• Info Terkini

    Tuesday, August 14, 2012

    Ulasan Puisi “Dingin” Karya Novita Suci (Ponorogo)

    Sahabat FAM yang baik, kali ini FAM Indonesia mengulas sebuah puisi berjudul “Dingin” karya Novita Suci, sahabat kita dari Ponorogo yang juga anggota FAM Indonesia. Puisi ini hanya terdiri dari 3 bait 11 baris saja.

    Geoffrey (dalam Waluyo, 19987: 68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik).

    Pendapat ini sangat beralasan karena dalam beberapa karya puisi yang kita temukan, dan telah dipublikasikan, kita seolah bertanya kenapa penulis kadang menghiraukan aturan-aturan kebahasaan itu?

    Sebuah bentuk jati dirikah, tren yang sedang marakkah? Atau karena penulis memang belum mengetahui atau lupa dengan aturan kebahasaan yang berlaku. Yang jelas suatu alasan tertentu pasti terkemukakan oleh penulis ketika kita bertanya kenapa begitu bila sudah diketahui?

    Itulah hal pertama yang berkesan dan ingin disampikan sehubungan dengan puisi ini.

    "Dingin..." kata yang muncul di baris awal kalimat. Dengan spasi yang sama dengan baris kalimat lainnya, kita tidak tahu apakah ini judul atau kalimat awal di bait itu.

    Pemakain tanda " ... " yang muncul dua kali di sini dirasa kurang tepat, karena tanda elipsis (....) hanya dipakai dalam kalimat yang terputus atau bila ada kata/bagian kalimat yang dihilangkan.

    Kesan selanjutnya adalah dalam pemakaian huruf kapital dan tanda titik di setiap akhir kalimat. Ini yang biasa berlaku dalam bentuk-bentuk tulisan yang sesuai EYD. Menulis huruf kapital di awal kalimat, dan satu kalimat itu selalu ditandai dengan sebuah titik. Nah, sebagaimana yang disampaikan dalam kalimat awal di atas ini, apakah ini suatu bentuk "Penyimpangan?" Kalau kita tidak punya alasan yang tepat untuk suatu yang kita pilih dan berbeda dari lazimnya, rasanya tak perlu kita menyimpang.

    Dari segi isi puisi akan tergambarlah oleh kita semacam bentuk pencarian jati diri atau renungan terhadap lika-liku perjalanan hidup. Kita simak bait berikut ini:

    saat ku mencari seberkas sinar namun tak jua terlihat
    berlari dan terus berlari dalam naungan angin
    berlari dan terus berlari dalam kejaran dosa

    Pemakaian kata kiasan cukup bagus. Memperlambangkan suatu yang haq/kebenaran/hidayah, atau suasana taubat dengan sebuah "sinar". Sebuah pelarian yang tak mudah karena tak hanya sebuah usaha menuju dekapan kasih-Nya, tapi juga semacam bentuk perjuangan melawan semua godaan dosa-dosa.

    Penulis menggambarkan perjuangan itu sebagai bentuk yang mesti ditempuh meski senggalan napas dan detak-detak jantung menjadi hal yang memutuskan.

    Sebuah pesan moral yang baik sekali, agar sebuah husnul khatimah menjadi terminal akhir sebuah perjalanan.

    Ada semacam penyesalan yang ingin digambarkan dalam puisi ini. Penyesalan ternyata adakalanya sesuatu yang perlu dilakukan agar kita dapat berkaca dan memperbaiki masa-masa ke depan yang masih tersisa.

    ketika degup jantung mulai terasa lemah
    hanya bersimpuh dalam sisa malam
    mengusap ujung mata yang berurai penuh penyesalan
    mengelus hati yang mulai sesak penuh kerinduan
    aku ingin kembali

    Bila sebuah pengakuan terhadap jalan kelam yang pernah tertempuh, berusaha untuk menggapai cahaya benderang, tidak akan kembali menempuh hitam yang pernah menyesatkan, sesungguhnyalah Dia Maha Penerima Taubat hamba-hamba-Nya.

    Ini mungkin yang ingin digambarkan penulis di bait terakhir puisi ini.

    Aku Ingin kembali.

    Semoga, semoga kita akan kembali kepada fitrah yang suci. Amin.

    Sedikit koreksian diksi, kata “nafas” pada baris ke empat seharusnya ditulis “napas” sebagaimana Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

    Selamat menulis. Tetaplah terus menulis.

    Salam Aishiteru.
    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    DINGIN
    Oleh Novita Suci

    IDFAM895M Anggota FAM Ponorogo

    saat ku mencari seberkas sinar namun tak jua terlihat
    berlari dan terus berlari dalam naungan angin
    berlari dan terus berlari dalam kejaran dosa

    tak lekas berhenti semua ini memburu nafas,
    saat detik terus berdentum...
    menghitung sisa nyawa yang bertaruh maut.

    ketika degup jantung mulai terasa lemah
    hanya bersimpuh dalam sisa malam
    mengusap ujung mata yang berurai penuh penyesalan
    mengelus hati yang mulai sesak penuh kerinduan
    aku ingin kembali

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Sebenarnya dingin itu masuk ke bait pertama. Alias lupa gak tak kasih judul.
      Hehehe
      :D
      Penafsirannya memang benar begitu.
      Terimakasih atas masukannya.
      :)

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Dingin” Karya Novita Suci (Ponorogo) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top