• Info Terkini

    Tuesday, July 24, 2012

    Ulasan Cerpen "Demi Mama, Aku Rela Kehilangan Kedua Kakiku" Karya Yosi Gusnilawati (Solok)

    [ID-FAM700U, Anggota FAM Solok]

    Kali ini FAM mengulas cerpen yang berjudul “Demi Mama, Aku Rela Kehilangan Kedua Kakiku”. Meskipun panjang, tapi judul yang digunakan menarik. Apalagi menyangkut ibu.

    Cerpen ini mengisahkan tentang Gia, seorang gadis yang harus mengalami tekanan batin karena hidup dengan seorang ibu yang membencinya. Ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya hanyalah anak angkat. Suatu hari, Gia mabuk. Hal inilah yang menjadi puncak kemarahan ibunya hingga akhirnya Gia diusir dari rumah. Naas, Gia mengalami kecelakaan yang membuat kedua kakinya lumpuh. Di tengah musibah itu justeru keajaiban muncul. Gia ternyata anak kandung ibu yang selama ini dianggap sebagai ibu angkatnya. Sewaktu kecil ia diculik, namun bisa kembali ke rumah sebagai anak angkat karena suatu hal yang tak diduga.

    Dari segi cerita, penulis cukup pintar dalam mendesain alur. Mungkin akan banyak pembaca yang tidak menyangka jika Gia adalah anak kandung dari ibu yang selama ini menganggapnya sebagai anak angkat. Inilah salah satu teknik bercerita yang bisa dicontoh penulis lain, yaitu dengan membuat ending cerita yang sulit ditebak atau mengejutkan. Contoh kasus, sebuah cerpen yang bercerita tentang cinta segitiga. Seorang lelaki diperebutkan oleh dua orang wanita cantik. Tapi di akhir cerita, sang lelaki tidak memilih keduanya karena ternyata dia seorang homo (gay).

    Untuk ukuran cerpen, rasanya cerita ini terlalu panjang. Idealnya, cerpen berkisar antara 6-10 halaman saja. Jika terlalu panjang, maka bisa membuat pembaca jenuh. Hal ini bisa membuat pembaca hanya membaca sebagian bahkan memutuskan untuk tidak membaca saat mengetahui jumlah halamannya. Cerpen yang terlalu panjang juga membuat cerita menjadi bertele-tele. Contoh pada cerpen ini, bagian awal cerita terasa datar. Beberapa percakapan di awal cerita yang tidak terlalu penting namun ditampilkan. Itulah yang membuat cerita bertele-tele dan terasa datar. Barulah cerpen ini mulai menarik saat memasuki bagian tengah hingga akhir.

    Catatan dari FAM, penulis harus lebih teliti mengenai penulisan. Ada beberapa salah ketik juga kata yang terpotong. Selain itu penulis juga harus memperhatikan EYD. Penulisan ‘di’ seharusnya dipisah ketika diikuti kata tempat. Kemudian untuk penulisan istilah asing seharusnya dicetak miring, misalnya pada kata ‘Prom night party’.

    FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin membaik. Teruslah berkarya lewat pena.

    Salam Aishiteru!
    TIM FAM INDONESIA

    * * *

    [BERIKUT CERPEN YANG DIULAS, DIPOSTING SESUAI NASKAH ASLI]

    DEMI MAMA, AKU RELA KEHILANGAN KEDUA KAKIKU

    Karya: Yosi Gusnilawati
    IDFAM700U Anggota FAM Solok

    Hari ini masih seperti kemarin, tak ada yang berubah, selain kalender yang tersobek baru di dinding kamar sebuah RSJ tempat mama dirawat. Entah sudah berapa lama aku diam dan mematung disini. Mataku yang masih terus berair, kubiarkan saja mengalir tanpa mempedulikan orang-orang disekelilingku.

    Papa membelai-belai punggungku tanpa mengalihkan pandangannya dari mama yang tersandar lemah dipintu kamarnya dengan kedua lutut bertekuk, tangannya memegang kepalanya dan sesekali menangis diikuti dengan jeritan-jeritan yang menyayat hati.

