Skip to main content

Ulasan Puisi “Alif Al Awali” Karya Hafney Maulana (Riau)

Sahabat FAM yang baik, hari ini Tim FAM Indonesia memberi ulasan untuk puisi berjudul “Alif Al Awali” karya Hafney Maulana, anggota FAM Riau. Puisi ini berjumlah lima bait 16 baris. Isinya sederhana tetapi butuh perenungan mendalam untuk memaknainya.

Menurut Wikipedia, ensiklopedia bebas, “Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف ,) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam.

Tim FAM sengaja mengambil rujukan pengertian Sufi ini, terkait puisi yang akan diulas yang dianggap mempunyai warna puisi seorang sufistik.

Kenapa dikatakan demikian? Karena semua diksi yang diuntai dalam puisi ini seolah mengarah ke dalam bentuk pendekatan dan pencarian Tuhan secara Magrifat. "Alif Al Awali", sebuah judul yang cukup dalam dirasakan dari seuntai kata yang hanya sederhana. Alif, kita tahu itu merupakan huruf pertama dalam hijaiyah, "A" dalam huruf latin, dan pada kata "Allah" juga dimulai dengan huruf itu (alif). Suatu yang menampakkan kebesaran Allah di setiap tatanan hidup manusia di dunia ini. Tidak ada yang mampu menandingi kebesaran-Nya di tengah kehidupan yang dianggap telah mencapai tingkat peradaban tinggi.

Tim FAM menangkap pertimbangan itu ketika penulis menentukan judul puisi ini. Walau di dalam bait-bait puisi di dalamnya kita tidak difokuskan tentang pengertian "Alif" di dalamnya.

Bismillah, dengan nama Allah, sebuah pengucapan awal yang sebaiknya kita seru di tiap kegiatan yang akan kita mulai.

Sederhana memang, namun kesederhanaan pengucapan ini diyakinkan tentulah akan membawa berkah di tiap kegiatan yang kita lakukan.

Kita simak kutipan berikut:

Bismillah
Bismillah awal kata
Bagai burung Attar kucari Alif-Nya
Pada petikan kecapi melati

Bismillah awal kerja
Menggerakkan impian dari nyala api
Yang menari

Ada semacam getaran mistis bila kita pahami bait-bait seperti ini. Dengan menyebut Asma Allah di awal kata, seolah sukma kita seperti burung Attar yang terbang menuju Arasy-Nya. Indah memang bila jiwa ini terasa dekat dengan Sang Maha Pencipta, keindahan itu dilukiskan penulis seperti dentingan dawai kecapi. Lembut namun menyentuh hati.

Di bait kedua, mungkin penulis menggambarkan setiap kerja yang kita lakukan tentulah ada sesuatu yang hendak kita capai. Seperti mimpi, seperti nyala api yang menari.

Cukup unik memang perumpamaan yang dipakai dalam diksi ini, tapi justru penerawangan pembaca akan maksudnya membuat puisi ini menjadi dalam dan kuat.

Demikian juga saat kita pahami bait-bait selanjutnya. Semakin nampak bagaimana penulis mengimbau untuk tidak pernah lepas mengingat Allah di setiap langkah perjalanan hidupnya.
Dalam pergantian waktu, dalam suasana yang membahagiakan, ataupun bila hasrat tak seutuhnya kita raih. Bismillah, selalulah mengingat atas nama Allah.

Bismillah awal dan akhir
Kulabuhkan diam
Antara ranting terinjak kaki

Bait akhir ini mungkin inti dari kesimpulan isi puisi ini. Setiap awal yang pasti mempunyai akhir, semua tak lepas dari sebuah takdir indah dan maha tahu apa yang terbaik di tiap catatan nasib yang diterima hamba-Nya.

Puisi ini sudah cukup bagus, dalam, dan mempunyai nilai estetika yang memadai. Selamat menulis, kita tunggu tulisan-tulisan selanjutnya. Sukses selalu.

Salam santun.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT PUISI PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

ALIF AL AWALI
Oleh Hafney Maulana

IDFAM877U Anggota FAM Riau

Bismillah
Bismillah awal kata
Bagai burung Attar kucari Alif-Nya
Pada petikan kecapi melati

Bismillah awal kerja
Menggerakkan impian dari nyala api
Yang menari

Bismillah awal langkah
Kutelusuri hujan pada kelender
Yang berguguran

Bismillah awal pasrah
Kupetik kesuburan
Di kaki kehidupan

Bismillah awal dan akhir
Kulabuhkan diam
Antara ranting terinjak kaki

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…