• Info Terkini

    Saturday, August 4, 2012

    Ulasan Cerpen "Kisah Cinta di Sekolah" Karya Dartia Utari (Lampung)

    Cerpen berjudul “Kisah Cinta di Sekolah” karya Dartia Utari ini bercerita tentang seorang remaja bernama Cinta, yang mengalami pergolakan batin karena mencintai teman sekelasnya, Bagas. Seperti yang digambarkan dalam cerpen ini, cinta terkadang terasa aneh. Antara perbuatan dan hati bisa menjadi bertolak belakang. Seseorang, entah disadari atau tidak, bisa berbuat ketus atau terkesan membenci orang yang sebenarnya dicintainya. Itulah cinta dengan segala lika-likunya, yang lebih mengandalkan perasaan, persepsi, prasangka daripada logika.

    Cerpen ini cukup pendek. Penulis mencoba menceritakan pergolakan batin yang dialami tokoh utama. Seting yang dipakai adalah suasana, bukan deskripsi tempat atau kejadian. Cerpen ini tergolong singkat, mungkin bisa dikatagorikan dalam ‘flash fiction’. Dari pemilihan kata maupun gaya penulisan, terlihat jika penulis sudah terbiasa dalam menulis cerita. Cerpen ini cukup bagus, hanya saja klimaksnya kurang terasa.

    Beberapa catatan dari FAM untuk penulis adalah mengenai editing dan EYD. Ada beberapa bagian yang salah ketik. Harapannya penulis mengedit tulisan terlebih dahulu untuk kedepannya. Lalu untuk penulisan istilah asing seharusnya ditulis menggunakan huruf miring.

    Secara keseluruhan, cerpen ini cukup bagus. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin meningkat.

    Semangat berkarya!
    Salam Aishiteru.

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH CERPEN PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    KISAH CINTA DI SEKOLAH
    Oleh Dartia Utari
    IDFAM753S Anggota FAM Tulang Bawang Lampung

    Cinta melangkah menuju kursi kelas paling depan dimana secarik nomor yang melekat di atas meja sama dengan nomor yang ada di kartu peserta ujian yang ada disaku bajunya, hari ini ujian semester pertama cinta di SMA Harapan.

    Tapi bukan itu yang membuat ia gelisah, melainkan orang yang akan seminggu kedepan berada satu ruangan dengannya, menghirup oksigen yang sama.

    Dia adalah pemuda yang diam-diam Cinta kagumi sejak hari pertama masa orentasi siswa beberapa bulan yang lalu, Bagas.

    Seharusnya semua baik-baik saja saat perasaan aneh itu belum mengusiknya, namun semenjak getaran-getaran halus itu mulai mengganggu, dan getaran-getaran itu semakin kuat setiap kali Bagas ada di dekatnya, semua berbeda jauh dari apa yang bisa di ukur oleh akal sehat manusia. Sikap Cinta berubah pada Bagas, itulah hasil penilaian teman-teman Cinta bahkan Bagas pun dapat merasakannya. Ruangan kelas begitu sepi, terlalu sepi hingga bisa di katakana mati, waktu yang tepat untuk mencerna percakapan kusir malam tadi.

    “Cinta kamu aneh sekali akhir-akhir ini?, biasanya kamu ramah kalau ketemu kak Bagas, tapi kenapa sekarang kamu dingin sekali padanya?” Tanya Dita

    Cinta menunduk jengah. Apa yang dikatakan Dita memang tidak sepenuhnya salah. Ia selalu mendadak jadi orang yang dingin saat bertemu Bagas. Baru setelah bayangan Bagas berlalu, penyesalan menyerbu batinnya, menyalahkan diri sendiri mengapa bersikap sesombong itu pada orang yang paling ia nanti kedatangannya.

    "Kalau kamu selalu mendadak tak acuh setiap kak Bagas menyapamu, lama-lama ia bisa mengira kamu membenci dia, bahkan mungkin dia yang akan membencimu. Laki-laki juga punya prasangka, apalagi dulu kamu sempat dekat dengannya, jelas dia menyadari perubahan sikapmu padanya" celoteh Dita mendekteku.

    "Kamu tahu sendiri aku tidak membenci dia," jawabku sedikit sengit. "Kamu kan tahu, aku melakukan ini agar aku bisa melupakannya."

    "Cinta...." Dita mendesah setengah putus asa. "Kalau kau fikir kau bisa melupakannya hanya dengan bersikap dingin padanya, maka kamu sedang membodohi hatimu, kamu jelas tahu bahwa itu tidak akan berpengaruh banyak, salah-salah kamu hanya akan memperburuk keadaan."

