• Info Terkini

    Saturday, July 21, 2012

    Ulasan Puisi “Namamu: Qalbi” Karya Salmizul Fitria (Agam, Sumatera Barat)

    Namamu: Qalbi
    Oleh Salmizul Fitria

    IDFAM725U Anggota FAM Agam Sumbar

    Dik, pikiranku adalah namamu
    saat ku tinggalkan kau pada jalan tak bernama
    lalu kubiarkan kau merawat luka-luka menganga
    matamu kadang nanar, menatap pada jembatan tak bertuan
    rembulan keburu datang
    sebelum aku berhasil menyulut bintang
    Dik, kata-kataku adalah namamu

    ku jembut kau pada jalan takbernama
    aku lupa bahwa ada cahaya dimatamu yang kutinggalkan
    -desau kemarau mempertemukan kita
    -matamu meninggalkan isyarat,hingga aku kembali pulang
    Tunai luka pada Juni ,pada namamu,dik.

    ULASAN FAM INDONESIA:

    Sebuah puisi romansa yang menyentuh dan romantis sekali. Yakin pada seorang yang dituju akan merasakan kelembutan hati penulisnya dalam mengungkapakan perasaan kerinduan dan cinta yang mendalam.

    Nampaknya penulis cukup terlatih memilih diksi untuk sebuah puisi hingga menjadi rangkaian kata demi kata yang indah dan bermakna.

    Begitulah puisi. Banyak hal-hal yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari untuk dijadikan sumber inspirasi. Dari perasaan saat kita jatuh cinta, rindu, kecewa, bahagia dan berbagai warna hati yang terlukis dalam masa-masa itu.

    Juga saat kita berkumpul dengan teman-teman, mendengarkan kisah-kisah dan curhat mereka, merenungkan apa yang telah dan akan kita alami, merasakan getaran dari apa yang tertangkap oleh indra mata dan telinga, dan juga saat kita mendalami kandungan isi Al-quran.

    Semua itu sungguh dapat menjadi sumber inspirasi untuk tulisan-tulisan kita. Bila hal itu terbersit dalam hati dan perasaan, sebaiknyalah cepat kita tangkap dalam sebuah tulisan, endapkan, dan revisi kembali apa yang tadinya kita tulis.

    Dalam puisi "Namamu: Qalbi" ini nampaknya penulis cukup berkesan pada sebuah nama yang begitu melekat dalam bayangan dan langkah-langkah menelusuri hari-hari.

    Pada larik pertama penulis secara lugas menyatakan

    "Dik, pikiranku adalah namamu"

    Sebuah kalimat awal yang akan membuat penulis makin dapat mengetuk pintu untuk meneruskan dan menjejal kelanjutan apa yang ingin disampaikan.

    Sepertinya ada sebuah "penyesalan" saat orang yang dia cintai itu harus berada jauh dari sisinya. Ini tergambar pada kalimat:

    "saat ku tinggalkan kau pada jalan tak bernama"

    Kenapa sebuah kata perpisahan harus hadir saat itu? Ya, yang namanya sebuah kebersamaan dalam kehidupan kadang kita dihadapi dengan berbagai macam problema untuk dapat kita jalani, selesaikan, dan meraih makna dari semua yang terjadi.
    Hal itu sepertinya digambarkan penulis juga saat sebuah kebersamaan terjalani. Ini tergambar dalam kalimat:

    "lalu kubiarkan kau merawat luka-luka menganga
    matamu kadang nanar, menatap pada jembatan tak bertuan"

    Lalu apakah orang ketiga juga hadir saat masalah yang dihadapi dalam hubungan itu belum terselesaikan? Walau penulis sebenarnya sedang berusaha menyelesaikan itu untuk kembali bersama dan utuh seperti dulu. Ini kita rasakan dalam larik yang cukup dalam pada:

    "rembulan keburu datang
    sebelum aku berhasil menyulut bintang"

    Kemudian larik-larik ini sebaiknya dijadikan bait baru dari puisi itu:

    Dik, kata-kataku adalah namamu
    ku jemput kau pada jalan tak bernama
    aku lupa bahwa ada cahaya di matamu yang kutinggalkan
    -desau kemarau mempertemukan kita
    -matamu meninggalkan isyarat, hingga aku kembali pulang
    Tunai luka pada Juni, pada namamu, dik.

    Kalimat pengulangan yang muncul di sini sangat tepat dan menjadikan puisi itu menjadi lebih kuat dan indah.

    Dalam puisi memang sering kita lihat kalimat-kalimat yang diulang sejauh itu diperlukan dan tidak membuat puisi menjadi rangkaian kata-kata yang mubazir.

    Secara umum puisi ini telah cukup sempurna dan menarik sekali. Karena pembaca cukup merenung mencari apa yang tersembunyi dalam setiap baris-barisnya.

    Mungkin akan muncul multitafsir dari beberapa orang yang membacanya. Dan itu boleh, bahkan begitulah puisi.

    Sedikit saran agar penulis lebih teliti lagi merevisi sebelum puisi ini diposting. Mungkin ada beberapa hal yang terlupa/tak disengaja dalam pemakaian EYD yang tepat dan benar.

    Teruslah menulis. Salam Aishiteru.
    TIM FAM INDONESIA

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 komentar:

    1. terimaksih ulasannya FAM...
      cacatnya cuma di EYD ternyata...semoga lain kali bisa lebih "dibongkar" lagi,,,,
      tia sangat butuh kritik,terimaksih...

      ReplyDelete
    2. hm...hm... Makasih yo kak Salmizul...
      Segitu bana yo kak??? waks...waks...

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Namamu: Qalbi” Karya Salmizul Fitria (Agam, Sumatera Barat) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top