• Info Terkini

    Thursday, August 23, 2012

    Ulasan Cerpen “Ketika Bunda Telah Pergi” Karya Titi Haryati Abbas (Sinjai, Sulawesi Selatan)

    Kali ini FAM Indonesia mengulas cerpen berjudul “Ketika Bunda Telah Pergi” karya Titi Haryati Abbas, anggota FAM Sinjai, Sulawesi Selatan. Cerpen ini bercerita tentang Dani, bocah 9 tahun yang diasuh bibinya karena ditinggal mati ibunya. Kadang ia merasa kesepian dan rindu ibunya, meskipun ia sudah punya ‘keluarga baru’. Bagaimanapun, ditinggal pergi oleh ibunda tercinta merupakan sesuatu yang berat, apalagi untuk Dani yang masih kanak-kanak.

    Ada beberapa kalimat yang kurang efektif yang digunakan penulis sehingga terasa kurang nyaman untuk dibaca. Misalnya pada kalimat kedua yang isinya, ‘Anak berumur kurang lebih 9 tahunan’, akan lebih baik jika kata ‘kurang lebih’ dihilangkan saja. Lalu pada kalimat ‘Ia bisa memastikan kalau tempat ini tidak pernah sama sekali dibersihkan’ yang terletak pada paragraf pertama. Kata ‘sama sekali’ lebih baik dihilangkan karena sudah diwakili oleh kata ‘tidak pernah’. Apabila masih ingin menambahkan juga bisa dengan menaruhnya setelah kata ‘dibersihkan’. Dan masih ada beberapa kalimat yang kurang efektif lainnya.

    Catatan dari FAM untuk penulis adalah mengenai penulisan kata ‘di’ yang seharusnya dipisah namun justru digabung oleh penulis. Termasuk efektivitas kalimat dan pemilihan kata seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Meskipun demikian, beberapa kalimat lain sudah bagus penyusunannya.

    FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin baik. Secara keseluruhan cerpen ini lumayan bagus baik dari segi cerita dan teknik penulisan. Hanya saja penulis masih perlu memperbaiki sesuai dengan beberapa masukan yang telah dijelaskan sebelumnya.

    Semangat berkarya!

    Salam Aishiteru.
    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    KETIKA BUNDA TELAH PERGI

    Oleh Titi Haryati Abbas

    FAM810U, anggota FAM Sinjai)

    Dani menatap sekeliling ruangan yang penuh dengan kardus di dalamnya. Anak berumur kurang lebih 9 tahunan itu berusaha mengenali setiap sudut ruangan tersebut dengan pandangan matanya yang tajam. Ruangan yang sangat kotor penuh dengan debu. Ia bisa memastikan kalau tempat ini tidak pernah sama sekali dibersihkan. Dan di sinilah tempatnya kini, mulai sekarang dan mungkin selamanya.

    “Nah, di sinilah kamar kamu,” suara bibi Ati memecah perhatiannya. Dengan sigap ia menoleh kearah perempuan separuh baya yang tengah berdiri di belakangnya. Ada senyum yang tersungging disudut bibirnya meskipun terkesan dingin.

    Bocah itu mengangguk sopan, “Iya bi, nanti akan saya bersihkan.” Lanjutnya lagi, kali ini dengan senyum samar, agak takut.

    “Baiklah, jadi bersihkan dulu ruangannya, biar nanti malam kamu sudah bisa tidur di sini!”

    “Iya bi. Terima kasih!”

    Kini ia benar-benar sendiri di ruangan ini. Seperti kata bi Ati tadi, ia harus membersihkannya terlebih dulu agar bisa menjadi kamar yang layak untuk ditempati tidur dan yang kegiatan lainnya, setidaknya bagi dirinya.

    Dengan sigap ia mulai memindahkan kardus-kardus bekas yang ada di dalam gudang tersebut ke halaman belakang. Ditumpuknya kardus-kardus tersebut dengan rapi agar mudah dipindahkan lagi jika memang tempatnya bukan disitu. Ia sendiri masih belum terlalu jelas dimana ia harus meletakkan barang-barang yang ada di dalam ruangan tersebut.

    Hanya beberapa menit saja, semua barang yang ada di dalam ruangan itu sudah ia pindahkan keluar. Tangan kecilnya memang sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini, saat ia masih tinggal bersama sang bunda. Tapi kini bunda sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Itulah sebabnya mengapa sekarang ia berada di tempat ini, mengikuti sang bibi, salah satu kerabat ibunya yang bersedia memberinya tumpangan hidup.

    “Kamu bisa ikut dengan bibi ke rumah, tapi tentunya kamu harus mengerti apa yang seharusnya dikerjakan, mengerti kan maksud bibi?” itu ucapan bibinya saat itu, saat ketika ia bingung harus kemana setelah sang bunda meninggalkannya.

