar ‘certus’ (cerita status). Semoga kita semua menjadi penulis terbaik sepanjang masa.” (DP Anggi)

    “Tinggal jawab saja, kalau karya saya karya sampah, tolong ajari saya bagaimana cara membuat tulisan yang tak layak jadi karya sampah.” (Andalusiana Cordoba)

    “Pernah tulisanku dikatakan coretan ayam oleh seseorang. Namun aku hanya tersenyum dan berbisik pada hati kecilku, biarlah orang menganggap apa, inilah karyaku. Mungkin kini aku hanya seekor burung yang tak dapat terbang tinggi, namun aku yakin, suatu saat nanti aku akan menjadi burung yang dapat mengelilingi dunia dan menghiasinya dengan beribu karya. Dan jika kelak aku ditakdirkan menjadi penulis senior, maka aku akan berusaha menghargai segala jenis karya yang telah adik-adik hasilkan. Karena semuanya butuh proses untuk menuju kesempurnaan.” (Vina Rohmatul Ummah)

    “Belum sih, tapi kalau dari teman dekat ada. Ketika saya bilang ingin jadi novelis, dia berkata, ‘Gak mungkin, kamu itu bukan tipenya’. Namun setelah saya bersahabat dengan pena dan membuat catatan di fb saya, dia pun mulai berkata, ‘Wah, gayanya sudah seperti penulis terkenal saja.’ Kelak jika impian itu telah nyata, maka saya akan berbagi dengan mereka yang butuh bimbingan saya. Ejekannya membuat saya belajar dan terus belajar.” (Yasin Abiru Sabil)

    “Bukan senior. Sama-sama pemula. Tapi ia mengecam dengan halus. Saat itu, rasanya memang perih. Sempat hampir padam semangat dan ingin beranjak. Tapi setiap kali orang menjatuhkan, ada yang membangunkan. Semangat itu melecut kembali sebelum terbenam. Insya Allah tidak. Saat kita mencerca tulisan orang lain berarti kita membuka peluang untuk orang mencerca kita.” (Ma'arifa Akasyah)

    “Beruntunglah ketika kita mengalami semua itu, hidup memang berawal dari kegagalan. Semakin cepat kita mendapatkan kegagalan semakin cepat pula kita meraih kesuksesan. Jadikanlah cemoohan orang sebagai motivasi diri untuk lebih baik lagi, dan jangan takut untuk bermimpi, sebab mimpi itu gratis. Bermula dari mimpilah kita mempunyai semangat untuk menjadikan mimpi itu jadi kenyataan.” (Fhauzan Ten Brother's)

    “Aku pernah mengalami puisiku dibilang 'sampah'. Ya, mungkin karena diksinya masih 'std bgt' dan sangat polos. Makanya akhirnya aku jadi malas untuk lebih mengenal yang namanya puisi, hingga kini. Jadi benar-benar tidak tertarik lagi sama puisi. Nulis puisi aja cuma sekadar luapan emosi amarah atau kesedihan. Just for it.” (Alin You)

    “Pernah. Shok sesaat tapi berusaha dihilangkan. Cuma kadang kalau sudah bikin karya tulisan lagi, saya tidak mau memperlihatkan ke dia. Takutnya dia menghina lagi. Kalau misal sudah jadi penulis (amin), ya paling dibuat sebagai kisah saja lagi. Dendam sih gak, cuma pasti ingat terus orang yang pernah begituin saya.” (Nurul Ilma)

    “Belum pernah, karena gak pernah dibaca yang senior. Hanya share via note fb. Andaikata memang dibilang begitu ya alhamdulillah, berarti tulisan kita masih dihargai, tinggal kita harus terus berlatih menulis lagi mungkin menggunakan bahasa yang lebih jelas, lugas juga, singkat jelas dan harus berkualitas.” (Mahardhika Widyantoko)

    “Pasti pernah. Saya pernah dikritik tulisan saya tidak nyambung dan tak menarik. Pasti tentunya rasa kesal ada namun seperti teman lain bila itu cemohan atau dengki maka biarkan itu berlalu. Namun bila itu kritikan yang membangun maka jadikan itu pelajaran untuk memperbaiki lagi walau kritik itu pedas. Bagi penulis pemula bukan untuk diremehkan tapi diberi motivasi.” (Fatimah Zahra Almadihi)

    “Pernah, tapi sesama pemula. Bahkan dia sahabat dekatku sendiri. Setelah itu lama aku berhenti menulis—setahun lebih. Tapi seiring berjalan waktu aku sadar kritikan negatif yang berunsur menjatuhkan macam itu, tak seharusnya kuanggap sebagai lemparan batu raksasa peroboh tembok mentalku. Kuanggap semua itu layaknya lumpur yang mengotori dinding semangatku, namun segera kubersihkan dengan air yang bersumber dari pikiran positif. Kalau nanti aku menjadi penulis senior, aku tak akan berbuat hal sejahat itu—mematahkan semangat pejuang di langkah awalnya. Aku pernah disakiti seperti itu, maka aku tak ingin menjadi penyebab orang lain merasakan itu.” (Ken Hanggara)

    “Alhamdulillah belum pernah. Jika itu terjadi satu ketika, maka itu dianggap sebagai pelecut agar lebih banyak belajar. Jangan pernah menyerah.” (Nuh Rafi)

    “Malah dari orang terdekat, katanya; kalau hanya berbentuk puisi semua orang juga bisa, visi dan misi yang juga ingin disampaikan terbatas. Sejak saat itu saya selalu sembunyi-sembunyi kalau lagi menulis. Saya bertekad bahwa dengan puisi kita juga bisa berdakwah. Sekarang setelah puisi saya, beberapa dianggap layak di event-event antologi, baru saya memperlihatkan kepada dia dan akhirnya di mengacungkan jempol, malahan kalimatnya sekarang menjadi; 'coba, mana tulisanmu, saya ingin membacanya'. Wah, sikap meremehkan berubah menjadi perhatian, sikapnya itulah yang sekarang kini menjadi motivasi saya untuk berusaha menjadi lebih baik lagi.” (Titi Haryati Abbas)

    “Pernah, awalnya memang sakit hati. Tapi saya tahu beliau mengatakan hal yang menyakitkan itu karena ingin melihat saya lebih maju dan lebih baik dalam menulis. Beliau punya cara yang beda dalam mengajarkan menulis, yakni dengan sindiran, kritikan, dan hinaan. Tapi itu semua malah memotivasi saya dan menginginkan agar suatu saat beliau mngatakan karya saya 'bgus', 'luar biasa'. Jika saya menjadi penulis senior (aamiin) lebih baik memotivasi penulis pemula dengan bahasa yang ma'ruf dan membangun, karena tak sedikit orang-orang yang malah sakit hati dan berhenti menulis ketika dikritik.” (Zalfa Nazhifah)

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Tulisan Pernah Diremehkan Senior, Tapi Melecut Semangat Terus Berkarya Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top