• Info Terkini

    Friday, August 17, 2012

    Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriyah

    Sahabat semua, di penghujung Ramadhan ini saya mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri.” Sebagai manusia yang tidak luput dari salah, saya menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin. Baik kepada teman di dunia nyata atau yang tersambung melalui dunia maya.

    Kata “maaf” memang seharusnya tidak menjadi buah bibir pada akhir Ramadhan saja. Kata “maaf” harus selalu menyertai setiap langkah kita setiap saat. Membiasakan diri meminta maaf dan memaafkan kesalahan oranglain, harus menjadi ciri seorang muslim. Tidak berat, gengsi dan malu saat mengakui kesalahan yang diperbuat, lalu meminta maaf. Saling memaafkan itu akan melegakan kedua belah pihak. Hubungan kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan akan semakin baik. Saling menghargai, saling menjaga untuk berhati-hati dalam bersikap.

    Perbuatan salah terhadap sesama manusia yang mungkin kita lakukan setiap hari, lalu “dikumpulkan” dalam jangka waktu setahun. Menunggu Idul Fitri tiba, barulah bermaaf-maafan. Sebab, bermaafan pada momen tersebut dianggap seolah tanpa beban dan semua orang maklum. Pasti bukan bermaafan seperti itu, hakikat dari bermaafan dalam Islam. Untuk meminta maaf atas kesalahan, bukan menunggu setahun. Setiap kita melakukan kesalahan, mohon ampunlah pada Allah. Berjanji tidak akan mengulangi lagi dan merasa menyesal. Jika kesalahan itu ada kaitan dengan sesama manusia, maka ketika telah menyadari bahwa perbuatan itu salah, segeralah meminta maaf. Besok atau lusa, belum tentu ada waktu di sisa umur kita.

    Euforia mudik di hari raya, mewarnai berakhirnya Ramadhan di negeri ini. Apakah itu melestarikan tradisi atau dengan niat bersilaturahim kepada keluarga di kampung? Hari raya menjadi momen berkumpul yang tepat bagi setiap keluarga. Semua orang tentu bermaksud untuk silaturahim, menyambung hubungan yang lebih baik dengan keluarga, kerabat dan handai taulan. Atau dalam rangka menyambut seruan-Nya yang termaktub dalam Alquran surat An-Nisa ayat 36-40: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri….”

    Keutamaan dan janji Allah terhadap orang yang rajin bersilaturrahim:

    1. Dijamin rejekinya tambah luas.
    2. Tidak akan menemui masa-masa sulit.
    3. Menjadi hamba yang selalu dekat dengan Allah SWT.
    4. Akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beriman pada Allah dan hari akhir.
    5. Akan diperbanyak keturunannya.
    6. Allah SWT akan menyambung dengan dirinya.
    7. Akan dimakmurkan negaranya.
    8. Termasuk ahli surga.
    9. Segera mendapat balasan (pahalanya disegerakan di dunia).

    Mungkin dalam benak kita sering timbul pertanyaan, tiap tahun euforia mudik (silaturrahim) di negeri ini demikian dahsyat, tetapi mengapa rakyat negeri ini tetap berada dalam kondisi kekurangan secara ekonomi? Tak ada tanda-tanda seperti yang dijanjikan Allah di atas. Pasti banyak faktor yang harus menjadi bahan koreksi secara berjamaah.

    Salah satu faktornya adalah konsep silaturahim yang kita jalankan kurang tepat. Lebih terkesan formalitas belaka. Sekadar “say hello.” Sekadar kata “maaf” di lisan, tapi tidak disertai keikutsertaan hati secara total. Apalagi jika tujuan mengunjungi saudara atau teman itu, diwarnai dengan niat untuk mengambil manfaat. Semakin jauhlah dari prinsip silaturahim yang sesungguhnya.

    Sejatinya, dalam melakukan silaturahim tersebut kita berusaha mencapai derajat amal saleh. Sebab, inti silaturahim adalah ikhlas, peduli menolong sesama dan amar ma’ruf nahi munkar.

    Sahabat, mari kita saling peduli. Saling memberi manfaat, bukan mengambil manfaat. Kita bersama-sama belajar menjalankan silaturahim yang sesungguhnya, agar keutamaan yang dijanjikan Allah bisa kita rasakan dalam kehidupan kita.

    Salam santun, salam karya!

    Aliya Nurlela
    Sekjen FAM Indonesia
    www.famindonesia.blogspot.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriyah Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top