    Serta merta ia mengangguk mendengar tawaran bibinya. Ia tahu betul apa yang harus ia kerjakan demi membalas kemurahan hati bibinya yang mau menerimanya tinggal bersama keluarganya. Ia sangat paham akan hal itu karena bunda sudah membiasakan hal-hal seperti itu sejak ia masih kecil. “Kamu anak ibu satu-satunya. Ibu tidak punya siapa-siapa selain kamu, hanya kamu yang ibu punyai di dunia ini. Ibu hanya bisa mengandalkan kamu untuk membantu ibu mengerjakan semua ini, kamu ikhlas kan, nak?”

    ”Iya dong, bu! Dani kan juga cuman punya ibu, jadi Dani harus selalu membantu ibu. Pokoknya ibu tidak perlu khawatir, Dani akan selalu menyenangkan hati ibu,” dan kalau sudah begitu, ibu pasti akan memeluknya erat-erat, membelai rambutnya lalu menciuminya berulang-ulang. Ah, ia cuma bisa mengusap pipinya yang tiba-tiba saja sudah basah tanpa ia sadari. Tiba-tiba perasaan rindu yang sangat dalam menyeruak dari dasar hatinya, rindu ingin melihat wajah lembut sang bunda juga senyum piasnya yang menyiratkan kelelahan namun tak pernah sekalipun ia keluhkan di depannya. Ibu, Dani di sini bu, sendiri tanpamu kini. Dani sangat merindukan ibu. Diusapnya pipinya yang semakin basah dengan ujung bajunya yang lusuh. Hari perlahan beringsut senja, gelap. Dikuatkannya hatinya menyelesaikan pekerjaannya yang sisa sedikit. Ia ingin malam ini bisa tidur dengan nyenyak dan bertemu bunda dalam mimpi.

    ***

    Lolong anjing bersahut-sahutan meningkahi malam nan pekat lagi dingin. Dani merapatkan selimutnya. Matanya belum juga mau terpejam. Sedari tadi ia hanya bolak-balik di kasurnya. Perasaan gelisah yang sejak tadi menguasainya tak mampu ia kibaskan. Rasanya ingin ia keluar dan duduk di teras depan sambil memandang bulan yang kian meredup tersapu awan. Kebiasaan yang sering ia lakukan saat hatinya gundah mencari ketenangan.

    “Kak Dani akan tinggal di sini bersama kita ya?” pertanyaan polos dari Via, anak bungsu bibi Ati yang baru berumur 5 tahun tadi sore sempat membuatnya bingung harus menjawab apa.

    Untungnya bibi Ati segera membantunya keluar dari kebingungan tersebut, “Iya sayang, kak Dani akan tinggal bersama kita sambil membantu-bantu ibu. Kak Dani juga akan bantu Via kok. Jadi Via nanti bisa minta tolong kak Dani kalau ada kesulitan.”

    Demi mendengar itu, Via girang bukan kepalang. Tercermin dari gerakannya yang refleks meloncat setinggi-tingginya sambil bertepuk tangan. “Berarti, Via tidak akan kena marah sama kak Vito karena selalu minta tolong terus!”

    “Iya, dan aku juga tidak akan lagi sibuk ngurusin kamu melulu, tau?” Vito, kakak Via, anak laki-laki yang berumur kurang lebih sama dengannya langsung menyambar ucapan adiknya dengan cepat. Matanya kemudian beralih kepada dirinya yang memang saat itu persis duduk disampingnya. Tatapannya tajam namun tetap hangat. Tanpa sepatah katapun, ia segera berlalu dari situ kemudian masuk kedalam kamarnya.

    Dani memperhatikannya dengan seksama, ada perbedaan jelas antara dirinya dengan Vito. Pakaiannya sangat rapi dan kulitnya bersih terawat sama seperti Via adiknya, sementara dirinya, pakaiannya lusuh dan kulit hitam kecoklatan karena terlalu sering berada di bawah sinar matahari. Dulu, bunda selalu mengelus kulit lengannya yang hitam legam terbakar sinar matahari setelah mencari kayu bakar di kebun milik tetangganya. Kakinya yang berdebu juga tak luput dari perhatian perempuan yang sangat dikasihinya itu. Ibu akan membasuhnya dengan kain lap yang telah disediakan untuknya. Kemudian rambutnya yang kering kekuningan juga akan kebagian mendapat belaian dari tangannya yang lembut. Semua perhatian itu membuatnya tak pernah sama sekali menyadari apa itu pakaian yang rapi dan badan yang bersih terawat.

    “Habiskan makananmu. Setelah itu kamu bisa istirahat. Kamu pasti capek, kan? Besok kamu bangun pagi-pagi sekali, nanti akan bibi tunjukkaan apa saja tugas-tugasmu.” Suara lantang bi Ati memutuskan lamunannya.

