• Info Terkini

    Tuesday, November 13, 2012

    Selepas Kumandang Takbir

    Cerpen Muhammad Subhan*)

    [Terbit di Koran Harian Singgalang, Padang, edisi Minggu, 26 Agustus 2012, beredar Sabtu, 25 Agustus 2012]

    TELAH putih mata Datuk Sulaeman. Telah tampak batas antara dunia dan alam baka. Hanya lisannya saja yang masih berucap kalimat talbiyah, Allah... Allah... Allah... Istri tuanya Syamsiah setia mendampinginya sejak ia jatuh sakit. Istri mudanya telah lama minta cerai, sebab badannya telah ringkih. Di ranjang tua di sudut rumah gadang itulah ia bertarung menghadapi saat-saat ajal menjemput.

    Datuk Sulaeman telah menderita sakit sejak setahun lalu. Tak jelas apa sakitnya. Bermacam obat sudah diberi. Dukun kampung sudah didatangi. Dokter juga telah lepas tangan, tak dapat di akal dunia medis apa jenis sakitnya. Walau tentulah ada sebab sakitnya. Bagi yang tak tahu, direka-reka orang saja sakit yang dideritanya itu sebagai sakit tua. Memang usianya telah memasuki 60 tahun. Tapi sebenarnya belum terlalu pikun bila ia sehat walafiat.

    Syamsiah, istri tuanya itu, dengan tekun dan sabar merawatnya. Menggantikan kain selimut yang basah oleh air kencing suaminya sendiri yang tak dapat lagi pergi ke jamban membuang hajat. Tak ada rasa jijik sedikit pun pada dirinya ketika harus membersihkan kotoran yang berbau tidak sedap. Yang terbayang di matanya hanyalah kenangan indah semasa pertama kali Datuk Sulaeman datang ke rumahnya meminta kesediaannya menjadi istri pendamping hidupnya. Dulu, semasa empat puluh tahun lalu.

    Tidak kepalang tanggung gembira hatinya. Bukan lantaran Datuk Sulaeman orang terpandang dan kaya di kampungnya, tetapi juga semasa muda lelaki itu tampan parasnya. Di tepian mandi ketika mencuci pakaian seringkali ia mendengar gunjingan gadis-gadis remaja seusianya ketika itu yang memuja-muja ketampanan Datuk Sulaeman muda dan sangat suka bila mereka dijadikan istri. Pendek kata, orang berebut ingin mendapatkannya. Untunglah semua harap itu jatuh kepadanya, yang tak disangka-sangka dipersunting oleh pemuda pujaan hati banyak gadis di kampungnya, di kaki Singgalang.

    Tetapi jatuh juga air matanya bila mengenang masa-masa sulit ketika ia harus rela dimadu. Sepuluh tahun lalu. Suaminya tercinta memutuskan kawin lagi, menikahi janda muda kembang kampung yang kematian suami. Andai ia mampu melawan, akan ia tolak keputusan sepihak itu sekuat tenaga. Tapi apa dayanya, ia hanya seorang perempuan lemah yang selama ini taat kepada suami. Doktrin-doktrin agama ketika ia mengaji dulu terpatri kuat di benaknya, seorang istri diwajibkan patuh, tidak boleh melawan. Istri-istri yang taat kepada suami dirindukan surga. Wallahu a’lam, hanya Allah yang tahu perasaan hatinya.

    Sejak menjadi istri tua, sejak itu pula ia melihat perubahan pada diri Datuk Sulaeman. Semuanya telah berbagi. Entahlah itu adil atau tidak. Nafkah lahir batin memang terpenuhi, tetapi lambat laun semakin berkurang. Sehari-hari suaminya itu lebih betah tinggal di rumah istri mudanya. Padahal di rumah anak gadisnya sudah mulai beranjak dewasa. Butuh bimbingan dan kasih sayang ayahnya. Ketika Syamsiah menanyakan itu, Datuk Sulaeman naik pitamnya. Dikatakanlah ia tidak tahu adat, bermacam sumpah serapah. Jauh, jauh sekali apa yang ia lihat sebagaimana mereka awal berumah tangga dulu.

