• Info Terkini

    Saturday, August 25, 2012

    Menulis, Belajar dari Alam

    BELAJAR DARI ALAM
    Oleh Muhammad Subhan*)

    “Alam terkembang jadi guru”, demikian filosofi Minangkabau yang cukup populer. Artinya, alam memberikan banyak inspirasi kepada kita untuk belajar. Alam adalah guru paling bijaksana, ia selalu memberi, tidak suka memarahi, apalagi membenci.

    Nabi Ibrahim a.s., ketika mencari Tuhan, ia melihat bulan purnama yang bersinar terang di malam hari. Ibrahim menganggap bulan adalah Tuhan karena memberi penerangan di tengah gelapnya malam. Namun, ketika pagi datang menjelang, kemudian matahari terbit dengan sinarnya yang lebih terang benderang, kesimpulan Ibrahim pada bulan berubah, kemudian menganggap matahari itulah Tuhan yang maha besar.

    Apa yang diharapkan Ibrahim pada matahari ternyata tidak memberi kepuasan batin kepadanya tentang Tuhan. Sebab, ketika senja datang menenggelamkan matahari, Ibrahim pun berpikir mustahil Tuhan menghilang. Masa-masa pencarian Tuhan ini membawa Ibrahim pada pergulatan pemikiran yang sangat panjang. Lalu sampailah ia pada suatu kesimpulan bahwa apa yang dilihatnya itu adalah benda-benda yang memiliki Pencipta (Khaliq) yang tak bisa dilihat, tak bisa digambarkan bentuknya, namun bisa dirasakan keberadaannya. Pencipta (Khaliq) inilah yang menjadi tujuan pencarian Ibrahim. Tuhanlah yang menciptakan alam yang luas dan indah ini.

    Alam menyimpan banyak misteri yang belum mampu dituliskan dan terungkap oleh pemikiran manusia yang terbatas. Gunung-gunung yang tinggi, bentangan samudera luas nan dalam, sungai yang panjang berliku, hutan belantara lebat, adalah bagian dari alam yang sampai saat ini selalu menjadi inspirasi manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptakannya. Belajar menulis dari alam adalah sarana efektif yang banyak mengantarkan penulis-penulis besar dunia pada puncak kesuksesan.

    Sebagian besar penemu yang telah merubah dunia ini menjadi zaman baru bukanlah mereka yang menyandang gelar kesarjanaan di pundaknya. Tapi mereka yang berjuang keras menemukan sesuatu yang belum terpikirkan dan diproduksi sebelumnya oleh manusia lain di dunia ini. Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Issaac Newton, dan sederetan nama besar penemu lainnya adalah mereka yang telah mengukir sejarah kesuksesan dengan tinta emas. Sebagian besar di antara mereka menuliskan apa yang mereka pikir dan mereka temukan hingga kita nikmati hasilnya hari ini.

    Imam Al Ghazali dalam nasihatnya berkata, “Berjalanlah kamu di atas dunia ini, maka banyak yang akan kamu lihat”. Artinya, semakin banyak yang dilihat akan banyak pula yang diketahui. Nasihat tokoh sufi Islam ini akan mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan bahwa semakin banyak yang kita ketahui semakin banyaklah yang akan kita tulis. Penasaran, rasa ingin tahu, adalah sifat positif yang dimiliki seorang manusia. Jika sifat ini dipupuk dan dimenej sedemikian rupa akan mengantarkan kita pada suatu penemuan baru yang spektakuler dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sifat penasaran mengajak orang untuk berpikir ada apa dibalik keingintahuannya itu. Sehingga berproseslah manusia ke arah pencarian dan penemuan-penemuan yang membuahkan hasil memuaskan bagi kemaslahatan manusia.

    Konsep “orang bisa kenapa kita tidak” memang harus ditanamkan pada diri setiap individu yang ingin maju. Orang gagal dalam kehidupannya sehari hanya membutuhkan waktu 24 jam. Demikian juga orang sukses dalam hidupnya sehari juga membutuhkan waktu 24 jam. Mana yang akan kita ambil dari dua pilihan itu? Yang pasti, alam adalah sumber yang tidak pernah kering untuk digali bila kita ingin terus belajar kepadanya. Wallahu a’lam.

    *) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, berdomisili di pinggiran kota Padangpanjang, Sumatera Barat
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menulis, Belajar dari Alam Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top