• Info Terkini

    Monday, July 23, 2012

    Ulasan Cerpen “Ada Cinta di Masri” Karya Warno Adi Susilo (Wonogiri)


    [ID-FAM730M, Anggota FAM Wonogori]

    Adalah Srikandi dan Permadi, dua orang yang sudah menjalin hubungan cinta selama empat tahun. Hubungan yang manis, saling mendukung satu sama lain meskipun mereka terpisah oleh jarak, karena Adi melanjutkan studinya di Surabaya.

    Srikandi menulis semua SMS dan puisi Adi dalam sebuah diary yang selalu dibaca dan dikenang. Namun sayang, Srikandi harus rela ketika dia menerima SMS dari Adi bahwa ia akan segera mengakhiri hubungan mereka yang sudah terjalin selama empat tahun. Remuk redamlah hati Srikandi, “Kata-kata itu bagai pukulan telak di ulu hatiku, setiap katanya seperti bilahan batu-batu tajam yang menghunjam tubuhku, dadaku sesak…”

    Di sungai Masri mereka bertemu, ingin mengakhiri semua. Sungai besar indah yang ada di kampung mereka, sungai yang mereka beri nama Masri (Permadi dan Srikandi). Sungai di mana mereka pertama kali mengikat janji setia, tapi kini harus mengakhiri semua. Sikap Adi yang tak pernah dipahami oleh Srikandi.

    Tapi ending cerpen ini ditutup dengan manis bahwa Permadi ingin mengakhiri hubungan cinta yang tak jelas ke arah yang lebih jelas. Permadi melamar Srikandi untuk menjadi istrinya. Bukankah pernikahan lebih baik karena ada suatu kepastian dan membebaskan diri dari siksaan batin karena rindu yang tak jelas tadi?

    Cerpen yang berjudul “Ada Cinta di Masri” adalah cerpen cinta-romantis yang manis. Penulis berhasil menutupnya dengan ending baik dan ada nilai pembelajaran bahwa pernikahan lebih baik daripada sekedar pacaran. Namun, ada beberapa kelemahan yang harus diperhatikan penulis untuk tulisannya ke depan. Penulisan huruf kapital (huruf besar) masih rancu, di awal kalimat sering menggunakan huruf kecil, begitu juga nama tempat dan orang, juga di awal tanda kutip.

    Kelemahan lainnya adalah, mengapa tokoh Srikandi tiba-tiba berubah menjadi Nur? Seperti kalimat berikut, “Dik Nur… sekali lagi kaka Tanya, ikhlaskah jika kaka melamarmu dan kita segera menikah”. Bisiknya dengan menunduk. Kaka sebaiknya ditulis Kakak, kata Tanya jangan menggunakan huruf kapital, dan dik menggunakan huruf kapital. Untuk kalimat yang berbahasa daerah, “Nur…wis padang nduk, gek adus!!!” gunakan tanda bintang (*) dan buat terjemahan di bagian bawah halaman (catatan kaki).

    Untuk penulis cerpen ini, teruslah menulis. Penulis sudah berhasil mendeskripsikan situasi dengan bagus dan puitis, penulis sangat berbakat. Kesalahan hanya secara teori saja, teori yang bisa dipelajari tentunya karena setiap tulisan harus sesuai EYD. Ide cerita sebenarnya biasa, tapi penutupnya yang bagus dan manis. Untuk selanjutnya, jangan lupa lakukan editing tulisan sebelum dikirim sehingga bisa meminimalisir kesalahan, seperti nama tokoh yang berubah-ubah tadi. Teruslah menulis, asah pena agar semakin tajam.

    Salam aishiteru.
    TIM FAM INDONESIA

    ***

    [NASKAH CERPEN “ADA CINTA DI MASRI”, DIPOSTING TANPA EDITING]

    Ada cinta di masri
    Oleh Warno Adi Susilo
    IDFAM730M Anggota FAM Wonogori

    Kreeek….. pelan kubuka jendela, di luar masih gelap. Sejuk angin pagi menerobos masuk kamar, dingin menghempas mukaku. Diiringi sayup-sayup suara terbata-bata mas Ari membaca  Al-Qur’an. Suaranya timbul tenggelam bersaing dengan kokok ayam, juga riuh cericit anak-anak ayam bersahut-sahutan menjawab panggilan induknya.

