• Info Terkini

    Thursday, August 23, 2012

    Ulasan Puisi “Sayatan Rindu” Karya Vina Rohmatul Ummah (Malang)

    Cinta memang suatu lautan yang tak pernah kering untuk kita arungi. Walau berbagai topan melanda, badai datang menerpa, tidak akan pernah jenuh kita melayangkan biduk, membentangkan layar, bergumul dan mencari sebuah arti cinta itu sendiri. Hingga pelabuhan pun menjadi tempat menepi, menambatkan sejenak riak-riak rasa dan berbagi dalam dekapan hati yang tertemui.

    Ya, bersyukurlah bila rasa cinta itu masih ada di dalam dada kita. Karena sejatinya cinta adalah sebuah anugerah yang tak terhingga yang ditanamkan dalam kalbu kita, oleh Sang Maha Pemilik Cinta itu sendiri.

    Dalam puisi “Sayatan Rindu” karya Vina Rohmatul Ummah ini, jelas cinta yang dimaksud adalah sebuah Keagungan Cinta dari makhluk kepada Khaliknya. Ini sangat jelas tergambar dalam pemakaian kata "Mu" yang ditulis dengan huruf kapital (huruf besar), walau bukan berada di awal kalimat.

    Sebuah pemakaian EYD yang tepat sekali dan sesuai aturan pemakaian huruf besar/kapital dalam kalimat. Kita simak bait puisi berikut ini:

    pertama kumengenal Mu
    kau gores warna indah dalam kehidupanku
    datang bangkitkan semangat juangku
    berikan kekuatan gelombang cinta
    membuatku tertunduk
    merenung, menatap dan mengerti makna cinta hakiki

    Sebuah cuplikan beberapa kalimat dalam puisi ini yang menggambarkan suatu bentuk keinsyafan untuk tidak melupakan Allah sebagai Maha pemilik cinta.

    Kenapa rasa cinta kepada Tuhan tidak boleh dilupakan? Ya, kita semua tahu bahwa tak akan ada yang melebihi segala kasih sayang dari-Nya, dalam situasi dan keadaan bagaimanapun seorang makhluk menjalani hidupnya. Yang terbaik dan selalu digoreskan untuk kita walau terkadang kita mengeluhkannya. Selalu ada misteri demi kebaikan kita dibalik sebuah takdir yang kita punya.

    Enam baris pertama dalam puisi ini mengesankan kita akan sebuah proses penyucian hati untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Ada semacam kekuatan hati yang tersadari bila proses itu mampu kita lalui dan semakin menebalkan rasa iman dan taqwa.

    Baiklah, kalau tadi kita mengkaji dari sudut pandang agama dan keyakinan, karena ini sebuah puisi, kita lihat juga kaedah-kaedah puisi itu sendiri.

    Menurut Huda M. Elmatsani, sebagai sebuah karya seni, puisi tentulah sebuah keindahan yang bisa dinikmati. Ia merekam semangat dari subjek dan membangkitkan emosi. Keindahan yang dapat memukau jiwa pembacanya. Sebuah keharuan. Penyair Acep Zamzam Noor menyebutnya, puisi yang membuat bulu kuduk berdiri, disebutnya teori bulu kuduk. Perasaan tersentuh, hati bergetar. Ook Nugroho mengiaskannya sebagai virus yang menularkan wabah. Lalu, apa yang membuat puisi menjadi indah?

    Keindahan puisi tercipta dari paduan harmonis: pesan yang ingin disampaikan, permainan kata, permainan bunyi, permainan imaji, kesederhanaan dan kedalaman.

    Apakah pendapat para ahli tentang puisi di atas juga kita temui dalam puisi ini? Jelas ada, walau perlu sedikit pembenahan dalam mengungkapkan diksi-diksinya. Kita menangkap pesan moral yang ingin disampaikan, kita melihat permainan kata dalam baris-barisnya, juga ada permainan bunyi, imaji yang dicoba kembangkan, juga kesederhanaan dan kedalaman.

    Walau dirasa unsur-unsur itu belum maksimal diungkapkan, dengan sering berlatih dan memahami puisi para penyair yang sudah punya nama, yakin penulis akan semakin mantap memainkan mata penanya.

    Satu lagi yang ingin disampaikan, apakah penulis sudah menyesuaikan tulisan-tulisannya dengan EYD? Jelas ada beberapa yang terlupakan baik itu dalam hal pemakaian huruf kapital di awal kalimat, tanda titik, dan pemakaian imbuhan "me" yang melekat dalam sebuah kata dasar. Ini terlihat jelas dalam menuliskan me + langit. Di sini penulis menjadikannya "menlangit". seharusnya ditulis "melangit". Berikut beberapa aturan pemakaian imbuhan Me:

    1. Awalan “me” tidak berubah

    me + kata dasar dengan huruf awal l, m, n, r, w, y.
    Misalnya:
    me + lipat = melipat
    me + makan = memakan
    me + rakyat = merakyat
    me + nanti = menanti
    me + yakin + i = meyakini

