• Info Terkini

    Wednesday, August 15, 2012

    Ulasan Cerpen “Alunan Suara Hati” Karya Laura Chrismadani (Tegal)

    Kali ini FAM mengulas cerpen yang berjudul “Alunan Suara Hati” karya Laura Chrismadani (Tegal). Cerpen ini bercerita tentang seorang wanita yang putus dengan pacarnya karena tidak diberi ketegasan kapan sang pria akan melamar. Wanita itu lalu dijodohkan oleh ibunya dengan pria yang menjadi temannya selama kuliah. Dan akhirnya mereka pun menikah.

    Judul yang digunakan cukup bagus. Teknik penulisannya juga bagus, termasuk pemilihan katanya juga. Sayangnya, konflik dalam cerpen ini kurang terasa. Begitu juga dengan akhir cerita yang terasa kurang berkesan.

    Catatan dari FAM adalah mengenai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Masih ditemukan beberapa tulisan yang salah, misalnya penulisan ‘di’ yang seharusnya dipisah tapi malah digabung. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin bagus.

    Teruslah berkarya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    ALUNAN SUARA HATI
    Oleh Laura Chrismadani

    IDFAM890U Anggota FAM Tegal

    Hembusan angin malam seakan menyapu wajahku. Aku masih diam membeku. Tak terasa air mata keluar dari bola mataku yang indah. Kata-katanya tajam menghujam jantungku. Baru kusadari betapa egoisnya dia. Adri, biasa aku memanggilnya. Seorang pria yang selama ini telah menemani hari-hariku. Mengisi hatiku dengan puisi cinta. Kurasa sekarang semuanya hanya semu. Tak ada kata-kataku yang bisa membuatnya menurunkan nada suaranya. Dia berlalu meninggalkanku dengan amarah yang besar. Kutatap dia sampai menghilang dari pandanganku. Putus, itulah kata terakhir yang kudengar ditelingaku. Mungkin firasat mama benar tentangnya. Sudah tiga tahun aku dan Adri bersama, tapi tak sekalipun Adri mengatakan ingin melamarku. Sementara usiaku sudah menginjak angka dua puluh lima. Tak ada lagi yang bisa kupertahankan. Kulangkahkan kaki dan bersiap untuk pulang ke rumah. Bersiap dengan rencana baru mama yang ingin menjodohkanku. Bersiap untuk mengenal pria itu. Bersiap untuk menerimanya menjadi suamiku.

    Kulihat mama sedang menungguku di teras. Pandangan matanya tertuju padaku. Kekuatiran muncul karena anak gadisnya juga belum pulang ke rumah. Segera kubuka pintu pagar besi perlahan. Mama langsung menghampiriku. Mama melihatku datang dengan mata sembab. Kupeluk mama dengan erat.

    "Kurasa mama benar, Adri tak sebaik yang kupikirkan. Aku meminta Adri melamarku, tapi dia malah marah karena merasa belum siap. Aku merasa terbuang dan tak dihargai, ma" tangisku meledak. Mama menghiburku seperti biasanya.

    "Kasih ibu sepanjang masa, Tia. Dan mama akan selalu menyayangimu, kamu tidak akan merasa terbuang dari mama. Mama tidak ingin kamu hanya sekedar pacaran. Mama hanya ingin ada yang menjaga dan melindungimu" hibur mama.

    "Baiklah ma, mulai sekarang, aku akan menuruti nasehat mama. Aku akan belajar mengenalnya untuk menjadi suamiku" kataku.

    "Alhamdulilah, mama tahu kamu adalah anak yang berbakti, sekarang kita masuk ke dalam yuk, mama siapkan teh hangat untukmu" ajak mama. Sepeninggal papa setahun yang lalu, membuat aku dan mama harus berjuang untuk hidup. Kami menjalankan toko kue bersama-sama. Keinginan terbesarku adalah membahagiakannya. Mungkin dengan menerima pilihan mama adalah salah satu kebahagiannya.

    Hari ini adalah hari minggu. Hatiku sudah terlanjur sakit untuk bisa mengingat Adri. Jadi selama ini, aku hanya sebagai temannya pelipur lara. Semua kesedihannya selalu kutampung. Bahkan saat dia melamar ke banyak perusahaan, aku selalu menyemangatinya. Kuingat ekspresi kegembiraannya, saat dia akhirnya diterima bekerja di salah satu perusahaan ternama. Kupikir saat itu, tidak akan lama lagi dia melamarku. Sayangnya, semua hanya anganku saja.

    "Tia.." panggil mama mengagetkanku. Mama masuk ke kamarku. Dan seperti biasa, mama masih terlihat cantik. Jilbab biru sudah menghias di kepalanya pagi ini.

    "Kamu siap-siap, sebentar lagi calon suamimu akan datang ke sini, mama harap kamu mau berdandan yang cantik" katanya.

    "Iya ma, aku tak akan mengecewakan mama", jawabku lirih.

    Suara mobil kudengar dari kamar. Kuintip di balik jendela kaca, sebuah mobil Yaris berhenti di depan rumah. Seorang lelaki keluar dengan membawa parcel buah ditangannya. Aku segera mengenakan jilbabku dan kuoleskan lipstik di bibirku. Mama sudah memanggilku untuk menemuinya. Aku bergegas menuju ruang tamu dan kulihat dia tengah berbincang dengan mama.