    Aku kembali merebahkan diri di kasur, mencoba memejamkan mata karena semalam tak memejamkan mata sepicingpun. Biasanya habis subuh begini aku sudah jalan-jalan dengan Tuti. Di tengah hamparan sawah Mbah Somo kami menghabiskan waktu pagi, mengamati sisa-sisa embun yang mengkristal di pucuk-pucuk daun padi, darinya akan muncul puluhan warna yang terpancar saat hangat mentari pagi menerpanya.

    Tapi sudah dua hari ini tuti tak datang, biasanya wajah jenakanya sudah menyembul dari balik pintu kamar saat aku masih melipat sajadah dan mukena. Sambil tersenyum dengan senyuman khasnya. Dua hari yang lalu ia bilang mau pergi sekeluarga menjenguk kerabatnya di Surabaya.

    Pandanganku memudar, dan suara cericit anak-anak ayam di samping rumah semakin tak terdengar. Aku hampir terlelap, tapi setengah sadar aku mendengar suara pintu di ketuk. Aku terjaga…

    “ Nur… wis padang nduk, gek adus!!!” suara lembut Emak di balik pintu.

    “ ya Mak…”, dengan malas aku bagkit, kepalaku masih terasa pening, kusambar handuk dan dengan langkah gontai aku berjalan ke kamar mandi.

    ***

    Habis mandi aku kembali ke kamar. Pagi ini aku tak ke mana-mana. Mamak pergi ke pasar aku di suruh jaga rumah. Kurebahkan kembali tubuh ini sambil bersandar di bantal, sambil kembali lagi membuka diary. Ya, aku menamainya diary padahal di dalamnya hanya berisi salinan sms-sms mas Adi. Waktu empat tahun membuat sms-sms itu memenuhi lembar demi lembarnya.

    10/05/2012
    “ Kak… gy ngapa?.

    Aku ingat itu adalah sms terakhirku, biasanya ia akan membalasnya dengan panjang lebar,  tak lupa ia pasti juga akan menyelipkan canda yang menjadi ciri khasnya. Bahkan ia lebih sering langsung menelephon dan tanpa ku mintapun ia akan bercerita dengan sendirinya, dari pengalaman sampai cerita-cerita waktu masih kecil. Apa saja bisa jadi bahan ceritanya. Ia lebih seperti pendongeng yang selalu membawakan cerita-cerita untukku tiap malam sampai aku terlelap dengan sesungging senyuman.

    Tapi kali ini lain dari biasanya, bukan canda bukan cerita yang ia kirimkan. Tapi, kata-kata yang selalu membuat malam-malamku muram, memaksa butiran kristal bening ini mengalir di pipiku.

    “ maaf dik, kaka sibuk”

    Hanya itu jawabanya. Tapi, setelah itu kirim sms lagi,

    “ dua minggu lagi kaka pulang, dan kita akhiri cinta kita”

    Kata-kata itu bagai pukulan telak di ulu hatiku, setiap katanya seperti bilahan batu-batu  tajam yang menghunjam tubuhku, dadaku sesak…

    ***

    Cinta tak kenal ruang, pun juga tak kenal dengan hitungan angka…ia bebas berkeliaran dan singgah di manapun ia inginkan. Cinta juga bebas pergi tanpa kata dan tanpa sedikitpun rasa bersalah. Cinta itu seperti angin…begitu halus, namun terkadang ia juga bisa menjelma topan yang siap mengobrak-abrik setiap jiwa yang di laluinya. Tapi sehalus apapun cinta itu ada, ia nyata…aku bisa mendengar bisikanya. Ya…hanya sebatas ini yang ku pahami tentang cinta…

    Aku masih heran dengan pikiran mas Adi. Secepat itukah ia berubah. Tak ingatkah ia dengan janjinya dulu akan datang menjemputku untuk mengukuhka ikatan ini. tak tahukah ia , bahwa aku di sini tetap bertahan untuk tetap setia menunggu. Aku rasa kebersamaan selama 4 tahun bukanlah waktu yang singkat, itu adalah waktu yang cukup lama jika hanya untuk sebuah kepalsuan seperti ini. tapi inilah kenyataan yang harus aku telan. Sepahit apapun itu… sekarang hanya ada dua pilihan; melupakan atau tak mengingatnya sama sekali.

