• Info Terkini

    Saturday, August 18, 2012

    Ulasan Puisi “Mereka Melulu” Karya Sunarsih (Lampung)

    Hari ini FAM Indonesia mengulas sebuah puisi berjudul “Mereka Melulu” karya Sunarsih, anggota FAM Indonesia dari Lampung.

    Puisi ini sangat kontradiksi sekali. Sulit memang memahami apa yang dimaksud penulis dalam puisi ini. Semua rangkaian diksi-diksinya tidak memberikan sinyal yang jelas terhadap apa yang dimaksud dan pesan moral apa yang hendak disampaikan.

    Meski telah dibaca berulang-ulang, Tim Pengulas FAM Indonesia belum bisa memastikan siapa yang dimaksud dengan kata "Mereka" sebagaimana tertera dalam judul.

    Ada sedikit gambaran bila puisi ini sedikit berbau politis. Semacam bentuk kekecewaan terhadap penguasa yang sering lupa akan janji-janjinya dalam masa kampanye, sekadar bertujuan mengumpulkan simpatik warga dan memungut banyak suara. Bila telah menduduki tahta semua itu sering terlupa, hanya memperkaya diri semata.

    Ini tersimpulkan bila kita menyelami bait puisi berikut ini:

    Tapi,
    Tak kunjung ada yang padam
    Mereka tetap kukuh, kondang dan sejahtera
    Dimana letak nasionalisme ini?
    Merajuk tak pernah nampak dan nyata
    Mulut bagai hanya sebongkah seruan belaka

    Sebagai pemerhati dari sebuah keadaan di lingkungan, penulis puisi ini cukup tajam melukiskan kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang berwenang dengan sebuah kebijaksanaan.
    Ini cukup dirasakan setelah memahami bait berikut ini:

    Kami ada
    Kami mencoba dan terus mencoba
    Memerhati kalian, memerhati mereka
    Tapi, mereka bersulang bagai burung diatas binary
    Apa ini dunia saat ini?
    Berubah tak pasti, kendur dengan sendiri
    Prinsip yang redup, memupuk untuk memburuk tetap hidup

    Ya, situasi yang menggambarkan kekecewaan, pemberontakan, dan semangat untuk tetap bertahan dalam terpaan hidup dan kenyataan yang jauh berbeda dari sebuah yang terjanjikan, semakin jelas kita rasa ketika membaca bait-bait selanjutnya hingga akhir.

    Memang, banyak sekali penulis mencoba menyamarkan maksud tulisannya dalam sebuah puisi. Tapi bukan berarti pembaca tidak punya penafsiran terhadap apa yang ditulis. Biar saja penafsiran itu akan berbeda setiap yang menilainya, karena salah satu untur puisi memang hendaknya mampu memancarkan makna yang pragmatis. Seperti sebuah gelombang radio yang dipancarkan, pendengar akan berusaha menangkap sinyal-sinyal itu dengan menyetel hingga lebih jelas dan pas. Walau tak selalu jernih dan jelas apa yang diterima.

    Begitulah puisi, sebuah lagu, berita, atau pesan sebenarnya hanya si pemancar yang tahu pasti.
    Yang jelas apapun itu penulis telah menghadirkan karyanya di tengah-tengah kita. Karena keindahan hidup ini akan lebih terasa bila kita telah mampu untuk berbagi antar sesama.

    Koreksian FAM, sebaiknya kurangi pemakaian tanda elipsis (…) di akhir baris puisi karena terkesan mengganggu keindahan puisi. Kata “dimana” sebaiknya ditulis “di mana”, kata “hey” seharusnya “hei”. Secara umum puisi ini cukup baik.

    Selamat menulis dan tetaplah cinta menulis.

    Salam santun, salam karya.
    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT PUISI KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    MEREKA MELULU
    Oleh Sunarsih

    IDFAM 675M Anggota FAM Lampung

    Apa ini?
    Kami sebar…
    Kami rajam…
    Kami tuntaskan…

    Tapi,
    Tak kunjung ada yang padam
    Mereka tetap kukuh, kondang dan sejahtera
    Dimana letak nasionalisme ini?
    Merajuk tak pernah nampak dan nyata
    Mulut bagai hanya sebongkah seruan belaka

    Kami ada
    Kami mencoba dan terus mencoba
    Memerhati kalian, memerhati mereka
    Tapi, mereka bersulang bagai burung diatas binary
    Apa ini dunia saat ini?
    Berubah tak pasti, kendur dengan sendiri
    Prinsip yang redup, memupuk untuk memburuk tetap hidup

    Hey kalian !...
    Berjuanglah…
    Nestapa diujung dadamu…
    Sampai kapan akan kalian bawa
    Dimana nurani hati jiwa makmur ini?

    Mereka tertawa, mereka terngiang…
    Dimana letak jiwa kalian jika mereka tetap dan tetap ramai
    Akankah kalian diam?

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Mereka Melulu” Karya Sunarsih (Lampung) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top