    Tatapan matanya begitu kosong, rasa sesal yang mendalam telah melemparkan senyuman yang selama ini menghiasi wajah cantiknya itu kedalam abu.

    Dulu, mama adalah seorang yang aktif diluar rumah. Apalagi setelah ia memiliki usaha bersama teman-temannya, mama semakin terbenam dalam kesibukan. Harus kuakui, hubunganku dengan mama terasa aneh, tidak ada keakraban antara kami. Bagiku, semua kesibukan mama tidak lebih dari sebuah pelampiasan ketidak nyaman-annya padaku. Selama tujuh belas tahun tingkah mama selalu jadi pertanyaan yang telah menggunung di benakku. Pernah terbesit untuk menanyakannya pada kak Robi, tapi selalu urung karena pertimbangan tentang tanggapan kak Robi padaku. Dia akan terus meng-‘introgasi” tentang pikiranku itu. akhirnya aku memutuskan untuk terus memendamnya. Hingga akhirnya ada saat sulit seperti ini dalam kehidupan kami.

    ***

    Aku masih ingat betul dua minggu yang lalu.
                                                               
    “Gia, cepat bangun! Kita jalan sekarang, ya?”. Sebuah suara yang terdengar berjingkrak-jingkrak di punggungku itu tentu saja telah merusak mimpi indahku. Dengan malas kusembulkan kepalaku dari balik selimut, mataku yang masih lengket kuusap sambil melirik kearah jam dinding diatas kepalaku, jam empat lewat empat puluh lima menit. Oh...! pantas saja aku masih mengantuk begini.

    “Duluan aja kak, mimpinya tanggung, nih!” sahutku sambil memperbaiki posisi tidurku. Sayup-sayup ku dengar suara azan dari sebuah mesjid dan lantunan ayat suci alqur’an yang dikumandangkan dengan sangat sempurna oleh bik Asih dari dalam kamarnya. Ah, andai saja imanku sekuat mereka…

    “Gia, mana bisa gitu, kakak kan mau nganterin kamu ke rumah Mila, katanya mau minjam vcd, ayo, dong!!”

    “Duh, udah nggak ada siangnya apa ini bumi, kak, pagi buta begini kerumah Mila hanya untuk minjam vcd, doang!. Nggak ada alasan lain?”

    “Kan sekalian bisa ajakin dia joging bareng, lagi pula ini kan hari libur, ayo, bangun!” kak Robi terus membujukku sambil menarik selimut dari ujung kepalaku. Pasti semalam aku lupa mengunci pintu kamar, sehingga cowok gondrong dengan hidung bangirnya itu bisa leluasa begini membujukku. Dengan mata setengah terpicing kuikuti kak Robi dengan langkah kakiku,  karena aku tak mungkin membiarkan tanganku saja yang ditarik-tarik ke kamar mandi.

    “Sana, cuci muka dulu, nggak asyik ah, jalan sama orang kusut kayak gini!”.

    Belum jauh aku beranjak sebuah suara yang cukup ku kenal meyakinkan aku siapa yang datang.

    “Robi, pantas saja dari tadi mama teriak-teriak di kamar kamu, tapi tak ada jawaban. Rupanya disini, lagi ngapain sih…? Ayo, papa udah nungguin untuk subuh bareng!”. Kata mama yang mengusap kepala kakak lembut.

    “Iya, ma, nanti ya, tungguin gia dulu!”. Kulihat Kak Robi yang sekilas mirip dengan  firman ‘Idol’ itu berusaha melepaskan kepalanya dari tangan mama. Bukan karna malas dimanja oleh mama, bukan, sungguh bukan itu alasannya. Kak  Robi adalah orang yang sangat santun dan berbakti kepada orang tua. Tapi mungkin lebih memandang pada perasaanku, aku yang merasa terasing dari mama sendiri, aku yang tak pernah dibelai apalagi dimanja oleh seseorang yang sekarang berada didepanku, seseorang yang katanya, Mamaku. Perbedaan itu lama kelamaan menumbuhkan perasaan lain dihatiku. Membentuk butir-butir kecewa dari rasa yang tak pernah sempurna ini.