    Sejak beristri muda itu pula, perniagaan Datuk Sulaeman yang berdagang kain mulai menurun omsetnya. Harta yang tersimpan sedikit demi sedikit habis. Semuanya untuk memenuhi hasrat istri mudanya yang ingin selalu tampil cantik di depan orang. Tangan dan leher bergelang serta berkalung emas. Rumah dibuatkan mewah, sementara Syamsiah dan anak gadisnya harus rela tinggal di rumah gadang peninggalan orangtuanya yang telah tiris dinding-dindingnya dimakan usia.

    “Ya Allah, berilah kekuatan dan kesabaran bagi hamba mengadapi ujian-Mu ini...,” doa Syamsiah di setiap habis salat. Tak kuat ia membendung luapan air mata yang jatuh membasahi kedua pipinya. Hanya mengingat wajah putrinya saja ia dapat sedikit berbesar hati bahwa ia tak seorang diri di dunia ini, sementara ayah ibunya telah tiada.

    Sakitnya Datuk Sulaeman telah sampai di penghujung Ramadan. Telah ada tanda-tanda kalau ajalnya semakin dekat. Syamsiah tahu itu. Tapi tetap juga ia besarkan hati suaminya. Dia bacakan ayat-ayat suci Alquran di dekat wajahnya, diciumnya lembut kening suaminya sepenuh kasih sayang. Walau tak dapat lagi melihat, tapi Datuk Sulaeman dapat merasakan apa yang diperbuat istrinya itu. Jatuhlah butiran panas membasahi kedua pipinya yang kian berkerut. Demi melihat air mata itu, ikut menangis pula Syamsiah. Dipeluknya tubuh Datuk Sulaeman, digenggamnya erat kedua tangan orang yang telah membawanya hidup sebiduk mengarungi gelombang kehidupan sejak ia berumah tangga.

    “Hasnah.... Hasnah....” Tiba-tiba terucap dari mulut Datuk Sulaeman, menyebut nama Hasnah dengan patah-patah. Hasnah yang tak lain adalah putrinya sendiri.

    “Abang... oh, abang...” Tak kuat Syamsiah menahan hati demi mendengar nama putrinya itu disebut suaminya. Itulah pertama kali ia mendengar suaminya bersuara setelah berbulan-bulan terbaring diam dalam sakitnya.

    “Hasnah... Hasnah...,” ucapnya lagi dengan suara berat.

    Matanya sekali-sekali terbuka, tetapi terasa berat lalu tertutup lagi. Beberapa kali nama Hasnah disebutnya. Semakin bimbang hati Syamsiah, ke mana putrinya itu hendak dicari? Ia telah lama pergi meninggalkan rumah gadang, lima tahun lalu. Menikah dengan lelaki yang bukan orang kampungnya. Mereka kawin lari, tidak tahu berdiam di kota mana. Entahlah, kenapa ujian yang teramat berat itu menimpa dirinya suami-istri.

    Di mata Datuk Sulaeman sendiri, yang telah payah terbaring itu, terbayang kenangannya di saat ia menimang Hasnah yang masih bayi, baru lahir dari rahim Syamsiah. Sangat gembira hatinya. Ia telah menjadi seorang ayah. Sebelum ia berubah setelah kawin lagi, hari-harinya hanya bersama Hasnah kecil putrinya. Bila Syamsiah bekerja mengurus rumah, ayah dan anak itu bermain di ruang tengah. Kadang ia ajarkan membaca huruf-huruf. Dibentangkannya kitab dan dibimbingnya mengeja alif, ba, ta. Ketika telah sampai masanya sekolah, diantarkannya setiap hari ke gerbang tempat ia menimba ilmu. Tak ada hari dan kegembiraan di hatinya selain bersama Hasnah, putrinya tercinta.

    Kasih sayangnya merenggang ketika ia mulai jarang tinggal di rumah gadang, lebih banyak bersenang-senang di rumah istri mudanya. Sementara Hasnah mulai beranjak menjadi gadis remaja. Hasnah telah duduk di bangku sekolah menengah. Setelah tamat SMA tak sempat ia menyambung kuliah karena tak ada uang diberikan ayahnya yang semakin susah. Sejak itulah ia menjadi gadis pendiam, pemurung dan entah dari mana awalnya mulai mengenal laki-laki. Pernah ia tak pulang dua hari lamanya, katanya pergi ke Padang dibawa kawannya. Cemas hati Syamsiah, sementara Datuk Sulaeman tak tahu perkara itu. Suaminya baru tahu kejadian itu ketika Hasnah memutuskan pergi meninggalkan rumah, katanya hendak mencari kerja ke Bengkulu. Hasnah meninggalkan surat sebelum ia minggat.