    Cinta menatap sahabatnya dalam-dalam sembari menarik napas panjang. Terkadang, ia juga sangat membenci dirinya sendiri. Kalau saja dia bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta, kalau saja ia sedikit berani memastikan arti pandang mata dan senyum manja pujaannya, kalau saja dia sedikit ingin percaya kemungkinan rasanya juga berbalas. Kalau saja….

    Ah, seharusnya ini mudah. Tapi, dunia tidak mengenal kata kalau saja ataupun seharusnya yang ada hanyalah kenyataan, dan nyatanya ia hanya bisa bermimpi. Hanya pada sang malam ia mampu berbagi mimpi-mimpinya, yang hanya tinggal mimpi saat ia terbangun esok pagi.

    Akhirnya Dita mulai kesal, tentu sikap Cinta bertolak belakang dengan prinsipnya, baginya lebih baik sakit sesaat daripada terbelenggu dalam waktu tak bertepi, yang justru akan mengukir sakit yang lebih dalam lagi.

    “Sebaiknya kau jujur pada Bagas tentang perasaanmu!”

    Namun lagi-lagi Dita hanya berdecak pasrah mendapati respon sahabatnya.
    “Bagaimana kalau Bagas tidak mencintaiku? Bagaimana kalau aku hanya salah mengartikan sikap baiknya, pandang mata teduh dan senyum manisnya? Bagaimana kalau Bagas tahu aku diam-diam mencintainya, ia malah menjauhiku? Bagaimana...? Bagaimana...? Dan ribuan bagaimana yang semuanya berbau skeptis. Mengapa di dunia ini ada orang yang begitu bodoh?. Menciptakan beribu tanda tanya tanpa mau mencari jawabannya. Apa enaknya hidup dalam lingkaran tanda tanya tanpa sebuah kepastian, bukankah itu hanya akan menyiksa.” Pikir Dita tidak mengerti.

    Bagas akan duduk tepat di belakangnya, inilah bagian dari dirinya yang paling tidak Cinta sukai. Kenapa dia tidak bisa bersikap seolah semua baik-baik saja. Jika tidak over cool justru sikap nya over care. Sering kali Dita melihat pancaran ketidakmengertian bahkan kekecewaan dari mata Bagas.

    “Mungkinkah sikapku membingungkanya, terkadang dingin tak peduli kepadanya namun kadang kala begitu manja dan amat memperhatikannya, huuuh satu lagi kebodohan yang akan aku sesali nanti dan selalu begitu setiap hari”keluh Cinta dalam hati.

    “Hai” sapa seseorang dengan senyum manis nan hangat, menyadarkanku

    “Hai kak” balasku dengan senyum

    Sungguh sebuah sarkasme senyuman yang terlalu di paksakan, ya meski hanya satu kata “hai” tapi memiliki makna yang cukup dalam.

    Cinta pun mengambil buku untuk meredakan kegugupannya sampai kelas yang tadi begitu sepi menjadi ramai bak pasar karena murid-murid yang mulai berdatangan.

    “Aku bukan Dita, itu masalahnya. Mungkin dengan mengungkapkan perasaan ku padanya akan membuat aku lega, tapi bukan itu yang ku mau. Mungkin akan sangat sakit tapi ini yang terbaik bagiku demi sebuah harga diri yang entah berapa harganya” Cinta bersikukuh
    Ia biarkan hatinya terluka, terluka sebanyak-banyaknya, jika hatinya telah penuh dengan luka maka kelak tidak takut lagi untuk terluka, bahkan tidak ada lagi tempat yang tersisa untuk luka yang baru.

    Cinta menoleh kebelakang, ia dapati Bagas sedang tersenyum padanya, lalu ia balas dengan senyuman terindah, bentuk lain dari kata “selamat tinggal” .

    “Aku percaya segala sesuatu akan kembali dalam bentuk yang lebih baik dari apa yang pernah hilang, tidak ada kebahagiaan tanpa ada air mata. Bila Bagas adalah takdirku, biarkan rasa itu kembali bila sudah saatnya, dan kini adalah saat untuk aku harus berjuang menggapai cita bukan cinta ”

    “Selamat pagi anak-anak, ulangan akan segera di mulai”

    “Selamat pagi pak”

    Bapak guru membagikan soal ulangan, dan suasana kelas pun kembali hening.

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Kisah Cinta di Sekolah" Karya Dartia Utari (Lampung) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top