• Info Terkini

    Saturday, August 25, 2012

    Ulasan Puisi “Selangit Rindu” Karya Susi Susanti Idris (Kendari)


    Sahabat FAM yang baik, hari ini kita mengulas puisi berjudul “Selangit Rindu” karya Susi Susanti, anggota FAM Indonesia di Kendari.

    Dalam salah satu artikel, ditulis Dimas Arika Mihardja, dinyatakan bahwa ukuran kualitas keindahan puisi itu dapat dikategorikan dalam beberapa aspek:

    1. Ukuran Kesenangan

    Yaitu ketika kita membaca sebuah puisi ntuk mendapatkan hiburan ringan yang segar, untuk melepaskan pikiran sumpek, dan untuk memenuhi keinginan.

    2. Ukuran intelligibility

    Yaitu ukuran kemudahan atau kesukaran memahami puisi yang digunakan untuk sebuah penilaian. Puisi yang bernilai tinggi memang memerlukan pemusatan pikiran dan pengerahan pengalaman batin serta wawasan keilmuan yang memadai tentang aspek-aspek puisi.

    3.Ukuran pragmatis

    Seseorang mungkin saja tertarik pada sebuah puisi karena puisi itu mengungkapkan pengetahuan atau pengalaman baru (noveltry), atau sebaliknya ada seseorang yang tertarik pada puisi yang mengungkapkan sesuatu yang sudah dikenalnya, yakni sesuatu yang berada dalam pengetahuan dan pengalamannya.

    4. Ukuran didaktis

    Ukuran didaktis ini bersandar pada sebuah anggapan bahwa puisi yang indah dan berkualitas ialah puisi yang mampu memberikan nilai positif, yang menyampaikan pesan pembinaan moral dan kepribadian, serta meninggikan taraf kematangan pembaca.

    5. Ukuran pelahiran (ekspresi)

    Ukuran ini selalu dihubungkan dengan keaslian (orisinalitas) dan kejujuran.

    6.Ukuran kebenaran

    Puisi yang memiliki kebenaran ialah puisi itu mampu membayangkan atau mencerminkan kehidupan atau peristiwa kehidupan yang ada kebenaran dalam konteks ini ialah kebenaran yang ideal.

    Demikian beberapa cuplikan dari beberapa pengamat dan pencita sastra untuk mengukur keindahan sebuah puisi.

    Cukup luas memang, dan setiap kita punya kacamata tersendiri untuk memandang dari sudut mana ketika mengatakan kekaguman atas keindahan sebuah puisi.

    Dalam puisi "Selangit Rindu" ini kita pasti akan merasakan sebuah keindahan saat menyelam kata demi kata, baris demi baris, yang menjadi satu kesatuan dalam sebuah puisi.

    Baiklah kita coba mengukurnya dengan sebuah Ukuran Inteligibility.

    Rasanya cukup pas kita memakai skala ini karena puisi ini selintas memang memerlukan pemusatan pikiran dan pengerahan pengalaman batin serta wawasan keilmuan yang memadai untuk dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya. Kita simak baris puisi berikut:

    ketika malam kian sayu
    melekatkan kemiskinan di kedua bahu
    kita becermin pada larut
    melumati kutuk dan rasa takut

    Sebuah bait awal yang menggambarkan sebuah perenungan dari penulis saat keheningan menjadi tayangan kisah-kisah yang telah dan akan dilalui.

    Ada semacam lecutan dari sebuah situasi yang dihadapi, untuk selalu tegar, pantang menyerah, dan tetap percaya akan sebuah perubahan yang lebih baik di masa datang.

    Kita simak juga bait berikut ini:

    namun ingatanku selalu gagal
    mengecup kembali rambut-rambut keningmu
    melewati lalang-ilalang
    o, jalangnya laut
    memucati bibirku
    bibirmu gigil dengan warna ungu gincu
    seandainya kau ada di sini
    atau aku ada di situ
    kita bisa saling rangkul
    mencari suhu terhangat
    dari selangit rindu

    Sebuah catatan perjalanan hati akan seseorang yang menjadi pujaan sepertinya mulai tergambar di sini. Ya, masalah asmara memang adalah lautan inspirasi yang tak pernah kering kita gali, selalu saja rentetan kata-kata akan sering lancar ketika kita tuangkan dalam wadah aksara.

    Bait ini sepertinya melukiskan sebuah "kebelum-berhasilan" untuk menyemai benih-benih asmara di taman hati yang berbunga-bunga.

    Dan kata rindu begitu menikam seluas langit yang membiru.

    Secara umum penulis cukup menyaring dan memadatkan diksi-diksi di setiap bait-bait puisinya. Satu hal yang bagus untuk menulis sebuah puisi. Yakin dengan semakin banyak tulisan yang dibuat, semakin mapan untuk melahirkan puisi-puisi yang berkualitas. Tentu juga kita mengharapkan keindahan itu juga dapat meresap pada pembaca dan penikmat sastra. Semoga.

    Salam santun, salam karya.
    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT NASKAH PUISI YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    SELANGIT RINDU
    Oleh Susi Susanti Idris

    IDFAM899M Anggota FAM Kendari

    ketika malam kian sayu
    melekatkan kemiskinan di kedua bahu
    kita becermin pada larut
    melumati kutuk dan rasa takut

    namun ingatanku selalu gagal
    mengecup kembali rambut-rambut keningmu
    melewati lalang-ilalang
    o, jalangnya laut
    memucati bibirku
    bibirmu gigil dengan warna ungu gincu
    seandainya kau ada di sini
    atau aku ada di situ
    kita bisa saling rangkul
    mencari suhu terhangat
    dari selangit rindu

    membayang senyummu yang lengkung
    lalu marahmu yang lengking
    aku sekali lagi mesti mencium pesingnya kegagalan
    atas usaha yang entah kapan kau
    dan aku mulai
    juga entah kapan selesai

    asing
    bagi dada kita yang baru saja menguning
    aku mencoba diam
    sekiranya, dadamu bisa lebih tenang
    tetapi gejolak sudah amuk.
    kita bahkan tidak lebih kuat dari sebatang rumput

    menggapai-gapai langit rindu
    kita merasakan jauhnya lapis ke tujuh
    seandainya kau lebih banyak tahu
    atau aku lebih sedikit mau
    kutuk dengan sendirinya meluruh
    sebab kau tanpa aku
    dan aku tanpa kamu
    semua bersorak
    lalu duabelas tahun kemudian

    hujan telah redam karam semua
    jalan. menyamarkan horizon
    kompas penantian para pemburu rindu
    yang sepatunya masih basah air mata

    kita memang gagal tapi bukan kekalahan
    aku hanya menjaga tangan terkepal
    sebab di telapak ini
    telah kau tulis keikhlasan

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Selangit Rindu” Karya Susi Susanti Idris (Kendari) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top