• Info Terkini

    Monday, August 27, 2012

    Membaca Hafney Maulana: Kumpulan Puisi “Ijab Kabul Pengantin”

    Oleh Jendela Sajak

    Setelah tenggang antisipasi beberapa waktu, akhirnya buku puisi seorang sahabat lama, Hafney Maulana, sampai ke tangan saya. “Ijab Kabul Pengantin”, FAM Publishing, Kediri, Agustus 2012. Dalam buku mungil yang bertampilan manis itu terdapat 72 sajak Hafney; yang dikelompokkan ke dalam dua bagian, Seruling Jiwa dan Risalah Takdir. Buku itu pun dilengkapi kata pengantar tentang bagaimana ia melihat puisi, kekuatan dan pengaruhnya, bahkan tenaganya sebagai “panah” dakwah. Senang hati saya membaca sajak-sajak penyair yang telah saya kenal sejak lama itu.

    Catatan ini pun hanyalah sebuah apresiasi singkat yang sederhana yang tidak berniat menyebut-mengutip teori sastra apa pun [apalagi kalau hanya secara kategoris]. Saya memang memiliki bias dalam membaca sajak-sajak Hafney, tetapi itu justru merupakan hal yang menyenangkan bagi saya. Saya memang telah mengenalnya sejak lama dulu, akhir 1980an, ketika masih mahasiswa dan asyik berpuisi, walau pun kemudian setelah tamat hanya bersentuhan dengan beberapa sajaknya yang termuat di media-media online; dan belakangan, facebook. Kendati demikian, saya selalu merasa menangkap sosoknya yang sama itu; yang lembut, hemat, menyerap ke dalam, selalu dengan ekspresi yang terukur. Paling tidak, begitulah saya melihatnya.

    Dalam kumpulan sajaknya itu, Hafney lengkap menampilkan serba-serbi yang menjadi hirauannya. Warna-warna introspeksi vertikal dan horisontal, kegelisahan dan keprihatinan, pengembaraan jiwa (musafir, peziarah) , juga peluahan rasa-rasa. Dalam kumpulan sajak itu, ia akrab dengan ekspresi kehambaan yang seluruhnya tak lain adalah berdasar ketentuan Dia---“jadi maka jadilah”; wirid, kasidah, tasbih, alif batanya. Mawar-mawar, dermaga, burung dan waktu-waktu malamnya; ekspresi kritik keprihatinannya lewat etalase kehidupan zaman, kursi, dasi, parfum impor, layar komputer, menghadirkan fenomena peminggiran yang akrab terpampang dalam wajah bangsa kita ini, lokal dan nasional. Ijab kabulnya Hafney, selain jalinan pasangan rambut, juga membawa kelahiran sebagai tanggung jawab; nasihat kepada anak, estafet kehidupan dari ibu sampai ke cucu. Selalu tak meledak-ledak, melainkan rangkaian ekspresi yang lebih lembut dan terukur, meski tampak jelas upaya untuk menjaga hakikat kedalaman makna-maknanya.

    Dalam buku itu, jika harus dipilih tiga sajaknya yang paling saya sukai adalah, “Sepasang Terompah”, “Puisi yang Lahir dari Telinga”, dan “Wirid Rumput”. Sajak yang disebut pertama sudah saya baca beberapa tahun yang lalu, tetapi tetap melekat di ingatan saya. Secara asosiatif, sajak itu dan Hafney seperti menyatu. Barangkali, sebelum Anda berkesempatan membaca bukunya secara lengkap, baik saya kutipkan sajak itu di sini untuk melengkapi. Apalagi, sajak ini pun telah diumumkan di salah satu media online jauh sebelumnya.

    SEPASANG TEROMPAH

    [Hafney Maulana]

    Sepasang terompah yang kau pakai dulu
    kini rapuh berdebu menunggu jejak kita
    yang ditinggalkan peziarah mengusung
    deritanya

    Sepasang terompah yang kau pakai dulu
    bagai seorang remaja merenung gadisnya
    menemukan mimpi yang tak habis-habis
    membangun kemegahan
    yang tersengal dalam derita

    Sepasang terompah yang kau pakai dulu
    pucat bagai bibirmu—mencemburui warna
    pada bingkai kaca
    tempat kita berdarah di dalamnya

    Bagi saya, sajak ini sangat menawan. Bukan saja karena tergambarkannya dengan baik kontradiksi hidup yang sangat lazim menjadi hirauan penyair mana pun, tetapi karena pengungkapannya yang menjadi khas, apalagi dengan penggunaan kata “terompah” yang membekaskan jejak lokal. Ia melekat (stick). Demikian pula pada sajaknya “Wirid Rerumputan”, ia melekat pada ingatan saya karena wirid gemulai rumput-rumput “bagai kumpulan orang-orang sufi” yang akhirnya menjadi “hening” sebagai “saksi” “abadi”.

    Pun pesan-pesan kepada anaknya, saya garisbawahi: bahwa hidup sangat sementara, “hanya melintas”, dan apabia tersesat, “bakarlah kesesatan..” itu lalu “bacalah”. Estafet kehidupan ia gambarkan dengan ekspresi ikan teri yang kini telah menjadi ikan kakap yang disantap anaknya [Kuingin Kau Menyaksikan Jerih Payahmu, Ibu]. Tentang tomat yang tumbuh rimbun di matanya, Hafney dengan manis membulatkan sebuah makna yang dalam: “Jika kau memetik tomatku/Maka kau pun telah memetik hatiku/Itu pun kalau kau tahu”. Baris yang terakhir itu yang paling saya nikmati, karena ia secara pas mengatakan kesederhanaan dan kerendahan hati; hidup yang tak perlu ria mengaku-ngaku. Itu Hafney yang saya tahu.

    Memang hanya terbatas jumlah sajak yang tampil dalam buku Ijab Kabul Pengantin Hafney Maulana ini. Kendati demikian, sebagaimana penyair umumnya, apalagi yang telah cukup lama bergelut dengan puisi, Hafney pun melakukan eksperimentasi, meski tidak meledak-ledak. Ia menuliskan sajak pendek berjudul panjang tentang nasib negeri melalui metafora lancang kuning; juga ironi luka hati yang “[men]eteskan tawa”. Sajak “Tawuran”-nya pun mengasyikkan: adu ayam dan kematian yang ringkas. Tentu masih sekian lagi.

    Buku Hafney ini dicetak dengan baik oleh FAM Publishing; memang, masih ada beberapa salah cetak, hal-hal tipografis, dan lainnya. Sayangnya, semua sajak dalam buku ini tidak diberi marka waktu, sehingga tidak dapat dilacak kurun waktu penulisannya. Namun, tidak ada yang mengurangi makna dalam menikmati buku kecil penyair dari Indragiri ini. Membacanya, seakan ingin rasanya terbang menjadi burung untuk sekedar menikmati secangkir kopi memandang sungai Indragiri, dengan sahabat seperti Hafney. Lalu membaca puisi; dan berbincang-bincang tentang keseharian hidup, sesuatu yang sederhana, tetapi sangat melekat di hati saya.***
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Membaca Hafney Maulana: Kumpulan Puisi “Ijab Kabul Pengantin” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top