• Info Terkini

    Wednesday, August 1, 2012

    Ulasan Puisi “Waktu Kosong” Karya Nurida Sari (Bukittinggi)

    Sahabat FAM yang baik. Kali ini Tim FAM Indonesia mengulas puisi karya Nurida Sari, anggota FAM Bukittinggi, Sumatera Barat. Judul puisinya “Waktu Kosong”. Membaca puisi ini pertama-tama kita dihadapkan pada penulisan diksi dan tanda baca yang kurang tepat, seperti: “keamaran” mungkin yang dimaksud “kemarahan”, “kegelisan” mungkin “kegelisahan”.

    Begitu juga penulisan “diri mu” semestinya “dirimu”, “nadi mu” semestinya “nadimu", “karena mu” semestinya “karenamu”, “mangsa mu” semestinya “mangsamu”, “kekayaan ku” semestinya “kekayaanku”, “otak ku” semestinya “otakku”, “hidup ku” semestinya “hidupku”, “diri ku” semestinya “diriku”, “berlahan” semestinya “perlahan”, “tampa” semestinya “tanpa”.

    Larik pada bait pertama terasa melompat dan tidak saling berhubungan. Perhatikan bait
    pertamanya:

    kesedihan, keamaran, kegelisan/ merangkul dalam diri mu/ Rintihan terbesit dalam setiap nadi mu/ Aku dan mereka adalah korban mu.

    Semestinya yang sedih yang marah yang gelisah yang merintih bukan “mu” tapi adalah “aku”, karena “aku” merupakan “korbanmu”.

    Pada bait berikutnya nampaknya diksi yang digunakan sudah pas dan dengan bahasa sederhana kita dapat menyelami apa yang dimaksud penulis.

    Larik dari bait-bait puisi ini menggambarkan penyesalan, kekalahan dari masa silam yang membawanya ke dunia kehancuran, hal ini disebabkan narkoba. Mari kita simak bait-bait dari puisi ini:

    Ribuan orang mati karena mu
    Mati berlahan tampa jejak dan bukti
    Tiada goresan tanda-tanda kau sang pelaku
    Dan kini, aku adalah mangsa mu

    Kau curi kekayaan ku
    Kau rusak syaraf otak ku
    Kau bius aku dengan khayalan
    Hingga aku lupa akan tujuan hidup ku

    Kau cabik-cabik diri ku
    Dengan ganas dan garang
    Kau lempar Aku dijalan
    Mereka tertawa
    Aku bersedih
    Kau menang dan aku kalah..
    Kau telah curi segalanya
    Dan itu menjadi kelelahan yang tidak beralasan.

    Pada dasarnya puisi ini cukup bagus, tetapi sangat perlu diperhatikan lagi penggunaan kata dan teknik penulisan yang ditemukan banyak sekali kesalahan. Selain penulisan, juga bagaimana memahami keutuhan makna sebuah puisi yaitu hubungan antara larik yang satu dengan larik yang lain agar puisi yang ditulis lebih “bernyawa”.

    Teruslah menulis dan menulis karena kata tak habis untuk ditulis.

    Salam Aishiteru!
    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH KIRIMAN PENULIS DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    PUISI
    Waktu Kosong
    Nurida Sari
    IDFAM747M Anggota FAM Bukittinggi

    Kesedihan, keamaran, kegelisan
    Merangkul dalam diri mu
    Rintihan terbesit dalam setiap nadi mu
    Aku dan mereka adalah korbanmu,,,

    Ribuan orang mati karena mu
    Mati berlahan tampa jejak dan bukti
    Tiada goresan tanda-tanda kau sang pelaku
    Dan kini, aku adalah mangsa mu

    Kau curi kekayaan ku
    Kau rusak syaraf otak ku
    Kau bius aku dengan khayalan
    Hingga aku lupa akan tujuan hidup ku

    Kau cabik-cabik diri ku
    Dengan ganas dan garang
    Kau lempar Aku dijalan
    Mereka tertawa
    Aku bersedih
    Kau menang dan aku kalah..
    Kau telah curi segalanya
    Dan itu menjadi kelelahan yang tidak beralasan.

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. saya suka ulasannya. puisi ini sederhana.mudah saya pahami, tak sampai menyiksa dan berpikir berat tentang apa yang hendak penulis sampaikan.terimakasih untuk karya bermakna ini. ^_^

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Waktu Kosong” Karya Nurida Sari (Bukittinggi) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top