    “ Oh ya, kamu juga ! “ kata mama tiba-tiba, mengagetkanku. Sambil berinsut dari pintu. Dan sekali lagi, tanpa menyantuhku.

    “ Iya, ma ! “ jawabku sekenanya

    Aneh, kenapa mama tidak pernah menyentuhku, apalagi memeluk dan menciumku seperti yang selalu dia lakukan pada kakakku Robi. Hanya dengan menegurku saja, itu sudah merupakan sikap terbaik mama padaku. Aku mematut diri didepan cermin. Bukankah aku putri kandungnya juga? Padahal banyak orang  yang mengatakan tentang kemiripan kami. Mama yang tinggi semampai dengan kulit putih terawatnya, rambut sehat lurusnya menyentuh punggung, cantik sekali! Bahkan tak tanggung-tanggung, Talasemia yang diderita mama juga mengaliri sel darah merah dalam tubuhku. Kenyataan ini ku ketahui kemarin waktu aku check-up pada dokter April, teman kuliah mama yang juga merangkap jadi tanteku. Aku minta kesediaannya untuk menyembunyikan hal ini dari keluargaku, walau ku tahu mama takkan pernah peduli. Lalu apa alasannya dia tidak menyukaiku?

    Siang ini, setelah kembali joging bersama Kak Robi dan Mila, kakiku seperti sudah tahu arah dengan menuntunku kedapur, menemui seseorang yang sudah lebih dari separuh umurnya mengabdikan diri dirumah ini. Bik Asih, begitu ia biasa dipanggil, wanita lima puluh tahun itulah yang telah merawatku dari bayi sampai sekarang. Dari bik Asih juga aku mengetahui bahwa orang yang selalu membantunya manjagaku waktu aku “ngeyel” adalah kak Robi. Itu semua membuatku semakin merasakan peranan mereka dalam hidupku, sedangkan papa, hh….walaupun selalu sibuk dengan bisnisnya, tapi jika sekali kali berkumpul, bisa menggantikan waktu yang telah lama terbuang. Ya…..! papa orang yang sangat baik dan penyayang.

    Tapi jika tentang sikap mama,……., aku tidak tahu! kenapa mama tak begitu acuh padaku, bahkan terkesan membenciku. Kenapa mama seperti mencampakkan aku begitu saja, apakah kehadiranku memang tidak diinginkan? Waktu ku Tanya pada bik Asih, aku selalu saja mendapat jawaban yang sama, mungkin mamamu capek, mungkin sedang ada masalah dikantor, atau, bla-bla, bla…. Ah basi, aku jadi bosan sendiri.

    “Mikirin apalagi sih, Gi?” kak Robi mendudukkan dirinya disebelahku dengan meletakkan dua cangkir teh diatas meja. “Oh…sepertinya kakak mengetahui sesuatu pasti kamu mikirin prom night party nanti malam. Kamu pengen ikut, kan ? “ bibirnya Tersenyum manis sambil mengerlingkan mata, menggodaku. Aku mengangguk berkali-kali, meskipun yang aku pikirkan bukan itu. Kak Robi sok tau, batinku.

    Suasana yang semula hangat seketika berubah karena kedatangan mama yang baru pulang dari mall. Mama berteriak-teriak memanggil kakak hingga menemukan kami didapur. dari balik sunglasses Dior-nya  mama menatap dan menghampiri kami.

    “Robi….,kamu lihat, apa yang mama bawakan buat kamu!” ujar mama yang langsung mengeluarkan beberapa potong kemeja yang kelihatannya penuh dari dalam tas plastiknya. “ Mama yakin kamu pasti suka”.

    Tanpa basa-basi kak Robi langsung meraih tas plastic dan beberapa potong kemeja itu dari tangan mama dan meneliti nya satu persatu.

    “Lho, buat Gia mana, ma, kok nggak ada ?” Tanyanya sambil terus mencari-cari.

    “Oh iya, maaf  mama lupa, sayang, soalnya tadi mama buru-buru!” Sahut mama yang langsung bersilengah dengan beranjak ketika namaku disebut, selalu begitu.