    ***

    Seminggu sudah aku berjuang untuk melupakanya, tapi nihil. Kenyataanya bayanganya tak mau beranjak dari ingatanku. Jujur aku tak siap jika harus kehilangan sosoknya. aku merasa kehilangan segalanya saat  ku coba untuk melupakanya. Sosok selama ini begitu perhatian, selalu menemani malam-malamku walau hanya dengan untaian kata-kata bijaknya, juga puisi-puisi yang selalu mengalir seperti tak pernah kehabisan kata. Walau selama in aku tak pernah bertemu, tapi aku begitu merasakan kedekatan. Begitu dekatnya sampai aku seolah-olah mendengar ia berbisik di telingaku.” Tetap semangat dan tersenyum dinda”.

    Memang kata-kata itu terkesan biasa, namun tidak bagiku. Kata-kata itu seperti cambuk yang mampu melecut semangatku. Kata-kata ini mampu membuat langkahku terasa ringan walau badan terasa penat. Tapi, aku telah kehilangan semua itu. kini aku harus berjalan sendirian, takan ada lagi orang yang akan menenangkan saat hati gundah, dan ternyata aku terlalu lemah untuk menanggung semua ini.

    ***

    Pagi ini segaja kuhabiskan untuk membaca catatan-catatan lama, pandanganku terhenti dan anganku terseret pada kenangan masa lalu saat sampai pada lembaran ini, lembaran yang masih terlihat rapi serapi aku menyimpan cinta ini…

    Melatiku,,,,
    Aku tak ingin serpihan hati kita terbias jadi pelangi
    Walau indah, namun, hanya sesaat
    Melatiku,,,
    Aku tak ingin sejuk embun hatiku bersatu dengan hijau kelopakmu
    Walau sejuk, Namun, hanya sesaat
    Melatiku,,,
    Aku tak ingin kebersamaan kita bagai mimpi sesaat
    Hanya menyisakan gelisah dan rasa bersalah
    Biarkanlah aku melangkah
    Sepeti titik-titik air hujan yang mencoba lepas dari cengkeraman langit
    Walau akhirnya bumi akan menelanku
    Yakinlah aku akan kembali
    ( adi.s )
    Ini adalah puisi yang ia kirimkan sehari sebelu ia berangkat ke Ibu kota. Kata-katanya begitu dalam dan terkesan tak main-main. Membacanya membuatku merasa yakin bahwa suatu saat nanti ia akan datang meredam rinduku. Dan besok dia benar-benar akan datang, tapi tidak untuk meredam rindu ini. justru ia akan datang untuk mencabut kembali hiasan yang ia sematkan di hatiku… perih… perih sekali. Sungguh ini suatu yang tak pernah terbayangkan sebelumya.Aku ingin menjerit saat itu juga. Tapi sekeras apapun aku menjerit tak akan ada orang yang  mendengarnya.

    ***

    pagi itu masih begitu hening, belum ada tanda-tanda kehidupan. Yang terdengar hanya gemerisik daun-daun yang tergesek angin. Sesekali terdengar kokok ayam tetangga yang terdengar begitu semangat menyambut pagi.

    Kulirik jam weker, “masih jam tiga, subuh masih lama” pikirku.

    Udara dingin semakin membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidur. Kurapatkan lagi selimutku. Tapi sejurus kemudian Hpku menjerit. Ada pesan masuk.

    ” Ah… mungkin si Tuti, biasanya jam segini ia yang sms”. Batinku mencoba menerka. Segera ku raih handphonku.