    “Iya bi!” sesaat kemudian ia menuju ke kamarnya di belakang, tempat yang baru saja selesai ia bersihkan dan diperuntukkan baginya sebagai tempatnya untuk beristirahat.

    Malam semakin larut. Bulan pasti sudah separuh tertelan awan. Lolongan anjing masih kedengaran dari kejauhan. Suasana semakin hening. Namun pikirannya belum juga mau berhenti mengembara.

    “Dani, tolong ambilkan ibu air minum ya!” suara ibu lemah selemah tubuhnya yang sudah beberapa hari terbaring tanpa daya. Matanya kuyu karena kurang tidur, mungkin terlalu banyak beban pikiran yang mengganggunya.

    “Ini bu!” ia segera membantu ibu bangun agar bisa meminum air dari gelas dengan posisi yang baik. Ia rasakan tatapan ibu menjalari seluruh tubuhnya menyiratkan makna aneh yang tak mampu ia artikan. Hanya satu yang ia mampu kenang dengan sangat jelas. Tangan ibu yang kurus tak henti membelainya, juga pipinya yang tirus senatiasa dialiri titik-titik air bening membuat matanya sembab.

    “Kamu sudah makan, nak?” meski sangat lemah, ia masih juga memperhatikan keadaan dirinya. Hatinya semakin perih tersayat.

    “Sudah, bu. Tadi bi Jum datang membawakan makanan.” Sejak sang bunda sakit, kebutuhan mereka jadi tergantung dari belas kasihan tetangga. Pekerjaan bunda yang hanya buruh serabutan dan sepenuhnya mengandalkan tenaga, mulai dari buruh cuci, tani, sampai jadi pembantu di rumah tetangga yang butuh tenaganya praktis tak bisa lagi dilakukan. Dan itu berarti mereka tak punya apa-apa untu membeli sesuatu yang bisa dimakan.

    Ia sendiri, dengan tenaganya yang masih belum bisa terlalu diandalkan hanya bisa membantu mencari kayu bakar lalu menjualnya ke pasar. Terkadang ia juga dipanggil oleh beberapa tetangga yang membutuhkan tenaganya untuk sekedar mengangkat karung yang berisi gabah sehabis panen atau mencari rumput untuk makanan ternak.

    Dan kalau anak-anak sebayanya setiap hari sibuk dengan kegiatan di sekolah mereka, ia sendiri sibuk mencari peluang kerja dari tetangga sekitar sekedar untuk mendapat beberapa receh yang nantinya bisa ditukar dengan makanan pengganjal perut setiap harinya. Bagi dirinya, bersekolah adalah hal yang sangat mustahil untuk ia dapatkan. Mendapatkan pengisi perut untuk satu hari saja sudah merupakan satu kesyukuran yang luar biasa. Jadi ia tidak boleh terlalu banyak merenda mimpi yang aneh-aneh seperti itu.

    Betapa sebenarnya ia ingin sekali membawa bunda ke puskesmas untuk berobat agar beliau segera sembuh, tapi sungguh sulit mengumpulkan uang dengan pekerjaan yang tidak tetap dan juga dengan penghasilan yang tidak seberapa.

    Dan akhirnya kelelahan itu tiba di penghujung. Bunda tak kuasa lagi menahannya dan pergi membawa lelah dan deritanya dan meningalkannya sendirian. Dan untuk selanjutnya tak akan ada lagi sentuhan tangan lembut yang selalu membelainya. Juga tak akan pernah lagi ia mendengar petuah-petuah bijak yang selalu membuatnya tenang menahan gejolak hidup yang terasa sangat menghimpit.

    ‘Ibu, mungkinkah kau memperhatikan aku dari sana, alam lain yang kata orang merupakan tempat yang sangat indah jika kita mengisi hidup ini dengan bersahaja? Kalau saja aku boleh ikut ibu, aku memilih ikut bersama ibu ke sana agar kita tak terpisahkan seperti ini’ Sudut-sudut matanya kembali digenangi air. Tak ada lagi keinginan untuk menghapusnya. Dibiarkannya pipinya tergenang oleh titik-titik air tersebut. Kali ini ia tak perlu lagi takut akan teguran bunda jika ketahuan menangis seperti itu. Bunda kini hanya bisa menyaksikannya dari alam nun jauh di sana. Isaknya tertahan di dada. Jangan sampai kedengaran oleh orang rumah. Hanya akan mengganggu, apalagi ia masih baru di sini.

    Mungkin bulan telah benar-benar tertutup awan. Subuh hampir menjelang menyisakan penat yang amat sangat. Gerbang mimpi agaknya mulai terkuak, pelan!

