• Info Terkini

    Thursday, August 2, 2012

    Ulasan Puisi “Anak Alang-Alang” Karya Nopiah (Kendal)

    FAM Indonesia hari ini mengulas sebuah puisi berjudul "Anak Alang-Alang" karya anggota FAM dari Kendal. “Anak Alang-Alang”, sebuah judul yang cukup padat membuat pembaca sepertinya ingin mengetahui apa, siapa, ada apa gerangan yang disebut sebagai “Anak Alang-Alang”.

    Kita akan membayang sejenak suasana seperti di padang rumput, di mana angin bertiup begitu lepas seperti kepakan sayap-sayap burung di langit biru. Rumput dan pepohonan seperti menjadi satu alunan melodi yang indah di antara deru jernihnya air di kali yang jernih dan bening. Benarkah begitu?

    Wah, ternyata sedikit menyimpang dari imajinasi pembaca ketika sekilas mengetahui judulnya. Sepertinya latar puisi yang indah ini mengambil tempat di daerah pantai, di mana nelayan telah merapat dengan hasil tangkapannya, mencoba mengais rezeki di suatu tempat pelelangan ikan.

    Ini jelas terbayangkan ketika kita simak bait ketiga puisi ini:

    kau berdiri menatap tajam ke dalam surga itu
    ya... di situ di tempat pelelangan ikan itu
    kau bergelut untuk mendapat rezeki tuhan

    Sulit memang menebak dengan pasti siapa yang dimaksud penulis dengan “Anak Alang-Alang”.
    Mungkinkah dia seorang anak jalanan, atau anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya? Sehingga dia sebatang kara menjalani hidup untuk bertahan.

    Yang jelas, sisi seorang bocah yang begitu lugu, penuh canda dan ceria, selayaknya masa anak-anak sebayanya, masih didapati meski tidak begitu sempurna. Ini tergambar dalam bait sebagai berikut:

    bibirmu merekah, manakala kau lihat ikan-ikan itu
    menari dalam cawan-cawan raksasa
    kau selalu berteriak dalam hatimu
    "menarilah ikan-ikan ku, meloncatlah yang tinggi
    agar aku dapat menjumputimu saat kau terkapar di lantai yang telah menangkapmu"
    kau masih begitu ingusan, namun kau begitu hebat

    Ada semacam penyelaman imajinasi seorang anak yang tetap ceria ketika dia tahu berada di suatu tempat untuk mencoba mengais rezeki dari sisa-sisa yang ada. Begitu pemurahnya Allah yang tak pernah menyia-nyiakan sebuah nyawa atas rezeki dalam hidupnya.

    Secara umum jelas penulis mempunyai bakat yang luar biasa untuk menuliskan sebuah rasa yang tersaksikan ke dalam bentuk puisi. Pemakaian diksi-diksi cukup padat sehingga makna yang dimaksud mampu memancarkan multitafsir dari pembacanya.

    Apalagi bila penulis berani bermain-main dengan imajinasi yang lebih luas, sehingga sungguh akan mampu menjadi sebuah puisi yang bernilai sastra tinggi.

    Untuk sebuah karya sastra yang baik, selayaknyalah kita selalu mempedomani penggunaan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dengan baik juga. Apakah pemakain huruf kapital, dan tanda-tanda baca yang lainnya. Bila Tuhan yang dimaksud adalah Allah S.W.T, sepatutnya kita memakai huruf: "T" (kapital) bukan "t".

    Juga pemakaian tanda kutip (") pada judul sebaiknya dihilangkan. Demikian juga tanda elipsis (...) biasanya dipakai untuk suatu kata/kalimat yang dihilangan.

    Namun demikian puisi ini sangat menarik. Semoga semakin mantap untuk tulisan-tulisan selanjutnya.

    Selamat berkarya.

    Salam Aishiteru.
    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI DARI PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    PUISI "ANAK ALANG-ALANG"
    Oleh Nopiah
    IDFAM155U Anggota FAM Kendal.

    Jejak langkah kakimu yang tak kenal lelah untuk melangkah
    kau teramat setia, untuk menyusuri lorong-lorong gelap di pagi itu
    sampai hentak kakimu terhenti
    dalam suatu tempat yang kau anggap itu surga

    kau memang tak sendiri
    kau bersama malaikat-malaikat kecil yang lain
    yang siap bertempur dalam peraduan

    kau berdiri menatap tajam ke dalam surga itu
    ya...disitu di tempat pelelangan ikan itu
    kau bergelut untuk mendapat rezeki tuhan

    bibirmu merekah, manakala kau lihat ikan-ikan itu
    menari dalam cawan-cawan raksasa
    kau selalu berteriak dalam hatimu
    "menarilah ikan-ikan ku, meloncatlah yang tinggi
    agar aku dapat menjumputimu saat kau terkapar di lantai yang telah menangkapmu"
    kau masih begitu ingusan, namun kau begitu hebat

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Anak Alang-Alang” Karya Nopiah (Kendal) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top