• Info Terkini

    Monday, August 6, 2012

    Ulasan Puisi "Telaga Air Mata" Karya Dito Anurogo (Palangkaraya)

    Sebagaimana yang kita tahu puisi juga dapat digolongkan berdasarkan zamannya. Dalam bentuk puisi lama kita akan menemukan puisi-puisi dalam bentuk mantra, pantun, karmina, seloka, gurindam, syair dan talibun. Dalam puisi lama itu masih terikat dengan aturan-aturan seperti:

    Jumlah kata dalam 1 baris
    Jumlah baris dalam 1 bait
    Persajakan (rima)
    Banyak suku kata tiap baris dan
    Irama

    Sedangkan dalam bentuk puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

    Dalam puisi "Telaga Air Mata", nampaknya kekuatan dan keindahan puisi ini sengaja menonjolkan persajakan (rima) di setiap bait-baitnya. Kita simak bait berikut:

    Air mataku jatuh
    terurai menjelma telaga
    Anggun jiwamu runtuh
    tercerai menjelma semesta

    Mengapa mesti mencinta
    bila enggan terluka
    Mestikah mesra merengkuh
    bila terbangun terjatuh

    Dua bait puisi di atas kita bisa menyimpulkan persajakan a-b-a-b pada bait pertama dan persajakan a-a-b-b untuk bait ke dua.

    Apakah kita bisa menyimpulkan puisi ini termasuk jenis pantun?

    Sepertinya begitu karena permainan diksinya lebih memfokuskan pada permainan bunyi-bunyi akhir tiap kalimatnya.

    Seorang penulis puisi, unsur- unsur itu memang menjadi suatu pencarian tiap kalimat yang ditulis agar muncul dengan sendirinya untuk membuat puisi itu terasa lebih indah.

    Tak dipungkiri memang dalam puisi-puisi baru atau puisi kontemporer masih banyak kita temukan permainan bunyi dalam puisi. Dalam puisi lama yang berbentuk pantun tiap-tiap barisnya berisikan sampiran dan isi.

    Apakah puisi “Telaga Air Mata” ini pada baris-barisnya juga begitu? Ternyata kita tidak melihat kalimat yang lepas sebagai sampiran, tapi lebih mendekat kepada satu kesatuan pesan dan isi yang disampaikan atau dicurahkan.

    Ya, kita bisa menganggap puisi ini sebagai curahan hati penulisnya terhadap rasa cinta yang ditemuinya dalam hidup. Warna religius terasa lebih kental dan cinta yang dimaksud sepertinya rasa cinta yang dalam kepada Sang Khalik.

    Selain curahan hati, penulis juga menyampaikan pesan kepada kita agar selalu berpegang teguh dan tidak lupa kepada Sang Maha Pencipta dalam menjalani perjalanan hidup yang memang sementara.

    Menarik dan sangat menyentuh sekali tiap-tiap untaian kata yang disusun, karena sarat dengan pesan-pesan moral dan agamais. Pilihan diksinya menarik, ditulis dengan EYD yang baik pula.

    Teruslah menulis karena dengan seringnya menggoreskan perasaan dalam kata-kata kita akan semakin terlatih dan punya warna sendiri.

    Salam Aishiteru.
    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT PUISI KIRIMAN PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Telaga Air Mata
    Oleh Dito Anurogo

    IDFAM750U caKacab FAM Palangkaraya

    Air mataku jatuh
    terurai menjelma telaga
    Anggun jiwamu runtuh
    tercerai menjelma semesta

    Mengapa mesti mencinta
    bila enggan terluka
    Mestikah mesra merengkuh
    bila terbangun terjatuh

    Nirwana dambaan manusia
    Neraka bukan ilusi
    Hakikat cinta rahasia
    Harkat romansa abadi

    Berharap insan berduka
    Berdekap Tuhan bersuka
    Merpati bermahkota embun
    Mentari bertahta anggun

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Telaga Air Mata" Karya Dito Anurogo (Palangkaraya) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top