• Info Terkini

    Thursday, August 16, 2012

    Profil Anggota FAM Indonesia Salmizul Fitria: “Pernah Jadi Kontributor Koran Nasional"

    SALMIZUL FITRIA
    Salmizul Fitria lahir di Ranah, Sumatera Barat pada tanggal 11 Agustus 1986. Ia suka menulis cerita sejak masih sekolah dasar. Ibunya yang seorang petani—yang menurut Salmizul tak tahu tentang cita-cita—suatu hari memberi sebuah buku tebal. Buku tulis yang sudah dijilid, terdiri dari sisa-sisa buku bekas. Sebagian ada yang masih putih, dan sebagian sudah sangat kusam, namun masih kosong. Kulit buku itu berwarna merah. Salmizul menulis apa saja di sana. Mungkin kalau sekarang, orang menyebutnya jurnal. Sayang sekali, Salmizul tak tahu keberadaan buku itu sekarang.

    Namun ketika duduk di bangku MTs dan SMK, Salmizul Fitria yang biasa dipanggil Tia, tak pernah menulis, bahkan tak punya buku diary. Euforia  masa remaja seolah mematikan karakternya. Ia tak menulis, atau sekadar berkeluh kesah pada tulisan hingga semester tiga studi kuliahnya.

    Pada semester tiga ia bergabung dengan Surat Kabar Kampus “Ganto” UNP—Universitas Negeri Padang. Singkat cerita di sana ia belajar banyak dan beransur-ansur menemukan minat dan bakat dirinya. “Ganto” mengajarkan banyak hal kepadanya, tidak hanya tentang tulis menulis tetapi juga tentang “menemukan jati diri” dan kepercayaan diri.

    Ia menulis banyak hal, namun tak semua bisa diterima redaksi dan terbit. Banyak dari tulisan itu yang dikomentari, diedit, lalu hanya tinggal satu paragraf saja yang layak dibaca orang lain. Ia merasa tak berbakat, kecuali pada puisi. Setiap puisi yang ia ajukan, mereka tak berkomentar banyak. Lalu berkat saran teman-teman di “Ganto”, Tia memberanikan diri untuk mengirim karyanya ke media lokal. Sekali dua kali tak terbit, ia tak menyerah. Akhirnya media menerbitkan juga.

    Tulisan pertamanya yang diterbitkan suratkabar lokal berjudul “Autis”, diterbitkan pada kolom Critical U. selanjutnya menyusul beberapa tulisan lain berupa puisi, pada Minggu 24 Agustus 2008. Ada sekitar lima puisi dengan judul Mengurai Sandi-Sandi, 27 April, Esok dan Selalu, Ded.., Ladosa, kemudian menyusul Keahlian atau Sekadar Impian, pada Minggu 7 September 2008, Musuh Tersayang (Teenlit Remaja, 21 September 2008), Cerdasi Cinta (Artikel Remaja, Singgalang 28 September 2008), Sisi Lain Andy Flores Noya (Resensi, Singgalang, 9 November 2008).

    Saat itu selain aktif menulis di koran daerah, ia lebih mengutamakan tugas di Ganto, ia masih aktif menulis berita, atau mengkotribusikan tulisannya, atau bahkan mengurus managemen Ganto. Kebetulan saat itu dipercaya sebagai Kepala Penelitian Dan Pengembangan Manusia. Katanya tak logis bila menjadikan ini alasan untuk tak menulis saat itu, tapi begitulah kenyataanya.

    Tahun 2009 ia menulis lagi, Teenlit Suara Hati Della, menyusul artikel remaja dalam rubrik Gokil, Terpaksa Backstreet. Pernah suatu ketika Surat Kabar Nasional Media Indonesia menewarkannya menulis di Halaman Rostrum dan ia terlibat di dalamnya. Saat itu ia menulis tentang organisasi mahasiswa yang ada di UNP (Media Indonesia, Selasa 13 November 2007), mencoba lagi menulis di Rostrum Media Indonesia, pada tahun 2009, waktu itu ia menulis profil Meiriza Paramitha, junior kecilnya yang sangat ahli di bidang desain. Pada Mei 2009 ia menulis lagi di Singgalang, puisinya dipercaya mengisi kolom Puisi pada halaman Estetika (24 Mei 2009) dengan judul Lihat, Aku dan Egoku, Perajut, Berkhianat, Pasra, Kembali, Patah. Mei 2010 kembali mengisi Rubrik Puisi, pada halaman Estetika Singgalang, dengan judul Kepagian, Perjalanan, Kapuk, 20 Juni.

    Tia juga pernah mencoba mengikuti Kompetisi Penulisan Karya Sastra Tingkat Universitas. Puisinya dengan judul Menunggu: Ladosa dan Ruang Sempit, menjadi salah satu dari lima puisi terbaik dan dibukukan dalam Oase (2009).

    Ada beberapa tulisan yang klipingnya hilang ketika Gempa Sumbar 2009. Tia tak ingat semua. Ia pindah ke kota Pekanbaru dan berdomisili di sana hampir dua tahun lamanya. Selama itu pula ia berhenti menulis. Teman-teman yang masih aktif menulis sering menanyakannya “di koran mana menulis sekarang”, atau “bukunya sudah sampai di mana?” Ia mengemukakan alasan klasik, “Saya tak punya ruang lagi untuk itu, saya tak ada komunitas di sini.” Komentar dari teman-temannya, itu terlalu berlebihan dan Tia dianggap hanya mencari alasan. Tia mengakui dalam hati membenarkan bahwa itu hanya mencari alasan dan intinya ia merasa malas untuk menulis.

    Terakhir ia mendapat tawaran menulis dalam buku Potongan Tangan di kursi Tuhan, Kumpulan Cerpen 25 Penulis Muda Sumatera Barat (terbit 2011). Ia merasa kebiasaan buruknya adalah jarang memeriksa inbox facebook, undangan tersebut terbaca setelah deadline terlewatkan. Dan Tia pun marah pada dirinya sendiri. Ia pun hanya bisa marah tanpa berbuat apa-apa. Sampai akhirnya ia membaca informasi tentang Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, sebuah wadah kepenulisan Nasional yang berpusat di Pare, Kediri, Jawa Timur. Ia tertarik dan ia ingin punya komunitas yang dapat membimbingkan dan saling belajar. Ia ingin belajar lagi dan akan terusn belajar. Ia ingin memberikan sesuatu yang bernilai sejarah kepada orang-orang di sekitarnya.

    [sumber: famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Profil Anggota FAM Indonesia Salmizul Fitria: “Pernah Jadi Kontributor Koran Nasional" Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top