Skip to main content

Bundel Surat Cinta

Oleh Aliya Nurlela

Masa kanak-kanak, ketika itu masih duduk di kelas tiga sekolah dasar, seorang laki-laki teman satu sekolah mengirim surat kepadaku. Isinya? Wow, surat cinta! Sebagai anak kecil yang baru saja bisa menulis huruf tegak bersambung, aku merasa tak pantas mendapat kiriman surat itu. Aku menangis saat menerimanya. Bukan tangisan haru atau bahagia. Tapi tangis sebagai ekspresi rasa ‘terhina.’ Aku marah pada lelaki pengirim surat itu. Surat dengan tulisan yang tak rapi itu, langsung kumasukkan ke bawah kasur di kamarku. Aku enggan membacanya.

Tanpa sepengetahuanku, kakak pertama yang laki-laki—waktu itu kakakku sudah kuliah—menemukan surat itu dan dengan entengnya mengibar-ngibarkan surat tersebut di hadapan kakak-kakakku yang lain. Ia berkata, “Ya ampun, anak baru lahir kemarin sudah ada yang naksir…,” ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak disambut gelak tawa kakak-kakakku yang perempuan. Bagi mereka mungkin lucu. Tapi bagiku, aku benar-benar malu dan merasa di permalukan. Rasanya, ingin kubenamkan saja wajah ini ke dalam lumpur sawah agar tak melihat mereka tertawa.

Ya, aku belum mengharapkan surat cinta datang menghampiriku disaat usiaku masih sangat muda. Orangtua saja masih menyebutnya, anak kecil. Entah kenapa surat-surat yang tak diundang itu berdatangan. Dari teman sekelas, kakak kelas, hingga yang sudah SMP atau SMA. Anehnya, aku tidak bangga sama sekali. Aku tidak bahagia menerima surat-surat itu. Justru aku merasa terhina. Ya, terhina! Aku masih kanak-kanak, menyukai permainan anak-anak dan belum berpikir ke arah serius. Aku takut dianggap oleh orang dewasa, telah baligh sebelum waktunya.

Dampaknya, reaksi ekstrem pun kulakukan. Surat-surat itu ada yang dihanyutkan di selokan, disobek-sobek atau dimasukkan ke dalam perapian, hi-hi-hi. Aku melakukannya disertai deraian air mata. Aku tidak berpikir, bagaimana sulitnya si lelaki tersebut merangkai kata, menyusun kalimat demi menyatakan maksudnya. Aku malah menganggap aib menerima surat-surat itu. Aku tidak ingin jadi bahan ledekan teman-teman di sekolah, karena menerima surat cinta di usia kanak-kanak. Itulah sebabnya, aku selalu sesegera mungkin ‘memusnahkan’ surat-surat yang kuterima, he-he-he…

Dampak lainnya, aku juga jadi membenci laki-laki yang berkirim surat kepadaku. Aku yang biasa ramah, akan tiba-tiba ‘memasang’ muka terjelek saat bertemu dengannya. Memalingkan muka dan tidak menyapa. Benar-benar ekspresi terjelek, hi-hi-hi. Ekspresi yang membuat perut mual. Gara-gara mengirim surat cinta, jadi bermusuhan denganku. Aku jadi terkesan judes dan galak. Makanya, jangan coba-coba kirim surat cinta kepadaku kalau tidak ingin jadi musuhku, he-he-he.

Seorang laki-laki kakak kelas harus berlinang air mata, saat surat cintanya yang dibungkus dengan rapi tanpa kubaca langsung kusobek-sobek. Sobekan-sobekan kertas itu, kusebarkan di depan angsa-angsa yang berkeliaran di sekitar sekolah. Lelaki itu melihat dengan sedih dan menahan tangis. Ucapannya yang kutangkap waktu itu, “Aku memang hanya anak seorang petani. Membeli amplop saja harus menunggu mengumpulkan uang berminggu-minggu. Aku tidak bisa menulis surat, tapi aku belajar menulisnya. Tapi kenapa surat yang kubuat dengan susah payah itu, kau sobek-sobek begitu saja?”

Aku terhenyak. Aku merasa terhina mendapat surat cinta di usia kanak-kanak, tapi pasti lelaki itu lebih merasa terhina lagi dengan perlakuanku. Sungguh, aku tidak bermaksud menempatkan posisinya dalam posisi yang sangat rendah sebagai anak siapa. Aku bersikap ekstrem karena bebanku sebagai anak kecil terasa berat. Aku belum siap bersikap dewasa sebelum waktunya. Aku juga takut disebut tebar pesona. Takut disebut baligh sebelum waktunya, dan takut-takut yang lain. Termasuk takut ‘disidang’ orangtua. Mereka selalu bilang, “Tidak boleh pacaran. Tak ada pacaran dalam Islam. Tak ada pacaran Islami, de-el-el.” Ah, sungguh dilema.

