• Info Terkini

    Sunday, August 26, 2012

    Profil Anggota FAM Indonesia: Nur Syamsudin (Semarang)


    "Anggota Pertama yang Terbitkan Buku di FAM Publishing”

    Lahir di Semarang, 30 September 1988. Alumnus SMA Negeri 3 Semarang pada tahun 2006, yang kemudian lulus dari D III Akuntansi Pemerintahan, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Jakarta pada tahun 2009. Selama berkesempatan merantau di STAN, ikut serta menimba ilmu di Ma’had Tarbiyah Masjid Baitul Maal dan mengikuti kelompok mentoring (halaqah). Setelah lulus dari STAN, Allah mengamanahkan predikat ‘pelaksana’ pada salah satu kantor Kementerian Keuangan di Jakarta. Mengiringi waktu senggang selain bekerja, bergabung sebagai mahasiswa S1 Akuntansi di ABFII PERBANAS (Institut Keuangan Perbankan dan Informatika Asia) dan santriwan di Forum Halaqah Quran An Nashr.

    Sejak kecil Nur Syamsudin sudah bermain-main dengan imajinasi. Menggambar di lantai sewaktu belum sekolah, mengarang komik sewaktu SD, hingga melamunkan hal-hal yang berbau cerita dan kisah anak-anak. Sempat terinspirasi dengan sebuah penyakit jiwa bertajuk ‘schizophrenia’, sampai-sampai terkadang menyebut diri sebagai ‘schizy’ karena bermunculannya tokoh-tokoh cerita yang diciptakan, tetapi selalu gagal di-komik-kan dan dieksekusi dalam wujud penceritaan panjang lebar. Alhasil, semua inspirasi dengan berbagai tokoh-tokoh imajinernya mengendap di pikiran sembari tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.

    Di STAN, dengan ‘aura’ pesantrennya melalui berbagai organisasi dan kepanitiaan, diakuinya benar-benar menyejukkan hati, menempa ketakwaan dirinya, bahkan meminimalisasi pergerakan imajinasinya. Puncaknya, adalah berkembangnya minat dan bakat menulis di tingkat 3 (semester 5), di mana aktivitas non-kampus sudah berkurang, dialihkan pada penumpahan imajinasi ke blog, bervisikan harapan ‘semoga bisa menulis tugas akhir perkuliahan dengan lancar’.

    Pada semester 6, karya tulis pertamanya dibukukan bertemakan Akuntansi Perpajakan.  Tetapi euforia menulis ternyata belum mau berhenti. Masa tunggu penempatan kerja, dimanfaatkannya untuk menempa ‘pembiasaan’ menulis. Termasuk ketika magang di satu kantor, dengan terpaksa mengikutkan kata hatinya untuk menulis, lebih tepatnya; ketidakterimaan suasana kantor yang materialistis membuat hati merespon tangan untuk menulis.

    Dari sini, muncullah judul cerpen “Kecamuk Hati” yang cukup menggemparkan rekan-rekan seangkatannya. Ia ingat salah satu komentar mereka; “Membaca cerpenmu membuatku menjadi ogah makan.”

    Sejak itulah, muncul perasaan pada dirinya bahwa menulis itu laksana membawa pedang bermata pena, menerabas segala ketidakbenaran, menjunjung tinggi-tinggi nilai kebenaran, meninggikan kalimatullah (kala itu, visualisasinya; seorang Abu Dujanah yang diamanahi pedang dari Rasulullah SAW, kemudian merangsek ke barisan depan pasukan musuh dalam Perang Badar Kubra).

    Selalu ingin menulis sambil mengikutkan hati; menangis sambil menulis, tertawa sambil menulis, emosi sambil menulis, sedih sambil menulis. Hingga akhirnya, mustahil menulis tanpa hati. Oleh karena itu, mencoba menghidupkan SOP (Standard Operating Procedure) bahwa sebelum menulis, perlulah menundukkan ruhiyah dengan ketaatan, entah itu wudhu, membaca Quran, maupun shalat. Tujuannya tidak lain adalah meraup barakah-Nya, agar tulisan yang lahir berbobot dan mendapatkan keridhaan-Nya, rahmat-Nya, dan berkah-Nya.

    Tentunya ia berharap berkah yang datang, setelah bergabung dengan Forum Aktif Menulis (FAM). Sebuah forum yang membuat hatinya langsung tertarik karena visi-misi yang diusung sama dengan keyakinannya, yakni da’watu bil qalam; kita berdakwah sambil menulis (bukan menulis sambil berdakwah).

    Tahun 2012, Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk mengemas 12 cerpen bertemakan ‘analogi/permisalan hikmah’ dalam wujud Kumcer “Cermin Cahaya.” Alhamdulilah kumcer ini dinilai pihak FAM Indonesia layak untuk diterbitkan. Yang kemudian diolah dan diterbitkan FAM Publishing pada tanggal 1 Agustus 2012. Kumcer ini menjadi karya pertama dari anggota FAM yang diterbitkan FAM Publishing. Ia juga bersyukur bisa mendapatkan endorsement dalam bukunya dari Ketum dan Sekjen FAM.

    Komentar Ketum dan Sekjen FAM dalam back cover bukunya:

    “Nilai-nilai Ilahiyah banyak terdapat dalam cerpen-cerpen Cermin Cahaya ini. Siapapun yang ingin mendapat kebajikan hidup, selayaknya buku ini dibaca. Teruslah Nur Syamsudin mengeksplorasi tema-tema kehidupan.” ~Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia

    “Kumpulan cerpen ini berisi cerpen-cerpen yang sarat dengan pesan moral. Penulis tidak sekadar menyajikan cerita dalam setiap cerpennya, tetapi sekaligus menyisipkan pesan yang mengandung hikmah. Dakwah bil qalam seperti misi FAM Indonesia, akan terasa sekali dalam kumcer ini.” ~Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia

    Bukunya sudah bisa dipesan sejak tanggal 8 Agustus 2012. Sebuah niat yang mulia, ia bernazar menyedekahkan 20 persen keuntungan dari penjualan buku ini untuk Rumah Quran Bintaro (Rumah Tahfidz Quran) Tangerang Selatan.

    Selain itu, cerpennya yang berjudul, “Buncah Dakwah Dua Amanah” lolos dalam seleksi proyek antologi cerpen Cinta bernilai Dakwah yang digagas FAM Indonesia tahun ini. Ia bersyukur FAM telah memberinya banyak peluang dan mengantarkannya menjadi seorang penulis Islami.

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Profil Anggota FAM Indonesia: Nur Syamsudin (Semarang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top