    Aku terdiam mendengarnya, tentu aku tidak bisa begitu saja menerima alasan itu. mataku memerah lagi. Entah sampai kapan aku menjalani hidup seperti ini. Kutarik  nafas dalam-dalam, agar sesak didada tak mengaliri pipiku, kak Robi yang disebelahku mengusap-usap jari tanganku, menguatkanku.

    “Tenang Gia, nanti kita beli yang lebih banyak buat kamu,ya? Mungkin saja mama memang lupa, jangan sedih gitu, dong!”

    “Siapa yang sedih?”

    “Lha, itu matanya merah kenapa, tuh! Jangan dimasukkan ke hati, namanya juga orang lupa, pasti nggak ingat,  kan?”

    Aku mengangguk pelan sambil memalingkan pandangan kearah bik Asih yang kebetulan juga berada disampingku. Ada genangan air disudut matanya yang sembab.Tanpa disadari aku lansung berhambur kepelukannya. Ing rasanya aku jadi anak bik Asih saja, jeritku.`7Deringan ponsel diatas meja mencairkan suasana .Ada panggilan masuk, dari Mila. .Menanyakan kesediaanku untuk ikut Prom night party malam ini. Segera saja ku tatap kak Robi, memastikan apakah dia mau menemaniku. Kak Robi mengangguk dan tersenyum. Ya, aku tau itu.

    Malam ini, demi mengikuti pesta itu, kami harus keluar melalui jendela. Walaupun sudah dapat izin dari papa,  tapi tembok yang paling keras masih tetap pada mama. Sudah ku duga, mama tidak pernah mau melepas aku pergi pesta kapanpun, dia lebih senang aku tidur dan belajar dirumah. Mulanya aku berfikir itu wajar dan aku bisa terima. Tapi lama kelamaan aku merasa terpasung dan terbelenggu dalam kekangan mama. Apa yang sudah mama lakukan padaku, aku klaim, mama sudah keterlaluan.

    Aku sungguh menikmati pesta malam ini, ini merupakan pesta pertama yang kulewati bersama teman-teman satu sekolahku. Dan, mungkin yang terakhir karena sebentar lagi kami akan berganti profesi dari siswa SMA menjelma menjadi seorang mahasiswa.  aku yang waktu itu sudah dapat “Lampu Hijau” dari keluarga untuk kuliah disekolah perawat, sangat mensyukuri, walaupun papa sebenarnya menginginkan ku untuk membantu kak Robi mengurus  bisnisnya. Tapi mungkin sifat itu yang diturunkan kepada kak Robi yang selalu mau mengerti dan peduli pada kemauan anak-anaknya.

    “Gia, sudah pagi, pulang yuk!” ajak kak Robi yang sudah berdiri disampingku sambil mencoba beramah-tamah dengan teman-teman sekelilingku. Kulirik Alba yang melingkari tanganku, jam dua lewat dua belas menit, aku terus terpana menatapnya, kenapa lajunya bisa cepat begini, ya? Perasaan aku baru saja datang. Bercengkrama beberapa saat dan belum sempat membahas tentang kelanjutan sekolah masing-masing. Masa sih, harus pulang ?

    “Sebentar lagi ya, kak!” seruku seraya memohon.

    “Nanti ketahuan mama, Gi!” kak Robi terus meyakinkan aku.

    Akhirnya aku menyerah dan dengan berat hati meninggalkan lokasi pesta. Jaguar yang kami naiki merayap pelan dikota metropolitan yang masih saja tetap sibuk  hingga dini hari ini. Entah kegiatan apa yang membuat kota ini seolah tak pernah mati dan tenggelam dalam kebisuan malam. Tak sebanding dengan suasana yang hening dalam mobil, yang membuatku semakin merasa kedinginan dan memaksaku menutup kaca jendela mobil, berulang kali ku tangkap kak Robi  menguap dan berusaha tetap focus mengemudi, karena Mila yang diharapkan bisa menemani kakak ngobrol, telah terlebih dahulu hanyut dalam mimpi indahnya.. Kurebahkan tubuhku di jok belakang, beruntung karena tak ada orang lain disisiku, setelah mengantarkan Mila, kami pun langsung pulang.

