• Info Terkini

    Saturday, August 11, 2012

    Ulasan Puisi “Wajah Kuli Panggul Beras” Karya Arif Hifzul (Simalungun)

    FAM kali ini mengulas puisi karya Arif Hifzul, anggota FAM Simalungun, Sumatera Utara, berjudul “Wajah Kuli Panggul Beras”.

    “Wajah Kuli Panggul Beras” adalah puisi realita kehidupan rakyat jelata yang ditulis apa adanya, enak dibaca dan mudah dipahami, tidak berbelit-belit, namun maknanya sangat luas: tentang hidup di Jakarta hanya berpenghasilan pas-pasan. Kaki langit kehidupan harus dijalani, potret kehidupan yang sangat memprihatinkan, wajah kuli panggul beras.

    Kita simak penggalan puisinya yang sangat menggugah jiwa:

    //Dengan berbekal tempe goreng/Ditemani dengan nasi kucing/Ku beli di gang rumah tuaku/Ku berjalan mengitari sudut kota Jakarta.//

    Puisi ini ditulis dengan sangat detail, memberikan gambaran sebuah kejujuran dan harga diri sebagai kuli dan sekaligus sebagai kepala rumah tangga yang menghidupi anak dan istrinya dengan mengandalkan sebagai kuli akan menyentuh segala aspek kehidupan sehingga penutup klimaks puisi ini cukup menarik:

    //Dua puluh lima ribu ku dapat hari ini/
    Cukup untuk makan sehari anak istri/Dan besok aku bekerja kembali/Kulakukan dengan sepenuh hati/Demi kebutuhanku dan anak istri

    Penulis cukup hati-hati memilih diksi untuk memperkaya isi puisinya. Itu modal yang kuat bagi penulis untuk melahirkan puisi-puisi lainnya yang lebih berkualitas.

    Terus berproses dengan puisi yang penuh makna dan berjiwa, kreatif sepanjang hari.

    Salam santun, salam karya.
    FAM INDONESIA

    [BERIKUT PUISI KIRIMAN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Wajah Kuli Panggul Beras
    Oleh Arif Hifzul

    IDFAM865M Anggota FAM Simalungun-Sumut

    Pagi buta sekali
    Saat matahari belum bangun
    Aku kembali ke pusat pasar
    Menjadi kuli panggul beras
    Dengan berbekal tempe goreng
    Ditemani dengan nasi kucing
    Ku beli di gang rumah tuaku
    Ku berjalan mengitari sudut kota Jakarta
    Sekitar dua kilometer jaraknya
    Dua ribu tujuh ratus detik lamanya
    Lelah, lapar, lesu, serta lunglai kurasakan
    Namun aku tetap semangat
    Memikul puluhan beras
    Dari truk sampai ke toko
    Bekerja dari pagi hingga petang
    Dua puluh lima ribu ku dapat hari ini
    Cukup untuk makan sehari anak istri
    Dan besok aku bekerja kembali
    Kulakukan dengan sepenuh hati
    Demi kebutuhanku dan anak istri

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Wajah Kuli Panggul Beras” Karya Arif Hifzul (Simalungun) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top