• Info Terkini

    Saturday, July 14, 2012

    Ulasan Cerpen “Impian yang Terlarang” Karya Syarifah Nurhafzhiyah El_Hasby (Medan)

    [Karya Anggota FAM Medan, ID-FAM625U]

    Dara bersahabat dengan Aliya. Suatu hari, kunjungan Dara ke rumah Aliya yang berada di tepi laut mempertemukannya dengan seorang pemuda bernama Bayu. Bayu seorang pemuda sederhana dan guru SD dengan latar belakang ekonomi yang berbeda. Dara dan Bayu saling mencintai, namun harus menjalani hubungan jarak jauh karena Dara harus melanjutkan kuliahnya di Medan.

    Kesibukan kuliah membuat Dara jarang ‘menjumpai’ Bayu. Meski jauh dan banyak godaan, Dara selalu berusaha untuk setia. Tapi pada kenyatannya Dara sangat kecewa ketika Bayu memutuskan menikah dengan perempuan lain yang hanya tamatan SMA. Alasan Bayu menikah dengan perempuan itu karena antara mereka (Bayu dan Dara) tidak sederajat.

    Cerpen “Impian terlarang”, adalah cerpen yang umum. Ide cerita biasa saja, dalam cerpen ini tidak ada sesuatu yang istimewa. Penggunaan EYD juga perlu diperhatikan, seperti penulisan ‘karna’ yang seharusnya ‘karena’. Kekecewaan, kesedihan Dara yang ditinggal kekasih semua ditumpahkan kepada Tuhan. Hendaknya, bisa diambil sisi positif dari kesedihan dan kekecewaan sehingga cerpen ini dapat menjadi suatu pembelajaran dan tidak menyalahkan Tuhan.

    Seperti yang ditulis oleh penulis pada penutup cerita, ‘Apakah peraturan sederajat dengan pasangan itu hukum mutlak dari Tuhan? Kalau iya, kenapa dulu Tuhan memberiku kesempatan untuk bermimpi dengannya?’ Pertanyaan-pertanyaan itu semakin membuat hatiku tersayat apalagi pertanyaan itu cuma bisa dijawab oleh butiran air mata…”

    Bagi penulis, hendaknya kreatif mencari ide cerita, dan perhatikan EYD. Jika ingin mengirim ke media, jangan lupa membaca ulang naskah dan mengeditnya. Selebihnya, penulis cerpen ini, sangat berbakat menulis, karena mampu mendeskripsikan pemandangan laut dengan baik. Hanya saja, untuk menghasilkan tulisan yang baik harus sering berlatih, jangan menyerah dan teruslah menulis. Menulis tidak mengenal teori, tapi butuh proses praktik yang panjang. Jadi, jangan menyerah dan teruslah berkarya.

    Salam aishiteru.
    TIM FAM INDONESIA

    [NASKAH ASLI CERPEN “IMPIAN YANG TERLARANG” DIPOSTING TANPA EDITAN FAM INDONESIA]

    Impian Yang Terlarang

    Oleh Syarifah Nurhafzhiyah eL_Hasby (Syakira eL_Hasby)
    IDFAM625U Anggota FAM Medan

    Aku dan Aliya bersahabat sejak 3 tahun yang lalu,  walaupun kami bersahabat tapi aku tidak pernah menginap di rumahnya karna orang tuaku sangat tidak membiasakan anak-anaknya untuk  bertandang di rumah orang lain kecuali dengan momen tertentu. Suatu hari Aliya meminta izin pada orang tuaku untuk mengajakku menginap di rumahnya karna saat itu adalah saat-saat  terakhir kebersamaan kami, sebentar lagi kami akan tamat sekolah dan tentunya akan berpisah untuk mengejar impian masing-masing. Aku akan kuliah ke luar kota tapi Aliya akan tetap mengabdi pada orang tua karna keterbatasan financial keluarganya.

    Aku sangat senang berada di rumah Aliya karna rumahnya dekat dengan laut yang luar biasa luas dan indah. Sore itu aku di ajak Aliya untuk menikmati matahari terbenam, sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan!! Di kejauhan terlihat laut dan langit seakan menyatu dengan warna yang membuat mata dan hati tergoda dan matahari pun ikut serta menciptakan keindahan pemandangan itu. Warna matahari yang semakin menyala bak  rombongan emas yang memancarkan kilauannya seakan mengatakan kepada alam bahwa dia jauh lebih indah dari makhluk yang ada dan perlahan demi perlahan sang matahari pun pamitan untuk istirahat di istananya  tapi aku tetap tidak beranjak, mataku masih belum rela untuk meninggalkan pertunjukkan spektakuler itu.

    “Kok masih disini? udah mau maghrib lho!” Suara laki-laki itu membuyarkan kenikmatanku

    “Eh bang Bayu, iya nih temannya Aliya masih terhipnotis dengan keindahan laut kita, maklum bang orang gunung” ujar Aliya sambil melirik kepadaku.

    “Apaan sih??” jawabku malu

    “Oya kenalin, ini Dara sahabatnya Aliya dari kampung sebelah” Aliya memperkenalkanku dengan laki-laki itu. Selang beberapa saat setelah acara perkenalan itu, kami pun pulang ke rumah karna waktu maghrib sudah memanggil.

