• Info Terkini

    Sunday, July 15, 2012

    Ulasan Puisi “Hanya Padamulah Hidupku” Karya Yayuk Widiastutik (Semarang)

    HANYA PADAMULAH HIDUPKU

    Karya Yayuk Widiastutik
    IDFAM740U Anggota FAM Semarang

    Berada dalam kesunyian malam
    Saat sang bayu berhembus mesra
    Desiran getarannya semakin kurasa
    Merasuk ke aliran darahku

    Aku tersungkur dalam ketidakberdayaanku
    Satu persatu alpha & nista membayangiku

    Menyeret fikiranku
    Menyudutkanku pada lorong buntu

    Tembok terjal menghalangi pandanganku
    Udara pengap bertuba semakin menyesakkan
    Jatuh tersungkur dalam keputusasaan

    Dalam kuasaMu ku basuh nuraniku
    Pasrahkan segala beban yang memasungku
    Hanya padaMulah hidupku

    ULASAN FAM INDONESIA:

    Puisi di atas dapat digolongkan kedalam jenis puisi Platonik, yaitu puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan. Kita dapat merasakan suatu renungan dari penulis saat suasana tenang seperti sebuah malam yang dirasakan penulis di sini.

    Hal ini juga mungkin dapat dirasakan semua orang untuk menghitung jejak-jejak perjalanan hidup yang telah dan akan dilalui. Saat mata masih enggan terpejam sedang malam berangsur semakin larut dalam hening dan diam banyak sekali hal-hal yang dapat kita rasakan sebagai sebuah cerminan yang cukup jelas buat kita berkaca.

    Indah sekali, dan seakan suatu beban sedikit dapat terkurangi bila kita mampu menuangkan semua yang kita rasakan itu menjadi sebuah bentuk tulisan. Dan, puisi adalah tulisan yang cukup menampung dari semua suasana hati seperti itu.

    Sebagaimana yang kita tahu bahwa secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik, bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling memengaruhi keutuhan sebuah puisi.

    Puisi HANYA PADAMULAH HIDUPKU ini nampaknya telah mencakup unsur-unsur itu. Kata atau diksi yang digunakan cukup pas dan sederhana untuk kita selami dari apa yang dimaksud.

    Larik dan bait-baitnya juga cukup kuat dan utuh dalam suatu kesatuan puisi. Ada semacam gambaran kegagalan, kekalahan, ketidakberdayaan masa silam dalam bait berikut:

    Aku tersungkur dalam ketidakberdayaanku
    Satu persatu alpha & nista membayangiku
    Menyeret fikiranku
    Menyudutkanku pada lorong buntu

    Penulis nampaknya menggambarkan secara umum bayangan kelam yang dialami pada masa silam.

    Pada bait selanjutnya juga masih dalam kesan yang sama dari kelanjutan suasana dalam bait sebelumnya:

    Dan di bait terakhir adalah semacam benang merah yang yang dapat kita pilah sebagai manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan yang penuh liku ini.

    Ya, seharusnyalah puisi juga mempunyai amanat atau pesan moral yang disampaikan. Karena tema, amanat, rima, ritme, majas, dan kesan juga adalah unsur instrinsik sebuah puisi.

    Kita simak bait terakhir puisi ini:

    Dalam kuasaMu ku basuh nuraniku
    Pasrahkan segala beban yang memasungku
    Hanya padaMulah hidupku

    Sebagaimana dalam ulasan beberapa puisi religius sebelumnya pernah dikatakan bahwa muara sebuah renungan hati itu sangat dekat dengan Sang Maha Pencipta. Di sini penulis menyudahi puisi ini dengan sebuah bentuk kepasrahan dari semua problema kehidupan yang dialami kepadaNya.

    Sebuah kedamaian hati dan kelegaan serasa ditemukan penulis dan pembaca dari puisi ini.

    Hanya saja sedikit saran, perhatikan lagi tanda baca dalam penulisan diksi, semisal baris di bawah ini:

    Satu persatu alpha & nista membayangiku

    …alpha, seharusnya ditulis “alpa”
    Tanda “&” seharusnya “dan”, jangan biasakan menulis singkatan dalam puisi bila kata itu tidak memiliki kepanjangannya.

    Teruslah asah kemampuan menulis dengan banyak membaca buku sehingga penulis mampu merangkai kata demi kata lebih tajam lagi dan bermakna.

    Selamat aishiteru.
    TIM FAM INDONESIA

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Hanya Padamulah Hidupku” Karya Yayuk Widiastutik (Semarang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top