• Info Terkini

    Friday, August 17, 2012

    Menulis Itu Butuh Proses, Jangan Pernah Menyerah Apalagi Kalah


    Oleh: Muhammad Subhan*)

    Saya mempunyai seorang ibu—yang ketika itu—pemarah. Dia paling tidak suka mendengar suara ‘tak-tik-tuk’ mesin tik tua ketika hasrat menulis saya tiba-tiba datang tidak diduga. Untuk menghargai perasaan ibu, kadang saya harus sembunyi-sembunyi di sudut rumah agar orang tua saya itu tidak mengetahui atau mendengar saya lagi menulis, tepatnya mengetik tulisan.

    Ya, begitulah ibu saya. Tapi dia adalah seorang ibu yang baik dan sangat penyayang kepada anak-anaknya. Mungkin, ketika itu ibu belum tahu apa manfaat dari pekerjaan saya menulis, yang akhirnya sekarang—setelah kebutuhan keluarga saya yang memenuhinya—ibu menikmati hasil jerih payah saya dari menulis. Alhamdulillah.

    Saya menulis sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Hampir setiap hari saya iseng ‘nongkrong’ di depan toko koran di dekat rumah hanya sekadar membolak-balik isi koran/majalah terbitan terbaru yang saya lihat. Tak jarang saya dimarahi si pemilik toko karena tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi tokonya. Kalau sudah begitu, saya cuma bisa nyengir mencibir lalu kabur terbirit-birit kemudian datang ke toko buku lainnya yang menjual majalah atau koran. Begitulah hari-hari saya jalani. Belasan tahun silam di Aceh.

    Sewaktu SMP, saya pernah di ‘demo’ teman-teman sekolah karena ketika itu saya menolak menjadi pengurus Majalah Dinding (Mading). Tapi karena diiming-imingi akan didukung menjadi ketua OSIS, akhirnya saya terima juga tawaran itu (he-he-he…). Ternyata setelah menjadi pengurus mading, saya semakin jatuh cinta kepada dunia tulis menulis.

    Proses menulis saya bermula ketika saya dibawa merantau oleh orang tua ke Nanggroe Aceh Darussalam. Dua puluh tahun silam. Di negeri Tanah Rencong itu saya selalu mengirim tulisan ‘iseng-iseng’ ke koran Harian Serambi Indonesia, surat kabar terbesar di Aceh grup Kompas. Namun, setiap kali saya kirim setiap kali pula saya harus “berbangga” karena tulisan saya TIDAK PERNAH DIMUAT! Alhamdulillah.

    Meski demikian, saya tidak menyerah. Lalu akhirnya saya terus berproses. Kalau tidak salah ingat, tulisan pertama yang saya buat hanyalah sebuah puisi satu bait berjudul “Tua”. Lalu saya coba menulis cerpen perdana berjudul “Ketika Merpati Itu Pergi”. Cerpen remaja bertema cinta. Ya, maklumlah ketika itu saya masih ABG—Anak Baru Gede. Cerpen-cerpen saya berikutnya mengisahkan tentang “aku, dia, dan kita”, cerita kehidupan remaja yang baru mengenal dunia. Walah, Mak!

    Usai menulis puisi dan cerpen yang tak dimuat-muat koran, akhirnya saya coba menulis artikel yang kata orang susah. Ketika itu saya tidak mengerti bagaimana menulis artikel. Ya, lalu saya coba menyadur sebuah cerita bergambar (cergam) berjudul “Dajjal”, yang saya robah judulnya menjadi “Menyingkap Makna Dajjal”. Iseng lagi saya kirim ke koran yang berkantor di Banda Aceh. Eh, entah kebetulan entah tidak, artikel saya itu dimuat, setengah halaman koran. Sungguh luar biasa!

    Duh, senangnya saya ketika itu. Artikel itu saya kliping dan saya perlihatkan (tepatnya pamer) kepada siapa saja yang saya kenal. Ada yang memuji, ada pula yang cuma tersenyum tanpa arti. Katanya, “baru sekali saja tulisan dimuat senangnya se-dunia.” He-he-he. Belum tahu dia, saya akan menjadi penulis terkenal kelak, he-he-he, amin!

    Setamatnya dari sekolah menengah, saya coba melamar kerja menjadi wartawan. Ketika itu saya tidak lagi tinggal di Aceh, saya telah hijrah ke Padang, Sumatera Barat. Lamaran yang saya kirim ke kantor media tidak diterima. Ditolak mentah-mentah. Alasannya saya masih muda, begitu jawaban pemimpin redaksi koran tempat saya ajukan lamaran. Tetapi saya tak menyerah, saya terus menulis. Ranah Minang gudangnya penulis Nusantara. Di Ranah Minang itu saya banyak belajar kepada siapa saja. Dan, saya terus menulis, sambil mengirimnya ke media-media lainnya di Padang.