    ***

    Laki-laki itu bernama Bayu, salah seorang pemuda di kampung Aliya yang berprofesi sebagai guru SD. Sosoknya sangat sederhana dan latar belakang keluarganya pun tergolong keluarga yang biasa tapi menurutku dia sangat menarik, baik, pintar dan dewasa.  Usia kami terpaut  jarak 5 tahun dan sejak perkenalan itu aku dan dia menjadi semakin dekat, tentunya dengan pertolongan Aliya. Walaupun kami jarang ketemu tapi komunikasi selalu kami jaga, baik lewat telpon ataupun sms hingga akhirnya kami berstatus sebagai sepasang kekasih.

    ***

    Hari begitu cerah apalagi suasana di tepi laut, panasnya sungguh sangat menyengat tapi tetap saja suatu kondisi yang harus di nikmati. Siang itu aku dan bang Bayu janjian ketemu di sebuah café laut, tepatnya café yang berada di atas laut yang hanya bertopangkan pohon-pohon kelapa dan kayu-kayu pilihan yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan manusia-manusia yang singgah di atasnya. Pemandangan di hadapanku sungguh sangat indah, gelombang yang saling  berkejar-kejaran tanpa merasa lelah dan bosan sedikitpun dan lambaian pohon kelapa seolah ingin ikut berlari dengan gelombang-gelombang laut. 

    “Bang, aku akan merantau ke Medan tuk melanjutkan pendidikanku. Aku minta doa ya semoga perjalananku lancar dan di terima kuliah disana” ucapku memecah keheningan yang sedang berlangsung di antara kami. Lalu dia pun tersenyum dan berkata:

    “Ya, abang akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan satu hal yang harus kamu ingat bahwa jodoh bukan di tangan kita  melainkan hak DIA” sambil menunjukkan  telunjuknya ke atas, dan tiba-tiba dia terdiam  lalu seperti berbisik dia mengatakan “abang akan selalu menerimamu apa adanya” sambil menatapku tajam seolah menyiratkan kesedihan karna akan berpisah dan aku pun hanya mampu mengangguk  sebagai isyarat bahwa aku juga merasakan kesedihan yang sama.

    ***

    Hari-hari terus berlalu dan senantiasa setia menemaniku melewati kesibukan demi kesibukan  sebagai seorang mahasiswa. Semakin hari prestasiku semakin membaik dan kesibukanku pun terus bertambah hingga waktu tuk ‘menjumpai’ bang Bayu jadi terbatas tapi aku tetap berusaha menjumpainya  walaupun di sisa lelahku. Terkadang godaan pun sering datang menghampiriku, tapi aku tetap buta dan memilih setia pada cinta bang Bayu.   

    Di saat penghujung kuliahku, tiba-tiba bang Bayu memberitahuku suatu kabar yang sangat membunuhku. “Kita hanya mampu  berencana tapi Tuhan-lah yang menentukan. Dalam waktu dekat abang akan menikah, mohon doanya ya dan semoga kamu juga sukses disana. Maafkan Abang”. Sms itu sungguh singkat tapi kata-kata itu seakan membuatku lumpuh seketika bahkan  untuk memijak bumi pun aku merasa tak berdaya.

    Sejak kedatangan kabar itu, aku merasa hidupku seakan tidak bermakna dan aku terus mendebat-Nya atas takdir yang ku rasa sangat tidak adil buatku. Kenyataan itu sungguh membuatku malu pada dunia, aku malu pada keluargaku  yang sudah terlanjur ku janjikan untuk menghadiahkan mereka laki-laki baik yang sudah aku miliki, aku malu karna sudah tak terhitung  berapa laki-laki yang sudah aku kecewakan karna tidak berhasil untuk mencuri hatiku. Itu semua aku lakukan karna aku ingin setia padanya tapi ternyata pengerbonanku itu tidak bernilai apa-apa. 

    “Apa salahku? Apa yang kurang denganku? Kenapa dia tidak memilihku? Kenapa harus dengan perempuan itu yang Cuma tamatan SMA?? Kenapa bukan aku???” pertanyaan itu terus mengusikku dan bahkan aku seperti mendengar seisi kamarku pun menanyakan hal yang sama kepadaku  hingga aku merasa sangat lelah dan hanyut dengan pertanyaan yang tak mampu ku jawab.

    ***

    “Dara terlalu sempurna untuk abang, dia cantik- berpendidikan dan dari keluarga terpandang. Sangat tidak adil buatnya bila harus bersanding dengan abang yang cuma orang biasa dan pendidikan pun hanya tamatan D-2. Abang yakin suatu saat nanti akan datang laki-laki yang pantas untuknya,  tolong beri pengertian kepadanya ya?” itulah kata-kata yang di ucapkan bang Bayu pada Aliya sahabatku yang sudah menikah 2 tahun yang lalu dengan laki-laki yang tidak jauh berbeda latar belakang keluarga dengannya.

    Setelah mendengar keterangan dari Aliya, hatiku pun bertanya  ‘Apakah peraturan sederajat dengan pasangan itu hukum mutlak dari Tuhan? Kalau iya, kenapa dulu Tuhan memberiku kesempatan untuk bermimpi dengannya?’. Pertanyaan-pertanyaan itu semakin  membuatku hatiku tersayat  apalagi pertanyaan itu cuma bisa di jawab oleh butiran  air mata…***

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Impian yang Terlarang” Karya Syarifah Nurhafzhiyah El_Hasby (Medan) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top