Seiring bertambahnya usia, aku mulai belajar menghargai surat-surat yang datang. Tidak lagi kumusnahkan sebelum dibaca. Aku merasa jadi seorang redaktur sebuah majalah, he-he-he. Harus menyeleksi ‘naskah-naskah’ yang masuk. Kupilah dan kupilih dengan seksama, hi-hi-hi. Kali ini meskipun surat tersebut tidak layak ‘terbit,’ aku berusaha menghargainya. Kususun surat-surat tak seragam itu. Lalu kubundel sederhana. Sampulnya adalah sampul buku tulis yang sudah tidak terpakai lagi. Semua surat kususun rapi di dalamnya. Jadilah beberapa bundel surat cinta. Kalau dilihat dari luar, tampak seperti buku tulis biasa yang berisi materi pelajaran sekolah. Itu juga trik yang kupakai untuk menyamarkan. Kelihatan oleh orangtua sedang tekun membaca buku pelajaran, padahal ssst… sedang membaca surat cinta, he-he-he (tapi yang ini jangan ditiru ya adik-adik?).

Ternyata, setelah aku menghargai surat-surat itu dengan cara membacanya, menyimaknya dalam tempo yang tidak sesingkat-singkatnya, hi-hi-hi…, aku banyak menemukan pelajaran dari surat-surat tersebut. Memang tak mudah menulis surat. Tidak seperti SMS, yang bisa singkat dan ‘to the point’. Bahasa surat, harus diawali dengan mukadimah. Lalu basa-basi sedikit sebelum menuju ke pokok isi surat itu. Setelah itu ditutup dengan bahasa penutup yang dibumbui basa-basi berupa permohonan maaf, doa dan harapan. Banyak lelaki yang tiba-tiba berubah menjadi seorang pujangga. Yang periang, yang pendiam berubah seketika bisa menyusun kalimat yang memukau. Mungkin saja, itu adalah rangkaian kalimat terbaik yang pernah dibuat dalam hidupnya. Yang tidak suka nulis, jadi tergerak menulis. Bahkan, terdorong belajar bisa menulis lebih baik meski sekadar untuk kepentingan menulis surat cinta. Jatuh cinta membuat seseorang jadi aktif menulis dan merangkai kata-kata indah.

Itulah sebabnya, aku belajar menghargai surat-surat yang datang. Sebab, mungkin saja saat ia menuliskan surat itu disertai keringat yang mengucur deras, pontang-panting mencari referensi dan bela-belain ‘semedi’ berhari-hari, he-he-he. Betapa kecewanya, ketika telah menjadi sebuah hasil karya, tiba-tiba ‘dimusnahkan’ begitu saja. Hmm… ya, itu pasti mengecewakan. Bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan. Sangat melelahkan. Apalagi jika disertai goresan kekecewaan atas hasil karya yang dimusnahkan secara ekstrem. Baiklah, aku belajar menghargai. Yang lolos seleksi dan tidak lolos seleksi suratnya sama-sama kubundel. Dari mulai surat yang terharum hingga yang tak ada aroma wangi sama sekali. Dari tulisan terbagus hingga yang seperti tulisan resep dokter, kubundel menjadi satu. Ya, hitung-hitung latihan menjadi seorang redaktur sebelum menjadi redaktur yang sebenarnya. Pasti mereka tidak mengira, jika suatu hari nanti aku akan menjadi seorang redaktur betulan, he-he-he…

Menghargai karya orang lain itu ternyata menyenangkan. Kita tidak akan ‘semena-mena’ mengatakan jelek pada hasil karya orang lain. Sebuah karya dihasilkan pasti melalui proses perjuangan. Mengerahkan tenaga dan pikiran. Kita juga tidak membuka peluang untuk bermusuhan. Karena bermusuhan, tidak menciptakan suasana yang nyaman dan melemahkan semangat. Oh, kejamnya diriku saat ‘melenyapkan’ hasil karya oranglain dengan cara ekstrem. Bagiku, itu sebuah pelajaran saja. Kini setelah berkutat dengan banyak naskah di dapur naskah FAM Indonesia, aku berusaha ‘menebus’-nya dengan cara menghargai setiap karya orang lain (edisi pertobatan he-he-he).

Dari tulisan ini, aku hanya ingin mengatakan kepada sahabat FAM mari kita sama-sama belajar menghargai tulisan orang lain. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan dalam tulisannya. Kita saling mendorong untuk terus belajar dan belajar.

FAM juga merindukan ‘surat cinta’ dari sahabat FAM semua. Biasakanlah mengirim naskah ke email FAM disertai surat pengantar dengan menggunakan bahasa surat, bukan gaya tulisan SMS yang cenderung menyingkat-nyingkat kata. Membaca surat pengantar dari sahabat FAM semua, rasanya seperti bernostalgia. Kembali ke zaman di mana belum mengenal handphone dan facebook. Insya Allah kali ini, surat-surat tersebut akan sangat dihargai. Tidak dimusnahkan secara ekstrem seperti zaman SD dulu, he-he-he. Ayo biasakan mengirim surat pengantar, saat mengirim naskah ke email FAM.

Salam santun, salam karya.
SEKJEN FAM

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…