    Lalu, saya coba melamar lagi menjadi wartawan sambil mencoba menyelesaikan kuliah. Ada beberapa koran mingguan yang menerima saya bekerja sebagai wartawannya. Namun saya tidak betah. Ternyata jadi wartawan itu susah. Gaji minus. Tapi saya tetap tidak menyerah. Meski kadang makan kadang tidak, saya tetap jadi wartawan. Lalu, saya mulai “bermeditasi”, merenung-renung, saya ini mau jadi apa sebenarnya. Hasil dari perenungan itu saya disuruh tetap jadi penulis (mungkin sudah nasib saya, ya!). Ya, kalau begitu saya harus siap-siap lagi untuk tidak makan—walau sekarang makan saya paling banyak di rumah, ha-ha-ha …). Tapi, setelah menjadi wartawan benaran, saya merasakan indahnya dunia wartawan itu.

    Saya tidak pernah membayangkan bisa menyinggahi kota-kota besar di Indonesia bahkan mancanegara—walau sekadar ditugaskan meliput bersama rombongan pejabat, khususnya wakil rakyat di DPRD yang suka kunker sana sini, yang katanya menghambur-hamburkan uang rakyat (Wah, kalau begitu saya ikut juga kena getahnya tuh). Mengunjungi negeri-negeri orang yang jauh, saya merasakan banyak menemukan hal-hal baru yang mungkin saja belum tentu saya dapatkan jika bekerja pada profesi lain. Semuanya itu saya nikmati, dalam proses menemukan jati diri.

    Saya juga banyak belajar dari berbagai nara sumber yang saya temui. Dari kelas pejabat hingga kelas rakyat. Dan yang terpenting, lewat dunia wartawan saya punya banyak kawan, banyak ilmu, dan juga mudah-mudahan akan banyak uang (amin lagi).

    Di samping menjadi wartawan “kecil-kecilan” (ya, karena ketika itu gaji saya memang sangat kecil, he-he-he…), saya juga semakin aktif menulis artikel, puisi dan cerpen-cerpen yang saya kirim ke berbagai media di luar Sumatera Barat. Honornya lumayan walau hanya sekadar untuk membayar utang, hi-hi-hi...

    Setelah belasan tahun jadi wartawan, teknik menulis saya rasakan semakin matang. Setelah menulis puisi dan cerpen, sekarang saya coba fokus menulis novel. Kata orang akan jadi novelis. Ah, entahlah, saya tak penting soal istilah. Yang terpenting bagi saya adalah menulis dan terus menulis. Ketika novel saya “Rinai Kabut Singgalang” terbit di Jogja (2011), terjadi lagi sesuatu yang menakjubkan dalam hidup saya. Yang paling menonjol, saya kedatangan kawan-kawan baru khususnya pembaca novel itu. Walau saya anggap novel itu biasa-biasa saja, tetapi alhamdulillah cukup mendapat apresiasi dari pembaca (sssttt… sedikit promo, nih!). Ini sudah merupakan kepuasan batin yang tiada terkira. Berkat novel itu pula, saya dapat mengunjungi daerah-daerah yang belum pernah saya datangi, hanya sekadar diundang untuk acara bedah buku. Ah, menulis yang membawa berkah. Tentu juga ibadah.

    Ya, begitulah tentang proses saya punya hasrat menulis yang tinggi. Kadang saya harus betah duduk berlama-lama di depan komputer hanya untuk mengharapkan ide datang lalu dapat saya tuliskan menjadi sebuah karya yang bermanfaat. Semuanya benar-benar memuaskan dan tidak akan pernah saya dapatkan jika saya tidak menulis atau bekerja pada profesi lain, taruhlah sebagai pedagang misalnya. Teman saya yang punya toko, mulai dari pagi kerjanya cuma buka toko lalu sore tutup toko—mungkin seperti itu tidak bisa saya lakoni. Saya merasa hidup demikian sungguh stagnan. Jalan ditempat walau bisa saja banyak uang. Tetapi dengan menulis, saya telah membuktikan saya dapat pergi kemanapun yang saya suka, dan semoga saja mampu ke puncak Everest bersama FAM Indonesia. Amin…

    Begitulah, sesungguhnya saya orang bebas, tidak suka diintervensi, apalagi dalam tulisan-tulisan saya. Saya mau tulisan-tulisan itu mengalir apa adanya, seperti air. Dan, apakah orang juga menikmati atau tidak, ya saya juga tidak tahu. Itu sepenuhnya urusan pembaca. Kalau ada yang mengatakan tulisan saya buruk, ya buruklah. Sebaliknya bila ada yang mengatakan bagus dan bermanfaat, alhamdulillah, semoga bernilai ibadah. Apresiasi apapun yang saya peroleh dari pembaca, semuanya saya syukuri. Sebab Tuhan masih mengizinkan jari tangan saya ini bergerak untuk terus menulis. Insya Allah, semoga sampai kapan pun akan terus begitu. Amin. ***

    [Tulisan ini sekadar motivasi untuk sahabat-sahabat penulis pemula yang sering jenuh ketika menulis. Jangan menyerah. Tulisan Anda hari ini, kelak, akan menjadi bagian dari lembaran sejarah kehidupan Anda sebagai penulis dunia, amin]

    *) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, berdomisili di kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Indonesia

    Sumber: www.famindonesia.blogspot.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menulis Itu Butuh Proses, Jangan Pernah Menyerah Apalagi Kalah Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top