    Di saat itulah Datuk Sulaeman baru tersadar kesalahannya selama ini. Ia telah menyia-nyiakan anak semata wayangnya, yang butuh perhatian dan bimbingan. Naik pitamnya. Syamsiah yang menjadi korban. Istrinya itu nyaris babak belur, disumpah-serapahi, disebut tak pandai menjaga anak, bermacamlah kata-kata kotor keluar dari mulutnya. Tersungkur di sudut dapur Syamsiah menanggung segala perasaian hidupnya, anak telah hilang suami bermain tangan pula.

    Dengan segala macam upaya Datuk Sulaeman mengerahkan orang mencari Hasnah. Kata dukun kampung putrinya itu telah menikah dengan seorang lelaki yang bukan seakidah dan dibawa ke Jakarta. Dukun lainnya bilang Hasnah pergi ke Malaysia menjadi TKW. Dicarilah ke Bengkulu, dicari pula ke Jakarta dan Malaysia, tetapi hidup-mati Hasnah tak ada yang tahu.

    Tiga tahun sejak Hasnah pergi meninggalkan rumah, datanglah sepucuk surat. Isinya tentang kabar Hasnah yang menyebut dirinya telah menikah. Diakuinya dengan jujur bahwa suaminya bukanlah lelaki seagama dengannya. Dari buah perkawinan itu pula, telah lahir seorang anak. Dalam surat itu Hasnah memohon ampun dan maaf atas tindakannya yang telah menyusahkan kedua orang tua. Tapi tidak disebutkannya dia tinggal di kota mana.

    Demi membaca isi surat itu, Syamsiah shok. Dia jatuh pingsan berkali-kali. Datuk Sulaeman lebih-lebih lagi, ia harus menanggung aib dan tak kepalang malu di kampung itu lantaran anaknya pergi meninggalkan rumah dan menikah tanpa restunya. Sempat ia membanting-bantingkan kepalanya ke dinding hingga mengucur deras darah segar. Sehari-harinya ia banyak diam, tidur mengigau, dan bila berjalan seorang diri entah apa saja yang disebutkannya. Orang kampung yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.

    Sejak itulah lambat laun Datuk Sulaeman jatuh sakit. Hingga sakit berat dan payah. Istri mudanya tak mau lagi menerima dirinya. Sebab ia telah jatuh miskin hingga akhirnya minta cerai. Syukurlah, Syamsiah sebagai istri tuanya tetap setia mendampinginya, dalam susah dan senang. Ya, hanya Syamsiah yang merawatnya di rumah itu dengan perasaan batin yang teriris-iris lantaran kehilangan anak dan suami yang berat sakitnya.

    “Hasnah... Hasnah...” Datuk Sulaeman melambai-lambaikan tangannya. Meraih-raih sesuatu. Tetapi tak jelas apa yang hendak diraihnya. Syamsiah semakin cemas. Berlari ia keluar rumah. Dipanggilnya sanak famili yang tinggal dekat rumahnya. Banyaklah orang berkumpul di rumah itu. Semua iba melihat peristiwa yang sedih itu.

    Hingga larut malam sehari menjelang lebaran, orang masih ramai di rumah itu. Menunggui kalau-kalau Datuk Sulaeman akan sampai ajalnya. Syamsiah tak habis-habisnya menangis, telah terbayang ia akan menjadi janda dan hidup sebatang kara. Dengan terbata-bata, tetap dibacanya dengan patah-patah Surat Yasin, semoga Allah SWT memberi kemudahan bagi suaminya menghadapi sakaratul maut.

    “Ya Allah, Tuhan yang Maha Besar kasihnya. Bila pun Engkau hendak memanggil suamiku kembali kepangkuan-Mu, hamba telah ikhlas. Satu inginku ya Rabb, pertemukan suami hamba dengan putri kami, Hasnah...,” isak Syamsiah dalam doanya sepenuh khusyuk.

