• Info Terkini

    Thursday, August 2, 2012

    Ulasan Cerpen “Dia Tetap di Jalan” Karya Jojo Jakaria (Bandung)

    Hari ini, FAM mengulas sebuah cerpen karya anggota FAM Bandung, Jawa Barat. Cerpen itu berjudul “Dia Tetap di Jalan”, karya Jojo Jakaria.

    Cerita bermula, seorang anak penjaja koran yang kehujanan diberi tempat berteduh oleh tokoh ‘Aku’. Andre si penjaja koran merasa sedih karena korannya basah, sementara ia belum mendapatkan cukup uang untuk bisa makan.

    Tokoh ‘Aku’ menolongnya dengan membeli semua koran yang belum terjual itu, memberinya pakaian dan minuman hangat. ‘Aku’ teringat kepada adiknya yang mirip dengan Andre (sayang tidak dijelaskan adiknya di mana). Andre berjanji bahwa suatu saat ia akan membayar semua kebaikan tokoh ‘Aku’.

    Pada suatu ketika, tokoh ‘Aku’ mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ketika ia sadar, tangannya dibalut perban, dan semua biaya rumah sakit sudah dibayar oleh Andre.

    Ide cerpen “Dia Tetap di Jalan” adalah ide cerita yang biasa dan sudah umum. Cerpen yang ditulis juga hanya berjumlah dua halaman, cerita juga terkesan tergantung karena tidak ada penjelasan siapa tokoh Andre itu sebenarnya? Bagaimana seorang anak penjaja koran mampu membayar biaya rumah sakit yang cukup mahal? Seharusnya, penulis dapat dengan leluasa mengeksplorasi tokoh “Aku” dan “Andre” ini menjadi lebih unik, sehingga cerita tuntas dan tidak gamang. Tokoh ‘Aku’ tinggal sendiri, juga tidak dijelaskan mengapa ia hidup sendiri. Padahal, mengingat jumlah halaman yang sangat singkat, penulis sebenarnya dapat banyak bercerita, sehingga cerpen ini dapat menjadi lebih menarik.

    Selain itu, banyak terdapat kesalahan dalam penggunaan tanda baca dan EYD. Penulis sering menggunakan spasi sebelum tanda titik dan koma. Kemudian, pemilihan judul juga kurang tepat, karena “Andre” tidak terbukti “Dia tetap di jalan.”

    Untuk penulis, teruslah melatih diri dengan lebih banyak menulis. Dengan banyak berlatih, kualitas tulisan akan semakin menjadi baik. Untuk ide, banyak-banyaklah memerhatikan keadaan lingkungan sosial di sekitar kita, karena banyak sekali hal yang bisa diangkat menjadi sebuah cerita menarik dan tidak biasa.

    Salam aishiteru.
    TIM FAM INDONESIA

    [NASKAH CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Cerpen:
    DIA TETAP DI JALAN
    Oleh JojoJakaria
    IDFAM105U Anggota FAM Bandung

    Hujan yang semakin deras menghentikan langkah kecil itu , menepi mencari perlindungan . “Mas ikut berteduh ya bentar!” Aku yang memang sejak tadi memperhatikan dia langsung mempersilahkan dia masuk . “ Silahkan de , masuk aja !” Koran harian yang belum semuanya laku terjual masih erat berada didekapan , sebagian basah terkena air hujan . Bibirnya membiru bergetar kedinginan , seluruh tubuh basah kuyup . Tak tega aku melihatnya , wajah lugu nan sayu bertambah suram ditengah jepitan kehidupan.

    “ Duduk sini de , ini teh hangat lumayan untuk menghangatkan tubuh , silahkan diminum. “

    “ Terima kasih mas , jadi ngerepotin.”

    Anak sekecil itu sudah pandai berbasa-basi . Ku ambilkan baju ganti , kebetulan ada baju bekas adik mungkin cukup seukuran tubuhnya , sudah lusuh memang tapi masih bisa di pakai buat ganti baju dia yang basah kuyup .

    “ Nama mu siapa , sekolah kelas berapa ?”

    Aku mencoba mengajak bicara , agar dia tidak begitu tegang .

    “Namaku Andre , tidak sekolah .”

    Bibir kecil itu menjelaskan , ada sedikit kesedihan terpancar di wajahnya ketika aku menanyakan dimana orang taunya . Aku maklum dengan hal itu , tak ku teruskan pertanyaan itu . Aku jadi teringat dengan adikku , yang sudah meninggal karena tabrak lari di usia seumurn anak ini . Anak ini telah membangkitkan lagi ingatanku , sekilas wajahnya mirip . Ya , dia mirip adik ku , Cuma warna kulit berbeda . Dia berkulit hitam mungkin karena seharian berada di jalan memnjajakan Koran , kalau panas kepanasan dan kalau hujan kehujanan . Sedangkan adikku berkulit putih , bayangku semakin menerawang .

