• Info Terkini

    Saturday, August 11, 2012

    Penggunaan Tanda Titik Koma, Titik Dua, Tanda Hubung dan Tanda Pisah

    Sahabat FAM, berikut ini sedikit panduan penggunaan tanda titik koma (;), titik dua (:), tanda hubung (-) dan tanda pisah (–, —) yang tentunya telah dipelajari bersama sejak duduk di bangku SMP dan SMA. Remeh memang, tetapi bila menganggapnya sepele maka akan berakibat fatal bila salah penggunaannya dalam tulisan. Mari kita cermati bersama di mana saja penempatan tanda baca itu.

    A. Tanda Titik Koma (;)

    1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

    Contoh:
    Malam makin larut; kami belum selesai juga.

    2. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

    Contoh:
    Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.

    B. Tanda Titik Dua (:)

    1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.

    Contoh:
    Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
    Fakultas itu mempunyai dua jurusan: Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.

    2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

    Contoh:
    Ketua: Borgx
    Wakil Ketua: Hayabuse
    Sekretaris: Ivan Lanin
    Wakil Sekretaris: Irwan Gatot
    Bendahara: Rinto Jiang
    Wakil bendahara: Rex

    3. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

    Contoh:
    Borgx: "Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Wikipedia!"
    Rex    : "Siap, Boss!"

    4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan.

    Contoh:
    (i) Tempo, I (1971), 34:7
    (ii) Surah Yasin: 9
    (iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.

    5. Tanda titik dua dipakai untuk menandakan nisbah (angka banding).

    Contoh:
    Nisbah siswa laki-laki terhadap perempuan ialah 2:1.

    6. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
    Contoh:
    Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

    C. Tanda Hubung (-)

    1. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

    Contoh:
    anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan

    2. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

    Contoh:
    p-e-n-g-u-r-u-s
    8-4-1973

    3. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.

    Bandingkan:
    ber-evolusi dengan be-revolusi
    dua puluh lima-ribuan (20×5000) dengan dua-puluh-lima-ribuan (1×25000).
    Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang ramah

    4. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital; (b) ke- dengan angka, (c) angka dengan -an, (d) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (e) nama jabatan rangkap.

    Contoh:
    se-Indonesia
    hadiah ke-2
    tahun 50-an
    ber-SMA
    KTP-nya nomor 11111
    sinar-X
    Menteri-Sekretaris Negara

    5. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

    Contoh:
    di-charter
    pen-tackle-an

    D. Tanda Pisah (–, —)

    1a. Tanda pisah em (—) membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan khusus di luar bangun kalimat.

    Contoh:
    Wikipedia Indonesia—saya harapkan—akan menjadi Wikipedia terbesar.

    1b. Tanda pisah em (—) menegaskan adanya posisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih tegas.

    Contoh:
    Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

    2a. Tanda pisah en (–) dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan atau di antara dua nama kota yang berarti 'ke', atau 'sampai'.

    Contoh:
    1919–1921
    Medan–Jakarta
    10–13 Desember 1999

    2b. Tanda pisah en (–) tidak dipakai bersama perkataan dari dan antara, atau bersama tanda kurang (−).

    Contoh:
    dari halaman 45 sampai 65, bukan dari halaman 45–65
    antara tahun 1492 dan 1499, bukan antara tahun 1492–1499
    −4 sampai −6 °C, bukan −4–−6 °C

    [sumber: http://id.wikipedia.org]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Penggunaan Tanda Titik Koma, Titik Dua, Tanda Hubung dan Tanda Pisah Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top