    Dibisikkannya surat Alfatihah, dibacakannya kalimat suci dua kalimat syahadat ke telinga Datuk Sulaeman. Datuk Sulaeman hanya memberikan isyarat lewat lidahnya saja yang semakin berat. Orang-orang yang hadir di rumah itupun ikut berdoa dan membaca Alquran didekatnya.

    Hingga pagi tiba menjelang orang di masjid dan di tanah lapang akan salat Idul Fitri, tiba-tiba di pintu rumah gadang itu berdiri seorang perempuan muda bersama seorang laki-laki berbaju teluk belanga dan berkopiah haji. Laki-laki itu menggendong seorang anak perempuan berusia sekira 3 tahun. Semua mata orang di dalam rumah tertuju ke pintu. Terperangah melihat siapa yang datang, yang tak lain adalah Hasnah.

    Syamsiah ketika tahu Hasnah putrinya pulang, berlari ia ke muka pintu. Hasnah demikian pula, mengejar tubuh ibunya dan memeluknya dengan sangat erat. Pecahlah tangis di tengah rumah itu. Tersungkur Hasnah bersujud di kaki ibunya, terisak-isak memohon ampun atas dosa dan kesalahannya. Tak ingat lagi Syamsiah pada kejadian yang sudah-sudah. Di matanya sekarang Hasnah telah pulang. Cepat ia tarik tubuh Hasnah dan dibawahnya ke dekat tubuh ayahnya yang telah payah.

    “Ayah, ampuni anakmu ini...,” isak Hasnah memeluk tubuh Datuk Sulaeman.

    Demi mendengar suara Hasnah putrinya, terbukalah kedua mata Datuk Sulaeman. Raut wajahnya bercahaya. Kedua bibirnya bergetar hebat. Disangka orang Datuk Sulaeman telah sembuh dari sakitnya, tetapi setelah tangannya menggenggam erat tangan putrinya itu, lamat-lamat kedua matanya meredup lalu tertutup. Barulah semua orang di tengah rumah itu sadar bahwa Datuk Sulaeman telah tiada, kembali ke pangkuan Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim.

    Di tanah lapang khatib telah selesai membacakan khutbah hari raya. Dari corong-corong masjid berkumandang alunan takbir yang mendayu-dayu, seolah melepas kepergian Datuk Sulaeman dari dunia fana menemui Rabb-Nya. Bertangisanlah seisi rumah, terutama Syamsiah dan Hasnah, dua perempuan malang itu.

    Janji Allah telah tiba. Setiap yang bernyawa akan menemui kematian. Itulah yang dihadapkan Tuhan kepada Syamsiah dan Hasnah. Juga kepada orang-orang terdahulu.

    Di pusara almarhum Datuk Sulaeman, Hasnah terpekur memohon doa kepada Allah SWT untuk kedamaian ayahnya di alam baka. Di sampingnya, berdiri Hasan, suami keduanya setelah ia memutuskan bercerai dengan lelaki yang bukan seiman.***

    Ladang Tebu, Agustus 2012

    *) Muhammad Subhan, lahir di Medan, 3 Desember. Berdarah Aceh-Minang. Bergiat di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Novelnya yang telah terbit “Rinai Kabut Singgalang” (Rahima Intermedia, Yogyakarta, 2011). Sedang merampungkan novel kedua, “Cinta Regu Badak”. Menulis cerpen dan puisi di koran-koran lokal dan nasional. Beberapa karyanya terkumpul dalam antologi bersama, di antaranya “Lautan Sajadah” (Puisi, Kuflet Publishing, 2009), “Ponari for President” (Puisi, Malang Publishing, 2009), “Musibah Gempa Padang” (Puisi, e-Sastra Malaysia, 2009), “G30S: Gempa Padang” (Puisi, Apsas Jogja, 2009), “Kado untuk Jepang” (Flash Fiction, 2011), “Menyirat Cinta Haqiqi” (Puisi, Malaysia, 2012), “Fesbuk” (Cerpen, LeutikaPrio, 2012). Sehari-hari mengelola Rumah Puisi Taufiq Ismail Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat, sekaligus menjadi instruktur Sangar Sastra Siswa Rumah Puisi. Tinggal di pinggiran Kota Padangpanjang. Email: aan_mm@yahoo.com.

    Share ke:
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Selepas Kumandang Takbir Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top