    2. Awalan “me” berubah menjadi “mem”

    me + kata dasar dengan huruf awal b, f,p, v
    Misalnya:
    me + basmi = membasmi
    me + foto = memfoto
    me + pikat = memikat
    me + veto = memveto
    tetapi untuk kata yang terdiri satu suku kata
    me + bor = membor atau mengebor
    me + bom = membom atau mengebom

    3. Awalan “me” berubah menjadi “men”

    me + kata dasar dengan huruf awal c, d, j, t, z
    Misalnya:
    me + contek = mencontek
    me + dorong = mendorong
    me + jauh =  menjauh
    me + tusuk = menusuk
    me + zina + i = menzinai
    tetapi untuk kata yang terdiri satu suku kata
    me + cor = menbor atau mengecor
    me + cap = mencap atau mengecap

    4. Awalan “me” berubah menjadi “meng”

    me + kata dasar dengan huruf awal huruf vokal, g, h
    Misalnya:
    me + ajak = mengajak
    me + ejek = mengejek
    me + isolasi = mengisolasi
    me + orbit = mengorbit
    me + ubah = mengubah
    me + gunung = menggunung
    me + hukum = menghukum
    me + kilap = mengilap

    5. Awalan “me” berubah menjadi “meny”

    me + kata dasar dengan huruf awal s
    Misalnya:
    me + sembah = menyembah
    me + sortir = menyortir
    me + sikap + i = menyikapi

    B. Perubahan pada huruf awal kata dasar

    Huruf awal kata dasar yang akan mengalami perubahan adalah huruf k, p, t, s yakni akan luluh/lebur.

    1. Huruf awal kata dasar “k” luluh menjadi “ng”
    Misalnya:
    me + konsumsi = mengonsumsi
    me + kapur = mengapur
    me + kaca = mengaca
    tetapi untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
    me + khayal = mengkhayal
    me + khitan = mengkhitan
    me + khianat + i = mengkhianati

    2. Huruf awal kata dasar “p” luluh menjadi “m”

    Misalnya:
    me + pukul = memukul
    me + pilih = memilih
    me + potong = memotong
    me + popular + kan = memopulerkan
    tetapi untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
    me + protes = memprotes
    me + produksi = memproduksi
    me + prakarsa + i = memprakarsai

    3. Huruf awal kata dasar “t” luluh menjadi “n”

    Misalnya:
    me + tuju = menuju
    me + tabrak = menabrak
    me + toleransi = menoleransi
    me + target = menarget
    me + telantar + kan = menelantarkan
    me + tarikh + kan = menarikhkan
    tetapi perhatikan penulisan kata berikut dalam KBBI
    me + tabulasi = mentabulasi bukan menabulasi
    me + tablig + kan = mentabligkan bukan menabligkan

    untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
    me + traktir = mentraktir
    me + tradisi = mentradisi

    4. Huruf awal kata dasar “s” luluh menjadi “ny”

    Misalnya:
    me + sisir = menyisir
    me + sobek = menyobek
    me + susun = menyusun
    me + salat + i = menyalati
    me + sejahtera + kan = menyejahterakan
    tetapi untuk kata yang huruf awal berupa konsonan rangkap tidak luluh
    me + syukur + i = mensyukuri
    me + standar + kan = menstandarkan
    me + syariat + kan = mensyariatkan

    Tetap semangat untuk menulis, tetap semangat untuk memperbaiki dari waktu kewaktu.

    Salam santun, salam karya.
    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    SAYATAN RINDU
    Oleh Vina Rohmatul Ummah

    IDFAM823M Anggota FAM Malang

    pertama kumengenal Mu
    kau gores warna indah dalam kehidupanku
    datang bangkitkan semangat juangku
    berikan kekuatan gelombang cinta
    membuatku tertunduk
    merenung, menatap dan mengerti makna cinta hakiki
    sungguh………tenggelam dalam lautan cintaMu
    terbesit keinginan tuk menyanding dan membawa dalam aura nafasku
    dengarkanlah cinta abadiku
    darah ini membeku karena kedalaman rindu kepadaMu
    menjulang tinggi nan menlangit luas
    dengarkanlah raja hatiku
    rindu yang menggebu kan menghantui
    rindu yang membara kan mengelabui
    hingga tetes darah hayatku
    hingga ujung nafas hidupku
    membuat mawar tak seindah mula
    menjadi pohon tak berbuah rasa
    sungguh ini kerinduan lautan cintaku
    berlayar mencarimu
    bak perahu kecil tak terarah
    hati merintih
    bak goresan arang melekat pekat dalam sanubari
    nan terobati oleh tatapan cinta sejatiMu
    wahai pemilik kerajaan cinta
    ku bersimpuh mengharap cintaMu
    biarpun nyawa melayang dalam raga
    namun
    cinta tak kan tergoyahkan
    biar orang berkata buta dan gila
    tapi kalbu
    senatiasa mendapat secercah harapan Sang pemilik cinta

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Sayatan Rindu” Karya Vina Rohmatul Ummah (Malang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top