    Aku melemparkan begitu saja tubuhku diranjang, sepatu bertumit yang dihadiahkan kak Robi waktu ultahku bulan lalu, telah sukses balas dendam pada kakiku. Kalau bukan tuntutan gaun, takkan kusentuh benda itu. Kurentangkan kedua tanganku diatas kasur, uhh….betapa leganya, akhirnya aku bisa menghadiri pesta  tanpa sepengetahuan mama. Belum sempat terlelap, sebuah sinar yang cukup terang terasa menampar mata. Ku coba menutupi dengan jari tanganku, tapi sia-sia. Setelah ku lirik, kudapatkan sosok tubuh yang cukup bisa membuatku merinding telah berada di depanku.

    “Mama……” aku tergagap, kaget bercampur takut mengerayangi tubuhku. Dari mana mama bisa tau, kalau aku dan kak Robi menghadiri Prom night party sekolah malam ini.

    “Nggak usah kaget, Gia, kenapa saya bisa ada disini!” Mama menatapku lekat, dari sinar matanya tergambar emosinya yang telah memuncak. Dadaku langsung bergetar hebat, kedinginan yang dari tadi menusuk kini kurasakan seperti bara panas yang siap melumat apa saja. Dari belakang mama, ku lihat papa hanya bisa mengusap-usap punggung mama.

    “Dasar anak tak tau diri, sudah bagus ditampung, bukan berterima kasih malah berbuat seenaknya. Kamu pikir rumah ini hotel, keluar masuk tanpa aturan seperti itu. Ini nih pa, jika anak yang tak jelas asal usulnya seperti dia main tampung sembarangan. Dengar Gia, kamu bukan siapa-siapa, kamu hanya anak angkat. Kamu bisa tinggal enak disini, itu hanya sebatas rasa kasihan suami saya.  jadi jangan pernah bermimpi bisa menggantikan posisi putriku dirumah ini. Selamanya Gia, takkan pernah.  Kata-kata itu menjadi tamparan keras bagiku ketika mama menuding-nudingkan jarinya kearah wajahku. Seolah merasa tak puas, untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, mama kembali melemparkan gelas kewajahku. Aku pernah mendapat perawatan yang serius karena ketagihan mama melemparku di bagian wajah.  Namun sakit yang kini kurasa seolah meremukkan hatiku.

    “setimpalkah hukuman ini untuk kesalahanku? Aku hanya ingin menikmati prom nigh party, aku yang hanya ingin sedikit bersenang-senang dengan teman-teman sekolah. Aku yang hanya ingin sedikit pengertian darimu, …ma!” tubuhku bergetar menahan sakit sambil menangis, bersimpuh dilantai.

    “Cukup ma, mama sudah keterlaluan, bagaimanapun keadaannya, Gia tetap anak kita!” seru papa dengan nada tinggi..

    “Nggak Pa, Gia bukan anak kita, sudahlah Pa, hentikan kepura-puraan ini!”

    Ucapan dan tingkah mama yang semakin mengganas menimbulkan suara gaduh yang sangat mengusik ketentraman rumah. Papa terus berusaha menenangkan mama dan membujuknya keluar dari kamarku.

    Hhh…! Betapa sakitnya kenyataan ini. Bening dimataku tak bisa lagi ku bendung dan berebut mengaliri pipiku. Ini rupanya alasan mama selama ini yang memperlakukan aku tak adil. Sungguh alasan yang sangat masuk akal. Mana mungkin aku bisa berharap mama bisa mencintaiku seperti cintanya pada kak Robi. Jika setiap kali melihatku dia selalu beranggapan aku menggantikan posisi putrinya, aku selalu menyakiti hatinya.