    "Nah, ini dia..., mama rasa kalian sudah saling kenal. Nak Tommy dulu satu jurusan denganmu" kata mama melihat ke arahku.

    "Tommy ??!" tatapku padanya seakan tak percaya

    "Apa kabarmu, Tia. Kamu tambah cantik" katanya sambil berdiri. Lalu mama meninggalkan kami berdua.

    "Penampilanmu sekarang berbeda" tatapku. Badannya tegap, kumis tipis menghias di atas mulutnya dan penampilannya lebih rapi.

    "Waktu sudah banyak berlalu, Tia. Aku sekarang bekerja di Perusahaan Otomotif. Tapi kurasa gajiku cukup untuk hidup kita berdua" jawabnya percaya diri dan duduk kembali.

    "Jadi, kamu benar melamarku ? mengapa ?" tanyaku heran.

    "Aku mencintaimu sejak kita kuliah dulu. Kamu gadis yang cantik, jadi banyak pria yang menyukaimu. Saat itupun kamu sudah pacaran dengan Roy, kan. Aku masih ingat semuanya. Untuk itu, aku berkata pada diriku sendiri. Aku harus menjadi orang sukses, baru aku akan mencarimu dan mengutarakan isi hatiku. Aku juga tahu saat ini, kamu adalah kekasih Adri. Aku selalu mengikuti perkembanganmu. Harus kupastikan bahwa kamu belum menikah" . Aku terpana mendengarnya. Sebesar itukah cinta Tommy padaku. Kuingat dia dulu seorang kutu buku. Hobinya ke perpustakaan. Tak heran jika dia harus memakai kacamata. Dan kami selalu bertemu di perpustakaan, karena kami mempunyai hobi yang sama. Memang sih, aku pernah menangkap basah dia mencuri pandang padaku.

    "Kamu sudah tahu aku sedang dengan Adri, tapi kamu malah melamarku". Aku dibuatnya bingung.

    "Karena dia tidak cepat melamarmu. Kata orang, selagi belum ada janur kuning melengkung, dia belum menjadi milik siapapun. Aku baru saja tahu dari mamamu, kalau kalian sudah putus. Aku yakin, tidak secepat itu kamu melupakannya. Maka itu, aku tidak akan memaksamu, aku hanya akan memberimu cinta yang nyata dan tulus" lanjutnya bersahaja.

    "Apa kamu mau menikah denganku ?" tanyanya lagi mengagetkanku. "Sudah enam tahun, aku memendam perasaanku".

    "Apa aku punya pilihan ?" tanyaku lagi

    "Tentu saja, aku ingin kamu mengikuti alunan suara hatimu. Cinta pasti bisa tumbuh dengan berjalannya waktu. Cintaku natural tanpa rayuan", tegasnya. "Cintaku penuh tanggung jawab, kita bisa menikah kapan pun kamu siap" tatapnya. Kali ini kuberanikan diri menatapnya. Aku ingin melihat dengan jelas detail wajah calon suamiku. Mata kami berpandangan. Kulihat alisnya yang tebal, membuat tatapan matanya semakin tajam.

    "Kamu bisa melihatku dengan detail, kalau kita sudah menikah nanti" katanya membuatku malu.

    Tak membutuhkan waktu lama untuk membuatku menerima lamarannya. Mama benar, aku telah menemukan suami yang sangat bertanggung jawab. Segera kumatikan komputerku saat kudengar suara mobil memasuki halaman. Kusambut suamiku dengan senyum menghias bibirku. Kecupan manis selalu mendarat di keningku setiap akan berangkat maupun pulang kantor. Aku sudah mulai hafal dengan aroma tubuhnya.

    Saat ini kulihat dia terlelap di sampingku. Aku bangun menatapnya yang sudah tidur. Biarkan aku memandangmu berjam-jam saat kamu tidur, suamiku. Dimana kamu sudah memandangku dari jauh selama enam tahun lamanya, batinku.

    "Apa hanya saat tidur kamu selalu memandangku?" katanya mengagetkanku. Tiba-tiba suamiku membuka matanya dan duduk memandangku.

    "Mas, belum tidur ya ?" tanyaku malu.

    "Mau sampai kapan kamu memandangku saat tidur ?"

    "Jadi selama ini mas tahu ya..?" aku benar-benar malu dibuatnya

    "Tentu saja, aku hanya pura-pura tidur. Aku ingin tahu apa yang kamu lakukan ketika aku tidur" tatapnya sambil membelai rambutku. Aku memandang wajahnya.

    "Terima kasih sudah menjadi suamiku. Terima kasih sudah dengan sabar menungguku. Terima kasih sudah membiarkanku mengikuti alunan suara hatiku" kataku.

    Jemarinya ditempelkan pada mulutku. Mencegahku mengucapkan kata-kata. Tangannya yang kokoh menarikku dalam pelukannya. Suara jangkrik mulai terdengar. Ternyata malam sudah semakin larut. Tak ada lagi suara keluar dari mulutku. Kurasakan malam ini adalah malam yang indah.

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 komentar:

    1. subhanallah.. karya yang penuh hikmah :)

      ReplyDelete
    2. yth Penulis: Teruslah berkarya, sebuah karya fiktif yang bisa memberi hikmah untuk hidup nyata

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Alunan Suara Hati” Karya Laura Chrismadani (Tegal) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top