    ***

    “Kak Dani, makan yuk!” teriakan Via pagi itu tak urung membuatnya menoleh. Ini pagi pertamanya di rumah bi Ati. Tadi pagi-pagi sekali ia ditugaskan menyapu halaman rumah, lalu menjalankan mesin air agar bak di kamar mandi terisi penuh. Semua penghuni di rumah ini mengawali aktivitas mereka dari kamar mandi. Pantas mereka semuanya pada bersih, pikirnya.

    Via sudah siap dengan pakaian seragam TKnya. Demikian juga Vito sudah rapih dengan pakaian seragam SDnya. Sejenak ia terpukau menyaksikan keduanya. Ingin rasanya dirinya bisa seperti mereka juga, namun segera ditepisnya pikiran itu dari kepalanya. Ia tersenyum pahit. Bisa makan saja dalam sehari sudah syukur. Apalagi ditambah dengan sekolah. Dan mendadak pikiran akan bunda kembali melintas. Ibu, apakah ibu juga sudah bangun pagi ini? Isaknya dalam hati.

    Via dan Vito dijemput oleh tukang ojek langganan mereka, jadi bi Ati tak perlu repot mengantar mereka ke sekolah. Om Ridwan, suami bi Ati sudah lama meninggal. Kehidupan bi Ati hampir sama dengan dirinya dan ibu, bedanya bi Ati punya sumber kehidupan yang baik sementara ibu tidak demikian.

    Saat keduanya sudah berangkat ke sekolah, kini giliran Dani dan bi Ati juga akan memulai aktivitas mereka.

    “Semuanya sudah terkunci, Dani?”

    “Iya, bi.” Ia kemudian menyerahkan kunci gembok kepada bi Ati lalu kemudian menuju pasar yang tak terlalu jauh dari rumah. Cukup dengan dengan naik ojek beberapa menit, keduanya telah sampai di lokasi pasar tempat bi Ati berjualan.

    Wajah Dani berseri-seri, bi Ati ternyata berjualan aneka macam. Mulai dari sabun, terigu, gula sampai aneka macam snack, semuanya ada di tokonya. Kalau jualan sambil makan, diizinkan tidak ya? Ia tersenyum sendiri memikirkan itu. Baru kali ini sepanjang hidupnya melihat jenis barang yang demikian banyak, apalagi snacknya mulai dari aneka macam permen sampai aneka macam biskuit dan wafer. Tak tahan rasanya ingin mencobanya, satu saja. Kembali ia tersenyum sendiri membayangkan itu.

    “Dani!” senyumnya segera terhenti. Bi Ati sudah ada dibelakangnya.

    “Iya bi!”

    “Mulai sekarang, kamu akan membantu bibi di sini setiap hari. Perhatikan apa-apa saja yang harus kamu lakukan mulai dari melayani pembeli, mengambilkan barang pesanan mereka dan menerima pembayaran mereka, paham?”

    “Iya, bi!” jawabnya cepat. Akhirnya ia mempunyai kesibukan baru, membantu bibinya berjualan di toko beliau. Tak butuh lama untuk belajar menjadi pejual, melayani pembeli dengan baik dan menngatur barang yang sedikit berantakan setelah pembeli memilih-milih. Dan kelihatannya bi Ati cukup puas dengan hasil kerjanya hari itu.

    “Dani, bisa bibi tinggal sebentar? Via dan Vito sudah ada di rumah. Bibi akan membukakan pintu untuk mereka dulu ya!. Mereka pasti sudah lapar dan lelah sehabis belajar.”

    Ia mengangguk tersenyum. Ah, mungkin ia memang tak perlu melanjutkan mimpinya untuk sekolah lagi, seperti Via dan Vito. Rasa lelah dan lapar yang sama ia rasakan tak harus muncul karena pulang dari sekolah, perasaan itu juga bisa datang dari kesibukannya berjualan seperti ini. Ibu, apakah ibu masih di atas sana melihat Dani? Meski masih mengejar mimpi tapi paling tidak, hanya ini yang bisa anakmu ini kerjakan sekarang. Kalau saja ibu ada bersamaku di sini, kembali ia teringat akan bunda. Hatinya kembali mengharu biru. Sendiri seperti ini selalu membuat bayangan sang bunda menjelma kembali. Dan persaannya kembali diliputi rindu yang amat sangat.

    Diperhatikannya bibinya yang perlahan menjauh menuju rumah. Terbayang Vito dan Via yang tiba di rumah melepaskan penat setelah bersekolah, andai suatu saat dirinya juga bisa merasakan hal yang sama. Tapi ini baru permulaan. Jalan masih panjang. Dan ibu, selalulah melihat anakmu dari jauh karena aku akan selalu merasakan getar-getar indah itu.***

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Ketika Bunda Telah Pergi” Karya Titi Haryati Abbas (Sinjai, Sulawesi Selatan) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top