    Kak Robi mendudukkan dirinya disebelahku, tak sepatah katapun terucap dari bibirnya dia hanya menarikku dan meletakkan kepalaku didadanya. Kegelisahan jiwaku kini tak tergambarkan lagi, bercampur menjadi satu..Didadanya yang bidang, aku bersandar dan menumpahkan air mata. Kehangatan yang selalu mampu membuatku tenang dan terlelap dalam kedamaian. Aku tak habis pikir, mana mungkin bisa mama mengatakan kepadaku kalau aku bukan putrinya setelah belasan tahun aku hidup bersamanya, disisinya, walaupun tanpa belaian itu, belaian yang selalu dia sediakan untuk kakakku Robi. Seandainya saja mama tau, Walaupun Gia bukan putri kandung mama, tapi saat ini harapan terbesar yang masih Gia simpan adalah pulang kedalam pangkuan mama, meski dalam kristal retak sekalipun, harapan itu masih Gia simpan, Rapat!.

    Aku masih terisak ketika papa dengan sangat terpaksa menceritakan kepadaku, kalau aku memang bukan anak kandung mereka, aku hanya titipan dari seorang pegawai kantor papa yang menemukanku digerbong kereta api pinggir kota lima tahun setelah Via kamil kecil diculik. Dia terpaksa menitipkanku karna tugas kantor keluar kota, dan tragisnya dia meninggal karna kecelakaan dalam tugas itu, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya semua sepakat untuk terus merawatku.  kecuali mama yang mengusulkan  kalau aku diserahkan kepanti asuhan  saja, mama tidak menginginkan kalau suatu saat nanti, aku menggantikan posisi putrinya.

    “Berarti menurut papa, Gia juga bukan putrinya pegawai kantor papa itu ?”

    “tentu saja Gia, karena statusnya waktu itu belum beristri”.

    “lalu Gia anak siapa, pa?”

    “Papa juga tidak tahu, papa sangat menyesal harus mengatakan hal ini padamu!”

    Ucap papa yang masih membelai rambut kusutku dalam pangkuannya. Air hangat dari matanya menetes dilenganku.

    “papa juga tidak bisa meyalahkan mama kamu, kenyataan yang sudah disepakati untuk dikubur, akhirnya harus terkuak lagi. Papa tahu, ini hanya akan menyakitimu, sayang. Tapi bagaimanapun juga, kamu memang harus mengetahuinya, Cuma yang papa sayangkan kenapa harus dengan cara ini. “Lanjut papa tanpa bisa membendung air mata.

    “Gia, apakah setelah mengetahui semuanya, kau akan meninggalkan kami….?”

    ***

    Aku mengetuk pintu rumah berkali-kali. Dengan setengah mabuk, aku masih bisa mengenali siapa yang membuka pintu dan berdiri didepanku. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menyentuh minuman beralkohol itu, bahkan meneguknya berkali-kali.

    Tapi yang aku ingat, tadi pagi aku berjalan sendiri dan sebuah mobil berhenti didekatku. Mobil Nita, teman satu sekolahku yang terkenal dengan teman preman segudangnya, dia juga pemakai sekaligus pengedar Narkoba. Entah sudah berapa kali dia keluar masuk penjara karena kasus itu, tapi itu semua, tak cukup untuk membuatnya jera. Dia menjadi teman yang siap menampung kesedihanku waktu itu, di cafe yang tak jelas namanya dia membawaku dengan memesan minuman yang sangat aneh bagiku, dan terus membujukku untuk meminumnya hingga tandas.

    “Ini barang-barangmu !” sebuah tas ransel yang dilemparkan oleh mama padaku, memaksaku untuk menyadari apa yang tengah ter

    “Besar harapanku untuk tidak melihatmu lagi, Gia!. Sudah cukup kamu menjadi masalah bagi keluarga ini. Kamu tahu, siapa yang baru saja datang kerumah ini! Pemilik cafe, yang katanya, kamu dan teman-teman berandalanmu itu, telah memesan banyak sekali minuman, tapi tak mampu bayar, lantas menyuruh mereka menagih kesini. Kesabaranku benar-benar telah habis !” Kata mama yang menarikku keluar pagar dan mendorongku ke jalan hingga aku terjatuh di aspal, dan sekali lagi tanpa disadari mataku lansung ditampar oleh cahaya yang sangat terang dan perlahan mendekat. Bukan, tentu saja itu bukan cahaya lampu kamar lagi, tapi sebuah mobil dengan kecepatan tinggi telah berada beberapa meter lurus didepanku. Aku yang waktu itu dengan setengah sadar tidak begitu kuat untuk mencoba menghindar. walaupun klakson mobil itu sangat memekakkan telinga yang terpaksa melemparkan aku begitu jauh hingga dalam dalam sekejap sakit luar biasa kurasakan diseluruh tubuhku. Pandanganku mulai pudar, kesadaranku perlahan hilang, semuanya menjadi gelap dan gelap..