    “ Sudah banyak yang laku Koran mu ?”

    Dia menggeleng , bukan menjawab . Dari sela kedua matanya keluar cairan bening sambil tangannya mengusap-ngusap setumpuk Koran yang basah . Mungkin dia sedih , karena Koran banyak yang rusak .Tak mungkin laku di jual lagi .

    “Mas ini bukan Koran ku , aku Cuma ikut menjual dan kalau Koran ini rusak aku harus menggantinya . Jangankan buat mengganti semua Koran buat makanpun aku belum dapat.” Akhirnya dia bersuara juga , membuat hati ku terenyuh . “ Ya sudah , sekarang kamu makan aja dulu masalah Koran nanti aku beli semuanya .” Sedikit wajahnya berbinar mendengar omonganku .

    “Benarkah mas , terima kasih banyak sebelumnya juga , anggap saja sekarang aku minjam uang mas , suatu saat nanti aku akan menggantinya .”

    “Sudahlah jangan kamu pikirkan , insyaallah aku ikhlas .”

    Punggungnya masih kelihatan , ketika anak itu pergi , sayang aku tidak banyak tau dimana tempat tinggalnya dan siapa orang tuanya . Aku jadi membayangkan kalau aku jadi dia , mungkin aku takan sanggup . Anak sekecil itu yang mestinya duduk di bangku sekolah menimba ilmu , malah ada di jalan mencari makan . semoga nasib mu berubah sahabat kecil .

    Aku hidup sendiri , otomatis aku harus mengurus diri sendirian , dari mulai pekerjaan rumah dan bekerja mencari nafkah sudah hidup keseharian ku . Hari minggu , setelah pekerjaan rumah semua kelar , ku sempatkan diri jalan-jalan cari angin , kebetulan kebutuhan sehari-hari sudah menipis . Aku jalan kaki sengaja tidak naik angkot , itung-itung olah raga pikirku . Maklum hari minggu , walau kota kecil tapi jalanan macet . Banyak pejalan kaki dan kendaraanpun seperti bertambah banyak . Mungkin aku kurang konsentrasi , atau aku sedikit melamun . Tak sadar kalau aku berjalan di bahu jalan , tiba-tiba sebuah mobil dari arah belakang menabraku , aku tak sadar dan tidak tau apa yang terjadi stelah itu .

    Aku siuman telah berbaring di rumah sakit , tangan kanan dibalut kepala terasa pening .

    “ Jangan banyak bergerak dulu mas , istirahat aja.” Seorang suster yang kebetulan ada mengingatkanku . “ Jadi aku di Rumah sakit ya sus , terus siapa yang membawaku kemari ?”Aku coba cari tau . “ Seorang anak penjual Koran , kalau tidak salah namanya Andre , dia yang mengantar anda kesini . Ngak usah khawatir mas , segala admistrasinya sudah dia bayar lunas . eh ia dia titip pesan buat mas , katanya semoga cepet sembuh .” Kaget aku mendengar penuturan suster . Aku ingat dia seorang anak yang mirip adikku , yang berkulit hitam yang tempohari berteduh di rumahku . Seakan tak percaya tapi ini nyata .

    Teringat kembali sebelum dia pergi dia ngomong ,” anggap saja sekarang aku pinjam uang mas , suatu saat nanti aku akan menggantinya .” Ya , betul dia ngomong begitu aku ingan benar , terus apa ini yang dimaksud sebagai penggantinya ? Kalau ini betul seperti yang dia katakan , terlalu besar pengganti an itu , aku harus mencarinya , harus ku kembalikan lagi pemberian ini .Hatiku terus bergejolak .

    Seharian penuh aku menyusuri jalan , seluruh wilayah kota aku kunjungi . Dari mulai terminal , taman kota , tempat wisata sampai ke mall-mall aku datangi . Bertanya pada setiap penjual Koran tidak ada yang tahu dimana Andre berada , bahkan sampai malam menjelang aku tidak menemukan Andre si penolong itu . Tak ada yang bisa ku lakukan lagi , selain aku panjatkan do,a .” Semoga Allah selalu melindungi mu sahabat .

    [sumber: famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Dia Tetap di Jalan” Karya Jojo Jakaria (Bandung) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top