    “ assalamu’alaikum… nanti sore kita ketemu di sungai masri”

    Rasa kantukku menguap, mendadak jiwaku terbang menerobos  padang ilalang. Aku terjatuh, basah kuyup. Ku lihat sekeliling lengang dan sepi. Tak hanya jiwaku yang terbang seakan ragaku juga ikut  merasakan sejuknya setiap titik air yang menerpaku.seakan gemericik air sungai masri 4 tahun yang lalu terdengar jelas di telingaku

    Sebenarnya sungai ini bukan sungai masri namanya. Nama itu aku dan mas Adi yang memberikanya. Ini satu-satunya sungai yang terindah di desaku. Begitu luas karena merupakan pertemuan tiga sungai, sehingga lebih mirip dengan danau. Di tengahnya ada gundukan tanah yang membentuk pulau kecil dengan pohon beringin yang tumbuh di tengahnya. Untuk ke pulau itupun sangat mudah karena ada jembatan bambu yang menghubungkanya dengan tepian. Tepat di samping pohon beringin itu berdiri saung kecil yang di kelilingi semak ilalang. Ada juga satu dua rumpun melati yang ikut berdesakan.

    Di sinilah empat tahun yang lalu aku dan mas Adi bertemu. Aku masih ingat saat mas Adi meletakkan anyaman akar beringin yang di padu dengan rangkaian kuntum melati di kepalaku.

    “ terimalah Srikandiku…” ucapnya dengan penuh pengharapan waktu itu.

    kemudian ia mundur selangkah dan berlutut di depanku, dengan penuh pengharapan ia membacakan puisi untukku. Ah… benar-benar cinta yang sederhana namun begitu membekas. Sejak saat itu kami sepakat menamai sungai itu dengan sungai Masri. Kami berharap agar kelak kami benar-benar di persatukan dengan ikatan yang kukuh seperti ikatan Permadi dan srikandi.

    Inilah kenanganku di sungai itu, kenangan yang membuatku tetap bertahan selama ini. ya, setelah itu kami berpisah karena ingin sama-sama melanjutkan studi. Dan besok adalah kali ke-dua kami bertemu di sana. Tapi bukan untuk mengukuhkan hubungan ini, tidak… ternyata kemarau datang lebih cepat, saat kuncup ini mulai mekar hingga memaksanya luruh dan gugur dengan paksa.

    Kami akan bertemu untuk mengakhiri semuanya. Empat tahun aku berjalan, mencoba bertahan walau telapak ini penuh dengan kucuran darah. Tubuhku remuk redam menahan gundah kering kerongkonganku menahan dahaga dalam terik padang pasir ini. tapi yang ku tuju selama ini hanya fatamorgana. Sia-sia memang, tapi harus gimana lagi. Tak mungkin kiranya aku kembali ke belakang. Sudah terlalu jauh aku melangkah. Kakiku  tak kuasa lagi menopang tubuh ini. aku hanya pasrah jika memang tubuhku harus terkubur bersama cinta ini.

    Pukul 14:00 WIB

    Mantap aku melangkahkan kaki menyisir jalan setapak yang mengantarkanku pada kehancuran. Rimbun ilalang di kiri-kanan jalan tinggi meliuk-liuk, mengangguk-angguk takzim. Sambil melantunkan irama yang menyayat di bawah komando angin.hatiku berdesir hebat. Ku tarik nafas panjang, ku keluarkan kuat-kuat untuk mengurangi rasa gugup ini.

    “ ah… aku tak boleh kalah, aku harus kuat. Air mata boleh meleleh, tapi tidak untuk semangatku.aku ingin tetap hidup walau tak mendapatkan apa yang aku cintai.”, bisikku pada diri sendiri.

    Dua puluh menit aku sampai di tepian sungai Masri. Ku edarkan pandangan, tak ada yang berubah, masih seperti dulu”. Pikirku.

    Ku basuh mukaku agar tak terlihat bekas-bekas tangis sepanjang perjalanan tadi. Ceeeeessss… dingin menyusup saat butiran air menyentuh pori-poriku. Bergegas aku melewati jembatan bambu. Dua rumpun melati itu seakan melambai memberi isyarat agar aku mempercepat langkah. Dua rumpun ini dulu yang menjadi saksi atas cinta kami. Tapi, kali ini dua rumpun ini pula yang akan menyaksikan perpisahan kami.

    “ ehmm… Sudah lama menunggu Dik???, suara Mas Adi mengagetkan aku. Lamunanku terhenti, aku bangkit.

    “ belum”, jawabku singkat.