    Aku mendengar suara marah, tangis dan emosi dari jauh. Tubuhku seperti terikat dengan slang dimana-mana. Aku tak tau apa yang terjadi, kenapa aku bisa berada  diruangan yang sempit dan terasa asing, bahkan untuk membuka mata saja aku harus mengumpulkan puing-puing tenaga yang tersisa. Aku seperti ingin meneriakkan dan menyuruh mereka diam. Kenapa tak ada yang mau mendengarku. Kenapa semuanya begitu sibuk meyebut-nyebut namaku sambil menangis .

    Oh….hentikan ! jeritku, tidak bisakah kalian diam untuk mengurangi rasa sakitku ini.

    Aku masih bisa merasakan sesuatu yang bertengger ditanganku, seseorang yang tengah tidur disampingku. Aku tak bisa bergerak, semuanya terasa begitu aneh dan sangat berat, dengan pandangan yang samar-samar kulihat begitu banyak orang disekelilingku, mendampingku, bahkan mama yang selama ini sangat membenciku, kini berada disampingku, menangis, memelukku dan berulang kali menciumku. Ada apa ini? bukankah harapan terbesar mama tidak ingin melihatku lagi ? tak lama kemudian, kak Robi seperti membisikkan sesuatu ditelingaku. Bahwa, Tante April telah mengungkap Talasemia yang ku derita dan menyarankan pada keluargaku untuk melakukan tes DNA saja. mereka setuju, dan hasilnya tentu sangat mengejutkan semua orang, Via kecil yang diculik tujuh belas tahun yang lalu adalah aku, yang ditinggal begitu saja disebuah  gerbong kereta api pinggir kota. Dan menurut perkiraan dokter, sasaran yang sesungguhnya bukan aku, tapi bayi yang disebelahku. Karena dua hari setelah aku diculik bayi itu juga ikut Raib. Dan atas kehendak tuhan aku diizinkan kembali ke keluarga kamil dengan status anak angkat dirumah orang tuaku sendiri.

    ***

    Aku masih ingat betul semuanya, saat ini….

    “Kita pulang?” aku menoleh ketika kak Robi menyentuh pundakku, menggugah kesadaranku.

    “Ucapkan salam pada mama, dan katakan, besok kita akan kesini lagi”. Ucapnya pelan, aku mengangguk sambil terus menghapus air yang terus tercucur dari mataku, kuraih tangan mama dan menciumnya.

    “Gia pulang dulu ya, ma! Gia harap, jika besok Gia kesini lagi, mama sudah sembuh dan bisa pulang bersama kami!”

    Mama terpaksa diisolasi karena mengalami goncangan yang sangat hebat ketika mengetahui bahwa putrinya yang selama ini dirindukannya adalah aku. Orang yang selama ini didekatnya dan selalu disia-siakan olehnya, aku yang harus berdiam diri dan bergantung pada benda mati ini seumur hidupku. Ya, kecelakaan itu memang berhasil membuat kedua kaki ku diamputasi. Tapi aku takkan pernah menyesali keadaan ini, apa lagi sampai membenci mama. Jika aku memang harus menukar kakiku dengan memiliki seorang mama dalam hidupku, itu adalah sebuah tukaran yang pantas. Dan ketidak sempurnaanku saat ini, takkan pernah mampu membuatku patah semangat untuk terus berjuang meraih kebahagiaanku lagi. Karena seberat apapun cobaan yang terus menimpaku dan keluargaku saat ini, aku yakin, aku lebih tegar dari itu apalagi demi mama, aku pasti bisa. ***

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Demi Mama, Aku Rela Kehilangan Kedua Kakiku" Karya Yosi Gusnilawati (Solok) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top