    Ku angkat wajahku, siiirrr…. Dadaku berdesir hebat saat pandangan kami bertemu. Segera aku berpaling, mencoba mengendalikan diri. Aku masih terpaku saat mas Adi melangkah ke saung.

    Sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku sudah siap melepas dan mengembalikan hiasan yang ia titipkan di hatiku. Empat tahun aku menjaganya kini tiba saatnya aku mengembalikanya. Tapi apa daya, aku semakin ak terkendali. Dadaku berdegup kencang, bibirku bergetar tapi tak sepatah katapun kata yang keluar dari mulutku. Aku seperti anak kecil yang berlatih bicara. Hanya gumaman lirih tak bermaksud yang keluar dari mulutku.

    Lama kami hanya diam, tenggelam dalam perasaan masing-masing. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan, hanya pasrah menunggu keputusan.

    “ sebelumya kakak minta maaf, karena mengambil keputusan ini” akhirnya ia bersuara memecah kesunyian. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan…

    “ dik… sadarkah engkau kalau perjalanan kita selama ini seperti perjalanan matahari. Kita tak bisa menuntut ia selalu hangat, selalu indah seperti saat terbit. Karena kenyataanya ia merambat naik dan takan terasa hangat lagi. Ada saat dimana ia terasa begitu terik, sebelum akhirnya tergelincir menunduk pasrah ketika senja mencengkeram. Ia pun akan meredup dan akhirnya lenyap….”. mas Adi menggeser letak duduknya sambil melepas nafasnya yang terasa begitu berat sebelum melanjutkan ceritanya…

    “ sudah empat tahun kita bersama, waktu yang cukup lama bukan??. Selama itu pula kita merasakan pahit, manis, susah, senang, bahagia juga galau saat satu hari tak ada kabar. Selama itu pula kita merasa dekat walau sejatinya berjauhan karena hati kita telah bercengkeraman erat. Tak jarang pula kita berjuang melawan kesepian, rindu yang membuncah, dan rasa itu akan mencipta luka yang menganga, karena kita tak pernah bisa menemukn obatnya. Dan sekarang???” suaranya agak bergetar…

    ” aku sudah muak… aku sudah bosan jika selamanya jiwa ini selamanya di hantui dengan perasaan galau dan rindu yang menyakitkan ini. maka di tempat ini… detik ini juga kita kahiri saja cinta kita.”, ia semakin tertunduk.

    aku melihat sekilas air matanya mengalir. Ia melangkah mendekatiku, aku semakin sesenggukan…

    “Tataplah aku dik …!!!, bisiknya dengan penuh harap.

    Aku semakin tertunduk, menangis sejadi-jadinya. Aku sadari ternyata aku memang lemah. Walau mulut ini  mengatakan rela untuk melepas, tapi itu sama sekali tak sesuai dengan kenyataan… toh aku juga tetap menangis.

    “ dik… ikhlaskah jika Kaka melamarmu???” bisiknya tiba-tiba.

    Sontak aku terkejut, ku angkat wajahku. Aku masih belum percaya dengan apa ya aku dengar barusan.

    “ dik Nur…  sekali lagi kaka Tanya, ikhlaskah jika kaka melamarmu dan kita segera menikah”. Bisiknya dengan menunduk.

    Matanya terpejam menahan air matanya agar tak tumpah.

    “ hingga tak perlu lagi tersiksa saat rindu datang mendera, karena sudah tak ada lagi sekat di antara kita.tak ada lagi perasaan berdosa saat kita igin berlama-lama bersama..” ia meneruskan ucapanya dengan sesenggukan.sementara  aku hanya diam terlarut dalam tangis.

    “ tak ridhokah engkau  jika kita akhiri segala yang telah kita lalui untuk awal yang indah, lebih indah dari perpaduan bitang-bintang dan rembulan di langit malam???. Ia menutup kalimatnya dengan linangan air mata.

    Entahlah aku tak tahu apa yang sekarang aku rasakan. Aku tak mampu berkata-kata, yang jelas kata-kata tak mampu menggambarkan apa yang sekarang aku rasakan. Sambil bersimpuh aku hanya bisa meremas tanah merah di depanku, dan kudapati semua itu nyata… semua itu nyata…

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Ada Cinta di Masri” Karya Warno Adi Susilo (Wonogiri) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top